NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Kain Warisan

Alamat di kertas membawa Sekar melewati deretan rumah kayu dan toko kecil yang menjual gula kelapa. Nomor rumah berhenti di sebuah gerbang hijau tua dengan tanaman nila tumbuh di sampingnya.

Ia mengetuk.

Seorang perempuan sepuh berkain jarik membuka pintu. Rambut putihnya disanggul sederhana, jemarinya berwarna samar kebiruan.

"Mbah Ginem?"

"Nggih. Cari siapa, Nak?"

Sekar menyerahkan kertas dari Bu Sari. "Nama saya Sekar. Saya murid Bu Laksmi di Jakarta."

Mata tua itu berubah.

"Laksmi Wardhana?"

"Iya, Mbah."

Mbah Ginem memandang liontin melati di leher Sekar, lalu membuka gerbang lebih lebar. "Masuk dulu. Hujan mau turun."

Di halaman belakang berdiri ruang tenun dengan dua alat kayu tua. Benang indigo tergantung di bawah atap. Mbah Ginem menyeduh teh gula batu, kemudian meminta Sekar menjelaskan kebutuhan Sanggar.

Sekar menunjukkan sampel warna, ukuran, dan jumlah. "Bu Sari bilang Mbah mungkin punya stok lama."

"Ada. Tapi sudah belasan tahun tidak saya jual."

"Boleh saya lihat?"

Mbah Ginem tidak langsung menjawab. "Laksmi sehat?"

"Sehat. Masih mengajar saya setiap hari."

Senyum kecil muncul di wajahnya. "Dulu dia datang ke sini bawa buku gambar dan uang pas-pasan. Ngotot belajar bedakan kain yang hidup dan kain yang cuma cantik."

"Bu Laksmi nggak pernah cerita."

"Biar dia yang cerita kalau mau." Mbah Ginem bangkit. "Ayo."

Namun sebelum menuju gudang, Mbah Ginem meletakkan tiga potong kain di meja tenun.

"Kalau murid Laksmi, coba bilang mana yang dibuat tangan."

Sekar tidak terburu-buru. Potongan pertama bermotif rapi dan warnanya pekat, tetapi sisi belakang jauh lebih pucat. Potongan kedua memiliki garis yang sedikit tidak sejajar. Potongan ketiga tampak paling tua, dengan permukaan lembut karena sering disentuh.

Ia memeriksa kedua sisi, meraba kepadatan benang, lalu mengangkat kain ke arah cahaya.

"Yang pertama cap kombinasi. Motifnya terlalu seragam dan malamnya nggak menembus penuh. Yang kedua batik tulis baru. Garis cantingnya kadang berat, kadang tipis. Yang ketiga tenun lama, tapi pernah dicuci dengan sabun keras. Serat di bagian ini mulai kering."

Mbah Ginem tidak memberi reaksi. Ia mengambil potongan pertama dan menunjuk satu titik.

"Kenapa bagian ini lebih gelap?"

"Tumpukan warna waktu pencelupan, bukan noda. Kalau noda lembap, baunya beda dan serat sekitarnya biasanya kaku."

Sekar mendekatkan kain ke hidung untuk memastikan, lalu mengembalikannya dengan kedua tangan.

"Kalau saya salah, Mbah boleh koreksi."

"Nggak salah." Untuk pertama kalinya, senyum Mbah Ginem terlihat penuh. "Banyak orang datang bawa uang dan kamera, lalu menyebut semua kain tua sebagai pusaka. Kamu lihat kerja tangan di dalamnya."

Ia mengambil serangkaian kunci dari pinggang. Sikapnya yang semula hanya ramah karena nama Bu Laksmi berubah menjadi kepercayaan kepada Sekar sendiri.

"Sekarang baru pantas lihat simpanan saya."

Gudang di belakang rumah berbau kayu kering dan daun cengkih. Beberapa peti disusun di atas panggung bambu agar tidak menyentuh lantai.

Mbah Ginem membuka peti paling bawah.

Di dalamnya ada tenun lurik berwarna indigo dalam dengan garis perak setipis embun. Gulungan lain berisi batik tulis bermotif awan dan melati, malamnya membentuk retakan halus pada kedua sisi.

Mata Sekar langsung menyala.

Ia mengenakan sarung tangan, lalu membuka kain sedikit demi sedikit. Pinggir tenun masih rapat. Tidak ada serat putus saat dilipat ringan. Ia mencium permukaan kain, memeriksa noda, dan membandingkan warna dengan sampel di dekat jendela.

"Benangnya dipintal tangan?"

"Sebagian. Garis peraknya pakai benang lama dari Solo. Sekarang susah cari."

Sekar mengukur pengulangan motif. Semua kebutuhan pesanan bisa dipenuhi jika jumlah gulungan sesuai catatan.

"Saya mau mengambil seluruh set yang ini."

Mbah Ginem menyebut harga.

Sekar terdiam. Angkanya sekitar tiga puluh persen di atas batas harga pasar yang dikirim Bu Laksmi.

"Mahal, Mbah."

"Kain itu menunggu lima belas tahun. Saya simpan waktu orang lain menjual cepat. Kalau kamu hanya cari murah, pulang saja."

Sekar tidak tersinggung. Ia menghitung ulang luas kain, biaya pengiriman, dan nilai pesanan jadi. Harga tersebut masih dapat dipertanggungjawabkan, tetapi keputusan tidak boleh diambil karena terpesona.

Ia menelepon Bu Laksmi melalui video dan memperlihatkan detail kain.

"Balik sisi satunya," perintah gurunya.

Sekar membalik batik, memperbesar retakan malam, lalu menunjukkan pinggir tenun.

Bu Laksmi terdiam cukup lama. "Itu kain simpanan lama Mbah Ginem."

"Ibu tahu?"

"Saya pernah lihat sebelum kamu lahir." Suara Bu Laksmi melembut sesaat, lalu kembali profesional. "Menurutmu layak?"

Sekar menatap kain di tangannya. "Layak. Warnanya tepat, seratnya sehat, dan jumlahnya cukup. Harga tiga puluh persen lebih tinggi, tapi kita menghemat perubahan desain serta keterlambatan."

"Kalau begitu putuskan."

"Ibu setuju?"

"Saya memberi kamu kewenangan bukan untuk menunggu saya bilang iya. Saya cuma mau dengar alasanmu."

Sekar menarik napas. "Baik. Aku beli."

Ia menutup telepon dan menghadap Mbah Ginem. "Saya ambil semua sesuai daftar. Tiga puluh persen dibayar sekarang sebagai uang muka. Sisanya setelah kain dihitung dan dikemas."

"Empat puluh persen."

"Tiga puluh lima. Saya juga tanggung kemasan antilembap dan asuransi dari kota."

Mbah Ginem mengamati wajahnya, lalu tertawa pendek. "Laksmi ngajari kamu menawar juga."

"Belajar dari klien."

Mereka sepakat pada tiga puluh lima persen. Sekar melakukan transfer melalui rekening Sanggar, mencatat nomor transaksi, dan meminta kuitansi dengan jumlah gulungan serta kondisi barang tertulis jelas.

Mbah Ginem tidak keberatan. Justru ia terlihat semakin menghargai Sekar karena tidak membiarkan rasa kagum menghapus prosedur.

"Kain akan saya angin-anginkan malam ini," katanya. "Besok kita hitung lagi sebelum dikemas."

Sekar memotret setiap gulung dan mengirim laporan kepada Bu Laksmi. Masalah pesanan besar akhirnya punya jalan keluar.

Narendra menelepon beberapa menit kemudian.

"Sudah dapat kainnya?"

Sekar mengarahkan kamera ke peti. "Lihat. Ini tenun lama, garisnya pakai benang perak. Batiknya juga masih bagus. Aku beli semuanya."

"Kamu senang."

"Kelihatan?"

"Matamu beda kalau bicara soal kain."

Sekar menjelaskan proses tawar-menawar dengan penuh semangat. Narendra mendengarkan, tetapi pertanyaan pertamanya setelah itu tetap sama.

"Di sana aman? Cuacanya bagaimana?"

Sekar melihat keluar. Cahaya sore mendadak meredup. Daun pisang bergerak keras, dan suara guruh terdengar dari arah gunung.

"Mau hujan, tapi aku segera kembali ke penginapan kota."

Mbah Ginem muncul di pintu gudang sambil memandang langit.

"Jangan turun gunung sekarang, Nak," katanya. "Hujan mau besar. Jalannya bisa tertutup. Menginap dulu saja."

Tetes pertama menghantam genteng seperti kerikil.

Sekar menatap layar ponsel, lalu hujan yang dalam hitungan detik menelan halaman.

Ia mengangguk tanpa rasa takut, mengira itu hanya satu malam biasa di desa.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!