NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Sebelum Fajar

Tak seorang pun bicara sepanjang perjalanan kembali ke pasanggrahan.

Kereta yang membawa mereka berderak di jalan berbatu, lentera di sudut atapnya bergoyang-goyang dan melemparkan bayang-bayang panjang ke wajah mereka. Wirabhaya duduk di samping kusir dengan punggung tegak. Mpu Kalandara memejamkan mata, tangan terlipat di pangkuan. Raka menatap keluar jendela, memandang kanal-kanal yang berkilau diterangi obor, dan tak satu pun yang tertangkap matanya.

Ia masih bisa merasakan tepukan Hendar di bahunya. Hangat. Ramah. Persis tepukan yang dulu membuatnya merasa dipercaya.

Itulah yang paling menyakitkan.

Di serambi pasanggrahan, di bawah pelita minyak yang berkedip, Mpu Kalandara akhirnya membuka mata dan bertanya dengan lembut, "Ceritakan padaku tentang dia."

Raka duduk di tangga kayu dan menghela napas panjang. "Namanya Hendarto Wiryawan. Orang-orang memanggilnya Mas Hendar. Dia anggota senior di komunitas naskah tempat saya belajar. Pintar. Sangat pintar. Dia bisa membaca tiga aksara kuno tanpa kamus." Ia tersenyum getir. "Dia yang mengajari saya hampir semua yang saya tahu."

"Dan dua tahun lalu?"

"Dua tahun lalu, saya mendapat kabar dia sedang menawarkan selembar lontar langka ke kolektor di luar negeri. Lontar itu milik komunitas, dititipkan padanya untuk dirawat." Raka mengusap wajahnya. "Saya melaporkannya ke ketua. Dia dikeluarkan. Dia bilang saya mengkhianatinya. Saya bilang dia yang mengkhianati kami semua."

"Dan sekarang dia bilang dia melakukannya demi menyelamatkan lontar itu."

"Saya tidak tahu mana yang benar." Raka menunduk. "Dan itu yang membuat saya gila. Saya tak tahu apakah dua tahun saya membencinya salah atau benar."

Mpu Kalandara tak langsung menjawab. Ia mengamati api pelita, lalu berkata pelan:

"Kau tahu apa yang paling berbahaya di dunia ini, Nak? Bukan orang jahat. Orang jahat mudah dikenali. Yang paling berbahaya adalah orang baik yang yakin bahwa dirinya benar."

"Mas Hendar bukan orang jahat."

"Aku tidak berkata begitu. Aku berkata dia berbahaya." Mpu Kalandara menatapnya. "Kau lihat bagaimana semua orang di ruangan itu memandangnya? Seperti memandang dewa. Dia sudah menyelamatkan orang dari kebakaran, sudah meramalkan hal-hal yang tak bisa dijelaskan, dan sebentar lagi dia akan punya telinga para pejabat tinggi. Lalu dia menawarkan sesuatu yang sangat indah: menyelamatkan kerajaan dari kehancuran."

"Dan Mpu tidak setuju."

"Aku sudah dua puluh satu tahun di sini, Raka. Aku mengenal orang-orang ini. Aku telah menyaksikan hal-hal buruk yang bisa kuhentikan jika aku mau, dan sering aku diam. Bukan karena aku tak peduli, tetapi karena aku tak tahu apa akibatnya." Suaranya mengeras. "Kalau kau mengubah satu hal, kau tak tahu hal lain apa yang ikut berubah. Mungkin kerajaan ini selamat. Mungkin tidak ada lagi Indonesia di zaman kita. Mungkin kau tak pernah lahir."

"Itu bisa saja."

"Itu pasti mungkin." Mpu Kalandara menghela napas. "Dan Hendar tidak mau memikirkan itu. Karena memikirkannya akan membuat idenya tidak seindah itu."

Raka mengusap sapu tangan Sekar di saku bajunya, sulaman kasarnya terasa di ujung jari. Ia ingin menyangkal, tapi tak bisa. Argumen Hendar menarik, jauh lebih menarik daripada yang ia mau akui. Ia mencintai tempat ini, orang-orang ini, kota bata merah yang hidup. Siapa yang tak ingin menyelamatkannya?

Dan di situlah letak bahayanya.

Menjelang tengah malam, derap kaki cepat terdengar dari arah gerbang. Wirabhaya langsung berdiri, tangan di gagang keris, tetapi yang muncul adalah Bekel Tarub, berlumpur sampai ke lutut, napasnya tersengal-sengal, wajahnya muram.

"Gusti," katanya, merosot berlutut. "Saya... saya sudah mengikuti anak itu sampai ke persimpangan, seperti yang Gusti perintahkan."

"Dan?"

"Penunggang kuda itu datang tepat saat matahari terbenam. Jaka melapor persis seperti yang kita rencanakan. Penunggang itu mengangguk, memberi beberapa keping perak, lalu pergi."

"Kau mengikutinya?"

"Ya, Gusti." Tarub menelan ludah. Wajahnya berubah, ragu, hampir ketakutan. "Dia berkuda sampai ke barak Bhayangkara di sisi timur kota. Di sana, dia menanggalkan jubahnya."

Wirabhaya tak bergerak. Seluruh tubuhnya menegang seperti tali busur yang direntangkan penuh.

"Siapa?"

"Gusti..."

"Siapa, Tarub?"

"Lurah Prajurit Anggada."

Hening.

Mpu Kalandara menutup mata. Raka merasakan hawa dingin menjalari tengkuknya. Ia tidak mengenal nama itu, tapi ia mengenal reaksi Wirabhaya. Wajah lelaki itu kosong, seperti topeng yang retak dari dalam.

"Anggada," ulang Wirabhaya pelan. Tidak ada marah di suaranya. Hanya kehampaan yang sangat dalam. "Wakilku. Orang yang mengikutiku sejak kecil. Dia yang menyelamatkan nyawaku di perbatasan Daha."

"Gusti, mungkin dia dipaksa. Mungkin dia diancam..."

"Atau mungkin dia memang memilih." Wirabhaya memotong, lalu terdiam lama. Tangannya, yang tadi menggenggam keris, perlahan terbuka. "Aku harus bicara dengannya."

"Jangan." Mpu Kalandara berdiri. "Belum."

"Dia mengkhianatiku, Mpu."

"Ya. Dan sekarang dia adalah satu-satunya jalan langsung ke Hendar yang tidak disadari Hendar." Mpu menatapnya tajam. "Kalau kau menghadapinya malam ini, kau akan kehilangan keuntungan ini. Dia akan lari, atau lebih buruk, memberi tahu Hendar bahwa kita sudah tahu."

Wirabhaya mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih. Raka bisa melihat pertarungan di wajahnya: kemarahan, kesedihan, dan disiplin seorang prajurit yang dilatih untuk menekan keduanya.

"Berapa lama?" tanyanya akhirnya, suaranya parau.

"Selama diperlukan. Biarkan dia melapor. Beri dia kabar palsu. Gunakan dia untuk menyesatkan Hendar."

"Itu..." Wirabhaya menelan ludah. "Itu sulit."

"Aku tahu." Suara Mpu Kalandara melembut. "Aku tidak memintamu memaafkannya. Aku hanya memintamu bersabar."

Lama sekali Wirabhaya tak menjawab. Akhirnya ia mengangguk satu kali, kaku, dan berbalik masuk ke dalam pasanggrahan tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu bilik ditutup pelan, terlalu pelan, seperti seseorang yang berusaha keras tak membantingnya.

Fajar belum benar-benar datang ketika Raka berangkat.

Ia sudah memutuskan. Ia tidak akan bergabung dengan Hendar, tetapi ia juga tidak akan menolak mentah-mentah. Mpu Kalandara sendiri yang menyarankannya, dengan berat hati: biarkan Hendar mengira ia ragu. Biarkan ia mendekat, mengamati, mencari tahu lebih banyak. Selama Hendar masih mengira Raka bisa diyakinkan, ia akan lengah.

"Jangan percaya satu kata pun yang dia katakan," pesan Mpu Kalandara di gerbang. "Bahkan yang benar."

"Baik, Mpu."

"Dan jangan kau sendirian terlalu lama."

"Saya tidak berniat."

Hendar menunggunya di tepi sebuah kolam di taman istana, tempat lotus-lotus putih mekar di bawah langit yang perlahan memucat. Ia mengenakan jubah putih yang sama, duduk di atas sebuah batu datar seperti pertapa yang sedang bersemedi. Ketika Raka mendekat, ia menoleh dan tersenyum.

"Kau datang."

"Saya datang untuk bicara."

"Itu cukup." Hendar menepuk batu di sampingnya. "Duduklah. Pemandangannya bagus."

Raka tetap berdiri. "Saya butuh waktu, Mas. Ini keputusan besar."

"Tentu saja." Hendar mengangguk penuh pengertian. "Aku tidak berharap kau memutuskan dalam semalam. Ambil waktu yang kau perlukan." Ia menatap kolam, lalu berkata ringan, hampir seperti basa-basi: "Kau tahu, Rak, ada satu hal yang selalu kukagumi dari orang-orang di zaman ini."

"Apa?"

"Kesetiaan mereka. Pada keluarga, pada sahabat, pada orang yang mereka sayangi." Ia mengambil sebutir kerikil dan melemparnya ke air, riak-riak lembut menyebar di antara lotus. "Mereka rela melakukan apa pun demi orang yang dicintai."

Raka tak menjawab. Ia mulai merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.

"Kampung Pandean itu tenang sekali, ya," lanjut Hendar sambil tersenyum, tanpa menoleh. "Aku sempat lewat sana kemarin. Pandai besinya ramah. Cucu-cucunya lucu."

Jantung Raka berhenti berdetak.

Karena tak seorang pun di dunia ini, kecuali orang-orang di tepi sungai malam itu, tahu nama kampung yang Sekar sebutkan.

1
mimief
berarti...jalan nya waktu sama disana dengan yg disini
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
mimief
cemburu dia rak..
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
mimief
wah....siapa kah itu?
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!