Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dua puluh empat jam telah berlalu sejak sistem penguncian darurat mengisolasi mereka dari dunia luar. Pendaran lampu merah di sepanjang sudut penthouse kini berganti menjadi cahaya temaram yang hangat, namun keheningan di dalam kamar utama terasa makin pekat dan pekat.
Di atas tempat tidur, Clara berbaring miring dengan napas yang halus dan pendek. Aksinya menolak makanan selama seharian penuh mulai menggerogoti daya tahan fisiknya. Wajahnya yang pucat tampak kontras dengan warna kain seprai sutra abu-abu gelap. Kepala Clara terasa berat, dan kesadarannya berada di ambang batas antara mimpi buruk dan kenyataan yang lebih buruk.
Pintu kamar mandi terbuka. Kenzo melangkah keluar dengan handuk putih tersangkut di lehernya, kemeja hitamnya dibiarkan terbuka memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh. Pria itu mendekati tempat tidur, menatap tubuh mungil di depannya dengan pancaran mata yang sulit diartikan, campuran antara amarah atas ketegaran Clara dan obsesi yang tak lagi sanggup ia tahan.
Kenzo duduk di tepi kasur. Tangannya yang hangat merayap menangkup pipi Clara yang dingin.
"Kau makin lemah, Clara,"
bisik Kenzo pelan.
"Apakah perlawanan hampa ini sepadan dengan penderitaan yang kau buat sendiri?"
Clara perlahan membuka kelopak matanya yang berat. Manik matanya yang basah menatap Kenzo dengan sisa-sisa keberanian yang redup.
"Selama aku belum mati, kau tidak akan pernah menang"
Kenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman gelap yang mengirimkan getaran dingin langsung ke pusat kesadaran Clara. Pria itu menyingkap selimut yang menutupi tubuh Clara, membiarkan gaun rajut krem milik gadis itu tersingkap hingga ke pertengahan paha.
"Kau salah, Clara,"
kata Kenzo, suaranya berubah menjadi nada rendah yang menghipnosis sekaligus mengintimidasi.
"Aku sudah menang sejak kau tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu. Dan malam ini, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lama."
Sebelum Clara sempat memprotes atau mengerakkan tubuhnya yang lemas, Kenzo merangkak naik ke atas tempat tidur, mengurung tubuh Clara di bawah himpitan fisiknya. Tangan kokoh Kenzo mencengkeram lembut kedua pergelangan tangan Clara, menyatukannya di atas kepala gadis itu dengan gerakan dominan yang tak bisa dibantah.
Sentuhan kulit mereka yang saling menempel mengirimkan sengatan panas yang mendadak membakar hawa dingin di dalam kamar. Kenzo menundukkan wajahnya, mendaratkan ciumannya di bibir Clara dengan gairah yang membara dan penuh penekanan.
Ciuman itu tidak memberi ruang untuk bernapas. Kenzo menyesap, menggigit pelan, dan menguasai rongga mulut Clara secara beringas. Clara mencoba merontak, namun kondisi fisiknya yang lemah akibat mogok makan membuat dorongan tangannya hanya terasa seperti elusan tidak berdaya di dada bidang Kenzo.
Ketika bibir Kenzo berpindah menyusuri garis rahang hingga ke leher mulusnya, Clara terkesiap pelan. Setiap kecupan menuntut yang ditinggalkan Kenzo di kulit leher dan tulang selangkanya memicu gelombang panas asing yang menjalar ke seluruh sarafnya.
"Kenzo..."
cicit Clara terengah-engah, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Katakan namaku lagi, Clara,"
gumam Kenzo di atas kulit leher Clara, napas hangatnya yang memburu membasahi area sensitif gadis itu.
Jemari Kenzo yang kokoh mulai bergerak menyusup ke balik kain gaun rajut Clara, menanggalkannya secara perlahan namun pasti hingga pakaian itu terlepas sepenuhnya dari tubuh Clara. Dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu sudut, Kenzo menyesap pemandangan indah di depannya, sebuah mahakarya yang kini sepenuhnya berada dalam kekuasaannya.
Sentuhan jemari Kenzo di sepanjang lekuk tubuh Clara bergerak tanpa ragu, memanjakan dominasi fisiknya secara menyeluruh. Kulit telapak tangan Kenzo yang hangat dan sedikit kasar memberikan sensasi kontras pada kulit mulus Clara yang halus.
Clara menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan desakan napas dan lenguhan yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Pengkhianatan biologis tubuhnya makin menjadi-jadi. Di balik rasa benci yang mendalam pada sang monster, sentuhan intim dan intens yang dilancarkan Kenzo memicu reaksi fisik alami yang tak mampu ia lawan lagi dalam kondisi selemah ini.
"Lihat aku, Clara,"
perintah Kenzo dengan suara berat yang penuh dengan kepemilikan.
Kenzo melepaskan cengkeraman pada tangan Clara, membiarkan jemari tangannya menyusup di antara jemari Clara, saling mengunci rapat di atas kasur. Pria itu menindih tubuh Clara lebih rapat, mengikis habis sisa jarak di antara mereka berdua.
Batas terakhir yang selama ini memisahkan status mereka sebagai kakak adik tiri hancur berkeping-keping di malam itu.
Kenzo mengklaim Clara secara utuh dalam sebuah kepasrahan fisik yang intens, dominan, dan sarat akan emosi yang pekat.
Setiap pergerakan dan sentuhan intim yang terjadi di atas tempat tidur utama itu menjadi penyegelan atas kepemilikan mutlak Kenzo terhadap Clara.
Jeritan dan rintihan pasrah Clara terkunci di dalam ciuman-ciuman dalam Kenzo. Rasa sakit, nikmat yang asing, dan keputusasaan melebur menjadi satu di dalam benak Clara.
Ia mencengkeram bahu kokoh Kenzo, membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan obsesi pria yang paling dibencinya sekaligus pria yang kini telah menguasai seluruh jalan hidupnya.
Beberapa jam kemudian, keheningan kembali menguasai kamar utama penthouse.
Suara napas teratur Kenzo terdengar di sampingnya. Pria itu berbaring merangkul tubuh Clara dari belakang, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang telanjang Clara, menarik gadis itu agar menempel tanpa jarak pada dadanya.
Clara berbaring menatap kosong ke arah dinding kaca yang mulai diselimuti pendaran fajar dari luar. Tubuhnya terasa remuk dan lelah luar biasa, sementara bekas-bekas kepemilikan Kenzo tercetak jelas di sepanjang kulitnya. Batas itu telah dilintasi. Tidak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu. Ia telah menjadi milik Kenzo sepenuhnya, secara hukum buatan pria itu, secara isolasi fisik, dan kini secara tubuh.
Air mata dingin menetes menyusuri pipi Clara yang pucat, jatuh menetes ke atas bantal sutra. Di balik lengannya, gelang perak itu masih melingkar dingin, seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya seluruh pertahanan dirinya.
Tiba-tiba, suara denting halus dari sistem komputer penthouse bergema lembut di luar kamar, diikuti oleh bunyi KLIK mekanis yang berat pada pintu utama.
Timer empat puluh delapan jam penguncian darurat telah berakhir.
Kenzo yang terbangun oleh suara itu perlahan membuka matanya. Pria itu menunduk, mengepalkan jemarinya di atas perut Clara, lalu memberikan kecupan lembut di bahu telanjang gadis itu.
"Selamat pagi, milikku,"
bisik Kenzo dengan suara serak khas bangun tidur yang teramat puas.
"Penerbangan privat kita ke Karibia siap diberangkatkan hari ini."
Clara hanya menatap kosong pendaran fajar di luar jendela tanpa memberikan jawaban sedikit pun. Setiap sentuhan hangat Kenzo di bahunya kini terasa seperti stempel besi panas yang membakar jiwanya. Kebebasan telah menjadi ingatan samar, dan penerbangan menuju pulau terisolasi di Karibia nanti akan menjadi penguncian abadi atas takdirnya di dalam genggaman sang monster.