Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dua hari berlalu bagaikan neraka yang menyesakkan bagi Rian. Pencariannya menyusuri sudut-sudut kota Jakarta tak membuahkan hasil sedikit pun. Tanpa sosok Nadia di rumah, seluruh kehidupannya mendadak berantakan. Seolah rumah itu sudah kehilangan nyawanya. Tak ada lagi kehangatan ataupun tawa renyah yang menghiasi rumah itu. Jika dipikir-pikir semua itu sudah hilang sejak mereka pulang dari Bali. Dan kedatangan Sarah membuat kehangatan di rumah ini menghilang begitu saja.
Pagi ini, Rian berdiri kaku di depan lemari pakaiannya yang terbuka lebar. Ia mengacak-acak laci hanya untuk mencari dasi hitam favoritnya, hal kecil yang biasanya sudah tersaji rapi di atas tempat tidur setiap kali ia selesai mandi.
"Nadia... kamu ditaruh di mana dasi aku?" bisik Rian frustrasi pada kamar yang kosong, tanpa kehadiran sang nyonya rumah. Tidak ada jawaban, hanya gema sunyi yang memantulkan suaranya.
Kekacauan itu berlanjut hingga ke kantor. Rian berubah menjadi sosok atasan yang sangat temperamental. Dalam rapat divisi pagi itu, ia menggebrak meja dan memarahi hampir semua staf arsitek hanya karena kesalahan kecil pada draf laporan.
"Kalian bisa kerja nggak sih, kenapa pekerjaan mudah seperti ini saja kalian nggak bisa ngerjain. "
"Maaf, Pak. Kami akan merevisi secepatnya. "
"Ya, lakukan secepatnya, jangan sampai salah lagi. "
Begitulah kemarahan Rian yang tak berdasar, hanya karena kekesalan dan egonya yang tidak bisa menemukan dimana Nadia selama bebrapa hari terakhir..
Bahkan ketika Maya datang berkunjung ke ruang kerjanya membawa makan siang mewah, Rian tak menunjukkan binar bahagia sama sekali.
"Mas, kamu kenapa sih? Dari kemarin cemberut terus, dihubungi juga susah," ujar Maya seraya mengelus bahu Rian dengan nada manja.
Rian menepis tangan Maya pelan, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Aku lagi pusing, Maya. Tolong tinggalkan aku sendiri dulu."
"Mas Rian! Aku ini pacar kamu, aku datang jauh-jauh buat hibur kamu!" Maya bersungut-sungut kesal.
"Aku bilang keluar, Maya! Aku ingin sendiri. Jangan ganggu aku! " bentak Rian dengan suara meninggi.
Maya membelalak kaget, lalu menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan ruangan dengan amarah san kesal. Rian bersandar di kursi kerjanya, menatap langit-langit dengan mata sembap. Kehadiran Maya yang dulu terasa manis kini mendadak hampa. Rasa kehilangan Nadia begitu nyata, menggerogoti jiwanya hingga tanpa ia sadari betapa hancurnya hidup ini tanpa istrinya.
"Baru begini saja aku merasakan hampa, bagaimana aku bisa percaya diri akan melepaskannya jika sudah mendapatkan uangnya? Sh, bodoh kau Rian. " gumamnya kesal bercampur penyesalan.
Sore harinya, setelah pulang kerja. Rian melangkah masuk ke rumah dengan tubuh lesu dan pakaian kusut berantakan. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di ruang tamu, Bu Ratna langsung menyambutnya dengan raut wajah tegang seraya menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi.
"Rian! Ini ada surat yang datang tadi siang," ujar Bu Ratna dengan suara bergetar. "Ibu baca pengirimnya... dari Pengadilan Agama. Tapi ibu belum membaca isi di dalamnya. "
Jantung Rian mendadak berhenti berdetak. Dengan jemari gemetar, ia merampas amplop itu, merobek segelnya, dan menarik keluar beberapa lembar kertas di dalamnya. Matanya membelalak lebar membaca baris demi baris tulisan di lembar pertama: SURAT PANGGILAN SIDANG DAN SALINAN GUGATAN CERAI.
"Nggak... Nggak mungkin!" jerit Rian histeris.
Ia membalik halaman berikutnya dan menemukan lampiran berkas bukti yang membuat seluruh persendiannya meloloskan kekuatan: foto-foto luka memar di tubuh Nadia akibat sabetan sabuknya, laporan visum resmi rumah sakit, hingga cetakan foto dan transkrip rekaman perselingkuhannya bersama Maya di mal dan Puncak.
"Kurang ajar! Nadia benar-benar keterlaluan!" seru Bu Ratna ikut membaca sekilas lampiran itu. "Dia berani menggugat kamu dan membawa-bawa kasus ini ke hukum?!"
"Cukup, Bu! Diam!" bentak Rian dengan deru napas memburu dan mata memerah basah oleh air mata. "Ini semua gara-gara Aku yang bodoh! Aki nggak mau cerai! Aku nggak akan pernah mau melepaskan Nadia!"
Rian meremas kertas-kertas itu di dadanya, terduduk lemas di lantai ruang tamu seraya meratapi kebodohannya yang telah terlambat.
"Ternyata dia tidak benar-benar memaafkan aku, Ternyata dia sangat berhati-hati dan menyiapkan semua ini, jika aku salah langkah. Dan bodohnya aku, yang sudah diberikan kesempatan olehnya menyia-nyiakannya begitu saja. Aku benar-benar bodoh... bodoh... " Rian terlihat terpukul dengan semua yang sudah dia lakukan pada Nadia, dan sekarang Nadia benar-benar melepaskannya, tanpa sisa.
Sementara itu, suasana di galeri berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di rumah Rian. Rasa dingin dan kelam dari masa lalu telah menguap dari kehidupan Nadia. Kondisi fisiknya sudah jauh lebih pulih, dan memar-memar di kulitnya perlahan mulai memudar.
Hari ini, galeri seni milik Nadia resmi tampil dengan konsep baru yang hangat dan menarik. Selain memajang hasil karya lukisannya di dinding-dinding kaca yang lapang, Nadia dan Amira memanfaatkan sudut ruangan lantai dasar untuk membuka sebuah kafe kecil berkonsep art-bakery.
Aroma racikan biji kopi berpadu sempurna dengan wangi roti panggang dan pastry renyah yang baru keluar dari oven. Hobik lama Nadia dan Amira dalam membuat kue kini terwujud dalam bentuk bisnis yang nyata dan berkelas.
"Selamat atas grand opening kafenya, Mbak Nadia!" sapa salah satu pengunjung yang membeli sejuta lukisan sketsa kecil sekaligus memesan croissant dan latte.
"Terima kasih banyak, silakan dinikmati ya," balas Nadia dengan senyuman paling tulus dan anggun yang memancar dari wajahnya.
Amira melangkah mendekati Nadia di balik meja kasir seraya menyodorkan segelas iced americano. "Gimana rasanya hari ini, Bos?"
Nadia menyesap minumannya, menatap ke sekeliling ruangan yang dipenuhi pengunjung ramah dan karya-karya indahnya. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun terkurung dalam pernikahan yang penuh air mata dan penindasan, dadanya terasa benar-benar lapang dan bebas.
"Rasanya lega banget, Ra," jawab Nadia pelan dengan helaan nafas lega. "Aku sudah ikhlas. Tiga tahun luka kemarin sudah aku lepaskan sepenuhnya. Sekarang aku cuma menunggu proses sidang itu selesai supaya namaku benar-benar bersih dan bebas dari pria itu. Sekarang, Aku hanya akan fokus dengan bisnis dan masa depan kita. "
Amira merangkul bahu sahabatnya erat-erat. "Kamu pantas bahagia, Nad. Masa depanmu jauh lebih cerah dari ini. Dan aku yakin kamu bisa. "
Nadia tersenyum manis menatap dedaunan pohon mangga di luar jendela yang melambai ditiup angin. Pintu masa lalunya telah terkunci rapat, dan ia siap melangkah memasuki lembaran hidupnya yang baru tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.