Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Tangan Itu Terlepas
Nama Keisya menyala di layar ponsel Arga.
Hanya beberapa huruf.
Namun bagi Alya, nama itu selalu seperti bayangan panjang yang mengikuti setiap langkahnya. Bayangan yang hadir di meja makan, di kamar tidur, di dalam mobil, bahkan di lorong rumah sakit ketika ia sedang berusaha menenangkan ketakutannya sendiri.
Tangan Arga yang tadi menggenggam pergelangan tangannya kini telah terlepas.
Alya menatap jemarinya sendiri.
Masih ada sisa hangat di kulitnya. Hangat yang datang terlalu singkat, terlalu rapuh, lalu hilang lagi sebelum sempat membuatnya percaya.
Ponsel itu terus berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Arga memandangi layar dengan rahang mengeras. Wajahnya tampak seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Alya tidak tahu apakah lelaki itu menahan kesal, cemas, atau keinginan untuk segera menerima panggilan tersebut.
Perawat di pintu ruang pemeriksaan kembali memanggil.
“Nyonya Alya?”
Alya mengangkat wajah.
“Iya,” jawabnya pelan.
Ia melangkah maju, tetapi baru dua langkah ketika suara Arga memanggilnya.
“Alya.”
Perempuan itu berhenti dan menoleh.
Arga masih berdiri di tempatnya. Ponsel di tangannya berhenti berdering, lalu satu pesan masuk hampir bersamaan. Tatapan lelaki itu jatuh pada layar beberapa detik, kemudian kembali kepada Alya.
“Aku harus angkat ini,” katanya.
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun Alya sudah tahu bagaimana akhir kalimat itu.
“Ada apa?” tanyanya, meski sebenarnya ia tidak ingin tahu.
“Keisya tidak pernah telepon berkali-kali seperti ini kalau tidak penting.”
Alya mengangguk pelan.
Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada tuntutan. Tidak ada air mata yang ditunjukkan. Justru ketenangan Alya membuat Arga terlihat semakin tidak nyaman.
“Mas,” ucap Alya lirih, “aku dipanggil dokter.”
“Aku cuma sebentar.”
Ia mengatakan itu dengan cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Alya tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Lagi.
Kalimat itu keluar lagi.
Kalimat yang selama ini selalu ia gunakan untuk mempersilakan Arga pergi tanpa perlu merasa bersalah.
Namun kali ini, Arga tidak langsung bergerak. Ia menatap Alya seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin meminta maaf. Mungkin menjelaskan bahwa ia tidak berniat meninggalkannya. Mungkin menjanjikan akan segera kembali.
Tetapi suara Keisya akhirnya terdengar dari sambungan telepon ketika Arga menerima panggilan tersebut.
“Arga?” suara perempuan itu terdengar panik meski samar. “Kamu di mana? Aku butuh kamu sekarang.”
Alya tidak menunggu kalimat berikutnya.
Ia membalikkan badan dan masuk ke ruang pemeriksaan seorang diri.
***
Ruangan itu dingin.
Terlalu putih.
Terlalu bersih.
Terlalu sepi.
Alya duduk di kursi dekat meja dokter sambil menggenggam ujung bajunya. Di depannya, dokter yang menangani pemeriksaannya—Dokter Rendra—membuka layar komputer berisi hasil tes darah dan laporan pemeriksaan sebelumnya.
“Suaminya tidak masuk?” tanya dokter itu dengan sopan.
Alya menoleh ke arah pintu.
Koridor di luar tampak kosong. Tidak ada Arga.
“Dia sedang menerima telepon penting,” jawab Alya.
Dokter Rendra mengangguk tanpa bertanya lagi. Namun cara ia kembali menatap layar membuat Alya tahu bahwa pembicaraan yang akan terjadi tidak sederhana.
“Baik, Bu Alya,” katanya perlahan. “Dari pemeriksaan darah awal, kami menemukan beberapa kondisi yang perlu ditindaklanjuti. Hemoglobin Ibu cukup rendah, sel darah putih Ibu juga berada di luar rentang normal, dan ada beberapa keluhan lain yang tidak bisa dianggap biasa.”
Alya menelan ludah.
“Artinya apa, Dok?”
“Saya belum bisa memberikan diagnosis pasti hari ini.” Dokter Rendra menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Tetapi saya menyarankan Ibu menjalani pemeriksaan lanjutan secepat mungkin. Ada kemungkinan gangguan pada darah atau sistem kekebalan tubuh yang perlu kami pastikan.”
“Apa itu berbahaya?”
Dokter itu tidak menjawab terlalu cepat.
Jeda kecil itu membuat jantung Alya semakin berdebar.
“Bisa ditangani lebih baik kalau diketahui lebih awal,” katanya hati-hati. “Yang penting, Ibu jangan menunda pemeriksaan.”
Alya mengangguk, tetapi kepalanya terasa kosong.
Gangguan pada darah.
Sistem kekebalan tubuh.
Pemeriksaan lanjutan.
Setiap kata terdengar seperti sesuatu yang jauh, tetapi sekaligus terlalu dekat. Ia mencoba bertanya lebih banyak, namun lidahnya terasa berat. Di dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.
*Kalau aku benar-benar sakit, siapa yang akan ada di sampingku?*
Bukan karena ia tidak memiliki orang tua.
Bukan karena ia tidak punya sahabat.
Tetapi karena ia masih bodoh berharap bahwa jawaban pertama atas pertanyaan itu adalah Arga.
Dokter Rendra menyerahkan map berisi surat pengantar dan beberapa formulir.
“Saya buatkan rujukan ke dokter hematologi di rumah sakit pusat. Ibu perlu pemeriksaan lebih lengkap, termasuk pemeriksaan sumsum tulang bila dokter spesialis nanti menganggap perlu.”
Jari-jari Alya membeku.
“Pemeriksaan sumsum tulang?” ulangnya sangat pelan.
“Jangan takut dulu. Itu hanya salah satu kemungkinan prosedur untuk mencari penyebabnya.” Dokter Rendra berbicara lembut. “Ibu sebaiknya membawa keluarga saat konsultasi berikutnya.”
Alya menunduk.
Keluarga.
Kata itu terdengar indah, tetapi tidak semua orang memiliki keluarga yang bisa benar-benar diandalkan.
“Baik, Dok,” jawabnya.
Ketika keluar dari ruangan, langkah Alya terasa tidak stabil. Ia memeluk map itu di dada, seolah kertas-kertas di dalamnya bisa melindunginya dari semua kemungkinan yang belum ingin ia terima.
Lorong rumah sakit tampak lebih panjang daripada sebelumnya.
Orang-orang berjalan lalu-lalang. Seorang anak kecil menangis sambil digendong ayahnya. Seorang perempuan muda memeluk ibunya di dekat ruang tunggu. Seorang lelaki membawa kantong obat dan terus menatap daftar resep seakan takut salah membeli.
Semua orang tampak memiliki seseorang.
Alya berjalan pelan menuju kursi tunggu.
Arga belum ada.
Ia duduk.
Menunggu.
Awalnya ia mengira suaminya hanya akan pergi sebentar. Lima menit, mungkin sepuluh menit. Namun menit-menit berikutnya berlalu terlalu lambat. Ponselnya tidak berbunyi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Alya mencoba membuka percakapan dengan Arga.
Jarinya mengetik:
*Mas, aku sudah selesai.*
Ia memandangi kalimat itu beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Tidak dibaca.
Alya kembali menunggu.
Setengah jam.
Lalu satu jam.
Teh hangat yang dibelikan Arga sudah dingin di atas meja kecil dekat kursi. Botol air mineral yang tadi diberikan suaminya masih tertutup. Alya memandangnya dengan mata kosong.
Kehadiran Arga sejak pagi terasa seperti mimpi singkat.
Seperti seseorang yang datang hanya untuk membuatnya berharap, lalu pergi tepat ketika ia mulai membutuhkan.
Ponselnya akhirnya bergetar.
Alya segera meraihnya.
Pesan dari Arga.
*Aku harus pergi dulu. Keisya ada masalah di kantor. Kamu pulang sama Pak Darto saja.*
Alya membaca pesan itu berkali-kali.
Tidak ada pertanyaan tentang hasil pemeriksaan.
Tidak ada, *Dokter bilang apa?*
Tidak ada, *Kamu baik-baik saja?*
Tidak ada permintaan maaf karena meninggalkannya.
Hanya satu instruksi: pulang dengan Pak Darto.
Alya memejamkan mata.
Dadanya sakit. Bukan nyeri yang tadi pagi ia rasakan, bukan pusing, bukan mual. Ini rasa sakit yang jauh lebih akrab—rasa sakit karena kembali menyadari bahwa dirinya bukan pilihan.
Ia mengetik sebuah balasan.
*Dokter menyuruh pemeriksaan lanjutan. Mungkin ada masalah serius dengan darahku.*
Jarinya menggantung di atas tombol kirim.
Lalu ia menghapus semua kata itu.
Tidak jadi.
Untuk apa memberi kabar pada seseorang yang tidak pernah benar-benar ingin mendengar?
Alya hanya membalas:
*Baik.*
Satu kata.
Sesingkat pesan Arga.
***
Pak Darto menjemput Alya hampir satu jam kemudian.
Lelaki paruh baya itu tampak khawatir saat melihat wajah Alya yang pucat. Ia membawa mobil ke dekat pintu lobi agar Alya tidak perlu berjalan terlalu jauh.
“Non nggak apa-apa?” tanyanya ketika Alya sudah duduk di kursi belakang.
Alya memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, Pak.”
“Dokternya bilang apa?”
“Cuma kecapekan.”
Alya berbohong.
Pak Darto tidak mendesak. Ia hanya mengangguk sambil menatap kaca depan. “Kalau Non butuh apa-apa, bilang saja. Saya bisa antar kapan saja.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Alya merasa tenggorokannya kembali mengencang.
“Terima kasih, Pak.”
Sepanjang perjalanan pulang, Alya memandangi gedung-gedung tinggi yang bergerak mundur di balik kaca mobil. Kota itu ramai, bising, dan penuh orang-orang yang sibuk mengejar sesuatu. Mungkin cinta. Mungkin uang. Mungkin pengakuan. Mungkin seseorang yang tidak pernah benar-benar memilih mereka.
Di lampu merah, mobil berhenti di dekat seorang penjual bunga.
Seorang anak kecil berjalan membawa buket-buket mawar putih. Wajahnya berkeringat, tetapi ia tetap tersenyum kepada setiap pengendara yang membuka kaca mobil.
“Bunga, Bu? Buat orang tersayang.”
Alya menatap buket kecil itu.
Dulu, ketika baru menikah, ia sering membeli bunga untuk diletakkan di meja makan. Ia berpikir rumah yang wangi akan membuat Arga lebih betah pulang. Ia bahkan pernah membeli mawar putih untuk menghiasi kamar mereka saat ulang tahun pernikahan pertama.
Arga pulang hampir tengah malam waktu itu.
Ia melihat bunga-bunga di meja, lalu hanya berkata, “Kamu tidak perlu buang-buang uang untuk hal seperti ini.”
Malam itu, Alya menangis di kamar mandi agar suaminya tidak mendengar.
“Pak,” katanya pelan kepada Pak Darto. “Boleh berhenti sebentar?”
Pak Darto segera menurunkan kaca mobil.
Alya membeli satu buket mawar putih. Tidak besar. Tidak mahal. Hanya lima tangkai bunga yang dibungkus kertas cokelat sederhana.
“Untuk siapa, Bu?” tanya anak kecil itu.
Alya memandangi bunga di tangannya.
“Untuk rumah,” jawabnya.
Anak kecil itu tersenyum. “Semoga rumahnya jadi bahagia, Bu.”
Alya tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu kaca mobil kembali tertutup.
Di perjalanan selanjutnya, ia memegang mawar putih itu erat-erat.
Beberapa kelopaknya mulai rontok.
***
Menjelang sore, rumah keluarga Mahendra kembali menyambut Alya dengan kesunyian.
Mbok Sari menyambutnya di pintu dengan wajah cemas. “Non sudah pulang? Bagaimana di rumah sakit? Tuan Arga tadi telepon, bilang Non dijemput Pak Darto.”
Alya menyerahkan tasnya kepada Mbok Sari. “Aku baik-baik saja.”
“Dokter bilang apa?”
“Kecapekan saja, Mbok.”
Kebohongan yang sama.
Mbok Sari ingin bertanya lagi, tetapi melihat wajah Alya yang lelah, ia memilih diam. “Non makan dulu, ya. Mbok buatkan sup.”
“Aku mau ke kamar dulu.”
“Non Alya…”
“Aku cuma ingin istirahat.”
Alya berjalan menuju tangga sambil membawa buket mawar putih. Di setiap anak tangga, tubuhnya terasa semakin berat. Kepalanya kembali berdenyut. Saat sampai di lantai dua, pandangannya sedikit mengabur.
Ia berhenti dan memegang pegangan tangga.
Napasnya pendek.
Dadanya sesak.
Namun beberapa saat kemudian, rasa itu kembali mereda.
Alya melanjutkan langkah sampai ke kamar.
Begitu pintu tertutup, ia meletakkan mawar putih di atas meja rias. Kemudian ia mengeluarkan map dari rumah sakit dan menyimpannya di laci paling bawah. Ia tidak ingin melihatnya. Tidak sekarang.
Di atas meja terdapat buku tulis bersampul kulit berwarna biru muda. Buku itu adalah hadiah ulang tahun dari Dinda dua tahun lalu. Alya jarang menulis di dalamnya, tetapi hari itu tangannya meraih buku tersebut tanpa berpikir.
Ia duduk di kursi dekat jendela.
Lalu membuka halaman kosong.
Pulpen di tangannya bergetar.
Setelah cukup lama diam, Alya mulai menulis.
> Untuk Mas Arga,
>
> Hari ini aku pergi ke rumah sakit. Dokter bilang ada sesuatu dalam tubuhku yang harus diperiksa lebih jauh. Aku takut, Mas. Aku sungguh takut.
>
> Aku tidak tahu apakah Mas akan peduli kalau tahu. Mungkin Mas akan datang karena merasa harus datang. Mungkin Mas akan berkata semuanya akan baik-baik saja, meski hati Mas sebenarnya ada di tempat lain.
>
> Aku tidak pernah minta Mas mencintai aku dengan cara yang sama seperti Mas mencintai Keisya. Tapi aku hanya ingin, setidaknya sekali saja, Mas memilih untuk tetap tinggal ketika aku membutuhkan Mas.
>
> Aku lelah merasa seperti orang asing di dalam pernikahan sendiri.
Alya berhenti menulis.
Air mata menetes ke halaman buku, membuat tinta di beberapa huruf sedikit luntur.
Ia menutup buku itu dengan cepat.
Surat tersebut tidak akan pernah ia kirim.
Karena untuk mengirimkannya, ia harus berharap Arga akan membacanya.
Dan Alya mulai mengerti bahwa sebagian harapan justru menjadi penyebab paling besar dari rasa sakitnya.
***
Malam semakin larut.
Jam menunjukkan pukul sebelas ketika suara mobil Arga akhirnya masuk ke halaman rumah. Alya masih terjaga di atas ranjang. Lampu kamar sudah dimatikan, tetapi ia tidak bisa tidur. Tubuhnya lelah, namun pikirannya terlalu ramai.
Ia mendengar langkah Arga menaiki tangga.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Arga masuk tanpa menyalakan lampu. Dari cahaya redup lorong, Alya bisa melihat siluet tubuhnya. Lelaki itu berhenti beberapa detik di dekat pintu, seolah memastikan Alya sudah tidur.
Alya memejamkan mata.
Ia tidak ingin bicara.
Tidak malam ini.
Tidak setelah ditinggalkan di rumah sakit.
Suara langkah Arga mendekat. Ia merasakan sisi kasur turun ketika suaminya duduk di tepi ranjang. Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Kemudian, tangan Arga menyentuh rambut Alya yang terurai di atas bantal.
Sentuhannya sangat ringan.
Hampir tidak terasa.
Alya menahan napas.
“Kamu sudah tidur?” tanya Arga pelan.
Alya tetap diam.
“Maaf tadi aku pergi.” Suaranya rendah. “Keisya memang sedang ada masalah. Aku harus bantu selesaikan.”
Kata *Keisya* kembali menjadi alasan.
Selalu Keisya.
Alya masih tidak menjawab.
Arga terdiam cukup lama. Tangan yang tadi menyentuh rambut Alya perlahan ditarik kembali.
“Dokter bilang apa?” tanyanya kemudian.
Mata Alya tetap tertutup.
Ia ingin menjawab.
Ia ingin mengatakan bahwa dokter mencurigai ada sesuatu yang serius. Ia ingin berkata bahwa ia takut. Ia ingin mengadu seperti seorang istri kepada suaminya. Ia ingin meminta Arga memeluknya dan berkata bahwa ia tidak akan sendiri.
Namun ingatan tentang pesan singkat siang tadi kembali terlintas.
*Aku harus pergi dulu. Keisya ada masalah di kantor.*
Alya tidak sanggup membuka pintu hatinya lagi.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya lirih.
Arga tidak langsung membalas.
Dalam gelap, Alya bisa merasakan lelaki itu menatapnya.
“Kalau kamu butuh sesuatu, bilang.”
Alya hampir tersenyum pahit.
Kalimat itu terdengar baik.
Tetapi ia sudah pernah butuh banyak hal.
Butuh waktu.
Butuh perhatian.
Butuh kejujuran.
Butuh kehadiran.
Dan selama ini, Arga tidak pernah benar-benar ada.
Beberapa saat kemudian, Alya mendengar kursi kecil di dekat jendela bergeser. Arga tidak berbaring di sisi lain ranjang. Ia duduk di sana, seperti orang yang tidak tahu bagaimana cara mendekat kepada istrinya sendiri.
Di antara mereka, ada jarak yang tidak bisa diukur oleh luas kamar.
Alya memejamkan mata lebih erat.
Di dalam laci meja rias, surat rujukan rumah sakit tersembunyi.
Di atas meja, mawar putih mulai kehilangan kelopaknya.
Dan di dalam dada Alya, sebuah perasaan pelan-pelan tumbuh semakin kuat.
Bukan lagi sekadar lelah.
Bukan juga sekadar sedih.
Melainkan kesadaran bahwa suatu hari nanti, ia harus benar-benar pergi.
Bukan untuk membuat Arga mengejarnya.
Bukan untuk membuatnya menyesal.
Tetapi karena Alya tidak bisa terus hidup di tempat yang membuatnya perlahan-lahan menghilang.