NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Deru mesin mobil Arka berangsur menghilang, ditelan gemuruh hujan yang makin keras menghantam atap. Kirei cuma bisa mematung di ruang tamu, menatap pintu kayu yang terkunci rapat. Rumah ini mendadak hening. Hampa banget, sampai-sampai rasanya tiap helaan napas bikin dadanya makin sesak.

"Cemburu?" Kirei mengulang kata itu pelan. Senyum hambar lolos dari bibirnya, mencoba mengusir rasa panas yang mendadak menyengat sudut mata. Siapa juga yang cemburu sama cowok kekanak-kanakan kayak dia? Mau dia jemput Siska, mau enggak pulang sekalian, peduli setan!

Kirei membalikkan badan, melangkah cepat ke kamar mandi bawah untuk cuci muka. Tapi guyuran air dingin di wajahnya sama sekali tak menolong—dadanya masih terasa membakar. Saat kembali ke kamar atas berniat memfokuskan pikiran pada tugas OSIS, matanya tak sengaja menangkap guling pembatas di atas kasur. Amarahnya meledak seketika.

Dengan gerakan kasar, disambarnya guling itu lalu dilempar begitu saja ke lantai. Kirei menarik selimut sampai menutupi kepala, memejamkan mata rapat-rapat, memaksakan diri tidur.

Satu jam. Dua jam. Kantuk tak kunjung datang. Otaknya malah liar melayang ke mana-mana: Hujan makin mengamuk di luar. Kenapa Arka belum pulang juga? Mobil Siska beneran mogok, atau cewek itu cuma cari-cari alasan buat berdua?

Tepat jam sebelas malam, bunyi klik samar dari pintu bawah bikin Kirei refleks menegakkan tubuh. Jantungnya meloncat—antara lega dan jengkel yang campur aduk tak karuan. Langkah kaki yang basah dan agak lambat terdengar menaiki tangga satu demi satu.

Buru-buru Kirei rebahan lagi, memunggungi pintu dan berpura-pura tidur pulas.

Pintu kamar terdorong pelan. Aroma hujan dan udara dingin menyusup masuk, tapi disusul wangi parfum manis feminin yang sangat asing—jelas bukan aroma citrus bercampur mint milik Arka. Hidung Kirei mengerut. Wangi ini... punya Siska.

Tanpa menyalakan lampu utama, Arka melangkah masuk. Kamar hanya diterangi remang lampu tidur di sudut meja. Langkah cowok itu terdengar sedikit menyeret, diiringi helaan napas panjang yang terdengar luar biasa lelah.

Kirei tetap bergeming, menahan napas rapat-rapat. Ia menunggu Arka bersuara atau bergerak menuju kamar mandi, tapi yang terdengar justru suara gesekan kain saat tubuh cowok itu ambruk ke sofa kecil di pojok kamar.

Arka tak naik ke kasur. Ia malah meringkuk miring di sofa sempit itu.

Rasa penasaran yang menyiksa membuat Kirei pelan-pelan memutar badan. Dari balik selimut, matanya mengintip ke sudut ruangan. Dalam pendar remang, Arka masih terbungkus jaket parasit hitamnya yang agak basah. Wajahnya menghadap dinding, kedua tangannya memeluk dada seperti orang kedinginan hebat.

Dahi Kirei berkerut. Kenapa dia enggak ganti baju? Kenapa malah tidur di sofa?

Akhirnya Kirei menyibak selimutnya. Tanpa suara, ia mendekati sofa. "Arka?" panggilnya pelan.

Hening. Cuma ada hembusan napas Arka yang putus-putus dan berat.

Saat berlutut di samping sofa dan mengamati dari dekat, dada Kirei mendadak berdesir tajam. Wajah Arka pucat pasi. Pelipisnya dibasahi keringat dingin, sementara bibirnya sedikit bergetar.

"Arka?" Kirei menepuk pelan lengan cowok itu. Seketika, hawa panas membakar langsung merambat ke telapak tangannya. "Astaga, lo demam?!"

Kirei refleks menempelkan telapak tangannya ke dahi Arka. Panasnya luar biasa. Tapi begitu pandangannya turun ke bagian bawah jaket, napas Kirei tertahan. Ada bercak gelap yang cukup lebar di kain parasit hitam itu. Begitu Kirei menyentuhnya ragu-ragu, jarinya ternoda cairan lengket.

Darah.

"Arka! Ini kenapa?!" bisik Kirei panik, suaranya gemetar parah. Jemarinya cekatan membuka ritsleting jaket. Di balik kaus putih yang sudah ternoda merah, tampak luka goresan cukup dalam di pinggang kanan cowok itu—seperti bekas sabetan tajam.

Arka perlahan membuka matanya yang sayu dan kemerahan. Melihat Kirei berlutut di sampingnya dengan muka pucat ketakutan, Arka malah terkekeh pelan—tawa serak yang terdengar sangat lemah.

"Jangan... berisik, Bu Ketua..." gumamnya terbata. Tangannya yang dingin terangkat pelan, menyentuh pergelangan tangan Kirei yang gemetar. "Nanti... Nyokap lo denger..."

"Gue enggak peduli!" Air mata Kirei mendadak luruh gitu aja. Panik murni menguasai kepalanya melihat darah yang makin merembes. "Lo habis dari mana?! Kenapa bisa luka gini?! Ini bukan gara-gara mobil mogok, kan?!"

Arka meram sebentar, menahan nyeri yang menghantam. "Siska... dia dijebak. Anak-anak Tunas Bangsa pancing gue lewat dia..." bisiknya pelan. "Seneng banget mereka nungguin gue di sana..."

Tangan Kirei membeku. Jadi... Arka pergi bukan karena keluyuran atau tergoda Siska. Cowok ini nekat menerobos hujan karena tahu sekolah lawan sedang merencanakan hal licik, dan lagi-lagi Arka pasang badan sendirian supaya masalah itu tak sampai menjangkau Kirei.

Rasa bersalah menghantam dada Kirei begitu telak. Prasangka buruk dan kekanak-kanakan soal cemburu tadi malam rasanya mendadak jadi sangat dangkal dan memuakkan.

"Lo bener-bener bego, Arka..." bisik Kirei terisak. Disapunya air mata itu kasar, lalu bangkit sigap. "Tahan sebentar. Gue ambil kotak P3K sama air hangat."

Malam dingin itu berubah jadi perlombaan dengan waktu. Jemari Kirei yang gemetar pelan-pelan membersihkan luka di pinggang Arka, mengusap antiseptik, lalu membebatnya rapi dengan kasa steril. Selama diselimuti rasa sakit, Arka cuma meringis pelan tanpa mengeluh. Matanya terus menatap wajah Kirei yang diterpa pendar remang—merekam tiap bulir air mata cewek itu yang jatuh untuknya.

Setelah luka terbalut dan Arka digantikan kaus bersih yang kering, Kirei memapah tubuh jangkung itu menuju kasur utama. Kali ini tak ada guling pembatas. Tak ada adu mulut soal garis suci.

Kirei membaringkan Arka hati-hati, menarik selimut sampai sebatas dada, lalu menempelkan kompres hangat di dahinya yang masih membara.

Saat Kirei berniat balik badan untuk merapikan sisa obat, jemari Arka yang panas mendadak meremas pergelangan tangannya, menahannya erat.

"Jangan pergi..." bisik Arka serak. Matanya menatap Kirei penuh kelelahan dan rasa takut yang jujur. "Di sini aja..."

Kirei menatap kuncian tangan Arka, lalu beralih ke wajah cowok yang biasanya begitu arogan namun kini tampak teramat rapuh. Benteng pertahanan yang selama ini dibangu teguh di dalam hatinya mendadak runtuh tanpa sisa.

Pelan-pelan Kirei duduk di tepi kasur, membiarkan jemarinya tetap dalam genggaman hangat Arka. "Gue enggak ke mana-mana. Gue di sini," bisiknya lembut.

Arka menghembuskan napas lega, perlahan memejamkan mata sampai deru napasnya teratur tanda ia mulai terlelap.

Kirei memandangi wajah tidur Arka di tengah keheningan malam. Namun di balik rasa lega itu, ketakutan baru mulai membayangi. Anak-anak Tunas Bangsa sudah mulai main fisik dan nekat menyerang terang-terangan. Kalau pertandingan minggu depan tetap berjalan, bagaimana nasib Arka? Dan yang lebih buruk... bagaimana kalau musuh-musuh Arka akhirnya tahu rahasia terbesar mereka—bahwa Kirei adalah titik lemah sang kapten?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!