Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Pagi itu langit mendung, udara di kantor terasa lembap dan sepi. Aku duduk di meja seperti biasa, tapi mataku sering melirik ke arah pintu masuk. Shella biasanya datang jam tujuh lewat sepuluh menit. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Belum ada tanda-tandanya.
Ponsel di saku celananya bergetar — pesan masuk ke nomor Maxy, dari Shella.
"Maxy, maaf ya aku telat. Hujan deras banget, macet parah. Mungkin setengah jam lagi baru sampai. Maaf ya kalau bikin nunggu."
Aku tersenyum pelan, mengetik balasan:
"Nggak apa-apa, hati-hati di jalan. Jangan buru-buru, kita tunggu kamu di kantor."
Aku meletakkan ponsel, lalu berdiri menuju ruang istirahat. "Klunting-klunting" membuatkan secangkir teh hangat — tanpa gula, seperti yang Shella suka. Aku tahu kalau hujan, Shella pasti datang kedinginan dan butuh sesuatu yang hangat di perut. "Tap" Aku meletakkan cangkir itu di meja kerjanya, di tempat yang mudah dilihat, lalu kembali ke mejaku sendiri.
Tak lama kemudian, "Ceklik" pintu kantor terbuka. Shella masuk, rambut sedikit basah di ujungnya, ujung rok dan sepatu terkena cipratan air. Wajahnya terlihat lelah dan sedikit kedinginan. Langkahnya pelan, seolah berat memikul tas yang tidak terlalu berat itu.
Dia melihat cangkir teh di mejanya, lalu menoleh ke arahku, Matanya bertanya, tanpa kata-kata.
Aku mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Diminum saja, biar tubuhmu hangat dulu."
Shella tersenyum, senyum yang tulus dan lega. "Makasih ya, Maxy. Kamu peka banget hari ini."
"Biasa saja kok," jawabku pelan, kembali menatap layar komputer, menyembunyikan senyum yang tidak bisa Aku tahan sepenuhnya.
Sepanjang pagi, Arif tidak muncul di area kerja mereka. "Kriing" Tapi telepon di meja Shella berdering beberapa kali — dari Arif. Setiap kali, Shella hanya menjawab singkat, lalu menutup telepon dengan napas panjang yang terlihat berat "Huft". Dia tidak marah, tapi jelas Ia sangat tidak nyaman.
Menjelang makan siang, Shella berjalan ke mejaku, menunduk sedikit agar tidak terdengar orang lain.
"Maxy... boleh aku minta tolong sebentar?"
"Boleh. Apa itu?" jawabku singkat
"Pak Arif ngajak aku makan siang bareng. Katanya mau bahas undangan acara lagi. Aku nggak mau nolak mentah-mentah di telepon, takutnya salah paham soal kerjaan. "Huh" Tapi aku juga nggak mau pergi sendirian sama dia"
"Bisakah... kamu temani aku? Bilang aja kita sudah janji duluan," katanya pelan, matanya memohon.
Aku merasakan hati ini berdebar kencang — bukan karena senang, tapi karena ini berarti Aku akan berhadapan langsung dengan Arif di meja yang sama.
"Oke. Aku ikut. Bilang saja kita sudah janji dari kemarin," jawabku mencoba menenangkan.
"Hufft" Shella menghela napas lega. "Makasih ya. Kamu nyelamatin aku banget hari ini."
Saat mereka berjalan menuju ruang makan kantor, Arif sudah menunggu di meja yang biasanya kosong, terpisah dari meja karyawan lain. Wajahnya tersenyum, tapi senyum itu sedikit berubah saat melihat Aku ikut duduk di hadapannya.
"Eh, Maxy juga ikut?" tanyanya, nada suaranya sopan tapi terkejut.
"Maaf Pak, kami udah janji duluan makan bareng hari ini," kata Shella cepat, sebelum Aku sempat bicara. "Bisa kan sekalian? Biar hemat waktu juga, kalau ada yang mau dibahas soal acara."
Arif menatap sebentar, lalu mengangguk. "Tentu saja. Silakan duduk."
Sepanjang makan, suasananya terasa berat. Arif berbicara banyak — soal acara, soal siapa yang akan hadir, soal peluang karir yang bisa didapat Shella kalau datang. Dia bicara dengan percaya diri, lancar, seolah semuanya sudah diatur.
Aku cuma diam, mendengarkan, sesekali menyuap nasi tanpa benar-benar merasakannya. Aku sadar tidak bisa menandingi Arif dengan kata-kata atau status. Aku cuma bisa mendengarkan, dan melihat bagaimana Shella merespons.
"Jadi, Shella, saya harap kamu mempertimbangkan baik-baik. Ini kesempatan yang jarang datang dua kali," kata Arif di akhir, menatap Shella lekat-lekat.
Shella menunduk sedikit. "Saya tahu Pak, terima kasih sudah diberikan kesempatan"
"Saya pasti pertimbangkan. Tapi saya belum bisa kasih jawaban hari ini ya." lanjutnya.
Arif tersenyum, senyum yang masih tidak sepenuhnya puas. "Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya."
Setelah makan selesai, Arif berjalan duluan. Shella menghela napas panjang, menatap piring yang masih bersisa.
"Terima kasih ya Maxy sudah nemenin," katanya pelan..
"Kalau nggak ada kamu, aku pasti udah terjebak janji." ucap Shella penuh kebingungan.
"Enggak apa-apa. Aku ngerti posisinya," jawabku lembut.
"Kamu nggak harus buru-buru kasih jawaban. Ambil waktu kamu sendiri."imbuhku pelan mencoba menjelaskan.
Sore harinya, suasana kantor perlahan kosong. Jam menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit. Aku sudah bersiap pulang, berdiri di dekat pintu saat melihat Shella masih sibuk di meja, wajahnya terlihat pusing menatap layar.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku pelan.
Shella menoleh, tersenyum lelah. "Makasih Maxy, ini hampir selesai kok. Kamu duluan aja."
"Baiklah, aku duluan ya" jawabku sembari melangkah keluar sambil memeriksa jam di pergelangan tanganku. Kurang dari sepuluh menit lagi aku harus berubah.
Saat langkahnya menjauh, Shella tiba-tiba memanggilnya.
"Maxy..."
Aku berhenti, menoleh. "Ya?"
Shella berdiri, ragu sejenak, lalu bertanya pelan: "Kamu... pernah denger soal Roxy dari teman-teman lain? Maksudku, selain dari aku?"
Aku merasakan jantungku berdebar kencang, tapi tetap berusaha tenang. "Belum. Kenapa?"
Shella memutar kursinya pelan, "swing" menatap ke luar jendela yang sudah mulai gelap. "Aku kadang mikir... kok aneh ya. Dia muncul tiba-tiba, terus hilang lagi kalau pagi. Nggak pernah ketemu di siang hari. Dan dia tahu hal-hal yang kayaknya cuma orang deket yang tahu"
"Yang lenih aneh, disini nggak ada yang kenal dia selain aku." Dia menoleh kembali ke arahku, matanya menyelidik pelan. "Kamu nggak merasa... ada yang aneh, kan?"
"Glek" Aku menelan ludah, berusaha menjawab dengan tenang.
"Mungkin dia memang sibuk siangnya. Banyak orang yang kerja di luar kota atau punya jadwal yang beda. Nggak semua hal yang aneh itu pasti ada rahasianya, Shella." jawabku mencoba menjelaskan.
Shella menatapku lama, seolah mencoba melihat lebih dalam dari sekadar jawaban itu. Lalu dia tersenyum samar. "Mungkin iya. Mungkin aku aja yang terlalu banyak mikir. Maaf ya tanya-tanya aneh."
"Nggak apa-apa. Wajar kalau kamu mikir," jawabku pelan. "Aku pulang dulu ya."
Aku melangkah keluar, merasakan tatapan Shella masih mengikuti punggungnya sampai pintu tertutup.
Pukul enam sore tepat.
DING!
FASE BERGANTI
18.00 — Mode malam aktif.
Identitas: ROXY.
Akses dana sistem: AKTIF.
Maxy lenyap, berganti jadi Roxy di dalam mobil yang sudah diparkir tidak jauh dari kantor. Dia menatap pantulan di kaca spion. Wajah sama, tapi sikap, cara pandang, kepercayaan diri — semuanya harus berbeda.
Aku baru saja memutuskan untuk tidak menelepon Shella malam ini, biarkan dia tenang dulu, tapi "Drrrrtt" ponselnya tiba-tiba bergetar. Pesan masuk dari Shella ke nomor Roxy.
"Roxy... boleh aku tanya sesuatu? Kalau seseorang itu selalu ada di dua waktu yang berbeda, tapi nggak pernah bareng... itu tandanya apa ya?"
Aku menatap layar lama, jantung berdebar lebih kencang. "ini bukan pertanyaan biasa, Itu tebakan dan dugaan yang mulai menyatu" gumamku dalam hati.
Aku mengetik balasan pelan, hati-hati:
"Bisa banyak hal. Bisa karena jadwal yang memang begitu. Bisa karena ada alasan yang belum bisa diucapkan."
"Kenapa kamu tiba-tiba mikir begitu?" tanyaku
Balasan Shella datang agak lama kemudian:
"Nggak apa-apa. Cuma kepikiran aja. Maaf ya ganggu malem-malem. Selamat malam Roxy."
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Maxy: 27% (+1%)
Hubungan dengan Roxy: 26% (Stagnan)
Catatan: Shella mulai menyadari pola yang tidak biasa. Belum yakin, tapi mulai merangkai potongan. Kehati-hatian sangat diperlukan di bab-bab selanjutnya.
Aku meletakkan ponsel di jok samping, menatap jalanan yang mulai ramai. Dia belum ketahuan. Tapi Shella sudah mulai bertanya pertanyaan yang tepat. Dan pertanyaan yang tepat, lambat laun, akan membawa jawaban yang benar juga.
Besok pagi Aku kembali jadi Maxy, diriku yang sebenarnya, dan pertanyaan itu belum selesai. Shella pasti akan tanya lagi. Mungkin lebih teliti. Makin dekat dengan kebenaran.
Aku harus siap. Bukan cuma dengan jawaban, tapi juga dengan hati yang harus tetap jujur meski mulut masih menutupi rahasia..