NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kembalinya Sang Gunbai

​Matahari pagi bersinar menembus kabut tipis yang menyelimuti perairan Grand Line.

​Lautan yang dikenal sebagai kuburan para bajak laut itu tampaknya sedang menunjukkan sisi tenangnya. Ombak berdesir lembut menyapu lambung Kapal Bajak Laut Mugen yang berlayar dengan kecepatan stabil. Angin laut bertiup membawa aroma garam dan kebebasan yang tak terbatas.

​Di atas geladak utama, sisa-sisa ketegangan dari pertarungan beberapa hari lalu perlahan mulai menguap.

​Mantan kapten bajak laut gemuk beserta para krunya sedang sibuk membersihkan lantai kayu. Mereka mengepel sisa-sisa genangan air dan merapikan tali tambang. Tangan mereka masih sesekali bergetar. Ingatan tentang tekanan Haoshoku Haki yang membuat mereka pingsan secara massal masih tertanam kuat di dalam sistem saraf mereka.

​Setiap kali mereka melirik ke arah pintu kabin utama, keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari dahi mereka.

​Di area yang lebih tinggi, dinamika berbeda sedang terjadi.

​Nico Robin duduk di atas kursi rotan di dekat ruang kemudi. Matanya menatap hamparan laut biru, namun pikirannya terus menganalisis kekuatan sang kapten. Gadis arkeolog itu menyadari bahwa kapal yang dia tumpangi ini bukan lagi sekadar tempat pelarian, melainkan pusat dari sebuah badai yang akan segera mengguncang dunia.

​Vinsmoke Reiju berdiri di dekat pagar pembatas. Sang putri racun menatap pantulan dirinya di air laut. Dia terus memikirkan bagaimana kapten mereka berhasil selamat dari kerusakan seluler yang begitu ekstrem. Pengetahuan medis kerajaan Germa miliknya seolah tidak ada harganya saat dihadapkan pada misteri tubuh pemuda tersebut.

​Tinggi di atas tiang layar, Monet duduk menyilangkan kakinya. Gadis berambut hijau pucat itu memantau cuaca dan pergerakan di langit. Sayap saljunya terlipat rapi di punggung. Kewaspadaannya berada di tingkat maksimal. Dia menolak membiarkan ancaman sekecil apa pun mendekati kapal saat dewanya sedang beristirahat.

​Waktu terus berjalan lambat.

​Keheningan pagi itu tiba-tiba dipecahkan oleh sebuah suara yang sangat sederhana, namun memiliki dampak yang luar biasa besar bagi semua orang di atas kapal.

​Klik.

​Suara kenop kuningan pintu kabin utama yang diputar dari dalam terdengar sangat jelas.

​Seluruh aktivitas di atas geladak terhenti secara instan.

​Mantan kapten bajak laut menjatuhkan kain pelnya. Para kru menahan napas mereka. Robin meletakkan cangkir kopinya. Reiju memutar tubuhnya dengan cepat. Monet melompat turun dari tiang layar dan mendarat tanpa suara di dekat ruang kemudi.

​Pintu kayu jati yang tebal itu terbuka perlahan ke arah luar.

​Sesosok pemuda melangkah keluar dari dalam kegelapan kabin, menembus cahaya matahari pagi yang menyilaukan.

​Uchiha Madara.

​Pemuda itu mengenakan kemeja hitam lengan panjang dengan kerah tinggi, dipadukan dengan celana kain berwarna gelap dan sandal kayu khas shinobi. Rambut hitam panjangnya yang liar berkibar pelan tertiup angin laut. Wajahnya terlihat sangat datar, pucat, namun memancarkan ketenangan yang absolut.

​Luka sayatan di dadanya telah hilang tanpa bekas. Demam tinggi yang nyaris merebus air di sekitarnya tidak lagi menyisakan jejak.

​Namun, bukan penampilan fisiknya yang membuat seluruh orang di atas kapal itu menahan napas.

​Hal yang membuat Robin, Reiju, dan Monet menatap dengan takjub adalah hawa keberadaan yang dipancarkan oleh tubuh pemuda tersebut.

​Aura Madara terasa jauh lebih berat, padat, dan murni dari sebelumnya.

​Jika beberapa hari yang lalu auranya terasa seperti pisau tajam yang siap memotong apa saja, kini auranya terasa seperti sebuah lautan tak berdasar yang tenang namun menyembunyikan tekanan gravitasi yang mematikan.

​Setiap langkah yang diambil Madara di atas geladak membuat udara di sekitarnya sedikit bergetar.

​Ini bukan Haki Penakluk yang dilepaskan secara sengaja. Ini adalah efek pasif dari kepadatan sel fisik yang baru saja dia tingkatkan.

​Di dalam kabin sebelumnya, Madara telah mengonsumsi serum peningkat kepadatan sel fisik dari Sistem. Serum itu memaksa struktur tulang, otot, dan organ dalamnya menyerap energi spiritual secara permanen. Wadah remajanya kini telah melampaui batas biologis manusia biasa.

​Jalur tenketsu di dalam tubuhnya telah melebar. Sirkulasi chakranya mengalir sehalus air namun sekuat aliran magma. Tubuh fisik dan energi spiritualnya kini telah menyatu dalam harmoni yang sangat sempurna.

​Reiju menelan ludah. Mata birunya membelalak.

​'Ini mustahil,' batin sang putri racun dengan pikiran yang terguncang. 'Beberapa hari yang lalu, sel-sel di tubuhnya berada di ambang kehancuran akibat kelelahan. Sekarang, struktur biologisnya terasa ribuan kali lebih padat. Dia berevolusi hanya dengan tidur selama tiga hari?'

​Robin menyilangkan tangannya di depan dada, mencoba menyembunyikan getaran di ujung jarinya. Dia bisa merasakan bahwa pemuda yang melangkah di depannya ini tidak lagi memiliki kelemahan stamina seperti saat bertarung melawan armada Angkatan Laut.

​Monet segera menjatuhkan dirinya ke lantai geladak. Dia bersujud dengan satu lutut, menundukkan kepalanya dalam sebuah gestur penyembahan murni.

​“Selamat pagi, Tuan Madara,” sapa Monet dengan suara yang dipenuhi pemujaan mutlak.

​Mantan kapten bajak laut dan para kru lainnya segera mengikuti tindakan Monet. Mereka semua berlutut secara serentak, menempelkan dahi mereka ke atas lantai kayu geladak. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap langsung ke arah mata hitam kelam sang kapten.

​Madara mengabaikan sapaan tersebut. Dia mengabaikan kru yang bersujud di sekitarnya.

​Dia melangkah dengan tenang menuju bagian tengah geladak yang luas. Sandal kayunya berketuk pelan, setiap ketukannya seolah menjadi pengingat bagi siapa pun yang mendengarnya tentang siapa penguasa absolut di kapal ini.

​Madara menghentikan langkahnya tepat di tengah geladak.

​Dia berdiri dengan postur tubuh yang tegak. Matanya menatap lurus ke arah udara kosong di depannya.

​'Tubuh ini sudah siap,' batin Madara dengan pikiran analitis yang sangat jernih. 'Sekarang saatnya melengkapi persenjataan yang sesungguhnya.'

​Madara memusatkan kesadarannya. Dia memanggil antarmuka layar Sistem penaklukan yang tersembunyi di dalam jiwanya.

​Bagi orang-orang di sekitarnya, Madara hanya terlihat sedang menatap ruang hampa. Namun di dalam penglihatan batinnya, layar-layar biru transparan muncul berjejer menampilkan berbagai menu dan angka.

​Dia mengarahkan kesadarannya pada menu persenjataan legendaris yang telah dia proses sebelumnya di dalam kabin.

​Sebuah teks pemberitahuan muncul mengambang di udara di depan wajahnya.

​[Sistem Penaklukan: Permintaan penarikan item pusaka dikonfirmasi.]

[Menginisialisasi transfer ruang dan waktu.]

​Madara perlahan mengangkat tangan kanannya.

​Dia mengulurkan lengannya ke arah depan, dengan posisi telapak tangan terbuka seolah bersiap menerima sesuatu yang berukuran besar. Gerakan aneh itu membuat Robin dan Reiju saling melempar pandangan penuh tanda tanya.

​“Apa yang sedang dia lakukan?” bisik Reiju sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar.

​“Entahlah. Tapi udara di sekitarnya mulai berubah,” jawab Robin dengan keringat dingin di pelipisnya.

​Perkataan Robin terbukti benar dalam hitungan detik.

​Tepat satu meter di depan telapak tangan Madara yang terulur, udara mulai beriak.

​Awalnya riakan itu terlihat seperti distorsi panas di atas padang pasir. Namun distorsi itu semakin lama semakin membesar. Suara dengungan frekuensi rendah mulai terdengar memenuhi telinga semua orang di geladak.

​Udara di titik tersebut melintir ke dalam, membentuk sebuah pusaran kecil.

​Pusaran ruang dan waktu itu perlahan melebar. Warna hitam pekat dan ungu gelap berputar di dalam pusaran tersebut, seolah memperlihatkan celah menuju dimensi lain yang tidak memiliki ujung.

​Angin di atas geladak mendadak menjadi sangat liar. Awan-awan tipis di langit seolah tersedot secara perlahan ke arah titik distorsi itu.

​Para kru bajak laut yang sedang bersujud mengangkat wajah mereka karena terkejut. Mulut mereka terbuka lebar melihat sebuah lubang hitam muncul dari ketiadaan di tengah geladak kapal mereka.

​Dari dalam pusaran ruang dan waktu yang berputar itu, ujung sebuah benda padat mulai muncul.

​Benda itu terbuat dari kayu kuno yang sangat gelap dan memancarkan aura sakral yang luar biasa tebal. Kayu itu bukanlah sembarang kayu, melainkan material yang diukir dari dahan Pohon Suci di masa lalu.

​Benda itu terus meluncur keluar dari dimensi Sistem.

​Sebuah kipas raksasa berbentuk labu.

​Tepian kipas itu dilapisi oleh bingkai besi berwarna hitam pekat yang terlihat sangat keras dan tidak bisa dihancurkan. Di bagian tengah permukaan kayunya yang gelap, tergambar sebuah lambang pusaran api berukuran besar dengan warna merah darah yang menyala terang.

​Di bagian ujung bawah kipas, terdapat gagang kayu silinder yang dibalut pita perban putih kusam. Sebuah rantai baja tebal yang panjang melilit dari pelindung gagang tersebut, bergemerincing dengan suara logam yang sangat berat.

​Gunbai Uchiwa. Kipas pusaka legendaris klan Uchiha.

​Benda pusaka itu meluncur sepenuhnya dari dalam pusaran ruang dan waktu. Setelah seluruh bagian senjata itu keluar, pusaran hitam di udara langsung menutup diri dan menghilang tanpa sisa, meninggalkan keheningan sesaat.

​Kipas raksasa itu jatuh bebas ke arah bawah.

​Madara tidak membiarkan senjata kebanggaannya menyentuh lantai kayu kapal yang kotor.

​Tangan kanannya yang sedari tadi terulur bergerak dengan kecepatan kilat. Dia menangkap gagang kayu Gunbai itu dengan genggaman yang sangat erat dan presisi.

​Trang.

​Suara rantai baja yang saling berbenturan terdengar nyaring saat kipas raksasa itu berhenti di tangan Madara.

​Udara di sekitar geladak seolah membeku sesaat.

​Aura dari senjata pusaka itu langsung menyatu dengan hawa keberadaan Madara. Kedua entitas kuno itu saling melengkapi satu sama lain. Gunbai Uchiwa bukanlah sekadar senjata mati, ia adalah benda yang mampu menyerap dan memantulkan chakra penggunanya. Saat Madara memegangnya, kipas itu terasa seperti perpanjangan langsung dari lengannya sendiri.

​Robin menahan napasnya. Mata birunya menatap lekat pada lambang pusaran merah di kipas tersebut.

​'Senjata apa itu? Aku belum pernah melihat desain seperti itu di buku sejarah atau ensiklopedia senjata meito mana pun di dunia ini,' batin Robin takjub. Bentuk kipas perang sangat tidak lazim di perairan Grand Line yang didominasi oleh pedang, kapak, dan senjata api.

​Reiju memicingkan matanya. Dia bisa merasakan tekanan tak kasatmata yang dipancarkan oleh material kipas itu. Besi hitam di pinggirannya memancarkan hawa dingin yang mengingatkannya pada Busoshoku Haki, namun jauh lebih kuno dan absolut.

​Madara memutar pergelangan tangan kanannya.

​Dia mengayunkan Gunbai itu dalam gerakan melingkar kecil di samping tubuhnya untuk menguji keseimbangannya.

​Suara angin yang terbelah terdengar sangat tajam. Berat dari kipas raksasa itu tidak berarti apa-apa bagi otot lengan Madara yang telah diperkuat oleh serum Sistem. Dia bisa memutarnya seringan sebuah ranting pohon kecil.

​'Keseimbangan yang sempurna,' batin Madara dengan rasa puas yang memenuhi rongga dadanya. 'Tidak ada logam rongsokan di dunia ini yang bisa menandingi daya tahan dari kayu Pohon Suci.'

​Madara memegang gagang kipas itu dengan kedua tangannya.

​Dia melangkah menuju pagar pembatas kapal di sisi kanan. Para kru yang bersujud buru-buru menyingkir dengan cara merangkak, memberikan jalan bagi dewa mereka yang sedang berjalan memegang senjata pemusnah massal.

​Madara berhenti tepat di depan pagar kayu.

​Dia menatap hamparan lautan luas di hadapannya. Jauh di ujung cakrawala, sekitar beberapa kilometer dari posisi kapal mereka, terdapat sebuah area cuaca anomali khas Grand Line.

​Awan badai berwarna kelabu tebal menggulung di atas sana. Petir menyambar-nyambar di dalam gumpalan awan tersebut. Permukaan laut di bawah awan badai itu bergolak liar, menciptakan ombak-ombak tinggi yang saling bertabrakan. Sebuah topan kecil mulai terbentuk di kejauhan.

​Bagi kapal biasa, melihat badai di depan mata adalah sebuah peringatan untuk segera memutar kemudi dan mencari jalur yang aman.

​Tetapi bagi Madara, badai itu adalah sebuah target uji coba yang sangat sempurna.

​Madara merenggangkan kuda-kudanya. Kaki kirinya digeser sedikit ke belakang.

​Dia memutar tubuhnya menyamping. Gunbai Uchiwa ditarik ke belakang bahu kanannya.

​Dia tidak merapal segel tangan. Dia tidak memfokuskan elemen chakra apa pun ke dalam kipasnya. Dia hanya mengalirkan sedikit chakra murni ke dalam serat kayu Pohon Suci, lalu memadukannya dengan kekuatan otot fisiknya yang baru.

​Senjata ini dikenal dengan teknik pantulan absolutnya. Namun, fungsi dasar dari sebuah kipas perang raksasa adalah kemampuannya untuk mengendalikan angin.

​Madara memfokuskan pandangannya ke arah badai yang bergolak di cakrawala.

​Mata hitamnya menajam. Hawa membunuh dan dominasi meledak dari tubuhnya dalam hitungan sepersekian detik.

​“Uchiha Gaeshi.”

​Madara membisikkan nama teknik legendaris itu dengan sangat pelan.

​Dia mengayunkan Gunbai Uchiwa dari belakang bahunya ke arah depan dalam satu tebasan horizontal murni yang sangat cepat dan bertenaga.

​Bum.

​Suara ledakan sonik pecah di udara tepat di depan ayunan kipas tersebut.

​Gerakan fisik Madara telah menghancurkan penghalang suara. Udara di depan kipas raksasa itu dikompresi secara instan oleh gabungan antara kekuatan fisik ekstrem dan aliran chakra murni yang memancar dari kayu pusaka.

​Sebuah gelombang tekanan angin raksasa tercipta.

​Ini bukanlah tebasan pedang udara biasa seperti Rankyaku milik Angkatan Laut, atau tebasan pedang dari para ahli pedang dunia ini.

​Ini adalah sebuah dinding angin topan padat yang memiliki lebar puluhan meter. Topan tak kasatmata itu melesat membelah lautan dengan kecepatan yang jauh melampaui peluru meriam.

​Permukaan air laut di sepanjang jalur lintasan topan itu langsung terbelah dua.

​Sebuah parit air sedalam belasan meter tercipta di atas permukaan lautan, memperlihatkan dasar pusaran air yang berbuih. Dinding air setinggi bangunan tiga lantai terangkat di sisi kiri dan kanan jalur tebasan angin tersebut.

​Kapal Bajak Laut Mugen berguncang hebat akibat gaya tolak dari ayunan Madara. Para kru menjerit dan berpegangan erat pada tiang kapal agar tidak terlempar ke laut.

​Topan raksasa itu terus melesat menjauhi kapal dalam hitungan detik.

​Gelombang angin mematikan itu menabrak area cuaca anomali di ujung cakrawala dengan kekuatan hidrolik yang tidak bisa diukur oleh akal sehat.

​Ledakan udara kedua terjadi di kejauhan.

​Gumpalan awan badai berwarna kelabu yang sedang menggulung itu dihantam telak tepat di bagian tengahnya.

​Tekanan angin dari Uchiha Gaeshi merobek struktur awan badai tersebut seperti merobek selembar kertas tisu basah. Awan-awan itu tercerai berai. Topan kecil yang baru saja terbentuk hancur lebur kembali menjadi udara kosong. Ombak-ombak tinggi yang bergolak ditekan kembali ke bawah menjadi riak-riak air yang tenang.

​Kehancuran itu menyebar dengan sangat cepat menembus langit.

​Dinding topan tak kasatmata itu terus melaju ke atas, membelah seluruh formasi awan gelap sejauh mata memandang.

​Sebuah garis belahan yang sangat lurus dan rapi tercipta membelah langit Grand Line.

​Di antara belahan awan badai yang tersingkir ke kiri dan ke kanan itu, langit biru yang sangat cerah kembali memancarkan sinar matahari sore. Cahaya keemasan menembus celah awan yang terbelah, menyinari permukaan lautan yang kini berubah menjadi tenang tanpa ombak yang berarti.

​Satu ayunan kipas. Satu tebasan fisik murni.

​Cuaca anomali dari lautan paling berbahaya di dunia dihancurkan secara sepihak. Badai dibungkam, awan dipotong, dan lautan dipaksa tenang.

​Di atas Kapal Bajak Laut Mugen, waktu seolah berhenti berdetak selamanya.

​Angin yang tersisa dari ayunan kipas itu menyapu wajah para kru. Topi mantan kapten bajak laut terbang terbawa angin dan jatuh ke laut, namun pria gemuk itu tidak memedulikannya sama sekali.

​Rahang mantan kapten bajak laut itu jatuh terbuka lebar hingga nyaris menyentuh lantai kayu. Mata bulatnya menonjol keluar menatap langit yang terbelah dua di kejauhan.

​Para kru lainnya berada dalam kondisi yang tidak lebih baik. Mereka meneteskan air liur tanpa sadar, seluruh persendian mereka membeku. Mereka baru saja menyaksikan fenomena alam dihancurkan oleh kekuatan otot dari satu orang manusia. Mitos tentang kekuatan para dewa lautan dan manusia terkuat di dunia seolah menjadi lelucon murahan saat disandingkan dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

​Robin berdiri mematung di dekat ruang kemudi.

​Buku catatan sejarah di tangannya terlepas dan jatuh membentur lantai kayu. Gadis arkeolog yang selalu tenang itu kini kehilangan seluruh kemampuannya untuk mengendalikan ekspresi wajah. Jantungnya berdetak dengan kecepatan yang menyakitkan dada.

​Dia telah melihat Laksamana Angkatan Laut yang bisa membekukan lautan, namun membelah langit dan merubah cuaca hanya dengan ayunan senjata fisik adalah tingkat penghancuran yang berada di dimensi yang berbeda sama sekali.

​Reiju menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

​Tubuh sang putri racun itu bergetar pelan. Ilmu pengetahuan yang dia agung-agungkan hancur lebur menjadi debu tak berharga. Dia menyadari bahwa senjata berbentuk labu itu bukanlah alat sains, melainkan pusaka maut yang dirancang untuk memenggal dewa.

​Monet yang sedari tadi bersujud, kini mengangkat wajahnya dengan air mata mengalir deras dari mata emas kekuningannya. Gadis salju itu tidak menangis karena sedih, melainkan karena kebahagiaan dan pemujaan yang terlalu besar. Dia menangis melihat betapa sempurna dan tak terkalahkannya makhluk yang dia pertaruhkan nyawanya.

​Uchiha Madara menurunkan Gunbai Uchiwa perlahan.

​Dia tidak terlihat terengah-engah sedikit pun. Tidak ada keringat yang menetes. Tubuhnya tidak merasakan kelelahan material maupun kelelahan otot. Kipas kayu kuno itu menyerap tenaganya dengan sangat efisien dan memantulkannya menjadi kehancuran tanpa menyiksa wadah fisiknya.

​Madara memutar gagang kipas itu, lalu menyandarkan bilah besarnya ke atas bahu kanannya dengan gerakan yang sangat santai. Rantai baja tebal yang melilit di bagian bawah kipas bergemerincing pelan dan menjuntai hingga menyentuh lantai geladak.

​Dia berdiri di ujung haluan kapal, membelakangi langit sore yang terbelah dua akibat serangannya sendiri.

​Angin laut yang kini tenang meniup jubah hitam dan rambut panjangnya.

​Madara memandang lurus ke arah jalur lautan di depan kapal mereka. Sebuah jalur yang membentang menembus paruh pertama Grand Line. Tempat di mana para bajak laut elit, pemburu hadiah tingkat dunia, dan pangkalan markas besar Angkatan Laut menanti. Tempat yang oleh para petualang bodoh sering disebut sebagai surga lautan atau Paradise.

​Sebuah senyuman sinis perlahan terbentuk di sudut bibir Madara.

​Senyuman itu sangat tipis, dingin, dan memancarkan arogansi mutlak yang merendahkan segala bentuk kehidupan yang ada di lautan ini.

​'Paradise,' batin Madara mengeja kata itu dengan penuh penghinaan.

​'Sebuah taman bermain untuk para bocah yang mabuk oleh mimpi kebebasan dan keadilan palsu. Mari kita lihat, seberapa lama taman bermain ini bisa bertahan sebelum aku membakarnya hingga menjadi abu.'

​Di belakangnya, kapal Bajak Laut Mugen berlayar dengan tenang menembus ombak.

​Kru yang masih terdiam dalam kekaguman ekstrem telah sepenuhnya menyadari satu fakta tak terbantahkan. Kapal kayu kecil ini tidak lagi perlu bersembunyi atau melarikan diri dari siapa pun.

​Dengan kembalinya sang kipas legendaris dan tubuh kapten mereka yang telah mencapai tahap evolusi sempurna, kelompok bajak laut ini telah bermutasi menjadi sebuah kekuatan tempur yang memiliki kapasitas untuk meruntuhkan segalanya.

​Sistem Shichibukai yang diagungkan. Laksamana markas besar yang menakutkan. Atau bahkan para kaisar lautan di Dunia Baru. Semuanya kini hanyalah target latihan yang menunggu giliran untuk dihancurkan.

​Arc Ujian Keadilan di awal rute Grand Line telah ditutup dengan sangat telak.

​Bukan keadilan yang menguji sang iblis, melainkan sang iblis yang telah menimbang berat dari keadilan dunia ini dan menemukannya terlalu ringan. Bajak laut Mugen melangkah maju memasuki panggung utama dunia, membawa teror yang akan menenggelamkan setiap kesombongan di lautan menuju dasar jurang keputusasaan yang tidak memiliki akhir.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!