Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Kabut tebal dari muara Pesisir Tiram merayap rendah menyelimuti deretan atap seng ruko-ruko tua di Zona Tengah. Pukul 02.45 dini hari, jalanan aspal di bawah sana sudah lengang. Hanya lampu merkuri kuning redup yang membiaskan bayangan tiang listrik ke genangan air sisa hujan sore.
Bau minyak jelantah basi berpadu dengan uap arak murah dan tembakau kretek mengepul pekat dari cerobong saluran pembuangan udara dapur lantai dasar.
Sora tiarap di atas lembaran seng bergelombang yang licin oleh embun malam. Di sampingnya, Gani merangkak dengan napas tersengal, menggenggam obeng panjang dan gulungan selotip hitam di saku jaket kerjanya. Tubuh kurus montir itu bergetar pelan setiap kali lembaran seng di bawah lututnya berderak.
“Sengnya berisik, Sor…” bisik Gani di dekat telinga Sora, giginya gemeretak menahan dingin. “Kalau paku payungnya lepas, kita berdua jebol langsung ke meja biliar lantai satu.”
“Rapatkan badan ke balok kaso kayu di bawah seng,” bisik Sora tanpa menoleh. “Jangan tumpukan berat badan di tengah lembaran.”
Sora merayap perlahan menuju kubah saluran ventilasi baja persegi di bagian tengah atap ruko. Di balik kisi-kisi besi berdebu itu, terdapat lorong saluran udara utama yang mengalirkan pendingin udara ke ruang VIP lantai dua—tepat di atas plafon gipsum meja rolet nomor tiga.
Di telinga kanan Sora, kabel earphone tipis terpasang, terhubung ke radio komunikasi rakitan Maya.
“Sora, dengar suara gua?” bisik Maya di antara desis statis gelombang radio.
“Masuk,” sahut Sora pendek.
“Kamera pemantau lorong atap sudah gua looping sepuluh menit dari sekarang. Layar monitor satpam di bawah bakal menampilkan rekaman atap kosong sampai jam tiga kurang lima menit. Lewat dari itu, programnya reset otomatis. Paham?”
“Paham.”
Sora menarik kunci pas nomor empat belas dari ranselnya. Dengan tangan kanannya yang masih utuh, ia membuka empat baut pengunci terali penutup kisi-kisi ventilasi satu per satu. Baut-baut berkarat itu berderit pelan saat diputar, namun Sora menahannya dengan kain lap basah untuk meredam gesekan logam.
Begitu kisi-kisi besi terangkat, lubang persegi berukuran enam puluh sentimeter menganga di hadapan mereka. Udara hangat berbau karpet lembap dan aroma parfum menyengat langsung berembus keluar dari dalam saluran.
“Modulnya, Bang,” pinta Sora.
Gani merogoh saku dalamnya, menarik keluar sebuah kotak plastik hitam seukuran bungkus rokok dengan sepasang kabel tembaga kecil berujung capit buaya dan antena kawat tipis sepanjang sepuluh sentimeter.
“Pemasangannya gampang, Sor,” bisik Gani seraya menyerahkan kotak itu dengan tangan gemetar. “Capit merah ke kabel tembaga dinamo stator nomor tiga, capit hitam ke ground sasis meja. Sakelarnya geser ke atas biar pemancar frekuensinya standby. Ingat, jangan sampai capitnya saling senggol, bisa korslet dinamonya.”
“Kamu tunggu di sini di balik cerobong dapur,” kata Sora. “Kalau ada yang naik lewat tangga darurat, ketuk seng tiga kali.”
Gani mengangguk cepat, lalu buru-buru menyusutkan tubuhnya di balik cerobong asap seng yang menghitam, memeluk lututnya sendiri dengan wajah tegang.
Sora memasukkan kotak modul ke dalam saku jaket parkanya, lalu meluncurkan tubuhnya ke dalam saluran ventilasi baja.
Ruang di dalam saluran itu sempit dan berdebu tebal. Serat-serat wol kaca insulasi peredam panas menggores pipi dan tangannya, menimbulkan rasa gatal di kulit. Sora merayap maju dengan bertumpu pada kedua siku dan lututnya, menyeret tubuhnya secara perlahan di atas plat seng yang dingin.
Di bawah lantai saluran ventilasi, terdapat celah kisi udara gipsum yang mengarah langsung ke ruangan di bawahnya.
Sora melongokkan matanya melalui celah kisi ventilasi ketiga.