Cerita comedy
Cerita tentang gadis yang menikah dengan pria yang lebih dewasa, dan juga menceritakan tentang orang-orang disekitarnya.
Apa yang terjadi kenapa Aisha gadis yang berusia 20 tahun, menikah dengan seorang pria yang berusia 30 tahun.
Pria itu Om sahabatnya, Alana.
Bagaimana dengan kehidupan percintaan sahabatnya, Alana dan Mayang. Apakah mereka akan menikah dengan orang yang lebih tua juga, seperti Aisha ?
Bagaimana pernikahan yang diarungi Aisha, apakah akan bahagia ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Bertemu mantan
"Richard, bisa minta nomor ponselnya mu. Mungkin nanti kita bisa keluar bersama."
"Maaf, aku tidak ada ponsel," ucap Richard.
"Tidak mungkin kau tidak punya ponsel ." Rika tidak percaya Richard tidak punya ponsel.
"Terserahlah, kalau kau tidak percaya. Permisi." Richard bangkit dari duduknya, setelah melihat kedatangan Tony.
"Richard.." Rika berusaha untuk mencegah Richard pergi dari hadapannya.
"Kau tau Rika, aku pantang bermulut manis dengan orang yang sudah pergi dariku. Ini berbicara dengan dirimu saja aku malas, tapi karena menghargai dirimu sebagai mantan teman," ucap Richard dengan mempertegas kalimat mantan teman, kemudian Richard pergi dari hadapan Rika yang berdiri dengan seraut wajah yang kecewa.
"Sekarang kau bisa menolakku Richard, tapi aku akan berusaha mengambil hatimu kembali." dalam benaknya Rika.
"Mama, es cream Lania sudah habis." suara putrinya, membuyarkan apa yang ada dalam benaknya.
"Cukup, jangan tambah lagi. Kita harus cepat kembali, mama harus bekerja." sejak bercerai, Rika harus banting tulang. Karena tunjangan dari mantan suaminya hanya untuk putrinya saja, sedangkan Rika tidak mendapatkannya.
***
Gaby berjalan menuju kantin dengan mulut komat-kamit, sumpah serapah keluar dari bibirnya.
'Awas kalian semua, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua. Aisha, kau yang pertama aku ku balas." seringai muncul dari bibirnya.
"Eline, ayo sembunyi." tarikan tangan Lily membuat Eline kaget.
"Ada apa ?" tanya Eline, yang tidak mengetahui apa yang membuat Lily mengajaknya untuk bersembunyi.
"Lihat, sepertinya Gaby sedang dalam suasana hati yang buruk. Apa kau mau menjadi korbannya lagi." Eline melihat kearah tangan Lily, dan dilihatnya Gaby menuju kantin dengan wajah yang cemberut.
"Ada apa dengannya, apa dia salah makan ?" tanya Eline.
"Pasti dia ribut lagi dengan Aisha."
"Mungkin, untung kita tidak bersamanya. Bisa-bisa kepalaku menjadi korban tangannya kembali," ucap Eline sambil mengusap-usap kepalanya yang sering menjadi sasaran empuk tangan Gaby.
"Ayo kita menghindar, aku capek menghadapi kemarahannya terus-menerus," ucap Lily kepada Lily.
"Apa dia tidak akan bertambah marah jika dia tidak bertemu dengan kita?" tanya Eline.
"Kau mau bertemu dengan dirinya, silakan. Aku tidak mau," ucap Lily.
"kau ikut tidak?" tanya Lily, karena melihat Eline yang berat untuk beranjak dari tempatnya bersembunyi.
"ikut," jawab Eline.
Dengan mengendap-endap,
Eline dan Lily berlalu dari pintu samping kantin. Orang yang melihat kelakuan keduanya menjadi heran dan menertawainya.
****
"Mama." suara Alana keluar, saat melihat mama dan papanya berada disamping ranjangnya.
"Cucu nenek, jangan banyak gerak dulu ya. Nggak lihat itu, sekujur tubuhmu sudah seperti mumi." Oma Alana berusaha bergurau, untuk menghibur cucunya tersebut.
"Ada apa dengan Alana pa ?" tanya Alana, saat melihat badannya yang penuh dengan perban. Dan dilehernya ada penyangga leher, membuat dia sulit untuk berbicara.
"Al, apa kau lupa. Apa yang menimpa dirimu ?" tanya mamanya khawatir.
"Pa, apa Alana kehilangan ingatannya?" tanya mama kepada papa Alana.
"Papa juga tidak tahu, Dokter tidak ada bilang mengenai kehilangan ingatannya."
"Alana tidak kehilangan ingatannya, dia masih bingung. Karena bangun-bangun dia berada dirumah sakit, dengan keadaan seperti ini."
"Alana ingat, pergi kekantor Dony dan melihat Dony..." Alana menghentikan ucapannya, dan menangis.
"Sudah, jangan ingat-ingat itu dulu." ucap Oma Alana.
'Dony jahat Oma." adu Alana.
"Alana, jangan ingat itu dulu ya. Sekarang fokus untuk memulihkan kondisi mu dulu ." ucapan Omanya membuat Alana menghentikan tangisnya.
"Ya sayang."
"Apa Alana akan lumpuh ma ?" tanya Alana, saat dilihatnya. sebelah kakinya di gips. Begitu juga dengan tangannya.
"Hush.. siapa bilang anak papa akan lumpuh, Alana masih bisa berjalan. Asalkan Alana rajin berlatih."
"Betulkah, Alana masih bisa berjalan?" tanya Alana.
"Betul girl.." terdengar suara, dan pintu kamar tempat Alana dirawat terbuka. Muncul seraut wajah yang sudah lama tidak dilihat Alana.
"Mayang.." ucap Alana dengan suara yang pelan.
"Alhamdulillah..kau tidak melupakan diriku, aku kira benturan di kepalamu membuat kau melupakan sahabatmu ini ," ucap Mayang.
Alana tertawa dan tiba-tiba dia merintih kesakitan.
"Aduh...!" seru Alana.
'Ada apa Alana, mana yang sakit?" tanya mama yang panik melihat Alana kesakitan.
"Ini ma ." Alana menunjukkan arah lehernya.
"Kau itu belum boleh tertawa lebar Al, apa kau tidak sadar lehermu itu dipagar." ledek Mayang.
semua yang berada didalam kamar rawat Alana tertawa mendengar gurauan Mayang.
"Al, mulai besok. Kamu sudah mulai bisa latihan yang ringan," ucap Mayang.
"Kau kerja disini ?" tanya Alana.
"Iya, aku kerja di bagian fisioterapi. Dan kau harus nurut apa yang harus kukatakan," ucap Mayang dengan berpura-pura galak.
"Hih.. nggak takut." balas Alana.
Obrolan mereka terhenti, saat pintu kamar terbuka. Dan terlihat wajah Dony yang gembira melihat Alana, tetapi tidak dengan Alana.
"Alana, akhirnya kau siuman juga," ucap Dony sambil menghampiri sisi ranjang Alana dan meraih tangan Alana yang tidak di gips.
"Pergi, aku tidak ingin melihat dirimu." Alana mengusir Dony dari dalam kamarnya, sehingga membuat Dony kaget. Karena mendapatkan pengusiran dari Alana.
"Alana, tolong. Dengarkan penjelasan ku dulu, kau sudah salah paham," ujar Dony.
"Pergi...!" teriak Alana dengan histeris.
"Sayang..tenang nak" mama dan Oma berusaha untuk menenangkan Alana yang histeris.
"Dony.. Dony, keluar dulu." papa membawa Dony untuk keluar, agar Alana tidak bertambah marah dan histeris.
"Alana..! aku mencintaimu, aku tidak ada hubungan dengan Sarah. Aku harus percaya Alana ." teriak Dony sebelum dibawa keluar dari dalam kamar Alana.
"Dia jahat ma, Dony jahat. Dia membuat Alana hampir mati." Alana menangis.
"Sayang.. sudah jangan menangis ya ."
Sedangkan diluar kamar, Dony duduk didepan kamar Alana.
"Om, aku tidak selingkuh. Alana harus mendengarkan cerita ku Om," ucap Dony.
"Nanti, saat Alana sudah benar-benar pulih. Bisa kau ceritakan kepada dirinya, sekarang kau ceritakan. Pasti dia tidak akan mau mendengarkannya, hatinya masih panas. Apa pun yang kau katakan, pasti dia tidak akan mau mendengarkannya."
"Dony takut Om, Alana akan minta putus ." terdengar suara Dony yang lirih.
"Apa itu yang kau inginkan ?" tanya papa Alana.
"Tidak Om, sampai kapan pun Dony tidak mau pisah dengan Alana." tegas suara Dony.
"Kamu perjuangkan," ucap papa Alana.
"Apa om izinkan, jika Dony menemui Alana setiap hari ?" tanya Dony.
"Om izinkan, tapi jangan sekarang. Dia masih kondisi marah, beri dia waktu."
"Kapan om?"
"Sekarang ini, kondisi mentalnya masih rapuh. Om takut, dengan kedatangan dirimu setiap hari membuat dia akan semakin marah." tutur papa Alana.
"Kamu sabar, nanti pelan-pelan saya akan membujuknya untuk mau mendengarkan penjelasan darimu ."
"Om tolong bantu Dony, bagaimana pun. Dony tidak mau pisah dengan Alana." Dony menumpukan harapan dari papa Alana, untuk meluluhkan hati Alana kembali.
"Om akan bantu semampu om."
**Next...
Bantu like n vote ya kakak-kakak reader.
Trims**...
itu balasan utk org jahag🤣🤣