Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Bu tania sekarang sedang berjalan bolak-balik memeriksa pekerjaan beberapa pegawainya, sambil sesekali menatap layar handphone yang berharap notif pesan datang dari suaminya.
"Barang pengadaan juga masih ada bu, lengkap" perjelas dewi untuk kesekian kalinya memberitahu banyak perkembangan di pabrik
Bu tania menganggukkan kepalanya dan berjalan ke ruangan nya diikuti dewi dan tentunya pak rusdi dan beberapa anak buahnya di belakang.
"Silahkan bu, minum nya" seorang pegawai wanita menaruh satu gelas air putih dan jus jambu kesukaan bu tania setiap berkunjung ke pabrik
"Makasih" ucap bu tania sambil tersenyum ramah
"Oh iya bu, nanti siang mau makan di luar atau mau saya siapin?" tanya lagi perempuan itu
"Saya cuma sebentar disini" jawab bu tania yang mengartikan bahwa ia tak akan makan siang di pabrik
Dewi pun menyuruh perempuan itu untuk pergi, dewi kembali memberitahu bu tania tentang semua yang berkaitan dipabrik.
"Kalau bisa, ibu besok datang ke kantor kita bu. kita harus bisa bikin perusahaan lebih maju" kata dewi sambil memberikan map merah dengan isi tingkatan kinerja perusahaan yang sudah lama tak naik.
"Saya bakal coba urus semua bisnis almarhum mamah sama papah mulai hari ini dew" jawab bu tania mengiyakan
Karena bagaimanapun, ia harus meneruskan bisnis almarhum kedua orangtuanya. kalau bukan dia siapa lagi, memang sih selama ini orang-orang kepercayaannya nya bisa dipercaya tapi ia juga tetap punya andil dalam urusan perusahaan tak bisa melimpahkan pada orang lain.
"Pak rusdi, bapak boleh pergi aja. nanti siang saya mau ke tempat gatra" suruh bu tania menatap pak rusdi yang masih berdiri di samping pintu
"Baik non, nanti supir nunggu di luar supaya bisa nganter non tania" jawab pak rusdi segera pergi
"Dew, kamu juga boleh pergi. saya bakal pelajari semuanya kalau ada laporan penting yang belum saya tau kasih tau saya aja, kamu boleh balik ke kantor" ucap bu tania pada dewi, dewi pun tersenyum ramah dan pergi keluar dari ruangan dan pabrik itu untuk kembali ke kantor.
Pak rusdi berjalan ke arah mobil sambil memberitahu seorang supir pribadi yang biasanya mengantarkan bu tania untuk tetap menunggu bu tania di pabrik.
"Kamu juga berdua tunggu disini, nanti saya suruh orang buat nganterin motor ke sini. kalian harus tetep jagain non tania, sampai dia sampe ke kantor den gatra suaminya" kata pak rusdi menunjuk dua orang lelaki bertubuh kekar yang memasang wajah datar sambil menganggukkan kepalanya
"Terus pak, kalau saya udah anterin non tania sampe kantor suaminya. harus saya tunggu apa tinggal?" tanya supir itu bingung
"Nanti kamu tanya langsung setelah sampai kantor den gatra, kalau kalian langsung pergi setelah tau bu tania sampai dengan selamat. jangan ganggu privasi bu tania kalau bukan saya yang suruh" jawab pak rusdi kemudian pergi dengan dua orang pegawai nya yang lain
Bu tania berusaha untuk membangun kembali perusahaan agar kembali bangkit, walaupun sebenarnya tidak ada masalah tapi ia harus belajar mengurus perusahaan.
Maudy yang memang sudah berniat ke mall kali ini sudah terlihat cantik dengan celana jeans ketat berwarna hitam yang benar benar membalut kaki panjangnya, bajunya berwarna putih pendek dengan tas selempang berwarna coklat serasi dengan sepatu hak tingginya.
"Aku hubungin gatra dulu ah" ucap maudy sambil merapihkan rambutnya yang terurai berwarna hitam
Tak butuh waktu lama untuk mengangkat telepon dari maudy bagi gatra, hanya selang beberapa detik panggilannya langsung diangkat.
Panggilan vidio call itu menunjukkan wajah gatra yang tersenyum lebar "udah cantik aja" puji gatra
"Kamu itu gombal aja bisanya" omel maudy sambil tersenyum kecil "oh iya, aku mau berangkat ke mall sekarang" sambungnya
"Sekarang? tanggung kali udah jam sebelas, tunggu aku istirahat jam dua belas aku ke situ anterin kamu ke mall. gimana?" kata gatra mencoba memberikan penawaran yang mendapatkan persetujuan dari maudy
Gatra tersenyum lebar kembali meneruskan pekerjaannya, marisa sampai dibuat terkagum-kagum dengan pekerjaan gatra yang cepat dan tepat.
"Gatra ada?" tanya pak dario tiba-tiba menghampiri meja marisa
"Eh kaget saya, ada pak di ruangannya" jawab marisa sambil mengelus dadanya pelan
Pak dario tersenyum sambil mendengarkan pujian marisa yang ikut senang dengan perubahan gatra.
"Kamu tau kan, saya itu berniat berhenti mengurus perusahaan karena saya udah gak muda lagi. saya mau menikmati hari tua, dan saya berharap gatra bisa menggantikan saya" kata pak dario ikut bangga dan senang
"Semoga ini awal yang baik agar pak gatra bisa menggantikan posisi bapak" saut marisa setuju, karena pak dario memang sudah sepantasnya istirahat dirumah bersama istrinya. perjuangannya mencari pundi pundi rupiah sudah cukup ini saatnya membiarkan anaknya berjuang juga untuk keluarga kecilnya.
"Bilang sama gatra nanti siang ke ruang makan, saya udah ajak tania makan bareng" beritahu pak dario yang mendapatkan anggukan pelan dari marisa.
Siang ini, bu tania membereskan meja kerjanya. ia segera mengirimkan pesan pada dewi bahwa setelah makan siang ia akan ke kantor.
"Ayo pak" kata bu tania pada supir yang memang sejak tadi menunggu dirinya, ia membukakan pintu mobil agar bu tania masuk.
Setelah beberapa menit ia sampai di perusahaan milik pak dario, tania tersenyum ramah pada satpam yang berdiri melihat ke arahnya.
"Saya tunggu disini bu?" tanya supir itu pada bu tania, namun bu tania menyuruhnya untuk pergi saja.
"Nanti kalau seandainya saya mau minta jemput, saya bakal kabarin kok" jawab bu tania melangkahkan kakinya pergi
Seorang satpam menghampiri bu tania yang tersenyum ke arah pintu masuk "permisi bu, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah
"Saya mau ketemu pak gatra" jawab bu tania
Tak lama suara ketukan kaki mendekat, pak dario datang sambil tersenyum bu tania segera mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Kenalkan, ini tania. menantu saya" kata pak dario memperkenalkan bu tania
Para pegawai memang tidak tau siapa istri dari gatra karena, memang para pegawai kantor tidak diundang ke acara pernikahan gatra dan tania.
Seperti yang sudah disepakati pak dario hanya mengumumkan tentang pernikahan anaknya, dan untuk undangan hanya didatangi keluarga dan beberapa kerabat terdekat.
Pak dario berjalan beriringan dengan bu tania, ia menghentikan langkahnya didepan meja para pegawai.
"Perhatian" para pegawai segera bangkit dari kursinya "ini tania namanya, istrinya gatra. menantu saya" kata pak dario kembali memperkenalkan bu tania
"Siang bu" sapa beberapa pegawai ramah ke arah bu tania, bu tania pun membalas dengan senyuman manisnya.
"Ayo tania" ajak pak dario, kini keduanya ke ruang makan terlihat ruang itu masih kosong
Gatra yang sudah menjanjikan akan pergi mengantar maudy ke mall, segera merapihkan pakaiannya karena sebentar lagi jam menunjukkan pukul dua belas siang.
"Pak mau kemana?" tanya marisa segera melangkahkan kakinya menghalangi tubuh gatra
"Saya mau pergi marisa, ini udah hampir istirahat" jawab gatra sambil menyingkirkan tubuh marisa di hadapannya
"Pak dario nyuruh kita makan bareng" teriak marisa sambil mengejar langkah kaki gatra
Gatra menghela nafas beratnya sambil membalikkan badannya "papah? ngapain sih makan bareng segala" gerutunya kesal
"Ada bu tania pak gatra" perjelas marisa sambil menarik paksa tangan gatra
"Hei, kamu tuh kurang ajar marisa" gatra menepis lengannya dengan kasar sampai para pegawai lain menatapnya bingung
"Bodo amat, ayo" bentak marisa kembali menarik paksa gatra, ia tau bahwa seperti nya gatra akan pergi.
Mau tidak mau ia harus segera menyeret gatra dari pada diomelin pak dario, pikirnya.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek