NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Ketika Latihan Tidak Berarti Apa-Apa

BETA itu melangkah keluar dari bayangan.

Ervan tidak bergerak.

Tubuhnya seperti lupa bagaimana caranya.

Empat kaki makhluk itu menopang badan kurus berotot dengan punggung sedikit melengkung. Kulitnya gelap, kasar, dan menempel ketat pada tulang. Rahangnya terlalu besar dibandingkan ukuran kepalanya, sementara cakar di setiap kaki tampak cukup panjang untuk merobek daging.

Dari bentuk tubuhnya—

Beast-type.

Kemungkinan kelas rendah.

Informasi yang dibacanya beberapa malam terakhir muncul di kepala.

Namun mengetahui namanya sama sekali tidak membuat rasa takut berkurang.

Jantung Ervan berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Kenapa ada BETA di sini?

Kawasan ini memang sepi, tetapi pemukiman manusia tidak terlalu jauh.

Seharusnya ada pengawasan.

Seharusnya keberadaan BETA terdeteksi sebelum bisa mencapai tempat seperti ini.

Seharusnya—

BETA merendahkan tubuhnya.

Ervan menegang.

Mata makhluk itu terkunci kepadanya.

"𝘖𝘩, 𝘴𝘪𝘢𝘭..." Kata itu lolos dari mulut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dalam bisikan serak, seolah bersuara lebih keras saja sudah cukup untuk memancing makhluk itu.

BETA menerjang.

Cepat.

Jauh lebih cepat daripada apa pun yang pernah Ervan hadapi.

Cakarnya mencungkil serpihan beton saat menolak lantai. Dalam satu kedipan, jarak yang tadi masih terasa aman sudah habis.

Tubuhnya bergerak terlambat.

Ervan menjatuhkan diri ke samping.

SRAK!

"𝘈𝘳𝘨𝘩—!" Jeritan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pecah sebelum ia sempat menahannya.

Cakar BETA menyambar lengannya.

Kain kaus robek.

Tiga garis merah langsung muncul dari bahu hingga mendekati siku.

Ervan menghantam beton dengan keras dan berguling. Debu dan kerikil menempel pada luka yang baru terbuka.

Sakit dari lukanya bahkan belum sempat diproses ketika suara cakar kembali terdengar.

Tak!

Tak!

Tak!

Ervan menoleh.

Makhluk itu sudah berbalik.

"𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵..." gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napas yang tersengal, matanya tidak berani lepas dari makhluk itu. "𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩—"

BETA kembali menyerang.

Ervan bangkit terburu-buru dan mundur.

Kakinya hampir tersandung puing.

Ia mengangkat kedua tangan secara refleks.

Entah untuk melindungi wajah atau mempersiapkan pukulan.

Ia sendiri tidak tahu.

BETA melompat.

Ervan mengayunkan tinju kanan sekuat tenaga.

"𝘏𝘢𝘩!" Hentakan napas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 keluar bersama ayunan itu, dan seluruh berat badannya ikut terlempar ke depan.

Pukulannya mengenai sisi kepala makhluk itu.

Benturannya keras. Getarannya merambat dari buku jari sampai ke siku.

Kepala BETA terdorong.

Untuk sepersekian detik, Ervan merasa berhasil.

Kemudian tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Pukulannya terlalu lebar.

Kakinya salah posisi.

BETA berputar lebih cepat daripada dirinya. Keempat kakinya menapak, memutar, dan bahunya yang keras sudah mengarah ke rusuk Ervan yang terbuka.

BUK!

Tubuh Ervan dihantam dari samping.

Ia terlempar dan punggungnya membentur dinding. Plester tua rontok menghujani kepalanya.

Udara keluar paksa dari paru-parunya.

"𝘒𝘩—!" Yang keluar dari mulut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bukan teriakan, hanya sisa udara yang terperas dari dadanya.

Ervan jatuh berlutut. Mulutnya terbuka, tetapi napas tidak mau masuk.

BETA tidak memberinya waktu.

Cakar berikutnya datang.

Ervan mengangkat tangan.

Ujung cakar merobek sisi kausnya dan menyayat pinggang.

Panas.

Kemudian perih luar biasa.

Ervan mundur sambil menekan sisi tubuhnya, punggungnya menyeret sepanjang dinding.

Darah menempel pada telapak tangannya.

Ini beda.

Semua latihan yang dilakukannya—

push-up.

Sprint.

Squat.

Burpee.

Jogging.

Tidak satu pun mengajarinya apa yang harus dilakukan sekarang.

Bagaimana menjaga jarak?

Bagian mana yang harus dilindungi?

Kapan harus menyerang?

Bagaimana menghindar tanpa kehilangan keseimbangan?

Ia tidak tahu.

BETA kembali mendekat. Kali ini tidak berlari. Kepalanya merunduk dan langkahnya pelan, seperti sedang menakar seberapa jauh lagi mangsanya bisa mundur.

Ervan mengertakkan gigi.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵-𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵." Tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 yang berlumur darah terulur ke depan, seperti orang menahan anjing galak di ujung gang. "𝘔𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳... 𝘔𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳, 𝘬𝘶𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨!"

Makhluk itu tidak mundur.

Ervan menendang.

Kakinya mengenai bagian dada makhluk itu.

BETA terdorong hampir satu meter. Cakarnya menggaruk lantai dan meninggalkan goresan putih di beton.

Ervan terkejut melihat hasilnya.

Kekuatan tubuhnya benar-benar meningkat.

Tetapi kaki tumpuannya bergeser.

Ervan hampir jatuh.

Sebelum ia sempat mengembalikan posisi—

BETA kembali menerkam.

Ervan melompat ke samping.

Lututnya menghantam beton.

"𝘈𝘬𝘩—!" Desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lolos lewat gigi yang terkatup rapat.

Rasa sakit menyebar sampai paha.

Namun ia tidak bisa berhenti.

Ervan merangkak, kemudian melihat sebatang besi berkarat tergeletak di dekat puing.

Tangannya langsung meraihnya.

Panjang hampir satu meter.

Tidak ideal.

Tetapi lebih baik daripada tangan kosong.

BETA menggeram.

Ervan menggenggam batang besi menggunakan kedua tangan. Karatnya kasar di telapak, dan beratnya menarik lengan kiri yang terluka.

"𝘈𝘺𝘰." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat ujung besi itu setinggi dada.

Suaranya gemetar.

Ia sendiri menyadarinya.

"𝘈𝘺𝘰... 𝘮𝘢𝘫𝘶 𝘴𝘪𝘯𝘪," ulang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lebih keras, seakan volume bisa menutupi getar itu.

Makhluk itu menerjang.

Ervan mengayunkan besi.

DANG!

Batang besi menghantam punggung BETA. Getarannya menyengat sampai ke bahu.

Makhluk itu terjatuh.

Ervan langsung mengangkat besi lagi.

"𝘔𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶!" Teriakan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pecah menjadi raungan parau.

Ayunan kedua meleset.

BETA bergerak ke samping. Besi menghantam lantai dan memercikkan serpihan beton.

Momentum membuat tubuh Ervan ikut berputar.

Kesalahan.

Cakar menyambar.

Ervan melepaskan besi dan menarik tangan.

Terlambat.

Telapak tangannya tersayat.

Batang besi jatuh sambil berdenting, lalu menggelinding menjauh ke balik puing.

BETA menyeruduk.

Ervan jatuh.

Pelipisnya menghantam sudut beton.

Pandangan bergetar.

Suara di sekitarnya menjadi samar. Geraman, cakar di lantai, napasnya sendiri—semuanya terdengar seperti dari dalam air.

Ervan menyentuh pelipis.

Darah.

Napasnya mulai berat.

Lengan kiri terluka.

Sisi tubuh terluka.

Lututnya berdenyut.

Telapak tangannya terbuka.

Darah dari pelipis mengalir melewati pipi.

Tetapi tubuhnya masih bisa bergerak.

Baru sekarang Ervan memahami kegunaan seluruh latihan fisiknya.

Latihan itu tidak membuatnya tahu cara bertarung.

Tidak membuatnya lebih pintar.

Tidak membuatnya mampu membaca gerakan BETA.

Latihan itu hanya membuat tubuhnya cukup kuat untuk—

belum mati.

BETA berjalan mengitarinya.

Ervan memaksa berdiri.

Kaki kirinya sedikit pincang.

Matanya bergerak liar mencari sesuatu.

Batu.

Kayu.

Puing.

Apa saja.

Ia meraih pecahan beton sebesar kepalan tangan.

BETA menyerang.

Ervan melemparkannya.

Meleset. Pecahan itu lewat sejengkal di atas kepala BETA dan hancur di dinding belakang.

"𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘚𝘦𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯—" Umpatan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terputus; makhluk itu tidak memberinya waktu menyelesaikan kalimat.

Ia mundur.

Makhluk itu melompat.

Ervan menutup wajah dan membenturkan tubuhnya ke samping.

Keduanya jatuh. Mereka bergulingan di antara debu dan pecahan beton, begitu dekat hingga napas panas makhluk itu menyapu wajahnya.

Ervan meninju rusuk BETA.

Sekali.

Dua kali.

Pukulannya keras—

tetapi tanpa teknik. Rasanya seperti meninju ban truk.

Untuk sesaat, leher makhluk itu berada tepat di depan matanya. Ada sesuatu yang berdenyut cepat di balik kulit kasar itu.

BETA mencakar.

Ervan mundur.

Mereka kembali terpisah.

Napas Ervan semakin kacau.

Keringat bercampur darah mengalir di wajah.

Tangannya gemetar.

BETA pun tidak tanpa luka. Sisi kepalanya sedikit berdarah akibat pukulan pertama, sementara punggungnya menyimpan bekas hantaman besi.

Namun dibanding Ervan—

makhluk itu masih jauh lebih siap untuk membunuh.

BETA merendahkan tubuh lagi.

Gerakan itu lagi. Punggung melengkung, kepala turun, lalu terjangan. Ervan sudah tahu apa yang datang sesudahnya. Tubuhnya saja yang belum sanggup mengikutinya.

Ervan menatapnya.

Rasa takut yang sejak tadi memenuhi kepala akhirnya pecah menjadi sesuatu yang lain.

Serius?

Ia baru mendapat kesempatan kedua.

CORE yang bertahun-tahun tidak bergerak akhirnya mencapai seratus persen.

Ia baru saja kembali mempunyai kemungkinan menjadi Hunter.

Ia bahkan belum mengikuti seleksi.

Dan sekarang—

aku bakal mati di bangunan kosong begini?

BETA menggeram.

Ervan mengepalkan tangan yang terluka.

Darah menetes dari sela jarinya.

Takut?

Tentu.

Ia hampir tidak bisa merasakan ujung jarinya.

Namun justru karena takut—

ia tidak mau mati.

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬." Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 serak dan nyaris tenggelam oleh geraman di depannya. "𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪."

BETA melesat.

Ervan mencoba membaca arah gerakannya.

Kiri?

Kanan?

Terlambat.

Ia menggeser tubuh. Lutut yang pincang tidak mau menurut; geserannya hanya separuh dari yang ia butuhkan.

Rahang besar itu terbuka.

Ervan sempat melihat deretan gigi sebelum—

KRAK!

"𝘈𝘢𝘢𝘢𝘳𝘨𝘩—!" Jeritan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melengking dan memantul di dinding-dinding kosong.

Rahang BETA menancap pada bahu kirinya.

Rasa sakit meledak.

Penglihatan Ervan memutih.

Kedua kakinya hampir kehilangan tenaga.

Makhluk itu menggigit semakin dalam. Berat tubuhnya menggantung pada bahu itu dan menyeret Ervan turun.

Darah mengalir deras dari bahu hingga dada.

Ervan memukul kepala BETA.

Sekali.

Dua kali.

"𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴! 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘪𝘯—!" teriak 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, suaranya pecah di ujung.

Tiga kali.

Tidak bergerak.

Ia mencoba mendorong rahangnya.

Percuma.

Semakin Ervan bergerak, semakin dalam giginya menekan daging.

Tangannya mulai kehilangan tenaga.

Suara napasnya berubah menjadi erangan pendek.

Dunia berputar.

Kalau terus begini...

Kesadarannya mulai kabur.

Ervan berhenti memukul.

Berhenti mendorong.

BETA menggeram seolah menyadari mangsanya mulai melemah.

Ervan menatap leher makhluk itu.

Tepat di depan wajahnya. Sedekat napas. Denyut yang tadi dilihatnya masih berdetak di balik kulit kasar itu.

Tidak ada teknik.

Tidak ada footwork.

Tidak ada guard.

Tidak ada Regalia.

Tidak ada strategi hebat.

Tidak ada satu pun pelajaran yang bisa menyelamatkannya.

Jadi Ervan berhenti mencoba bertarung seperti seseorang yang tahu caranya bertarung.

Tangan kanannya mencengkeram belakang kepala BETA.

Ia menarik makhluk itu mendekat.

BETA justru menekan rahangnya semakin dalam.

"𝘕𝘨𝘩𝘩—!" Erangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertahan di balik gigi yang terkatup.

Ervan membuka mulut.

Kemudian—

menggigit leher BETA sekuat tenaga.

Giginya menembus kulit kasar.

Makhluk itu mendadak meronta. Keempat kakinya mencakar-cakar lantai, dan geramannya berubah menjadi suara tercekik.

Ervan tidak melepaskannya.

Ia menggigit semakin keras.

Sampai sesuatu yang hangat menyembur ke dalam mulutnya.

Mata Ervan membelalak.

Darah asing memenuhi mulutnya.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!