"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun di Pelukan Matthew!
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah tirai jendela kamar yang sedikit terbuka. Tungku perapian sudah padam. Menyisakan sedikit kehangatan di tengah udara pegunungan yang dingin.
Evelyn perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah dada bidang dan sepasang tangan yang masih memeluknya. Pipinya bersandar pas di atas dada bidang Matthew yang naik-turun secara teratur seiring tarikan napas tenang pria itu.
Lengan tegap Matthew melingkar erat di pinggang Evelyn, merengkuhnya posesif tanpa celah. Evelyn bisa merasakan detak jantung Matthew yang stabil.
Evelyn diam sejenak, menikmati kehangatan yang tak pernah ia dapatkan di kehidupan pertamanya. Meski dulu Cedric adalah pacarnya, tapi Cedric tidak pernah memeluknya seperti ini. Atau tetap berada di sampingnya saat ia membuka mata di pagi hari. Cedric selalu membiarkan ia tidur sendiri diranjang yang luas dan dingin. Evelyn mulai berpikir, apakah dulu Cedric benar mencintainya.
Jemari lentiknya bergerak pelan, menyentuh kemeja abu yang agak kusut di bagian dada Matthew. Seolah peka dengan gerakan sekecil apa pun dari gadis di dalam dekapannya, helaan napas Matthew memanjang. Dada bidang itu bergerak naik sewaktu Matthew terbangun. Jemari tegapnya yang berada di punggung Evelyn mengusap lembut pinggang gadis itu sebelum perlahan bergerak naik merapikan helai rambut Evelyn yang terurai.
"Pagi, Eve," bisik Matthew rendah, suara khas bangun tidurnya terdengar begitu serak dan hangat di telinga Evelyn.
Evelyn mendongak pelan dari dada Matthew, menatap rahang tegas dan mata keemasan yang kini menatapnya lurus.
"Pagi, Matthew..." sahut Evelyn pelan, tersenyum tipis di balik selimut tebal yang membungkus mereka berdua.
Matthew tidak langsung melepas pelukannya. Pria itu justru mengecup kening Evelyn dan enggan melepaskan pelukannya.
"Tidurmu nyenyak?" tanya Matthew lembut, jemarinya kini mengusap lembut pipi Evelyn yang agak merona.
"Sangat nyenyak," jawab Evelyn tulus, merapatkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke dada Matthew. "Gak ada mimpi buruk sama sekali."
Sudut bibir Matthew terangkat tipis, membentuk senyuman menawan yang sanggup meluluhkan seluruh pertahanan Evelyn. "Bagus. Karena mulai sekarang, selama kamu ada di dalam dekapanku, gak akan ada yang mengganggumu lagi, Eve. Aku rasa mimpi buruk pun juga takut kalau tidurmu kujaga seperti ini." ucapnya sambil tertawa geli.
Evelyn mengangguk malu dan tersenyum puas mendengar kata-kata Matthew. Kata-kata itu sebenarnya terdengar biasa saja tapi entah kenapa Evelyn merasa terhipnotis dan membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan sang Grand Duke
Hingga matahari sudah tinggi, sekitar pukul 10.00 mereka akhirnya terbangun dan mulai bersiap untuk menyantap sarapan yang sudah di siapkan secara khusus oleh pelayan sesuai instruksi Grand Duke.
"Wow, menu sarapan yang sangat mewah dan lezat" ucap Evelyn memuji. Di sisi meja tampak Sebastian dan beberapa pelayan tampak puas dan lega mendengar pujian Evelyn.
"Jadi setelah makan, mau jalan-jalan Eve?" tanya Matthew.
"Mau ke mana?" tanya Evelyn balik sambil memotong sepotong kecil pancake yang sudah disiram sirup mapel di piringnya. "Bukannya di luar agak dingin?"
"Jalan-jalan santai di sekitar pekarangan," sahut Matthew tenang, meminum teh hitamnya santai. "Mumpung udaranya lagi segar dan belum terlalu terik."
Evelyn diam sejenak, garpunya tertahan di atas piring. Rasa penasaran bercampur sedikit rasa cemas mendadak menyusup ke dadanya saat teringat bayangan gerbang tinggi sebelum masuk mansion dan area hutan di balik gerbang bougenville tadi malam.
"Matthew..." Evelyn membuka suara pelan, menatap pria di seberang mejanya. "Soal tempat ini... aku sebenarnya mau bertanya sesuatu."
Matthew menurunkan cangkir porselennya dengan perlahan. Pandangan matanya yang keemasan seketika terarah lurus pada Evelyn—begitu hangat, tenang, dan sepenuhnya fokus memberikan perhatian.
"Oke, Eve. Kamu mau tanya apa? Akan kujawab semua dengan batasan asal aku tahu jawabannya, Eve" kata Matthew lembut, sama sekali tidak ada nada mendesak di suaranya.
Selesai sarapan, Matthew mengajak Evelyn melangkah keluar menuju teras samping mansion yang menghadap langsung ke hamparan taman dan deretan pepohonan pinus di kejauhan. Udara pegunungan yang sejuk langsung menyapa wajah mereka, namun hangat dari coat tebal yang disiapkan Sebastian cukup untuk menahan dingin.
Evelyn menyandarkan punggungnya di pembatas teras batu, jemarinya meremas cangkir teh hangat di genggamannya. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan rahasia yang menyiksanya.
"Mungkin ini terdengar aneh... atau bahkan gila," bisik Evelyn sambil menatap rimbunnya dedaunan di depan sana. "Tapi aku bener-bener penasaran Matthew. Mansion ini sebenernya punya siapa? Apakah semua orang.. Gak maksud aku, Cedric dan ibunya memiliki akses untuk melangkahkan kaki kemari?"
Matthew menatap Evelyn lembut, dan meraih tangan Evelyn kemudian menggenggamnya. Sambil berjalan pelan menuju gerbang bougenville putih yang di sekelilingnya ditanami bunga mawar, Matthew berhenti dan menatap Evelyn lagi. Tangan lembut Matthew membelai rambut gadis itu dan mengecup keningnya sebelum mencium bibirnya.
Evelyn tidak bisa menolak. Entah kenapa suasana ini begitu romantis. Seperti seolah Matthew akan mengatakan bahwa dialah yang pertama dan terakhir.
"Mansion ini, gerbang bougenville dan seluruh hutan di area privat ini adalah milik keluarga Pendragon, Eve. Dan akan jadi milikmu juga kalau kamu nanti menikah denganku." kata Matthew lembut sambil mencium gadis itu lagi.
Evelyn menatap Matthew sambil kebingungan. Menikah ? Dengannya? Apa telinganya tidak salah dengar? Evelyn tidak langsung merespon kata-kata yang diucapkan Matthew. Karena di kehidupan nya yang lalu, Cedric juga pernah berkata hal yang sama di tempat ini. Sebelum akhirnya ia mati di tangan Cedric.
"Matthew, sejak kapan kau mulai menyukaiku?" tanya Evelyn penasaran sambil menunduk. Pertanyaan aneh dan agak nyeleneh mengingat mereka berbagi tempat tidur semalam. Semua perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan Matthew juga nyata.
Matthew menggenggam tangan Evelyn dan mengajaknya berjalan ke dalam hutan pinus tanpa menjawab pertanyaan itu. Matthew tahu mungkin ini saat yang tepat dia mengatakannya. Bahwa entah perasaan apa yang dimilikinya terhadap gadis itu. Dia seolah seperti tertarik magnet kuat dan terus menempel di sepanjang tujuh kali loop hidupnya. Dan ini loop ke sembilan. Jujur Matthew tidak tahu apakah ini obsesi atau cinta? Tapi ia benar-benar tulus mau melindungi Evelyn.
"Kau mau aku jujur, Eve?" tanyanya kemudian dan Evelyn tidak menyahut. Evelyn berjalan sambil memandang sekeliling, meski tangannya tetap dalam genggaman sang Grand Duke.
Matthew sesekali melirik Evelyn yang diam saja dan hanya memperhatikan sekeliling. Kemudian tiba-tiba Evelyn berhenti berjalan. Hutan pinus dalam ingatannya tidak seperti ini, pikirnya. Matthew tahu persis kenapa Evelyn berhenti.
Sejak delapan kali loop kematian Evelyn yang terjadi di hari, tanggal, bahkan jam yang sama, membuat Matthew akhirnya berpikir keras. Bagaimana agar membuat trauma hutan pinus ini tidak menghantuinya lagi. Dia lelah setiap kali menemukan Evelyn bersimbah darah di tanah privat keluarganya.