NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 di perlakukan kurang baik

Asap putih yang mengepul dari pintu kaca rooftop yang hancur membuat para tamu undangan panik bukan kepalang.

Mereka berteriak histeris, berlarian kesana-kemari mencari tempat berlindung, menjatuhkan gelas-gelas kristal dan kursi mewah. Musik jazz yang tadinya elegan kini berganti dengan suara kepanikan yang memekakkan telinga.

​Di tengah kekacauan itu, Reza berdiri tegak seperti malaikat maut. Matanya yang tajam bagai elang tidak lepas dari sosok Maya yang berdiri gemetar memegang nampan perak di samping Sora.

​"Rian, amankan area! Jangan biarkan satu pun orang di rooftop ini bergerak!" perintah Reza dingin lewat komunikasi radio di kerah bajunya.

​"Siap, Tuan Besar!" balas Rian dari arah tangga darurat, disusul oleh puluhan anak buah setia Reza yang langsung melompat naik, mengepung seluruh sudut rooftop dan menodongkan senjata ke arah para pengawal dewan.

​Tuan Burhan yang tadinya duduk gagah di kursi utama mendadak pucat pasi. Ia berusaha berdiri sambil menunjuk ke arah Reza dengan tangan bergetar.

"Reza! Kamu sudah gila, hah?! Beraninya kamu menyerang acara resmi dewan dengan senjata?!"

​Reza sama sekali tidak menggubris teriakan Tuan Burhan. Langkah kakinya yang tegap menghujam lantai marmer rooftop, berjalan lurus menembus kerumunan tamu yang ketakutan.

Setiap kali Reza melangkah maju, orang-orang secara otomatis menyingkir dan memberi jalan, ketakutan melihat aura mematikan yang terpancar dari tubuh pria itu.

​Sora yang awalnya terkejut kini mencoba menguasai diri. Wanita itu menegakkan tubuhnya, menatap Reza dengan senyuman sinis meski rahangnya mengeras.

"Hebat sekali... Suamiku yang baru saja dicopot jabatannya oleh dewan kini datang membawa senjata seperti preman jalanan. Mau apa kamu ke sini, Reza? Menyelamatkan pelayan murahan ini?" sindir Sora tajam, menunjuk ke arah Maya dengan dagunya.

​Langkah Reza terhenti tepat beberapa meter di depan Sora dan Maya. Pria itu menoleh perlahan, menatap Sora dengan tatapan dingin yang membuat siapa pun merinding.

​"Jaga mulutmu, Sora," ucap Reza rendah, suaranya sangat tenang namun sarat akan ancaman maut.

"Sudah kubilang, jangan pernah menguji batas kesabaran saya."

​"Memangnya kenapa kalau aku memperlakukannya seperti pelayan?!" tantang Sora tanpa rasa takut sedikit pun, mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

"Dia memang pelayan restoran rendahan! Tempatnya memang di sini, melayani kami! Kenapa kamu harus separah ini membela perempuan jalang—"

​DOR!

​Satu tembakan dilepaskan Reza ke udara, tepat beberapa senti di atas kepala Sora. Suara letupan yang sangat keras itu menggema di seluruh rooftop, membuat Sora terpekik kaget dan langsung menutup telinganya.

Para tamu undangan di sekitar mereka sontak berteriak histeris dan berjongkok ketakutan.

​Wajah Sora memerah karena kram terkejut, napasnya memburu. "Kamu... kamu hampir menembakku?!"

​Reza menurunkan sedikit senjatanya, menatap Sora dengan sorot mata setajam pisau.

"Tembakan tadi itu cuma peringatan pertama. Kalau ada satu patah kata lagi keluar dari mulut kotor mu untuk menghina Maya, peluru berikutnya tidak akan meleset dari kepala kamu, Sora!"

​Sora menelan ludah dengan susah payah, seketika kehilangan kata-kata. Ancaman di mata Reza bukan sekadar ganti gertak sambal; pria itu benar-benar bisa melakukannya.

​Reza kemudian memalingkan wajahnya, menatap Maya yang berdiri mematung dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.

Melihat seragam staf hotel kusam yang kedodoran dan nampan perak di tangan Maya, dada Reza terasa seperti diremas kuat-kuat. Harga diri wanita yang dicintainya diinjak-injak begitu rupa di tempat ini.

​Reza melangkah lebih dekat, mengabaikan semua orang di sekitarnya. Ia mengulurkan tangannya, mengambil nampan perak dari tangan Maya lalu melemparnya begitu saja ke lantai hingga gelas-gelas kristal pecah berkeping-keping.

​"Reza..." bisik Maya parau, bibirnya bergetar hebat menahan isak tangis yang sejak tadi ia tahan.

​Reza menatap Maya dengan tatapan penuh kelembutan yang sangat kontras dengan ekspresinya pada Sora tadi.

Pria itu meraih tangan Maya yang dingin, lalu melepaskan lencana staf hotel dari kemeja kusam yang dikenakan gadis itu.

​"Maafkan saya..." bisik Reza lirih, suaranya melembut di depan Maya.

"Saya terlambat datang... Maaf karena membuat kamu harus mengalami semua penghinaan ini."

​Maya menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya makin deras menetes. "Aku tidak apa-apa, Reza... Tapi tempat ini berbahaya buat kamu. Pergi dari sini..."

​"Tidak," potong Reza mantap. Ia membuka jas hitam panjang yang dipakainya, lalu memakaikannya ke pundak Maya untuk menutupi seragam kusam tersebut.

"Hari ini, tidak ada lagi yang bisa memperlakukan kamu seperti ini. Kita pulang."

​Sebelum Reza sempat membalikkan badan untuk membawa Maya pergi, Tuan Burhan kembali berteriak penuh kemarahan dari belakang.

​"Kau pikir kau bisa datang dan pergi sesuka hatimu, Reza?! Penjaga! Tangkap dia! Bunuh pengkhianat itu sekarang juga!" teriak Tuan Burhan panik sambil memberi gestur pada puluhan pengawal dewan yang tersisa.

​Mendengar perintah itu, belasan pengawal dewan langsung mengokang senjata laras panjang mereka, bersiap memberondong Reza dan Maya dengan peluru.

​Rian dan anak buah Reza langsung bergerak cepat, mengangkat senjata mereka untuk membalas tembakan.

Situasi di rooftop mendadak berubah menjadi titik didih yang siap meledak kapan saja. Baku tembak skala besar di atas gedung tinggi tampak di ambang mata.

​Namun, sebelum jari para pengawal dewan menekan pelatuk, suara deru mesin helikopter berat terdengar menderu dari atas langit malam, menyorotkan lampu pencari raksasa tepat ke tengah-tengah rooftop.

​Dari pengeras suara helikopter, sebuah suara asing yang dingin dan berwibawa menggema keras, membuat seluruh pasukan dewan dan Tuan Burhan seketika membeku.

​"Letakkan senjata kalian! Area ini sekarang berada di bawah kendali interpol dan kepolisian pusat!"

​Sora dan Tuan Burhan membelalakkan mata tidak percaya mendengarnya.

​Reza menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan, sementara Maya menatap kebingungan.

​Sebelum helikopter itu mendarat di landasan rooftop, sesosok pria berjas abu-abu rapi melangkah keluar dari balik pintu tangga darurat, dikawal oleh pasukan khusus berseragam hitam lengkap. Pria itu menatap tajam ke arah Reza dan Sora sambil tersenyum misterius.

​Bersambung....

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!