Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 25
Suasana ramai terlihat dikediaman Erlangga, pagi tadi sudah diadakan akad nikah antara Yusri dan Airin yang berjalan dengan sakral, Ariel masih enggan memberikan restu, tapi dengan terpaksa ia harus merelakan adiknya dipinang sahabatnya. Yusri yang punya rahasia sewaktu mereka masih sekolah, terus meyakinkan kalau ia akan mencintai dan menjaga Airin, dan dengan berat hati Ariel memberikan restunya.
Rumah ini dihiasi dekorasi mewah, karena Airin merupakan anak perempuan, Pak Erkangga kakek dari Aarick Erlangga ini menginginkan pesta diadakan di rumahnya, dan sore hari ini halaman rumah yang luas ini sudah dipenuhi berbagai kendaraan mewah.
Acara ini menyusung tema out door dan satu per satu tamu bergantian mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, semua keluarga berkumpul di pesta ini.
Tampak Ariel menyapa para kolega bisnisnya, ada juga Anggun yang ikut menemaninya, sementara Aarick tidak mau lepas dari gendonga kakeknya, Erlangga. Bayi yang sudah pandai mengoceh ini juga ikut menemani Kakeknya menyapa para pria yang sudah paruh baya.
"Istri Pak Ariel semakin cantik ya," puji salah seorang tamu yang tidak pernah berhenti menatap Anggun yang kala itu memakai gaun warnah merah. Anggun hanya tersenyum kepadanya, sedangkan Ariel tampak tidak suka dengan pujian yang dilayangkan laki-laki bertubuh gempal ini.
"Maaf kami harus menyapa yang lain."
Alih-alih berterima kasih, Ariel justru menarik tangan Anggun dan menjauhkannya dari keramaian.
"Aku sudah bilang, kamu jangan pakai gaun ini! Kamu gak sadar, disini kamu yang jadi pusat perhatian," Ariel mengomel apa lagi saat ini wajah Anggun dihiasi makeup natural namun terkesan cantik dan elegan.
"Jadi aku harus gimana? Aku harus pakai apa? Ini juga gaun dari Airin," Anggun tak kalah sengit, setelah melahirkan suaminya ini semakin menjadi.
Sebelum Ariel mendebat, dari jauh Anggun sudah melihat Fery yang saat itu berjalan kearah mereka dengan menggendong Aarick.
"Kamu lihat tuh, anak kamu sudah pindah tangan lagi," ucap Anggun. Ariel tersenyum dan merentangkan tangan ingin mengambil alih Aarick namun Fery menepis tangannya.
"Hari ini Aarick milikku, jangan terlalu posesif kepada anak yang masih kecil," ucap Fery ia tidak takut saat Ariel membulatkan matanya.
"Kau bisa maklum dengan sikapku, kalau kau sudah punya anak, jadi aku sarankan cepat menikah dan bangunlah rumah tangga seperti kami," Ariel pamer, ia merangkul pundak Anggun.
Fery hanya tersenyum dan membuang muka, tapi saat itu pandangannya terpaku pada seorang gadis yang tertawa lepas, dialah Suci yang terlihat sangat cantik dengan memakai gaun putih, rambut yang digulung membentuk lingkaran dan terdapat hiasan manik diatas kepalanya.
Anggun yang menyadarinya juga ikut melirik Ariel, lalu ia mengambil Aarick dari gendongan Fery, "Sini sayang sama Mama." Ucapnya.
Ariel berbisik kepada seorang pelayan dan ia pergi memanggil Suci yang saat itu sedang bergabung dengan tamu lainnya.
Suci menoleh, mendadak ia menjadi gugup saat melihat Fery bersama Ariel dan Anggun, sesaat pandangan keduanya bertemu, mau tidak mau, Suci berjalan mendekati mereka.
"Kak, Ariel manggil aku?" Tanya Suci, ia mengabaikan Fery yang masih melihatnya, sudah lebih dari dua bulan mereka tidak bertemu dan bertegur sapa, dan hari ini keduanya kembali bertemu.
"Tolong kamu jaga Aarick sebentar di sini, kami mau menyapa tamu yang lain," titah Ariel dan saat itu juga Aarick dioper lagi dan digendong Suci.
Suci tidak bisa lagi menghindar, saat ini tinggal mereka berdua dan cukup jauh dari keramaian, jauh dilubuk hatinya ia sangat merindukan Fery, tapi sampai saat ini Fery belum memberikan bukti DNA itu kepadanya.
"Kamu apa kabar?" Fery lebih dulu bersuara, ia sengaja memainkan tangan Aarick, supaya jarak mereka semakin dekat.
"...baik, Kak." Suci masih enggan melihat Fery, dan menenangkan Aarick yang sudah mulai rewel, Suci berusaha menutupi gelang pemberian Fery yang masih dipakainya, namun sayang Fery sudah lebih dulu melihatnya.
"Terima kasih, kamu masih mau memakai gelang itu," ucap Fery.
"Bukan apa-apa, cuma gelang biasa," jawab Suci, yang sudah mulai melatih diri untuk bisa hidup jauh dari Fery.
"Dua hari lagi, tes DNA itu akan dilakukan, aku akan menepati janjiku dengan membuktikan kalau anak itu bukan anakku, dan aku harap kamu juga menepati janjimu, dengan memaafkan dan menerimaku lagi."
"Aku akan pertimbangkan itu!" Seru Suci.
"Kenapa harus dipertimbangkan lagi? Kamu harus menepatinya," Fery sudah mulai menaikkan intonasi suaranya, ia kesal karena merasa Suci acuh dan tidak merindukan dia, padahal dirinya sangat merindukan rubah kecilnya ini.
"Kalian sudah tinggal satu rumah, aku tidak bisa bayangkan apa saja yang sudah kalian lakukan," ucap Suci yang cemburu mengingat Nyonya Farida yang begitu menyayangi Tasya.
"Tolong jangan dimulai lagi Suci, aku mencoba mengalah, sebanyak apa pun usahaku berkata jujur, tapi kamu tetap saja tidak percaya dan meremehkanku."
Suara gertakan gigi Fery sudah terdengar, Fery memanggil pengasuh Aarick dan memberikan Aarick kepadanya, kemudian Fery menarik tangan Suci dan membawanya ke tempat yang sunyi, tanpa bisa Suci menghindarinya.
Kini tubuh Suci menyandar di tembok, bayangan mereka terpancar nyata di kolam renang yang saat itu terlihat tenang, Fery tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuk Suci pergi, ia membungkuk dan menghimpit tubuh Suci, sementara Suci terus memberontak, Suci memukul tangan Fery yang saat itu menempel di tembok.
Fery menyatukan kedua kening mereka, keduanya saling menghirup oksigen yang sama, takdir ini terasa begitu menyakitkan, andaikan mereka punya pilihan, sudah dipastikan kalau keduanya tidak mau berada di dalam masalah ini.
"Katakan ... katakan kalau kau masih mencintaiku. Katakan kalau kau memaafkanku, cepat katakan," ucap Fery yang tidak mau menyerah, ia merekam semua bagian dari wajah Suci.
Suci masih diam, dan menunduk dengan kening yang masih menyatu dengan kening Fery.
"Kau yang datang lebih dulu, kau yang mengajarkan semuanya, kau yang mengejar cintaku, hingga aku benar-benar mencintaimu, kau merasuki seluruh jiwaku, kau yang berkuasa atas cintaku, dan kau yang bertahta di dalam hatiku. Tapi apa? hanya karena satu kesalahan yang tidak sengaja aku lakukan membuatmu menjauh dan membenciku. Sebatas inikah cintamu untukku?"
Suci masih diam, saat ini manik mata keduanya sudah saling mengunci.
"Hanya dua hari, dua hari saja, akan aku buktikan semua ucapanku, tidak bisakah kau percaya itu?" Tanya Fery.
"Dia membutuhkanmu, Kak. Dia lebih membutuhkanmu dari pada aku," lirih Suci.
"Jangan munafik, dan jangan sakiti dirimu sendiri, kau masih mencintaiku. Kau juga membutuhkanku, kau lihat ini?" Fery menyentuh gelang yang dipakai Suci, "Kau masih memakainya, jangan meminta aku untuk menikahinya, karena aku tahu hatimu menolaknya."
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah