Siapa yang tidak kenal dengan Jordan Mikhael Anderson. Pria berkharisma itu adalah pemilik perusahaan MA Group. Perusahaan besar di dunia, memiliki banyak cabang di setiap negara.
Dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, Alana Jovanka. Alana menelan saliva dengan susah payah melihat kopinya yang tumpah pada tuksedo pria yang kini menatapnya, tatapan itu seperti laser yang siap membelah tubuhnya.
Alana menahan nafasnya, saat Jordan mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Jangan harap kau bisa lepas dariku, bodoh!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Power Nicholas
Jordan memainkan pusakanya di kelembutan Alana dengan cukup keras. Tubuh gadis di bawahnya menggeliat tidak karuan saat menerima serangan pusaka Jordan yang tanpa ampun menyerangnya.
“Emh,” Alana mengerang menikmati permainan kasar Jordan.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tubuh Alana dan Jordan sudah penuh dengan keringat karena permainannya.
“Kita keluar bersama, sayang!” imbuh Jordan dengan mengatakan kalimat sayang dengan nada sensualnya. Jordan semakin mempercepat ritme permainannya untuk segera mencapai pelepasannya.
Alana mengentak kejang saat merasakan sergahan terakhir Jordan. Cairan Jordan meledak di dalam rahim Alana.
Tenaga Jordan habis karena permainan kasarnya, tubuhnya ambruk menimpa Alana. Jordan menghisap leher Alana, memberi tanda kepemilikannya.
Alana yang merasa berat karena Jordan menindih tubuh kecilnya, dia berusaha mendorong Jordan agar menajauh. Tetapi sia-sia karena tubuh Jordan terlalu besar sementara tenaga Alana sudah habis.
“Jordan tubuhmu berat,” rengek Alana.
Jordan mengangkat tubuhnya, memperhatikan wajah Alana yang penuh dengan keringat. “Menikmatinya, sayang?”
Pipi Alana bersemu merah dan Jordan sudah tahu jawabannya. Gadis kecilnya ini mulai menyukai cara bermain sx kasarnya.
***
Alana melirik ke samping tempat tidurnya, tidak ada Jordan di sana. Setelah mengucek matanya Alana mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jordan. Sepertinya Jordan tidak ada di kamar, Alana bangkit untuk membersihkan tubuhnya.
Tetapi baru satu langkah Alana meringis kesakitan, ternyata permainan Jordan yang membuat Alana sangat menikmatinya berakhir tragis.
Kelembutan Alana terasa perih, persis seperti saat dia kehilangan mahkotanya. Butuh waktu sepuluh menit hingga Alana sampai di kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Alana berjalan dengan pelan, hingga Alana sampai di ruang ganti. Mungkin orang yang melihat cara berjalan Alana akan terheran-heran melihat cara berjalan Alana.
Alana memakai dress yang dia beli bersama Jordan dan Niko, warna ibiru langit dari dress itu tampak serasi dengan kulit Alana.
Ponsel Alana berbunyi tanda notifikasi pesan, ternyata Jordan mengirimkan pesan padanya.
“Apa kau kesulitan berjalan?”
Dengan cepat Alana membalasnya, “Iya.”
Dugaan Jordan tepat, gadis kecilnya pasti sulit untuk berjalan. Seandainya dia ada di sana, mungkin Jordan akan suka rela menggendong Alana ke dalam kamar mandi dan mandi bersama.
“Shit,” Jordan mengumpat karena fantasinya membuat pusaka Jordan mengeras di bawah sana.
“Istirahatlah! Minta An mengantarkan sarapan ke kamar.”
Pipi Alana bersemu merah, pria yang senang menggagahinya itu ternyata memberikan perhatian kecil padanya.
“Baik tuan.”
Gadis kecilnya ini harus selalu di ingatkan, “Jordan!”
Alana tersenyum membaca pesan berisi perdebatannya dengan Jordan untuk pertama kalinya.
“Baik Jordan.”
“Good gril.”
Alana mencoba memberanikan diri untuk bertanya, “Sudah berangkat? Kenapa tidak membangunkanku?”
Alana menunggu balasan dari Jordan, tetapi sudah sepuluh menit pria itu tidak membalasnya. Alana membanting ponselnya ke atas tempat tidur, tidak mendapat balasan dari Jordan membuatnya sedikit kesal.
Ponselnya kembali berbunyi dengan cepat Alana meraihnya kembali, dengan semangat membuka aplikasi pesan.
Wajahnya memberengut, ternyata bukan Jordan yang membalasnya tetapi Niko yang mengirim pesan padanya.
Aku sedang tidak ingin menerima pesan mu, Nik
Meskipun kesal, Alana membuka pesan dari Niko. “Nona jangan pernah coba-coba pergi dari tuan muda!”
Alana mengepalkan tangannya, kenapa sekertaris itu selalu ikut campur urusannya. Ide gila muncul di kepala Alana, dengan cepat dia membalas pesan Nik.
“Aku tidak janji, kalau ada pria yang lebih kaya dari tuanmu. Mungkin bisa saja aku berpaling.”
Alana terkejut saat layar ponselnya menampilkan tanda panggilan dari Nik.