Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak enak badan
Hari ini, kembali kulihat A Zam sibuk dengan tugasnya, mengabsen anak-anak, mengarahkan kegiatan, dan banyak lagi ku lihat.
Aku memilih berada di kamar, sebab sehabis mandi tadi kepalaku sedikit pusing, mungkin karena masuk angin.
Kebisingan terdengar di luar sana, ah pasti anak-anak sedang bersenang-senang.
Aku merebahkan tubuhku, tak berapa lama pintu terbuka aku melihat A Zam di sana.
Ah ngapain ke sini sii.
"Neng, kata bu Nanda sakit?"
Aku pun bangun dan mendudukan diriku, A Zam mendekat.
"Engga ko A, cuma sedikit pusing aja."
A Zam meletakkan tangannya di keningku. Aiihh disaat seperti ini jantungku malah bertalu-talu.
"Aa ko kesini sii kasihan anak-anak."
"Ada Pak Anwar yang handle."
Raut wajahnya itu terlihat sangat khawatir, ah mungkin aku ngayal nih.
"Keluar yu, lihat anak-anak."
Aku harus mengajaknya keluar, kalau tidak, bahaya.
Awalnya A Zam tidak mengiyakannya dengan alasan aku harus istirahat. Tapi berkat kelihaian ku berbicara akhirnya kami kini berada di luar menyaksikan kegiatan anak-anak.
"Pak Zam sini pak!!" teriak anak-anak yang tengah bermain voli pantai itu.
"Maen gih!! Kasihan mereka."
"Tapi neng..." tanyanya ragu.
"Aku liat dari sini, lagian udah ga pusing lagi ko."
A Zam pun tersenyum, memegang kepalaku dan eh dia nyium keningku. Jelas saja sorak sorai dari anak-anak tak bisa di elakkan.
"Aacieeeee...."
Malu sudah maluuuu, ih dia malah tersenyum sambil berlari menghampiri anak-anak.
Duh makin siang kepalaku rasanya makin berat. Aku kembali saja ke kamar.
Kan ga lucu kalau pingsan di sini, mending kalau ada yang gendong, lah ini palingan keinjek sama orang-orang yang lewat.
Duh sempoyongan gini deh aku jalannya.
Hampir saja akan jatuh tapi tangan seseorang menahanku, seorang pria.
"Astagfirulloh.. Maaf, maafkan saya."
Aku takut, ku segerakan langkah kakiku menjauh dari pria asing itu.
----------------------------------------------
Keesokan harinya, rombongan kami bersiap pulang.
Aku tak banyak bicara dan tak berharap lagi A Zam duduk di sampingku.
Kali ini aku memilih kursi paling belakang.
Perutku sedang tak enak saat ini, ah ini pasti gara-gara tadi aku memakan udang nih.
Bus pun mulai melaju, aku sendiri di belakang sini sesekali meringis karena mual melanda.
Aku sudah tak kuat lagi, untung tadi aku siapkan kantong kresek dan aku muntah juga.
Duh malu sii semua orang di dalam bus melirikku.
"Kenapa neng? Mabuk kendaraan ya."
Itu dia suamiku datang juga, mungkin dia risih atau aku membuatnya malu makanya dia mendekat.
"Masuk angin ini." katanya.
Sotoy kamu A, entah mengapa aku merasa jengkel padanya.
Bukan karena aku merasa cemburu atau terabaikan, aku hanya sedang kesal padanya.
"Kenapa diem aja sii neng?"
Suka-suka aku dong, ih dasar nyebelin.
-----------------------------------
Menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sungguh aku tak kuat.
Kenapa yaa aku ini? Biasanya aku akan tidur tapi ini, aku tersiksa sekali karena mabuk perjalanan.
Sesampainya rombongan di sekolah aku tak lantas turun. Hingga bus kosong tak ada orang aku masih berdiam diri sendirian di sini.
Jangan tanya A Zam dimana.. Dia tadi pamit turun duluan mengurus anak-anak.
Aku sih berharap A Zam datang membantukku berjalan, eh tapi sampai sang supir memeriksa keadaan bus karena busnya akan berangkat masih belum ada A Zam mencariku.
Kesal dan kecewa diaduk menjadi satu berkumpul dalam dada ini.
Dengan susah payah aku keluar bus, keadaan sudah sepi, A Zam kemana?
Apa dia meninggalkanku?
Rasa amarah yang datangnya pasti dari syetan tiba-tiba menyeruak.
Aku terduduk di pembatas jalan dekat sekolahan. Ya ampun nasibku, aku tak bisa menahan air mata yang bercucuran menahan kecewa sekaligus rasa pening di kepalaku.
"Neng, alhamdulilah kamu ada di sini, ayo kita pulang!!"
Seseorang yang berlabel suamiku itu memberhentikan mobilnya pas di depan mataku.
Dih, males sungguh.
Biarin aku mau ngambek biarin!!
Ngapain turun, sono pergi sono!!
Berbagai kekesalan hanya mampu aku ucapkan dalam hati.
"Ayo neng, udah mau magrib."
Jangan pegang-pegang ih !
Tapi itu hanya suara hati, sedangkan tubuhku menurut saja dia papah ke dalam mobil.
Aihh kenapa aku lemah begini si.
Mobil pun melaju.
"Neng, maafin aku ya. Tadi aku nganterin dulu muridku yang sakit."
Aku diam, bodo amat.
Aku ngambek ini A, ngambek!
"Neng marah ya?"
Pake nanya lagi, dasar Ustadz pencitraan.
Astagfirulloh hatiku jujur amat yak.
Sampai tiba di rumah pun aku tak bicara sama sekali. Peduli amat!
Ku lihat A Zam yang mengusap wajahnya, mungkin dia menyesal memperistriku yang tidak solehah.
Ya, aku memang begini. Aku gak sanggup lagi menahan rasa kecewa ini. Aku ngambek!!
---------------------------------
Pukul sebelas malam, aku terbangun karena habis isya tadi aku langsung tidur tidak makan. Aku lapar nih.
Eh mana A Zam? Ga ada loh di sampingku.
Saat aku hendak ke dapur, ternyata dia ada di sana. Huh males deh, balik lagi ke kamar tanggung.
"Neng, mau apa?"
Aku diam..
Ku lihat dia mulai kesal, menarik tanganku agak kasar.
"Neng boleh marah, tapi mendiamkan suami itu dosa. Seorang istri itu harus patuh pada suaminya, karena surga istri ada pada suaminya."
Apa dia bilang?
Dia lagi ceramah?
Ingin rasanya aku membalas ucapannya, ingin rasanya aku berteriak padanya, namun apa daya hanya air mata yang keluar hanya isak tangis yang ku bisa tumpahkan.
"Jangan nangis!! Aa sedang mendidikmu jadi seorang istri yang sholehah. Bukan istri pembangkang yang mendiamkan suaminya. Aa kira kamu sudah banyak belajar di pesantren, tapi nyatanya ilmu kamu tak ada secuil pun yang kamu pake."
Ya Alloh ya Tuhanku, perkataannya begitu menghujam mengarah tepat di hatiku.
Aku terus sesenggukkan menangis, aku ga peduli dia marah karena aku tak berhenti menangis. Aku sungguh tak peduli.
Beberapa saat hening, dan sesekali suara tangisku terdengar.
A Zam mendudukan dirinya di kursi meja makan, sementara aku di sini masih berdiri menunduk dan terus menangis.
Ku lihat dia menangkup wajahnya ku dengar beberapa kali dia beristighfar.
"Neng, kemarilah!"
A Zam memanggilku, suaranya sudah tenang sekarang. Aku mendekatinya kemudian dia mendudukanku di pangkuannya dia memelukku.
"Maafin Aa neng, Aa cape. Jadi emosi ini tak bisa Aa tahan. Aa minta maaf."
Aku hanya mampu mengangguk di pundaknya. Lidahku ini masih sangat sulit untuk berbicara.
Lama posisi kami seperti itu, kemudian A Zam berbisik.
"Paha Aa kesemutan."
Isshh bilang aja suruh aku minggir, bilang ajaaaaa.
Secepat kilat aku berdiri. A Zam tersenyum sambil meringis. Rasain!!
#Ngomong apa ya aku hmm (author)
#Ga usah ngomong ( Nimas )