Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Satu ranjang
Di penthouse mewah lantai 42 yang biasanya dingin dan sunyi itu, malam ini suasananya tegangnya melebihi rapat pemegang saham. AC menyala 18 derajat tapi dua penghuninya berkeringat.
Safa berdiri kaku di depan pintu kamar utama sambil memeluk guling kesayangannya yang bermotif doraemon, plus bantal tipis dan selimut lipat miliknya. Dia sudah memakai piyama panjang bergambar beruang yang dibelikan Arga kemarin saat dia demam lengkap dengan hijab tidurnya sudah terpasang rapi, tapi wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Di dalam kamar, Arga sudah duduk di pinggir ranjang king size yang super empuk itu. Dia hanya memakai kaos oblong hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya masih sedikit basah habis wudhu. Di tangannya ada HP, tapi layar HP-nya mati, dia hanya pura-pura sibuk scrolling agar tidak terlihat gugup. Padahal jantungnya berdegup kencang seperti habis lari marathon.
"Mas..." Safa memanggil dari ambang pintu dengan suara super kecil, seperti anak kucing yang mau minta izin masuk ruangan majikannya.
Arga langsung kaku seperti patung. Dia berdeham keras untuk mengembalikan wibawa CEO-nya. "Ya? Masuk saja. Kenapa masih berdiri di situ?"
"Anu... aku masuk ya Mas ya?" Safa melangkah masuk dengan langkah super kecil, seperti ninja yang takut menginjak lantai.
Arga mengangguk cepat. "Ya, ini kan kamar kamu juga mulai malam ini. Perintah Nenek. Anggap saja ini jackpot karna bisa tidur dengan saya!" celoteh Arga untuk menutupi rasa gugupnya.
Safa melangkah mendekati ranjang raksasa itu. Ranjang itu begitu besar, empuk, dengan sprei putih bersih wangi laundry mahal. Dia meletakkan guling doraemonnya pelan-pelan tepat di tengah ranjang, sebagai benteng pertahanan.
"Mas, ini aku taruh guling di tengah ya, buat batas. Biar Mas nggak keganggu sama aku. Aku tidurnya kadang gerak-gerak," kata Safa dengan nada polos namun serius.
Arga melirik guling doraemon itu dengan alis terangkat. "Safa, kamu pikir saya akan mengganggu kamu? Saya ini bukan orang sembarangan." protes Arga.
"Bukan gitu Mas..." Safa langsung panik dan menunduk memainkan ujung piyamanya. "Maksudku... nanti kalau kesetrum gimana..."
Arga hampir tersedak ludahnya sendiri. "Kesetrum?"
"Iya... kata temenku di desa, kalau cowok cewek tidur deketan tanpa batas nanti bisa kesetrum rasa..." Safa berbisik, wajahnya makin merah.
Arga memejamkan mata menahan tawa. Astaga, istri kontraknya ini logikanya dari mana. Tapi entah kenapa, di balik rasa gemasnya, ada rasa hangat yang menjalar.
"Ya sudah, taruh saja gulingnya. Terserah kamu," pungkas Arga akhirnya, mencoba bersikap cuek.
Safa naik ke ranjang dari sisi paling kiri, paling ujung mepet tembok. Arga tetap di sisi paling kanan, paling ujung mepet nakas. Jarak mereka di tengah masih muat untuk tidur tiga orang lagi. Guling doraemon di tengah berdiri tegak seperti Tembok Berlin yang kokoh memisahkan dua negara yang sedang perang dingin.
Lampu utama dimatikan. Hanya lampu tidur kecil berwarna kuning hangat di nakas yang menyala temaram. Membuat bayangan mereka terlihat di dinding.
Hening.
Satu menit hening. Dua menit hening. Hanya terdengar suara AC mendesis pelan dan suara detak jantung dua orang yang berdetak tidak karuan.
"Mas Arga belum tidur ya?" Safa akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka suara, suaranya pelan memecah keheningan.
"Belum," jawab Arga cepat, padahal matanya sudah terpejam rapat.
"Mas dingin nggak? AC-nya kenceng banget ya?"
Arga yang sebenarnya kedinginan karena hanya pakai kaos tipis, gengsi untuk mengaku. Dia adalah Arga Mahendra, CEO dingin yang tidak pernah mengeluh. "Enggak. Saya biasa. Saya tahan dingin."
Lima menit kemudian, hening lagi.
"Mas..."
"Apa lagi, Safa?" Arga mulai sedikit frustrasi tapi juga merasa gemas.
"Selimutku ketarik Mas... dikit aja..."
Arga membuka satu mata. Melihat selimut bagian Safa memang hanya kebagian ujungnya saja karena Safa tidurnya terlalu mepet tembok. Dengan gerakan super kaku seperti robot yang baru belajar jalan, Arga menarik ujung selimut tebal itu dan melemparkannya pelan ke arah Safa.
"Nih. Pakai yang benar."sungut Arga.
"Makasih ya Mas..." Safa menarik selimut sampai dagu, hanya matanya yang terlihat. Matanya menatap langit-langit.
Sepuluh menit kemudian, masih belum ada yang bisa tidur. Wangi parfum Arga yang maskulin, kayu, dan mahal itu menyengat hidung Safa, membuat kepalanya pusing. Di sisi lain, wangi sampo strawberry dari rambut Safa yang baru keramas juga membuat Arga tidak bisa fokus.
"Mas..." Safa memanggil lagi.
Arga menghela napas panjang, kali ini menyerah. Dia miring menghadap ke arah Safa, tapi masih terhalang guling. "Ya Tuhan, Safa, kamu kenapa sih nggak bisa diam?" keluh Arga.
"Jantungku deg-degan Mas..." ujar safa jujur, suaranya hampir menangis karena malu. "Kenceng banget." imbuhnya lagi.
Arga terdiam. Melihat wajah Safa yang polos, mata bulatnya yang berkaca-kaca diterpa cahaya lampu tidur, pipinya yang memerah, Arga yang tadinya tegang tiba-tiba hatinya luluh. Rasa protektif yang muncul sejak Safa demam dua hari lalu itu muncul lagi, kali ini lebih besar.
"Kenapa deg-degan?" tanya Arga dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Soalnya ini pertama kalinya aku tidur sekamar sama... sama laki-laki... eh maksudku suami... eh Mas Arga..." Safa semakin gugup, bahasanya berantakan.
Arga yang tadinya tegang, tiba-tiba terkekeh pelan. Tawa pertamanya malam itu. Tawa yang rendah dan berat, membuat Safa makin salah tingkah.
"Sini lihat saya," kata Arga pelan.
Safa perlahan menoleh. Mata mereka bertemu di atas guling doraemon. Jarak wajah mereka hanya sekitar 50 cm, tapi terasa seperti 5 cm bagi Safa.
"Kamu nggak perlu takut sama saya, Safa. Saya di sini. Saya nggak akan ngapa-ngapain kamu tanpa izin kamu. Kamu tidur saja yang nyenyak. Anggap saja saya ini guling yang lebih besar.Atau anggap saya ngga ada dikamar ini." kata Arga, mencoba menenangkan.
Safa mengerucutkan bibirnya. "Guling besar yang galak dan suka marah-marah."
"Iya, guling galak yang jagain kamu dari anak kebun sawit Kalimantan itu," seloroh Arga. "Sekarang merem. Pejamkan mata kamu."
Safa mengangguk patuh. Dia memejamkan matanya. Nafasnya yang tadinya cepat, perlahan mulai teratur. Mungkin karena obat demamnya masih ada, atau karena merasa aman mendengar suara Arga, Safa akhirnya terlelap duluan. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya pelan dan teratur.
Arga membuka mata lagi. Dia menatap wajah Safa yang tidur pulas di balik guling itu. Wajah polos tanpa makeup, bulu matanya lentik, hijab tidurnya sedikit miring. Arga perlahan mengulurkan tangan dan menyingkirkan guling doraemon itu sedikit ke tengah, agar Safa tidak jatuh jika menggelinding. Setelah memastikan Safa aman, Arga pun akhirnya ikut terlelap, untuk pertama kalinya setelah sebulan, tidurnya nyenyak tanpa memikirkan pekerjaan.
---
Jam 05.30 pagi.
Sinar matahari pagi Jakarta yang keemasan masuk melalui jendela kaca besar dari lantai ke langit-langit penthouse.
Safa merasa hangat. Sangat hangat, tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang berat memeluk pinggangnya erat. Ada sesuatu yang keras tapi empuk di atas kepalanya. Dan ada suara napas yang berat dan teratur di dekat telinganya, membuat tengkuknya merinding.
Safa membuka mata perlahan, masih setengah sadar.
Dan detik berikutnya, matanya membelalak sebesar koin seribu rupiah.
Dia tidak lagi di sisi kiri ranjang yang mepet tembok. Dia sudah berada di tengah, bahkan hampir di sisi kanan. Guling doraemon pembatas yang semalam dia pasang dengan kokoh seperti Tembok Berlin, sudah terlempar jauh ke bawah ranjang, tergeletak menyedihkan di lantai.
Dan yang memeluk pinggangnya erat itu adalah tangan kekar berotot milik Arga.
Arga memeluknya dari belakang dengan posisi yang sangat... suami istri sekali.Wajah Arga terbenam di rambutnya dan entah apa yang terjadi semalaman hingga membuat hijab tidur safa terlepas entah kemana hidung arga menyentuh ubun-ubun Safa. Kaki panjang Arga bahkan melilit kaki Safa di balik selimut tebal. Selimut mereka berantakan.
"MA-MAS ARGA!!!" Safa spontan ingin teriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan karena terlalu kaget dan malu.
Arga yang masih setengah sadar, mengernyit mendengar kegaduhan. Bukannya melepas, dia malah makin mengeratkan pelukannya sambil mengigau dengan suara serak khas bangun tidur, "Hmm... Safa... jangan berisik... lima menit lagi... masih ngantuk..."
Wajah Safa sudah sepanas panci presto. Jantungnya berdegup kencang seperti mau copot. "Mas... Mas bangun... kita... kita pelukan..."
Kalimat "kita pelukan" itu seperti alarm yang membangunkan Arga sepenuhnya. Arga membuka mata dengan kaget. Butuh dua detik bagi otaknya yang masih loading untuk memproses apa yang terjadi.
Dia melihat Safa ada di dalam pelukannya. Rambut Safa yang wangi strawberry ada di depan hidungnya. Tangan dia sendiri melingkar erat di pinggang kecil Safa yang ramping. Posisi mereka intim sekali.
Untuk sepersekian detik, Arga tidak langsung melepas. Ada rasa nyaman, hangat, dan benar yang menjalar di dadanya. Rasanya pas. Rasanya seperti seharusnya begini setiap pagi. Rasanya dia tidak ingin melepas.
Tapi detik berikutnya, kesadaran sebagai CEO jaim dan gengsi kembali.
Arga langsung melepas pelukannya seperti kesetrum listrik 1000 volt dan mundur terjengkang sampai hampir jatuh dari ranjang king size itu.
"ASTAGHFIRULLAH! KENAPA KAMU DI SINI?!" Arga panik, suaranya melengking tidak seperti biasanya.
Safa juga langsung duduk tegak dan mundur sampai punggungnya mentok headboard kayu yang keras. Dia memeluk lututnya. "AKU NGGAK TAU! TADI MALAM AKU DI KIRI! MAS YANG MINDAHIN GULINGNYA! MAS YANG NARIK AKU!"
"ENAK AJA! SAYA NGGAK MINDAHIN! KAMU YANG GULING-GULING KESINI TENGAH MALAM! DASAR TUKANG NGIGAU!"
"AKU NGGAK GULING-GULING! MAS YANG MULAI PELUK DULUAN! TANGAN MAS DI PINGGANG AKU!"
Mereka berdua saling tuduh dengan wajah merah padam seperti udang rebus, napas ngos-ngosan, rambut berantakan, seperti dua anak kecil yang ketahuan mencuri mangga tetangga.
Di tengah perdebatan malu-malu yang super canggung itu, terdengar suara yang sangat familiar dari luar kamar.
_Tuk... Tuk... Tuk..._ Suara tongkat kayu dipukulkan pelan ke lantai marmer.
Pintu kamar diketuk pelan.
"Arga? Safa? Nenek datang bawa sarapan! Nenek bawakan sup ayam kemarin yang belum habis! Nenek lihat ya kalian sudah satu kamar atau belum!"
Arga dan Safa langsung saling tatap dengan mata melot panik. Guling masih di bawah lantai!
Dengan gerakan secepat kilat ninja, Arga melompat turun dari ranjang mengambil guling doraemon dari lantai dan melemparkannya ke atas ranjang, Safa dengan cepat merapikan hijab tidurnya yang sudah miring ke belakang dan merapikan piyamanya.
Pintu terbuka. Nenek Ratna masuk dengan senyum lebar dan nampan berisi dua mangkok sup.
Dan Nenek melihat pemandangan pagi yang sempurna: Ranjang super berantakan, selimut kusut tidak karuan, dua orang dengan wajah merah, napas berantakan, rambut acak-acakan, dan guling pembatas yang sudah tidak di tengah lagi melainkan tergeletak di ujung ranjang seperti korban perang.
Nenek Ratna tersenyum penuh kemenangan. Senyumnya licik seperti detektif senior yang berhasil memecahkan kasus besar setelah sebulan penyelidikan.
"Wah... wah... wah..." Nenek mengangguk-angguk sambil menatap ranjang. "Sepertinya malam pertama kalian sebagai suami istri normal yang sesungguhnya... berjalan sangat... lancar ya? Sampai gulingnya saja sampai jatuh ke bawah saking lancarnya?"
Safa langsung menjerit kecil dan menutup wajahnya dengan bantal karena malu setengah mati, ingin menghilang saja ke dalam bantal. Arga hanya bisa berdiri mematung di pinggir ranjang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya merah sampai ke telinga dan leher.
"Gulingnya kenapa di bawah, Ga?" goda Nenek lagi, matanya melirik nakal ke Arga.
Arga dan Safa terdiam seribu bahasa. Tidak bisa menjawab. Karena jawaban yang sebenarnya terlalu memalukan untuk diucapkan.
Di pagi yang hangat itu, dengan sup ayam Nenek yang masih mengepul di atas nakas, untuk pertama kalinya setelah satu bulan menikah kontrak, mereka berdua sadar.
Tidur satu ranjang bukan hukuman dari Nenek.
Tapi adalah awal dari rasa yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat, rasa yang kini sudah tidak bisa lagi disembunyikan di balik guling doraemon.
bersambung