NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hal-Hal Kecil yang Kembali Indah

Pagi itu gue bangun sebelum alarm bunyi. Langit di luar cerah, cahaya matahari masuk pelan lewat celah gorden. Gue duduk di tepi ranjang, senyum sendiri — untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, gue bangun tanpa ada beban di dada. Gak ada pertanyaan yang ngejar-ngejar, gak ada ketakutan yang nunggu di sudut ruangan.

Cuma ada hari baru. Dan Farhan bakal jemput sebentar lagi.

Gue mandi, pakai seragam rapi, ikat rambut biasa — tapi kali ini kerasa beda. Kayak semua hal kecil jadi lebih berwarna.

Pas keluar rumah, Farhan udah nunggu di depan. Bawa dua bungkus roti bakar dan dua botol teh manis. Senyumnya cerah banget, gak ada lagi bayang-bayang di matanya.

"Pagi," sapa dia, senyum melebar pas lihat gue keluar. "Nemu tempat enak tadi. Langsung mampir."

"Pagi juga." Gue mendekat, ambil satu bungkus. "Rajin banget pagi-pagi."

"Mau mulai hari dengan bener." Dia ngunyah sebentar sambil jalan pelan bareng gue. "Bukan lari dari masalah. Tapi jalan ke arah yang baik."

Di gerbang sekolah, banyak anak nyapa. Bukan cuma sekadar angkat dagu kayak dulu. Banyak yang senyum, ada yang melambaikan tangan. Bahkan anak-anak yang biasanya jauh.

"Berubah banget ya suasananya," bisik gue.

"Belum suasana yang berubah," jawab Farhan pelan. "Yang berubah... cara kita natapnya."

Pas masuk kelas, Pak Budianto udah di depan. Pas lihat kita masuk, beliau senyum dan mengangguk pelan — kayak orang tua yang lihat anaknya akhirnya pulang ke rumah.

Jam istirahat, kita duduk di bangku panjang di halaman belakang, di tempat yang sepi. Sari nyamperin, bawa dua es teh.

"Gue denger dari banyak orang," katanya sambil duduk di sebelah gue. "Semua udah kelar beneran ya?"

"Udah," jawab Farhan. "Paman Budi ditahan. Kepala Sekolah mundur dan kasih pernyataan lengkap. Bu Sari mulai urus dokumen di kota sini."

"Dan lo?" Sari natap Farhan. "Lo mau tetep dipanggil Farhan? Atau Raka?"

Farhan diem sebentar, mainin ujung kotak makan. "Gue mau dua-duanya. Di rumah... di depan Bapak sama Ibu yang ngerawat gue... gue tetap Farhan. Di depan Bu Sari... mungkin gue mulai kenal Raka pelan-pelan. Dan sama kalian... sama lo, Mir... gue mau jadi diri gue sendiri. Yang kalian kenal dari dulu."

"Itu bagus banget," kata Sari tulus. "Gak harus pilih kan? Lo utuh."

Pulang sekolah, Farhan ngajak gue duduk sebentar di taman kecil. "Boleh gue cerita sesuatu?"

"Boleh. Apa aja."

"Kemarin Bu Sari kasih gue kotak tua. Isinya surat-surat ayah gue. Salah satunya ditujukan buat gue, ditulis sebelum beliau pergi." Dia hening sebentar, napas pelan. "Beliau tulis: 'Jadilah orang yang lembut tapi berani. Jadilah orang yang tetap baik walau dunia tidak baik padamu.'"

Gue senyum, pegang tangannya pelan. "Kayak lo."

Dia ketawa kecil, malu dikit. "Gue masih belajar."

"Kita belajar bareng."

Sore itu gue pulang agak lambat. Pas sampai di rumah, Ibu lagi di beranda, nunggu sambil merajut.

"Kelihatan tenang sekali hari ini, Nak," kata Ibu lembut.

"Semua mulai di tempatnya, Bu." Gue duduk di sebelah Ibu. "Farhan... dia punya Ibu kandung sekarang. Tapi dia tidak kehilangan orang tua yang merawatnya. Justru nambah."

"Indah sekali. Kadang kita takut kehilangan, padahal sebenarnya kita baru saja mulai menerima lebih banyak kasih sayang." Ibu menepuk punggung tangan gue pelan. "Farhan anak yang beruntung. Dan kamu juga."

"Maksud Ibu?"

"Karena kamu tahu apa yang kamu mau. Dan kamu berani tetap di sana saat semua orang lain mungkin sudah pergi."

Malam itu, gue baru mau tutup buku, HP bunyi. Bukan dari Farhan. Dari Dimas.

"Tadi gue ke kantor polisi. Semua beres. Mulai besok gue ikut kegiatan pembinaan. Gak dikurung, cuma harus lapor dan ikut pelatihan. Gue mau mulai lagi pelan-pelan. Oh ya... Farhan kabarin gue soal Bu Sari. Gue senang banget buat dia."

Gue ketik balas cepat:

"Semangat ya, Dim. Kalau butuh apa-apa, kabarin. Kita di sini."

Pesan masuk lagi:

"Makasih. Dan... jaga dia ya. Dia pantes bahagia."

Gue senyum, taruh HP di meja. Hati gue hangat banget.

Tiba-tiba HP bunyi lagi. Kali ini dari Farhan.

"Gue baru selesai ngobrol sama Bapak sama Ibu. Mereka bilang... Raka itu nama ayah gue, tapi Farhan nama yang mereka kasih dengan kasih sayang. Jadi Farhan tetap gue. Raka bagian dari sejarah gue. Gue utuh sekarang, Mir. Dan gue mau bilang satu hal."

"Apa?"

"Gue sayang lo. Bukan karena lo ada saat gue jatuh. Tapi karena lo bikin gue sadar... gue berhak berdiri tegak."

Gue baca pesan itu berulang kali, mata terasa hangat. Ketik pelan:

"Gue juga sayang lo, Farhan. Dan gue bakal ada di sini — saat lo jatuh, saat lo berdiri, dan saat lo bahagia."

Besok paginya, udah biasa. Bel, masuk kelas, pelajaran, tugas. Tapi kerasa beda. Suasana di kelas lebih ringan. Anak-anak ketawa lebih lepas. Gak ada lagi tatap-tatap aneh, gak ada bisik-bisik di belakang punggung.

Jam istirahat, Farhan kasih gue selembar kertas kecil. Dilipat rapi.

"Minggu depan ada pesta kecil di rumah gue. Bu Sari, Bapak Ibu, Pak Budianto, Dimas juga bakal datang. Bukan perayaan besar. Cuma makan bareng. Pengen lo ada di sana. Karena lo bagian dari semua ini."

Gue lihat dia dari seberang meja. Dia natap gue, senyum sedikit malu tapi berharap banget.

Gue tulis di balik kertas itu: "Pasti. Gak bakal kemana-mana."

Saat pulang, kita jalan bareng kayak biasa. Tangan kita gak pegang, tapi dekat banget. Bahu kadang bersentuhan dikit. Rasanya cukup.

"Mir," panggilnya pelan sebelum kita berpisah di depan pagar.

"Iya?"

"Lo tau gak... hal yang paling gue syukuri?"

"Apa?"

"Gue gak cuma dapet jawaban soal siapa gue. Gue juga dapet kejelasan soal siapa yang mau gue jalani hidup bareng." Dia hening sebentar, senyum tulus. "Dan itu lo. Dari awal. Sampai sekarang."

Gue senyum, mata panas. "Gue juga."

Dia melangkah pergi, lalu berhenti dan nengok lagi. "Minggu jemput lo ya?"

"Pasti."

Malam itu gue tulis di buku catatan:

"Banyak hal berubah. Nama, cerita, keluarga. Tapi satu hal tetap sama — di antara semua kemungkinan, di antara semua keraguan, hati kita akhirnya pulang ke satu tempat. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena di situlah tempatnya bernapas lega. Di situlah rumahnya."

Langit di luar tenang. Bintang bersih, awan tipis. Gak ada badai di ramalan cuaca. Dan untuk pertama kalinya... gue yakin langit bakal cerah besok.

Tiba-tiba ada ketukan pelan di jendela kamar dari luar.

Gue kaget, langsung bangun dan tarik gorden.

Di bawah lampu jalan, Farhan berdiri sambil senyum, tangannya melambai pelan. Di tangan satunya ada bunga matahari segar.

Gue buka jendela pelan. "Han? Lo belum pulang?"

"Udah mau pulang." Dia ketawa kecil, suaranya naik dikit. "Cuma... tadi gue lewat toko bunga. Ngeliat ini. Langsung kepikiran lo."

Dia angkat bunga itu. Kuning cerah, tegak dan kuat.

"Kenapa matahari?" tanya gue senyum.

"Karena lo selalu ngarah ke terang. Dan bikin orang di dekat lo ikut cerah." Dia malu dikit, garuk leher yang gak gatal. "Gak mahal. Cuma... gue mau kasih sesuatu yang sederhana. Yang gak ada rahasianya."

"Indah banget, Han. Makasih."

"Sama-sama. Tidur nyenyak ya, Mir. Besok ketemu lagi."

"Besok ketemu."

Dia melangkah pergi, berbalik dua kali sebelum hilang di tikungan. Gue taruh bunga itu di gelas berisi air di meja belajar. Di bawah cahaya lampu, kuningnya cerah dan hangat.

Gue tidur dengan senyum di bibir. Besok hari biasa. Pelajaran, tugas, bel pulang.

Tapi semua hal biasa itu sekarang jadi luar biasa. Karena gak ada yang disembunyikan. Gak ada yang ditakuti.

Cuma ada kita. Dan hari yang panjang — tapi indah — di depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!