Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
BAB 5: DUA NYAWA DI ATAS TIMBANGAN
Lorong rumah sakit masih diselimuti keheningan yang mencekam saat fajar belum sepenuhnya menyingsing. Maya duduk bersandar di kursi plastik dingin di samping ranjang Bagas. Tangannya yang kasar tak henti mengusap jemari sang suami yang kaku. Baru saja matanya terpejam beberapa menit usai melewati hari yang menguras seluruh tenaganya, ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat.
Nama adiknya, Rian, tertera di layar. Perasaan Maya mendadak tidak enak.
"Halo, Rian? Ada apa telepon subuh-subuh begini?" tanya Maya dengan suara serak menahan lelah.
Di ujung telepon, suara isak tangis Rian terdengar memecah keheningan. "Mbak... Mbak Maya, tolong pulang sekarang, Mbak! Ibu... Ibu mendadak muntah darah dan pingsan di kamar!"
Jantung Maya serasa berhenti berdetak saat itu juga. "Apa?! Ibu muntah darah? Gimana kondisi Ibu sekarang, Rian?!"
"Ibu udah nggak sadarkan diri, Mbak! Tetangga bantu bawa Ibu ke Puskesmas kecamatan, tapi dokter di sini bilang infeksi paru-paru Ibu udah parah banget. Ibu harus segera dirujuk ke rumah sakit kota buat operasi darurat. Kalau nggak segera ditangani pagi ini... Ibu bisa nggak selamat, Mbak!" tangis Rian makin pecah.
Maya berdiri seketika, tubuhnya berguncang hebat. "Ya Allah, Ibu... Ya udah, Rian tenang dulu. Bawa Ibu ke Rumah Sakit Medika Sejahtera tempat Mas Bagas dirawat! Nanti Mbak tunggu di IGD!"
Satu jam kemudian, pintu kaca ruang IGD terbuka lebar. Maya berlari menghampiri brankar yang didorong terburu-buru oleh para petugas medis. Di atasnya, Ibu kandung Maya terbaring pucat dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Wajah renta yang penuh kerutan itu tampak teramat lemah.
"Ibu... Ibu, ini Maya, Bu..." bisik Maya seraya menggenggam tangan ibunya yang gemetar dan dingin.
Sang ibu membuka matanya sedikit, menatap Maya dengan pandangan sayu. "Ma-maya... maafin Ibu ya, Nak... Ibu malah bikin kamu susah..." ucap beliau dengan suara amat lirih dan putus-putus.
"Nggak, Bu! Ibu nggak bikin susah! Ibu harus kuat ya, Ibu pasti sembuh!" seru Maya menahan agar air matanya tidak menetes di depan sang ibu.
Dokter jaga IGD menghampiri Maya setelah memeriksa kondisi fisik sang ibu. Wajah dokter itu tampak amat tegang.
"Apakah Anda keluarga dari Ibu Sumi?" tanya Dokter.
"Iya, Dok. Saya anak tertuanya. Gimana keadaan ibu saya?" tanya Maya cepat, napasnya tersengal-sengal.
"Kondisi Ibu Anda sangat kritis akibat komplikasi infeksi paru-paru akut yang sudah menyebar. Terjadi pendarahan di dalam dada yang harus segera dihentikan lewat tindakan operasi darurat pagi ini juga. Jika ditunda, nyawa beliau tidak akan tertolong," jelas Dokter tanpa berbelit-belit.
"Lakukan operasinya, Dok! Tolong selamatkan ibu saya!" mohon Maya dengan mata memerah.
Dokter itu menghela napas pelan. "Kami siap melakukan tindakan medis secepatnya, Bu. Namun, karena operasi ini tergolong tindakan khusus dan butuh persiapan alat steril, pihak administrasi meminta pembayaran uang muka sebesar delapan juta rupiah sebelum tim bedah masuk ke ruang operasi."
Kata-kata dokter itu bagaikan petir di siang bolong bagi Maya. Delapan juta rupiah.
"De-delapan juta, Dok? Nggak bisa operasinya dilakukan dulu baru saya cari uangnya?" tawar Maya dengan suara bergetar, meremas jemarinya sendiri.
serta kebingungan yang ia rasakan, saat mendengar biaya operasi dari dokter spesialis itu.