**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Tak Diminta
Persiapan festival sekolah semakin mendekati tahap akhir. Aula yang sebelumnya dipenuhi tumpukan kardus dan perlengkapan kini mulai berubah menjadi ruangan penuh hiasan. Berbagai bunga kertas tergantung di sepanjang dinding, sementara kerangka gerbang utama yang dikerjakan kelompok Hikari sudah berdiri dengan cukup kokoh.
Sejak pagi, beberapa anggota panitia terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Nadya berkali-kali memeriksa daftar perlengkapan, memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal menjelang acara yang akan berlangsung dua hari lagi.
Hikari duduk di lantai aula bersama beberapa siswa lainnya. Di hadapannya terdapat berbagai potongan kertas warna dan pita yang harus dirangkai menjadi hiasan tambahan. Sesekali dia mengangkat wajah untuk memperhatikan gerbang yang sedang dipasang oleh Arsen dan beberapa anggota panitia laki-laki.
"Hikari!"
Suara Arsen kembali terdengar dari arah gerbang.
Hikari mengangkat wajah.
"Apa lagi, Arsen?"
"Ke sini sebentar."
Hikari meletakkan gunting yang dipegangnya, kemudian berdiri. Ini sudah ketiga kalinya Arsen memanggilnya sejak mereka mulai bekerja. Sebelumnya, laki-laki itu meminta pendapat mengenai posisi lampu, kemudian memintanya memilih warna pita. Padahal, sebagian besar keputusan tersebut sudah mereka sepakati kemarin.
"Ada apa?" tanya Hikari setelah menghampirinya.
Arsen menunjuk bagian atas gerbang.
"Menurut lo, bagus nggak?"
Hikari mendongak. Hiasan yang dipasang Arsen terlihat cukup rapi dan sesuai dengan rancangan mereka.
"Bagus."
"Yakin?"
"Iya."
"Kalau menurut gue masih kurang."
Hikari kembali memperhatikan gerbang tersebut dengan lebih teliti.
"Kurang apa?"
Arsen menoleh kepadanya, kemudian tersenyum lebar.
"Kurang lo yang berdiri di sebelah gue."
Hikari terdiam.
Beberapa siswa yang mendengar perkataan tersebut langsung tertawa, sementara Arsen terlihat sangat puas melihat ekspresi bingung gadis itu.
Hikari mengembuskan napas panjang.
"Arsen, aku masih banyak kerjaan."
"Ya udah, nanti gue bantu."
"Nggak usah. Kamu selesain dulu bagian sini."
Hikari segera berbalik meninggalkannya. Di belakang, Arsen masih tertawa sambil menerima teguran dari salah satu temannya yang meminta agar dia berhenti bercanda dan kembali bekerja.
Sejak beberapa hari terakhir, sikap Arsen memang semakin sulit dipahami Hikari. Laki-laki itu selalu menemukan alasan untuk mengajaknya berbicara, menawarkan bantuan, bahkan beberapa kali sengaja duduk di dekatnya ketika mereka sedang beristirahat.
Awalnya Hikari menganggap Arsen memang memiliki sifat ramah dan mudah bergaul. Namun, semakin lama, godaannya mulai membuat Hikari tidak nyaman.
Dia tidak membenci Arsen. Selama bekerja bersama, laki-laki itu cukup bertanggung jawab dan sering membantu anggota panitia lainnya. Hanya saja, Hikari berharap Arsen bisa berhenti menjadikannya sasaran candaan.
Ketika kembali ke tempat duduknya, Nadya yang sedang merapikan beberapa pita langsung menatapnya sambil tersenyum geli.
"Arsen ganggu kamu lagi?"
Hikari mengangguk pasrah.
"Dari tadi."
Nadya tertawa kecil.
"Dia emang suka bercanda, tapi kayaknya kali ini agak beda."
Hikari tidak menanggapi. Dia memilih mengambil kembali gunting dan melanjutkan pekerjaannya.
Di sisi lain aula, Selena yang sedang membantu menyusun kotak perlengkapan sempat memperhatikan interaksi tersebut. Wajahnya terlihat tidak senang, tetapi kali ini dia tidak menghampiri Hikari ataupun Arsen.
Sejak kejadian beberapa hari lalu, Selena memang tidak lagi berusaha menegur Hikari. Nadya sudah sempat mengingatkannya agar urusan pribadi tidak mengganggu pekerjaan panitia.
Meskipun demikian, Selena tetap sulit menyembunyikan kekesalannya setiap kali melihat Arsen mencari perhatian Hikari.
***
Keesokan harinya, hampir seluruh siswa kelas dua belas disibukkan dengan persiapan stan masing-masing.
Kelas Hikari dan Neta telah berubah menjadi ruangan yang cukup meriah. Meja-meja disusun membentuk area penjualan makanan, sementara bagian belakang kelas digunakan untuk permainan sederhana yang telah mereka rencanakan.
Neta berdiri di atas kursi untuk memasang beberapa hiasan pada dinding. Hikari yang berada di bawahnya membantu menyerahkan selotip dan pita.
"Net, agak ke kiri sedikit."
"Segini?"
"Iya, pas."
Setelah memastikan hiasan terpasang dengan baik, Neta turun dari kursi. Dia memperhatikan hasil pekerjaan mereka sambil mengangguk puas.
"Bagus juga, ya."
Hikari tersenyum.
"Masih kurang papan menunya."
"Oh, iya! Kamu udah bikin?"
Hikari menunjuk beberapa lembar karton yang berada di atas meja.
"Udah. Tinggal dipasang."
Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan bersama beberapa teman sekelas. Suasana kelas dipenuhi suara tawa dan percakapan. Ada yang sibuk menghitung harga makanan, ada pula yang mencoba permainan untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Di tengah kesibukan tersebut, Hikari sempat menerima pesan dari Arsen yang menanyakan keberadaannya.
Lo di mana?
Di kelas. Lagi bantu temen-temen
Nanti ke aula, ya. Gue mau nunjukin sesuatu.
Hikari membaca pesan itu sebentar sebelum membalas.
Kalau pekerjaanku sudah selesai.
Dia kemudian meletakkan ponselnya dan kembali membantu Neta.
Namun, belum sampai sepuluh menit, Arsen justru muncul di depan pintu kelas.
"Hikari!"
Beberapa siswa langsung menoleh.
Hikari yang sedang menempelkan papan menu menghentikan pekerjaannya.
"Kenapa?"
Arsen berjalan masuk sambil membawa dua kotak minuman.
"Gue bawain ini."
Hikari menatap minuman tersebut dengan bingung.
"Buat apa?"
"Buat lo. Dari tadi pasti capek."
"Aku udah minum."
"Ya simpan buat nanti."
Sebelum Hikari sempat menolak, Arsen sudah meletakkan salah satu kotak minuman di atas mejanya.
Neta yang menyaksikan kejadian itu langsung menahan tawa.
"Arsen, kalau mau traktir, satu kelas sekalian dong."
Arsen menoleh.
"Boleh. Tapi bayarin sendiri."
Beberapa siswa tertawa mendengar jawabannya.
Hikari hanya menggeleng, kemudian kembali mengerjakan papan menu. Arsen masih berdiri di dekatnya selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi setelah mendapat panggilan dari anggota panitia lainnya.
Begitu laki-laki itu menghilang, Neta langsung mendekati Hikari.
"Kayaknya Arsen beneran suka sama kamu."
Hikari menoleh cepat.
"Jangan mulai, Net."
"Aku cuma bilang."
"Dia cuma suka bercanda."
Neta mengangkat kedua tangan, memilih tidak memperpanjang pembicaraan tersebut. Namun, senyuman di wajahnya belum juga menghilang.
Hikari kembali memperhatikan papan menu di hadapannya. Dia berharap Arsen tidak membuat teman-temannya semakin sering menggodanya.
***
Hari festival akhirnya tiba.
Sejak pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi berbagai stan dan dekorasi berwarna-warni. Gerbang utama yang dirancang kelompok Hikari berdiri di dekat pintu masuk, dihiasi bunga kertas, lampu kecil, dan tulisan besar yang menyambut para pengunjung.
Hikari sempat berhenti beberapa saat untuk memperhatikan hasil pekerjaan mereka.
Melihat rancangan yang sebelumnya hanya berupa gambar kini benar-benar berdiri di hadapannya membuat gadis itu merasa senang. Semua waktu yang mereka habiskan di aula selama beberapa hari terakhir akhirnya membuahkan hasil.
"Bagus, kan?"
Arsen tiba-tiba muncul di sampingnya.
Hikari menoleh, kemudian mengangguk.
"Iya. Bagus banget."
"Kan gue yang bikin."
Hikari langsung menatapnya.
"Kita yang bikin."
Arsen tertawa.
"Iya, iya. Kita."
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan ponsel dan memotret gerbang tersebut dari beberapa sudut. Setelah mendapatkan gambar yang diinginkan, dia tiba-tiba mengarahkan kamera kepada Hikari.
"Eh, sini. Foto dulu."
Hikari menggeleng.
"Nggak usah."
"Satu aja."
"Arsen."
"Ayolah, buat dokumentasi."
Hikari akhirnya bersedia berdiri di dekat gerbang, tetapi dia meminta agar Arsen tidak ikut menggodanya. Laki-laki itu mengangguk, meskipun senyum jahilnya membuat Hikari sedikit curiga.
Setelah beberapa foto diambil, Hikari segera kembali menuju kelasnya.
Dia sudah berjanji kepada Neta untuk membantu menjaga stan pada jam pertama.
Festival berlangsung meriah. Pengunjung mulai berdatangan, termasuk beberapa orang tua siswa dan tamu undangan. Musik terdengar dari panggung utama, sementara aroma berbagai makanan memenuhi area halaman sekolah.
Hikari dan Neta mendapat tugas melayani pembeli di stan kelas mereka. Pada awalnya, pekerjaan tersebut terasa cukup mudah. Namun, menjelang siang, antrean mulai bertambah panjang hingga mereka hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat.
Neta sibuk mencatat pesanan, sementara Hikari membantu menyiapkan makanan dan menerima pembayaran.
Sesekali mereka saling tertawa ketika salah satu teman sekelas salah menyebutkan pesanan atau kebingungan mencari uang kembalian.
Menjelang tengah hari, jumlah pengunjung akhirnya sedikit berkurang.
Hikari memutuskan keluar sebentar untuk membeli minuman.
Dia berjalan melewati beberapa stan sambil memperhatikan berbagai permainan yang disediakan siswa lain. Ada lempar gelang, permainan menebak gambar, hingga stan foto yang dihiasi berbagai aksesori lucu.
Ketika melewati salah satu stan minuman, Hikari melihat Keiran berdiri di dekat meja bersama Fio.
Fio sedang memilih minuman, sementara Keiran terlihat sibuk memperhatikan layar ponselnya.
Hikari sempat ragu sebelum akhirnya menghampiri mereka.
"Fio!"
Fio menoleh.
"Eh, Hikari!"
Gadis itu langsung melambaikan tangan.
"Lo dari mana?"
"Dari stan kelas. Baru selesai jaga."
Fio mengangguk, kemudian menyerahkan satu gelas minuman yang baru dibelinya.
"Nih, buat lo."
Hikari terkejut.
"Eh, nggak usah. Aku mau beli sendiri."
"Udah, ambil aja. Gue beli kebanyakan."
Setelah mengucapkan terima kasih, Hikari menerima minuman tersebut.
Keiran yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah. Dia memperhatikan Hikari sebentar sebelum kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Udah makan?" tanyanya tiba-tiba.
Hikari menoleh.
"Belum."
"Kenapa?"
"Tadi stan ramai banget."
Keiran tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menoleh ke arah salah satu stan makanan yang berada tidak jauh dari mereka.
Beberapa saat kemudian, laki-laki itu berjalan meninggalkan Hikari dan Fio tanpa menjelaskan apa pun.
Hikari memperhatikan kepergiannya dengan bingung.
"Dia mau ke mana?"
Fio mengangkat bahu.
"Nggak tahu. Biarin aja."
Mereka kemudian mengobrol mengenai festival. Fio bercerita bahwa dirinya baru saja membantu beberapa anggota OSIS mengatur jadwal penampilan di panggung utama.
Hikari mendengarkannya dengan antusias. Dia bahkan sempat tertawa ketika Fio menceritakan bagaimana salah satu siswa hampir salah masuk panggung karena terlalu gugup.
Tak lama kemudian, Keiran kembali.
Di tangannya terdapat sebungkus makanan yang masih hangat.
"Nih."
Hikari menatap bungkusan yang disodorkan kepadanya.
"Buat aku?"
"Emang buat siapa?"
Hikari menerimanya dengan sedikit terkejut.
"Tapi aku nggak minta."
"Lo belum makan, kan?"
Hikari terdiam.
Keiran tidak menunggu jawaban. Dia hanya mengambil minumannya sendiri, kemudian bersandar pada salah satu tiang di dekat stan.
Fio yang menyaksikan kejadian tersebut langsung melirik Keiran. Namun, sebelum sempat menggodanya, laki-laki itu sudah lebih dahulu menatapnya tajam.
"Jangan mulai."
Fio tertawa kecil.
"Gue belum ngomong apa-apa!"
Hikari tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka. Dia justru sedang membuka bungkusan makanan yang diberikan Keiran.
Entah mengapa, tindakan sederhana tersebut membuatnya merasa senang.
Keiran tidak pernah banyak berbicara. Dia bahkan terkadang terlihat tidak tertarik dengan apa pun yang terjadi di sekitarnya. Namun, laki-laki itu selalu menyadari hal-hal kecil yang sering terlewatkan oleh orang lain.
Seperti ketika Hikari belum makan.
Atau ketika dia terlihat kelelahan meskipun tidak mengatakan apa-apa.
Hikari belum benar-benar memahami sifat Keiran. Namun, semakin lama mengenalnya, semakin sering dia menemukan sisi lain yang tidak pernah ditunjukkan laki-laki itu secara terang-terangan.
"Keiran."
"Hm?"
"Makasih, ya."
Keiran meliriknya sebentar.
"Makan aja."
Hikari tersenyum kecil sebelum mulai menikmati makanannya.
***
Menjelang sore, festival semakin ramai. Penampilan musik dari beberapa siswa membuat banyak pengunjung berkumpul di depan panggung utama.
Hikari yang sudah menyelesaikan jadwal menjaga stan akhirnya memiliki waktu untuk berkeliling bersama Neta.
Mereka mencoba beberapa permainan, membeli makanan, dan mengunjungi stan foto yang sejak pagi dipenuhi antrean.
Neta bahkan berhasil memenangkan gantungan kunci berbentuk kelinci dari permainan lempar gelang.
Hikari tertawa ketika sahabatnya memamerkan hadiah tersebut dengan begitu bangga.
Namun, kesenangan mereka sedikit terganggu ketika Arsen tiba-tiba muncul dan langsung berjalan di samping Hikari.
"Ketemu juga."
Hikari menoleh.
"Kamu nyari aku?"
"Dari tadi."
"Kenapa?"
Arsen mengangkat sebuah kantong kecil berisi beberapa hadiah permainan.
"Gue menang ini. Mau?"
Hikari menggeleng.
"Nggak usah."
"Kenapa? Bagus, lho."
"Kasih aja ke teman kamu."
Arsen berpura-pura terlihat kecewa.
"Padahal gue sengaja menangin buat lo."
Neta yang berjalan di samping Hikari langsung tertawa kecil.
Hikari justru mengembuskan napas.
"Arsen, kamu nggak capek godain aku terus?"
"Nggak."
Jawaban cepat itu membuat Neta tertawa semakin keras.
Arsen kemudian berjalan bersama mereka menuju area permainan berikutnya. Meskipun Hikari beberapa kali mencoba mengalihkan pembicaraan, laki-laki itu selalu menemukan cara untuk kembali menggodanya.
Pada akhirnya, Hikari memilih lebih banyak berbicara dengan Neta.
Tidak jauh dari tempat mereka berjalan, Keiran sedang duduk bersama Fio dan beberapa temannya di dekat lapangan basket.
Fio yang melihat Arsen berjalan bersama Hikari langsung menoleh kepada Keiran.
"Eh, Kei. Lihat."
Keiran mengikuti arah pandangannya.
Di kejauhan, Arsen terlihat sedang menunjukkan sesuatu kepada Hikari dan Neta. Neta tertawa, sementara Hikari tampak menggeleng berkali-kali.
"Arsen nggak berhenti-berhenti, ya," gumam Fio.
Keiran hanya memperhatikan sebentar sebelum kembali meneguk minumannya.
"Emang kenapa?"
"Kayaknya dia serius suka sama Hikari."
"Terus?"
Fio menoleh.
"Lo nggak terganggu?"
Keiran mengerutkan kening.
"Kenapa gue harus terganggu?"
Fio terdiam sebentar.
Dia sebenarnya berharap mendapatkan reaksi berbeda, tetapi Keiran justru terlihat benar-benar tidak peduli.
Laki-laki itu bahkan kembali berbicara dengan salah satu temannya mengenai pertandingan basket yang akan diadakan minggu depan.
Fio akhirnya memilih tidak membahasnya lagi.
Sementara itu, Hikari yang berjalan bersama Arsen mulai merasa lelah menghadapi godaan laki-laki tersebut.
Ketika mereka sampai di dekat stan permainan, Hikari berhenti dan menoleh kepada Arsen.
"Arsen, aku mau ke kelas dulu."
"Gue anter."
"Nggak usah. Aku sama Neta."
"Ya udah, gue ikut."
Hikari menatapnya beberapa saat.
"Arsen."
"Iya?"
"Aku mau sama Neta aja."
Arsen akhirnya tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya.
"Oke, oke. Gue nggak ikut."
Hikari mengangguk lega, kemudian berjalan meninggalkannya bersama Neta.
Namun, belum jauh mereka melangkah, Neta langsung menyenggol lengannya.
"Kasihan Arsen."
Hikari menoleh.
"Kenapa?"
"Dia kayaknya beneran suka sama kamu."
Hikari mengembuskan napas.
"Aku nggak tahu, Net. Tapi dia terlalu sering godain aku."
"Emang kamu nggak suka?"
Hikari berpikir sebentar sebelum menggeleng.
"Bukan nggak suka sebagai teman. Aku cuma nggak nyaman kalau digodain terus."
Neta mengangguk memahami.
Dia tidak lagi menggoda Hikari mengenai Arsen. Sebaliknya, dia mengajak sahabatnya kembali ke kelas untuk membantu membereskan beberapa perlengkapan yang sudah tidak digunakan.
***
Festival akhirnya berakhir menjelang petang.
Para pengunjung mulai meninggalkan sekolah, sementara siswa dan panitia bekerja sama membersihkan area kegiatan. Beberapa stan dibongkar, meja dikembalikan ke tempat semula, dan sampah dikumpulkan ke dalam kantong besar.
Hikari membantu Neta membereskan kelas sebelum kembali ke aula untuk menyerahkan perlengkapan dekorasi.
Tubuhnya terasa cukup lelah setelah seharian beraktivitas. Namun, dia merasa puas karena festival berjalan dengan lancar.
Ketika keluar dari aula, Hikari mendapati koridor sudah mulai sepi.
Dia berjalan menuju tangga sambil membawa tas dan sebuah map besar. Namun, karena terlalu banyak barang yang dibawanya, salah satu buku kecil tiba-tiba terjatuh.
Hikari segera berhenti.
Belum sempat membungkuk, seseorang sudah lebih dahulu mengambil buku tersebut.
"Lo kalau jalan lihat-lihat."
Hikari mengangkat wajah.
Keiran berdiri di hadapannya sambil memegang buku kecil miliknya.
"Keiran?"
Laki-laki itu menyerahkan buku tersebut.
"Barang lo jatuh."
Hikari menerimanya sambil tersenyum.
"Makasih."
Keiran kemudian memperhatikan map besar dan beberapa kantong yang dibawa Hikari.
"Lo bawa apa aja?"
"Perlengkapan yang belum sempat aku bawa pulang."
Keiran mengembuskan napas pelan. Tanpa banyak bicara, dia mengambil map besar dari tangan Hikari.
Hikari terkejut.
"Eh, nggak usah. Aku bisa bawa sendiri."
"Udah, jalan."
Hikari terdiam sebentar sebelum akhirnya mengikuti langkah laki-laki itu.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor yang mulai sepi. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi lantai yang baru saja dibersihkan.
Hikari sesekali melirik Keiran.
Laki-laki itu tidak banyak berbicara. Dia hanya berjalan dengan santai sambil membawa map milik Hikari, seolah tindakan tersebut bukan sesuatu yang perlu dibicarakan.
"Keiran."
"Hm?"
"Kamu capek?"
"Nggak terlalu."
"Padahal dari pagi di sekolah."
"Lo juga."
Hikari tertawa kecil.
"Iya, sih."
Mereka kembali berjalan dalam diam.
Namun, keheningan tersebut tidak membuat Hikari merasa canggung. Justru ada sesuatu yang terasa berbeda setiap kali dia berada di dekat Keiran.
Dulu, Hikari mendekatinya karena merasa laki-laki itu mengingatkannya kepada seseorang yang pernah dikenalnya. Tatapan dan sikap Keiran yang terkadang sulit ditebak membuatnya penasaran.
Akan tetapi, setelah beberapa kali berbicara dan menghabiskan waktu bersama, alasan itu perlahan tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang membuat Hikari ingin mengenalnya.
Ada sesuatu dalam diri Keiran yang membuatnya merasa nyaman.
Laki-laki itu memang tidak pandai menunjukkan perhatian melalui kata-kata. Dia bahkan sering menjawab pertanyaan dengan singkat dan terkadang terdengar ketus.
Namun, Keiran selalu menyadari ketika Hikari membutuhkan bantuan.
Tanpa diminta.
Tanpa banyak bertanya.
Dan tanpa pernah menganggap tindakannya sebagai sesuatu yang istimewa.
Ketika mereka sampai di gerbang sekolah, Hikari melihat mobil Pak Damar sudah menunggu.
Keiran menyerahkan map yang dibawanya.
"Nih."
Hikari menerimanya.
"Makasih, Keiran."
"Hm."
Hikari sebenarnya sudah hendak pergi. Namun, sebelum melangkah, dia kembali menoleh.
"Besok kamu ada kegiatan?"
Keiran mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Nggak. Cuma tanya."
"Ada latihan basket."
"Oh."
Keiran memperhatikan Hikari sebentar.
"Lo mau apa?"
Hikari menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Nggak ada. Aku cuma penasaran."
Keiran tidak bertanya lagi.
Setelah berpamitan, Hikari berjalan menuju mobil. Namun, sepanjang perjalanan pulang, pikirannya beberapa kali kembali pada percakapan singkat mereka.
Dia bahkan sempat tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana Keiran mengambil map dari tangannya tanpa meminta izin.
Hikari tidak mengetahui sejak kapan hal-hal kecil seperti itu mulai terasa menyenangkan.
Yang jelas, sekarang dia tidak lagi sekadar ingin mengetahui siapa sebenarnya Keiran.
Dia mulai ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya.
Beberapa hari setelah festival, kegiatan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Para siswa mulai disibukkan dengan tugas pelajaran, latihan olahraga, serta persiapan ujian yang semakin mendekat.
Hikari juga kembali menjalani rutinitasnya bersama Neta. Mereka belajar, mengerjakan tugas kelompok, dan sesekali menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah.
Meskipun festival telah selesai, Arsen rupanya masih sering menghampiri Hikari.
Terkadang laki-laki itu datang hanya untuk meminjam catatan, menanyakan tugas, atau sekadar mengajaknya membeli makanan di kantin.
Hikari selalu menanggapinya dengan sopan, tetapi beberapa kali dia harus menolak ajakan Arsen karena sudah memiliki rencana bersama Neta.
Di sisi lain, hubungannya dengan Keiran perlahan menjadi lebih akrab.
Tidak ada perubahan besar di antara mereka. Keiran tetap bersikap dingin dan tidak banyak berbicara, sementara Hikari masih sering menjadi pihak yang lebih dahulu menyapa.
Namun, kini Keiran tidak lagi selalu menghindar ketika Hikari menghampirinya.
Sesekali mereka bertemu di taman sekolah. Kadang Hikari hanya duduk sebentar untuk berbicara, sementara Keiran tetap sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Ada pula hari ketika mereka hanya saling menyapa di koridor sebelum kembali menuju kelas masing-masing.
Bagi orang lain, hubungan tersebut mungkin terlihat biasa saja.
Namun, bagi Hikari, setiap pertemuan kecil itu perlahan menjadi bagian yang menyenangkan dari hari-harinya.
Dia belum memahami perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya.
Dan untuk sementara, Hikari memilih membiarkannya berjalan begitu saja.
Tanpa mengetahui bahwa ketenangan yang baru mulai dirasakannya tidak akan berlangsung selamanya.