Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU YANG MEMBUKA JALAN BARU
Hujan telah mengguyur kota selama tiga hari berturut-turut, membuat jalan-jalan penuh dengan genangan air yang mencerminkan cahaya lampu jalan seperti permata yang tergeletak di tanah. Di dalam kamar kosnya, Murni duduk di depan meja kecil yang sudah dia bersihkan dari segala bekas kenangan yang dulu menghiasi permukaannya—foto bersama Khem sudah dia bungkus rapi dan disimpan di dalam kotak kayu yang terkunci, surat-surat lama sudah dia lipat dengan hati-hati dan ditempatkan di laci terdalam, dan gelang anyaman bambu yang pernah dia cari kembali dari halaman belakang kini tergeletak di atas meja, bersamanya dengan ponsel yang layarnya menyala terang.
Dia membuka aplikasi pesan, mencari nama Khem yang sudah ribuan kali muncul di dalam daftar percakapan—setiap pesan penuh dengan kata-kata penyesalan, harapan untuk bertemu, dan janji yang kini terasa seperti ombak yang menghantam batu karang tanpa hasil. Murni menatap nama itu dengan mata yang tenang, tidak lagi ada keraguan atau rasa ingin kembali yang mengganggu pikirannya. Hati yang dulu seperti lautan yang bergelombang kini telah tenang seperti danau di pagi hari yang belum tersentuh angin.
“Ini adalah langkah terakhir,” bisiknya dengan suara yang tegas namun penuh dengan rasa hormat—bukan hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga kepada masa lalu yang telah membentuk dia menjadi orang yang sekarang. Dia menyentuh layar dengan jari yang stabil, mencari tombol yang akan menjadi titik akhir dari semua yang pernah terjadi. Saat jempolnya menyentuh kata “Blokir Kontak”, dia merasakan seperti ada beban berat yang lama menghiasi pundaknya perlahan terangkat dan menghilang ke udara yang lembap akibat hujan.
Setelah menekan tombol konfirmasi, layar ponselnya menampilkan pesan “Kontak telah diblokir” dengan huruf-huruf putih yang jelas. Murni menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang masuk ke paru-parunya seperti udara baru yang dia hirup setelah berada di dalam gua yang dalam selama bertahun-tahun. Ia mengambil gelang anyaman bambu dengan lembut, melihat bagaimana serat-serat bambu yang dulu terjalin rapi kini mulai menunjukkan bekas usia yang tidak bisa disembunyikan. Dengan hati yang seutuhnya, dia membukanya dengan perlahan—seolah sedang membuka simpulan yang telah mengikat dirinya pada masa lalu yang tidak bisa kembali lagi.
Setiap helai serat bambu yang terlepas adalah seperti setiap ikatan emosional yang dia lepaskan. Ia meletakkan bagian-bagian gelang itu di atas nampan kecil, lalu membawanya ke teras kamar. Hujan sudah mulai reda, meninggalkan kesegaran yang menyebar ke seluruh udara. Murni membuka jendela dan melemparkan setiap helai bambu ke luar, menyaksikannya terbawa angin lembut ke arah halaman belakang yang penuh dengan genangan air. Setiap bagiannya hilang satu per satu, seperti awan yang terpisah dan menghilang ke kejauhan.
“Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan padaku,” ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas, menghadap arah di mana helai bambu itu hilang. “Terima kasih untuk setiap senyum, setiap pelukan, dan setiap momen bahagia yang pernah kita bagi. Tapi sekarang, waktunya telah tiba bagi kita untuk berjalan di jalan yang berbeda.”
Hari berikutnya, matahari muncul untuk pertama kalinya setelah tiga hari hujan. Cahaya keemasan menyinari setiap tetesan air yang masih menempel pada daun-daun pohon dan bunga di halaman belakang. Murni bangun dengan rasa ringan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya—tidak ada lagi rasa ingin memeriksa ponsel setiap pagi, tidak ada lagi harapan yang sia-sia untuk menerima pesan dari seseorang yang tidak lagi memiliki tempat di dalam hidupnya. Dia mandi dengan air hangat, mengenakan baju baru yang dia beli beberapa hari yang lalu, dan memasak bubur jagung manis yang menjadi favoritnya sejak kecil.
Setelah sarapan, dia pergi ke taman pabrik yang kini sudah tumbuh subur dengan berbagai jenis tanaman. Rekan-rekan komunitas sudah ada di sana, sedang merawat bibit bunga yang baru saja tiba dari kota lain. “Murn, kamu tampak berbeda hari ini ya!” teriak Dudi, salah satu anggota komunitas yang selalu membantu dia merawat taman. “Seperti matahari yang baru muncul setelah hujan panjang!”
Murni tersenyum lepas, mulai membantu menanam bibit mawar merah yang akan menjadi bagian dari taman baru yang mereka rancang—taman yang akan diberi nama “Taman Harapan Baru”. Saat tangannya menyentuh tanah yang hangat dan subur, dia merasakan bagaimana kehidupan baru sedang mulai tumbuh tidak hanya di dalam tanah, tapi juga di dalam dirinya. Ia membayangkan bagaimana beberapa bulan lagi, taman ini akan dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah, memberikan kebahagiaan bagi setiap orang yang datang untuk bersantai dan menikmati keindahannya.
Sore itu, Murni menerima surat dari kursus pelatihan makanan penutup yang dia ikuti—dia telah terpilih untuk menjadi asisten instruktur untuk kelas baru yang akan dibuka bagi kaum ibu yang ingin memiliki keterampilan untuk berjualan. Ia membaca surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena kegembiraan, merasakan bagaimana impiannya untuk membantu orang lain mulai terbentuk menjadi kenyataan yang nyata.
Malam itu, Murni duduk di teras kamar dengan secangkir teh hangat di tangan. Dia melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang, seperti permata yang tersebar di atas kain hitam yang luas. Ia mengambil buku harian baru yang dia beli setelah memblokir kontak Khem, dan menulis kalimat pertama di halaman kosongnya:
“Hari ini aku menutup pintu pada masa lalu untuk membuka gerbang menuju masa depan yang lebih cerah. Aku tidak lagi mencari orang yang bisa membuatku bahagia—karena aku telah menemukan bahwa kebahagiaan itu tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam hati yang sudah siap untuk menerima semua kebaikan yang ada di dunia ini. Aku siap untuk melangkah maju, membawa semua pelajaran yang kudapat dan cinta yang aku miliki untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarku…”
Di kejauhan, suara mesin pabrik yang sedang beroperasi terdengar seperti irama kehidupan yang terus berjalan, menyatu dengan suara katak yang berkumandang dan angin yang menggoyangkan daun-daun pohon jambu di halaman belakang. Murni tersenyum dengan hati yang penuh damai, merasakan bahwa dia akhirnya benar-benar bisa move on—tidak dengan melupakan apa yang pernah terjadi, tapi dengan menerima semua itu sebagai bagian dari perjalanan yang telah membuat dia menjadi diri dia sekarang. Dan di depan dirinya, jalan yang panjang dan penuh dengan harapan sedang terbentang luas, menunggu untuk ditempuh dengan langkah yang mantap dan hati yang penuh dengan cinta…
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Matahari sudah tiga kali naik dan turun sejak Murni menerima surat sebagai asisten instruktur. Setiap hari, dia bangun lebih awal dari biasanya, menyiapkan bahan-bahan dan modul pembelajaran yang akan dia berikan kepada para peserta kelas baru. Ruangan kursus yang dulu hanya diisi oleh beberapa orang kini penuh dengan wajah-wajah baru—kaum ibu yang datang dengan harapan untuk memiliki keterampilan, pemuda yang ingin memulai usaha kecil, bahkan beberapa lansia yang ingin mengisi waktu luang dengan hal yang menyenangkan.
“Sekarang, mari kita pelajari cara membuat kulit pastel yang tipis namun kuat, seperti kain sutra yang bisa menahan isian tanpa robek,” ujar Murni dengan suara yang jelas dan penuh semangat, menunjukkan langkah demi langkah cara menggulung adonan dengan tangan yang terampil. Para peserta mengikuti setiap gerakannya dengan penuh perhatian, tangannya yang kadang goyah mulai menjadi lebih terampil seiring dengan bimbingannya.
Salah satu peserta, Bu Nanik—seorang ibu rumah tangga yang baru saja menjadi janda dan harus menyandang beban hidup sendirian untuk dua anaknya—datang mendekatinya setelah kelas berakhir. “Murn, terima kasih banyak ya,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Dulu aku merasa seperti kapal yang hilang arah di tengah lautan luas. Tapi sejak ikut kelas ini, aku merasa ada harapan baru—aku bisa membuat makanan penutup dan menjualnya untuk membantu biaya anak-anakku.”
Murni meraih tangan Bu Nanik dengan lembut, memberikan senyum yang penuh kasih. “Anda lebih kuat dari yang anda pikirkan, Bu Nanik,” jawabnya. “Setiap gerakan tangan yang membuat kue adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik. Kita bukan hanya belajar membuat makanan—kita sedang membangun fondasi untuk kehidupan yang lebih baik bersama-sama.”
Untuk mempermudah para peserta dalam menjual hasil karyanya, Murni mengajak mereka untuk membentuk komunitas kecil yang diberi nama “Kelompok Bunga Rasa”. Mereka menyewa ruangan kecil di pinggir pasar tradisional sebagai tempat untuk menjual produk mereka secara bersama-sama. Setiap hari, setelah selesai bekerja atau mengurus rumah tangga, para anggota komunitas berkumpul di sana—membuat makanan, merencanakan strategi penjualan, dan berbagi cerita hidup yang penuh dengan perjuangan dan harapan.
Murni juga bekerja sama dengan beberapa sekolah dasar di sekitar kota untuk mengadakan kelas memasak kecil bagi anak-anak. Ia ingin mengajarkan mereka bahwa memasak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan makan, tapi juga tentang cinta yang diberikan melalui setiap hidangan. Anak-anak dengan senang hati mengikuti kelasnya, tangan-tangan kecil mereka dengan cermat membentuk adonan atau menghias kue dengan bunga gula yang lucu.
“Kak Murn, kenapa kue yang kamu ajarkan rasanya lebih enak ya?” tanya seorang anak kecil bernama Rosie saat sedang menggigit kue bolu yang dia buat sendiri. Murni tertawa lembut, menjawab: “Karena dibuat dengan hati yang bersih dan penuh cinta, sayang. Setiap rasa yang kita berikan akan terasa oleh orang yang memakannya.”
Di sela-sela kesibukannya dengan komunitas, Murni tidak pernah melupakan taman pabrik. Ia mengajak anggota Kelompok Bunga Rasa untuk membuat makanan penutup khusus yang akan disajikan pada acara peringatan tahunan pabrik, dengan tema “Hidup yang Indah dengan Kerjasama”. Pada hari acara itu, taman dipenuhi dengan warna-warni dekorasi dan aroma makanan yang menggugah selera. Para pekerja dari kedua pabrik—makanan ringan dan besi baja—berkumpul bersama, bersantap dan berbagi cerita dengan suasana yang hangat dan penuh persahabatan.
Saat acara berjalan, Murni melihat seorang pria yang sedang berdiri di kejauhan—ia mengenali wajahnya sebagai orang yang dulu mirip dengan Khem yang pernah membuatnya merasa marah. Kali ini, pria itu datang bersama dengan istrinya dan anak-anak mereka, sedang menikmati makanan yang disajikan dengan senyum lebar. Murni mendekatinya dengan langkah yang tenang, memberikan senyum yang hangat. “Semoga makanan nya sesuai dengan selera ya, Pak,” ujarnya.
Pria itu mengangguk dengan senyum ramah. “Sangat enak, Bu. Terima kasih atas semua yang kamu lakukan untuk komunitas ini. Kami merasa sangat terbantu dan bahagia bisa menjadi bagian dari acara ini.”
Saat berbicara dengannya, Murni merasakan bahwa tidak ada lagi rasa benci atau ketegangan yang muncul di dalam hatinya. Hanya rasa damai dan pemahaman yang mendalam—bahwa setiap orang adalah individu yang berbeda, dan tidak adil untuk mengikat mereka pada bayangan masa lalu yang sudah tidak ada lagi. Dia menyadari bahwa dirinya sudah benar-benar bisa move on—tidak dengan melupakan, tapi dengan menerima bahwa masa lalu hanya bagian dari cerita hidupnya, bukan seluruh isi ceritanya.
Malam itu, setelah acara berakhir dan semua orang pulang, Murni tinggal sendirian di taman yang sunyi. Dia duduk di atas bangku kayu yang dia bantu buat sendiri, melihat ke arah langit yang penuh dengan bulan purnama yang bersinar terang. Udara segar dan aroma bunga yang harum menyelimuti dirinya. Ia mengambil buku hariannya dan menulis kalimat terakhir di bab yang baru saja selesai:
“Hari ini aku menyadari bahwa move on bukanlah tentang melupakan atau menghapus kenangan dari hati. Ia adalah tentang memberikan makna baru pada setiap pengalaman yang telah kita alami, dan menggunakan kekuatan dari masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik. Aku tidak lagi mencari seseorang untuk melengkapi hidupku—karena aku telah menemukan bahwa diriku sendiri sudah cukup utuh, dan kebahagiaan yang paling dalam datang dari kebahagiaan yang kita berikan pada orang lain. Hidup adalah perjalanan yang indah, dan aku siap untuk menikmati setiap langkahnya dengan hati yang terbuka dan penuh cinta…”
Di kejauhan, suara mesin pabrik yang sedang beroperasi dengan tenang terdengar seperti irama kehidupan yang terus berjalan, menyatu dengan suara alam yang damai dan angin yang membawa harapan untuk hari esok yang lebih baik. Murni berdiri perlahan, menatap ke arah jalan yang terbentang di depannya—jalan yang panjang dan penuh dengan warna-warni kehidupan yang menanti untuk ditempuh dengan langkah yang mantap dan hati yang sudah benar-benar bebas…
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Musim kemarau mulai menjelang, membawa udara yang hangat dan sinar matahari yang menyengat ke setiap sudut kota. Komunitas “Kelompok Bunga Rasa” sudah semakin berkembang—produk mereka mulai dikenal public, dan banyak orang yang datang untuk memesan makanan penutup khusus untuk acara-acara penting. Murni kini sibuk bukan hanya sebagai asisten instruktur, tapi juga sebagai pemimpin komunitas yang membimbing setiap anggota untuk mengembangkan potensi mereka.
Suatu pagi, saat Murni sedang mempersiapkan bahan-bahan di ruangan komunitas, suara ketukan lembut terdengar di pintu. Dia membukanya dan menemukan sosok pria muda yang mengenakan baju kerja biru dengan tas ransel di pundaknya. Pria itu memiliki wajah yang hangat dengan senyum yang tulus, dan mata yang cerah seperti langit pagi yang cerah.
“Maafkan saya, Kak. Apakah ini kantor Kelompok Bunga Rasa ya?” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Saya bernama Frank. Saya baru saja pindah ke kota ini dan bekerja sebagai insinyur di perusahaan konstruksi yang sedang membangun rumah susun di belakang pasar. Saya mendengar banyak tentang produk makanan kalian yang lezat, dan saya ingin memesan kue tart untuk acara peresmian proyek kami minggu depan.”
Murni mengundangnya untuk masuk dengan senyum ramah. Saat mereka duduk dan membicarakan detail pesanan, Murni merasa ada sesuatu yang berbeda dari pria ini—dia tidak melihat bayangan Khem atau siapapun di wajahnya. Hanya sosok seseorang yang baru, yang datang dengan niat baik dan penuh rasa hormat.
Frank menunjukkan keinginannya untuk membuat kue tart dengan tema alam—dengan hiasan buah-buahan segar dan gambar pepohonan yang dibuat dari coklat. Murni dengan senang hati menyetujui ide itu, dan mereka mulai merencanakan setiap detail dengan penuh semangat. Saat berbicara, Murni mengetahui bahwa Frank juga memiliki minat pada taman dan tanaman—dia bahkan pernah membantu membangun taman kota di kota sebelumnya tempat dia bekerja.
“Saya selalu berpikir bahwa setiap bangunan yang kita buat harus disertai dengan ruang hijau yang indah,” ujar Frank sambil melihat taman kecil di belakang ruangan komunitas. “Rumah bukan hanya tentang bata dan semen—ia harus menjadi tempat yang bisa memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi orang yang tinggal di dalamnya.”
Kata-kata itu membuat hati Murni terasa hangat seperti dijemur di bawah sinar matahari. Setelah Frank pergi, dia tidak bisa tidak berpikir tentang pria itu—bukan karena rasa cinta yang tiba-tiba muncul, tapi karena rasa kagum pada prinsip hidupnya yang sejalan dengan dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Frank kembali ke ruangan komunitas—bukan hanya untuk memeriksa pesanan kue, tapi juga untuk membawa bibit pohon bunga yang dia dapatkan dari perusahaan konstruksinya. “Ini untuk taman kalian,” ujarnya dengan senyum. “Pohon bunga kamboja—mereka tumbuh dengan kuat dan memberikan bunga yang indah bahkan di tanah yang kurang subur. Saya pikir itu cocok dengan semangat komunitas kalian yang terus tumbuh meskipun melalui banyak tantangan.”
Murni menerima bibitnya dengan hati yang penuh rasa syukur. Bersama-sama, mereka menanam pohon kamboja di sudut taman yang paling terkena sinar matahari. Saat tangannya menyentuh tanah bersamaan dengan tangan Frank, Murni merasakan seperti ada aliran energi positif yang mengalir—bukan rasa cinta yang penuh dengan gairah, tapi rasa kedekatan yang tumbuh perlahan seperti akar pohon yang merambat ke dalam tanah.
Sejak itu, Frank sering datang ke ruangan komunitas—kadang untuk membantu menanam tanaman, kadang untuk belajar membuat makanan penutup bersama para anggota, dan kadang hanya untuk berbicara tentang impian dan cita-cita mereka. Dia tidak pernah memaksakan diri atau membuat Murni merasa tidak nyaman—dia datang dengan kecepatan yang pas, seperti aliran sungai yang perlahan mengisi danau tanpa membuatnya meluap.
Pada hari peresmian proyek rumah susun, kue tart yang dibuat oleh Kelompok Bunga Rasa menjadi sorotan utama acara. Dengan hiasan pepohonan yang indah dan buah-buahan segar yang segar, kue itu tidak hanya lezat dimakan, tapi juga menjadi simbol dari hubungan yang tumbuh antara perusahaan konstruksi dan komunitas lokal. Saat memberikan pidato ucapan terima kasih, Frank tidak lupa menyebutkan kontribusi besar dari Murni dan komunitasnya.
“Kebahagiaan tidak bisa dibangun hanya dengan bata dan semen,” ujarnya sambil melihat ke arah Murni yang sedang berdiri di tengah kerumunan. “Ia dibangun dengan cinta, kerja sama, dan perhatian pada orang-orang di sekitar kita. Dan saya bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa yang mengajarkan saya hal itu.”
Setelah acara berakhir, Frank mengajak Murni berjalan-jalan di sekitar taman yang baru saja dibangun di kompleks rumah susun. Pohon-pohon kecil yang mereka tanam bersama sudah mulai menunjukkan tunas baru, dan bunga kamboja yang mereka tanam di komunitas juga sudah mulai menunjukkan warna merah muda yang cantik.
“Kak Murn,” ujar Frank dengan suara yang tenang. “Saya tahu bahwa hidupmu pernah melalui banyak hal yang sulit. Saya tidak akan pernah meminta kamu untuk melupakan masa lalu atau segera menerima saya dalam hidupmu. Tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya ingin berada di sini—bukan untuk menggantikan seseorang atau memperbaiki luka yang ada, tapi untuk berbagi jalan denganmu dalam perjalanan hidup yang akan datang. Jika kamu bersedia, saya ingin kita mengenal satu sama lain dengan lebih dalam, dengan kecepatan yang sesuai denganmu.”
Murni menatap wajah Frank yang penuh dengan kejujuran dan rasa hormat. Dia tidak merasakan rasa takut atau kebingungan yang dulu dia rasakan saat menghadapi cinta. Hanya rasa tenang yang mendalam, seperti berada di tepi danau yang tenang di pagi hari.
“Saya butuh waktu, Frank,” jawabnya dengan suara yang jelas dan tulus. “Saya sudah belajar bahwa cinta tidak boleh membuat kita terluka atau melupakan diri kita sendiri. Tapi saya juga belajar bahwa hidup adalah tentang menerima kebahagiaan yang datang dengan cara yang tidak terduga. Saya bersedia untuk mengenalmu lebih dalam—dengan langkah yang lambat dan hati yang terbuka.”
Frank memberikan senyum yang penuh dengan kebahagiaan, meraih tangannya dengan lembut tanpa memaksakan apa-apa. Mereka berjalan bersama di sepanjang jalan taman yang penuh dengan tanaman muda yang siap tumbuh, menyaksikan matahari yang mulai meremang dan memberikan warna jingga dan oranye pada langit yang cerah.
Murni merasakan bagaimana hati yang sudah lama fokus pada pemulihan dan pertumbuhan diri kini mulai terbuka untuk hal baru—bukan karena dia harus melupakan masa lalu, tapi karena dia sudah siap untuk menerima bahwa hidup memiliki banyak warna yang belum pernah dia eksplorasi. Dan dengan kehadiran Frank, dia merasa seperti menemukan warna baru yang membuat kanvas hidupnya menjadi lebih indah dan penuh dengan makna…
...