Kana Bintang Artana.
Laki-laki dingin yang mampu membuat hati siapapun menjerit melihatnya.
Bukan karena seram. Tetapi karena ketampanannya yang dapat membuat para gadis jatuh cinta padanya.
Begitupun Kaila. Gadis pemalu yang ikut andil menyukainya. Namun rasa sukanya memudar saat mengetahui betapa menyebalkannya seorang Kana.
Dan tanpa Kaila sadari, perlahan namun pasti, Kana mulai menunjukkan rasa sukanya pada Kaila.
Akankah keduanya berakhir bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Part 24
Menyatakan perasaan memanglah bukan hal yang mudah. Bagitu pun dengan Bima. Mungkin sebagian orang akan mengira jika Bima adalah laki-laki yang dengan gampangnya menyatakan cinta pada satu wanita ke wanita lain.
Tetapi, sepertinya tidak untuk kali ini.
Bima benar-benar menyukai Kaila. Pesona gadis itu cukup membuat Bima penasaran dalam sekali lihat.
Lelaki itu benar-benar menyukai gadis di hadapannya.
Kaila menunduk. Ia tak tahu jawaban apa yang harus ia berikan pada Bima. Ia memang senang berada di samping Bima, namun bukan untuk hal ini.
"Bim—"
"Gak perlu Kai," ucap Bima membuat Kaila diam dan menatapnya penuh tanya. "Gak perlu lo jawab sekarang. Gue tahu ini bukan waktu yang tepat bagi lo jawab semuanya. Gue tahu lo butuh waktu 'kan?"
Kaila diam.
Bima tersenyum. "Gue akan kasih lo waktu. Dan gue akan buktiin ke elo, kalau suatu saat lo memang bisa gue miliki. Gue janji sama diri gue, gue bisa dapetin lo." Bima bangkit dan mengulurkan tangannya pada Kaila.
Kaila memandang tangan Bima lalu beralih pada kedua bola mata itu.
Bima tersenyum. "Izinin gue genggam tangan lo."
Kaila menunduk. Ia tak yakin dengan ini. Gadis itu kembali memandang tangan di hadapannya dan akhirnya, ia menerima genggaman tangan itu.
Bima tersenyum. "Izinin gue berjuang, Kai. Gue gak papa kalau pada akhirnya lo akan pilih Kana daripada gue. Tapi akan gue pastiin, lo percaya kalau gue beneran suka sama lo." Bima menatap gadis itu dan tersenyum.
Kaila mengangguk dan tersenyum tipis.
"Kiara!" teriak Bima pada adiknya yang tengah duduk sendiri seraya memakan es krim.
Kiara menoleh dan menghampiri keduanya. "Mau pulang ya, Kak?" tanyanya.
Bima mengangguk.
Kiara tersenyum. Namun, matanya menuju pada tangan Kaila dan Bima yang saling tergenggam. "Kak Bima sama Kak Kaila pacaran ya?" ucap Kiara membuat Kaila segera melepaskan tangannya dari genggaman Bima.
Kaila menggeleng. "Enggak, Kiara."
"Terus kalau enggak, kok pegang-pegangan?" ucap Kiara dengan senyum jailnya.
Bima tersenyum. Ia cukup terhibur dengan ucapan adiknya. "Doain aja ya?" bisiknya lalu berjalan pergi.
Kiara tertawa mendengar ucapan Bima. Ia menatap Kaila penuh curiga dan senyuman menggoda.
Kaila menggelengkan kepala. Sepertinya gadis itu menginginkan sekali jika ia dan Bima bersama.
-o0o-
'Tok! Tok! Tok!'
Raisa tersentak kaget begitu mendengar suara ketukan pintu. Ia segera memasukkan kertas tadi ke dalam laci dan membenarkan posisi duduknya.
"Masuk!" teriak Raisa membuat seseorang di luar sana memutar knop pintu.
Pintu terbuka dan menampilkan anaknya di sana.
"Alina? Kamu tumben kesini?" ucap Raisa saat melihat Alina berjalan menghampiri.
Alina mengangguk dengan senyuman.
"Sama Kavin?" tanya Raisa kembali.
"Iya, Bu. Itu Kavin di luar masih nyobain kue terbaru Ibu. Padahal tadi Kana udah bawa, eh Kavin kurang. Makanya dia ngajak kesini lagi," ucap Alina menjelaskan.
Raisa membulatkan bibirnya dan terkekeh.
"Kata Mbak Susi, Ibu dari tadi disini aja. Ibu kenapa? Ada masalah?" tanya Alina khawatir.
Raisa menggeleng. "Gak papa. Ibu Cuma pengen istirahat bentar aja."
Alina tersenyum. "'Kan Alina udah bilang sama Ibu, Ibu mendingan berhenti aja. Biar Mbak Susi aja yang urus semua ini. 'Kan Mbak Susi udah kaya saudara kita sendiri."
Raisa mengangguk. "Kamu bener. Cuma Ibu belum bisa ngelepasin Susi sendiri. Toko ini masih butuh asisten baru."
"Oh iya Bu, ngomongin asisten baru, Kaila kemana? Dia gak kerja hari ini?" tanya Alina penasaran.
Raisa menggeleng. "Anak itu berhenti kerja. Tadi Tantenya telpon, kalau Kaila harus fokus sama sekolahnya."
Alina mengangguk mengerti. "Iya, sih. Bener."
"Tapi Ibu ngerasa bukan itu alasan sebenarnya, Na."
Alina melebarkan mata. "Maksud Ibu?"
Raisa menghela napas dan menatap ke sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar. "Kamu tahu soal dia yang di culik?"
Alina mengangguk. "Iya, Kana udah cerita. Tapi Kana gak cerita sih motif dari penculikan Kaila."
Raisa mengangguk mengerti. "Kalau soal itu, Ibu yakin Kaila gak mungkin ceritain soal penculikannya. Tapi— Ibu ngerasa, orang yang culik Kaila gak jauh dan gak bukan orang terdekat dia."
"Maksud Ibu?" tanya Raisa tak mengerti.
"Jadi, beberapa hari sebelum Kaila di culik, Ibu sering ngeliat laki-laki ngikutin Kaila. Ibu lumayan takut saat itu. Makanya Ibu beraniin samperin laki-laki itu. Laki-laki selalu pergi setiap Ibu samperin. Karena Ibu penasaran Ibu tanyain Kaila kesini sama siapa, anak itu selalu jawab sendiri naik angkot." Raisa member jeda pada ucapannya. "Karena Ibu ngerasa ada yang gak beres, Ibu minta Aji buat nganterin Kaila kemana-mana. Ibu sempet percaya sama Aji kalau dia bisa jagain Kaila. Tapi ternyata, hari yang Ibu takutin tiba. Kaila bener-bener di culik."
Alina tampak serius mendengar ucapan Raisa.
"Dari situ, Ibu udah yakin, mereka nyulik Kaila bukan tanpa alasan biasa. Ibu yakin, semua itu ada sangkut pautnya soal masalah keluarga Kaila." Raisa berdeham. "Ibu udah cerita 'kan ke kamu, kalau anak itu lagi cari-cari Mamanya?"
Alina mengangguk. "Udah, Bu."
"Nah, Ibu sangat yakin. Kasus penculikan dia itu ada hubungannya soal itu."
"Jadi maksud Ibu, Mamanya yang nyulik Kaila?"
Raisa menggeleng. "Bukan Mamanya. Tapi bisa jadi orang terdekat Mamanya, mungkin."
"Memang Ibu tahu orangtuanya Kaila siapa?" tanya Alina tak yakin.
Raisa menghela napas. "Nabila."
Alina melebarkan mata mendengar nama itu.
Raisa mengangguk. "Nabila. Nabila mantan pacar Kavin adalah Mamanya Kaila."
"Ibu serius?"
Raisa mengangguk. Ia meraih sebuah kertas dari dalam laci dan memberikan pada Alina.
Alina meraih surat itu dan membacanya.
'TOLONG JAGA, KAILA.'
Alina menggeleng. "Bu, tapi 'kan ini cuma—"
"Nabila yang taruh surat itu di motor Kana. Ibu yang lihat sendiri. Dan sebelum dia taruh surat itu, dia nemuin Ibu dan minta tolong buat ketemu anaknya."
"Tapi bukan berarti Kaila anaknya 'kan, Bu?" ucap Alina.
"Ibu yakin, Na. Ibu yakin kalau Kaila itu anaknya Nabila. Karena kalau Kaila bukan anaknya, untuk apa dia taruh surat itu di motor Kana?"
Alina diam. Ucapan Ibunya memang ada benarnya. "Terus kalau Mamanya memang Nabila, jadi siapa yang udah culik Kaila?"
-o0o-
'Plak!'
Sebuah tamparan melayang pada wajah wanita yang kini tengah tersimpuh di balik pintu.
"'Kan aku udah bilang sama kamu, jangan pernah ke toko kue itu lagi! Jangan cari-cari anak kamu lagi!" teriak Hendry pada wanita di hadapannya.
Nabila memegang pipinya yang terasa panas. "Sampai kapan, Mas? Sampai kapan kamu kaya gini? Sampai kapan kamu misahin aku sama anakku? Aku pengen ketemu dia, Mas! Aku pengen bales semua kesalahan aku selama ini!"
'Plak!'
Hendry kembali menamparnya.
"Aku gak suka kamu cari-cari anak itu! Anak kamu sekarang cuma Kiara dan Bima!" bentak Hendry.
"Jadi kamu tega biarin anakku cari-cari aku? Kamu belum puas atas apa yang udah kamu lakuin ke anakku— Kiara? Kamu belum puas buat dia meninggal?!" teriak Nabila dengan air mata yang tak dapat ia bendung lagi. Hati-hatinya benar-benar sakit.
"Aku cuma gak mau kamu lebih peduli sama mereka daripada aku, Nabila!"
"Tapi mereka anak-anakku, Mas!"
'Brak!!'
Hendry menendang pintu di hadapannya membuat Nabila tersentak kaget dan kembali menangis. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan. Siapa sangka pernikahannya dengan pria kaya itu malah membuatnya semakin menderita.
"Maafin Mama, sayang. Mama akan temuin kamu, tapi bukan sekarang."
"Apa kamu bilang? Apa kamu bilang?" Hendry menarik rambut Nabila membuat wanita itu semakin menangis. "Aku selalu bilang sama kamu, jangan—"
'Brak!'
Pintu terbuka dengan paksa membuat Hendry dan Nabila menoleh ke arah yang sama.
"Papa! Cukup!" teriak Bima yang melihat apa yang sedang Papanya lakukan.
"Bima," lirih Nabila.
"Cukup, Pa!" teriak Bima dan mendorong tubuh Hendry dari Nabila. "Cukup atas semua penderitaan yang Papa kasih buat Mama Bila!"
"Kamu gak usah ikut campur ya!" ucap Hendry dan berjalan pergi.
Bima menatap punggung Papanya dengan emosi penuh, lalu beralih pada Mamanya. Ia menarik tubuh Nabila untuk bangun. "Mama gak papa, 'kan?"
Nabila mengangguk. Ia menyeka air matanya dan memeluk putranya tersebut.
"Mama jangan nangis, Bima ada disini."
-o0o-
tapi Lo biarin dia, ngizinin dia.
tolol.
seharusnya Kaila tegas dgn perasaannya kalau ga suka bilang jgn PHP anak org kan pada ujungnya sakitkan kayak Adinda dong tegas dia langsung blg ke Aji dia ga bisa