[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
"Kebetulan sekali rute tujuan perjalananku juga sama-sama mengarah menuju ke kota itu. Jika diperbolehkan... apa boleh aku ikut menumpang di keretamu sampai ke Kota Vespera?" tanya Damian Dexter secara tiba-tiba memotong pembicaraan.
Sepasang manik mata hitam pekatnya yang indah tampak menatap tajam tanpa berkedip ke arah area bak belakang kereta.
"Iya, hal itu seratus persen benar sekali," jawab Lucas jujur.
"Kebetulan sekali rute tujuan perjalananku juga sama-sama mengarah menuju ke kota itu. Jika diperbolehkan... apa boleh aku ikut menumpang di keretamu sampai ke Kota Vespera?" Damian mengajukan pertanyaan dengan raut ekspresi wajah yang teramat serius tanpa ada celah bercanda.
Berdasarkan analisis jiwa bocah sepuluh tahunnya, ia merasa akan jauh lebih aman, tenang, dan nyaman jika ia pergi bersama dengan Lucas, daripada ia harus dipaksa pergi diantar oleh Ethan yang sejak pertama kali mereka bertemu di hutan selalu memancarkan aura permusuhan dan kebencian yang mendalam kepadanya.
Lucas menggaruk tengkuk leher belakangnya yang sama sekali tidak gatal, dilingkupi rasa kikuk yang baru. "Tapi... kuantitas kursi di bagian bangku kendali saat ini sudah sepenuhnya terisi penuh oleh anak tetangga saya, Tuan Damian."
"Bukannya berdasarkan rencana awal kamu seharusnya pergi pulang bersamaku menuju ke perbatasan, Damian?" tanya Alan dengan kerutan dahi dipenuhi oleh rasa bingung menyaksikan perubahan keputusan sepihak dari sang Raja Demon.
"Tidak jadi," jawab Damian singkat dengan nada suara datar yang dingin.
Ethan, yang saat itu sedang berdiri bersedekap dada di samping Alan, diam-diam merasakan sebaris rasa lega yang teramat besar bergejolak di dalam dadanya. Dengan adanya skenario baru ini, ia tidak perlu lagi repot-repot membuang waktu dan energinya untuk mengantarkan si 'Pria Demon Amnesia' itu kembali menuju ke kastil kediamannya.
"Tuan Lucas, saya bersumpah sama sekali tidak keberatan untuk duduk di area bak belakang saja," ujar Damian tanpa ada keraguan sedikit pun.
Pria bertubuh tegap itu secara instan langsung melompat naik ke atas bak terbuka kereta kuda barang, mengambil posisi duduk dengan sangat tenang di sela-sela tumpukan koper milik White sembari memosisikan tubuhnya menghadap ke arah depan, mengabaikan status sosial superiornya sebagai penguasa abadi klan Demon.
Lucas, Alan, dan Ethan seketika tertegun membeku menyaksikan pemandangan absurd tersebut. Mereka sama sekali tidak pernah memprediksi dalam logika jika sesosok pria yang secara visual memancarkan karisma elegan, mewah, dan agung seperti Damian, akan sudi duduk pasrah di bak terbuka angkutan pengangkut sayur yang kondisinya penuh oleh kepulan debu jalanan.
"Apakah... apakah Anda benar-benar tidak akan merasa malu jika harus duduk di area bak belakang bersama dengan barang-barang bawaan berdebu itu, Tuan Damian?" tanya Lucas dengan nada suara yang sarat akan rasa tidak percaya yang nyata.
Damian hanya memberikan respons berupa seulas senyuman tipis yang manis dan menggelengkan kepalanya pelan. "Sama sekali tidak menjadi masalah bagi saya, Tuan Lucas."
"Baiklah kalau memang keputusan Anda sudah bulat seperti itu... mari kita berangkat sekarang juga!"
Lucas melontarkan kalimat pamit terakhirnya pada Alan dan Ethan yang masih setia berdiri di halaman rumah. "Saya pamit undur diri terlebih dahulu, Tuan-tuan. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!"
"Hati-hati di sepanjang jalur perjalanan, Tuan Lucas! Semoga selamat dan lancar sampai ke tempat tujuan!" seru Alan lantang sembari mengangkat tangan kanannya melambai ke udara, yang kemudian hanya diikuti oleh lambaian tangan malas dari Ethan yang masih dilingkupi sisa kejengkelan.
Kereta kuda barang itu pun perlahan-lahan mulai bergerak maju meninggalkan halaman, menciptakan kepulan debu tanah tipis ke udara dan meninggalkan area pagar besi yang kondisinya telah rusak roboh.
Setelah bayangan bodi kereta itu benar-benar telah hilang sepenuhnya di balik tikungan ladang pertanian jagung bawah bukit, Alan perlahan-lahan memutar tubuhnya, menolehkan kepalanya lurus menatap wajah Ethan. Ekspresi keramahan yang semula terukir di paras rupawannya kini lenyap tanpa bekas dalam sekejap, berganti secara drastis menjadi pancaran tatapan mata menyelidik yang teramat tajam mengintimidasi.
"Coba tolong beritahu aku detail kebenaran dari apa yang sebenarnya baru saja terjadi di tempat ini subuh tadi, Ethan?! Aku tahu betul isi kepalamu, pasti... pasti ada sebaris rahasia besar yang sedang kamu sembunyikan dariku saat ini!"
Di area halaman rumah kayu yang kini perlahan-lahan mulai berubah menjadi terang benderang akibat paparan semburat cahaya fajar subuh, Ethan menarik napas panjang ke parunya, mengisi seluruh kapasitas dadanya dengan udara dingin perbukitan sebelum mengembuskannya perlahan menjadi kepulan uap tipis.
Kedua belah bahu tingginya tampak merosot layu ke bawah, merefleksikan kuantitas beban pikiran yang teramat berat berkecamuk di dalam otaknya.
"Jadi... garis ceritanya adalah seperti ini, Alan..."
Ethan pun mulai membuka suara untuk berkisah. Ia menumpahkan seluruh gejolak kegelisahan batin dan rasa hancur yang sedari tadi menyumbat rongga dadanya kepada Alan tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.
Dengan nada suara yang terkesan teramat lesu dan pancaran tatapan mata yang sesekali tampak kosong menatap tanah, ia menceritakan detail kronologi pertemuan pertamanya yang kacau dengan remaja tomboi di bawah naungan pohon persik purba tadi subuh.
Mulai dari bagaimana indra penciuman serigalanya menangkap jalinan aroma sitrus segar dan keharuman kelopak mawar yang begitu pekat memabukkan, hingga hantaman kenyataan pahit nan mengerikan yang sukses melumpuhkan logikanya: bahwa sosok manusia yang ditunjuk secara mutlak oleh takdir Dewi Bulan sebagai Mate sejati jiwanya... ternyata adalah seorang remaja laki-laki!
Ethan mengepalkan kedua belah tangan tinjunya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, lubuk hatinya masih berada dalam fase menolak keras dan sulit untuk bisa menerima guratan takdir konyol yang dirasanya terasa persis layaknya sebuah lelucon mentah dari semesta untuk menghancurkan harga dirinya sebagai calon Alpha.
Mendengar pengakuan supernatural yang sakral tersebut, tubuh Alan seketika tertegun membeku di tempatnya berdiri, sepasang manik mata ungunya membelalak sempurna dilingkupi rasa tidak percaya yang masif.
Sebagai sesama makhluk immortal tingkat atas yang memahami hukum metafisika dunia supernatural, ia tahu betul fakta mutlak bahwa jalinan ikatan Mate bagi bangsa Werewolf merupakan sesuatu hal yang teramat sakral, murni, dan tidak akan pernah salah dalam menentukan target pasangan jiwa. Kasus anomali yang luar biasa langka yang dialami oleh Ethan subuh ini benar-benar diakui berada di luar batas nalar akal sehatnya.
"Aku... aku juga sebenarnya sempat merasakan adanya kejanggalan yang aneh dari dalam diri Mate-mu itu, Ethan. Aku jujur tidak terlalu merasa yakin... mungkin saja tebakan logikamu salah. Bisa jadi kuantitas aroma sitrus mawar yang dicium oleh hidung serigalamu itu sebenarnya bukan berasal murni dari dalam tubuh remaja itu, melainkan bersumber dari sesosok entitas lain yang sebenarnya sedang bersembunyi di dekatnya," gumam Alan lirih.
Ia terdiam bergeming selama beberapa saat, mendongakkan kepalanya ke atas menatap hamparan langit subuh yang warna kegelapannya mulai memudar tipis berubah menjadi keabu-abuan.
"Karena sejujurnya... indra sensorikku sempat merasakan adanya sesuatu gelombang energi yang teramat sangat familier terpancar dari dalam wujud anak remaja itu. Rasanya... rasanya bersumpah persis seperti..."
Alan sengaja menjeda kalimat ucapannya sejenak, mencoba sekeras mungkin meraba dan mendefinisikan kembali sensasi aneh tak kasat mata yang sempat mengalir deras memotong urat nadinya saat menatap White tadi.
"Aku merasa... seperti sedang melihat sesosok makhluk yang memiliki struktur jenis klan yang sama persis denganku."
Ethan seketika menaikkan sebelah alis matanya tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah wajah Alan dengan kerutan dahi penuh tanda tanya.
"Maksudmu... bocah ingusan bercelana olahraga tadi adalah seorang Pegasus dari klan langit?! Apa... apa jangan-jangan anak remaja tadi adalah sosok keturunan berharga yang selama dua tahun terakhir ini membuatmu rela mencari keberadaannya tanpa lelah?!"
Alan hanya memberikan respons berupa satu gerakan mengedikkan kedua belah bahu tingginya dengan santai. "Aku sendiri jujur sama sekali tidak tahu kejelasannya, Ethan. Hal itu barusan hanyalah sebatas tebakan spekulasi logikaku saja. Lagipula jika ditinjau berdasarkan hukum fisik, anak remaja tadi sama sekali tidak memiliki satupun indikator ciri fisik resmi sebagai seorang keturunan klan Pegasus. Anak berharga yang ditugaskan untuk kucari di dunia manusia ini memiliki status gender seorang perempuan murni, bukan seorang laki-laki! Mungkin insiden tadi hanyalah sebatas kebetulan belaka di mana ia dianugerahi kuantitas warna kilat mata ungu yang memiliki kemiripan serupa dengan jenis mataku, sedangkan untuk aspek detail yang lainnya bersumpah tidak ada kecocokan."
Ethan memberikan anggukan kepalanya tanda menyetujui analisis logis sahabatnya, sedikit merasakan sebaris rasa lega yang samar merayap di dadanya karena dugaan mengerikan tadi berhasil dipatahkan.
"Ucapanmu seratus persen benar, Alan. Tidak mungkin ada celah kalau bocah kurang ajar itu adalah seorang Pegasus. Lihat saja kualitas warna rambutnya, warnanya hitam legam biasa, bukan putih berkilau kristal salju seperti warnamu. Akan menjadi sebuah kemustahilan yang sangat besar secara magis jika bocah ingusan sekasar itu adalah sosok orang berharga yang sedang kamu lacak."
Namun meskipun Ethan sudah melontarkan kalimat penolakan logis, pandangan mata Alan terpantau tetap tinggal dalam kondisi terpaku mati, menatap lurus menembus ke arah jalanan tanah kosong yang sepi, tempat di mana bodi kereta kuda barang milik Lucas beberapa menit lalu telah menghilang ditelan tikungan.
"Tapi tetap saja... getaran auranya terasa sangat dekat dengan inti jiwaku. Seolah-olah... aku mengenal struktur energinya dengan sangat baik di masa lalu."