NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Kemenangan.

Deru mesin Ducati hitam milik Langit perlahan meredup saat cowok itu memutar balik motornya di ujung lintasan, kembali menuju area garis start. Ratusan penonton di pinggir jalan masih terpaku dalam keheningan yang pekat. Mereka baru saja menyaksikan sang raja jalanan, ketua geng motor Griffin yang tak terkalahkan selama tiga tahun, dipecundangi tanpa ampun oleh cowok yang selama ini mereka cap sebagai anak rumahan borjuis.

Tommy sampai beberapa detik kemudian.

Ia menyentakkan standar motor Ninjanya dengan kasar, lalu turun dengan napas yang memburu hebat. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya merah menyala menahan kombinasi antara amarah, cemburu, dan rasa malu yang luar biasa di depan seluruh anak buahnya.

"Nggak mungkin! Lo pasti curang, kan?!" bentak Tommy histeris. Ia melangkah lebar menghampiri Langit yang baru saja melepas helmnya dengan tenang.

Reza dan puluhan anak geng Griffin langsung bergerak merapat di belakang Tommy, membentuk pagar betis yang mengintimidasi. Suasana di Jalan Baru kembali menegang hingga ke titik didih.

"Tom, udah! Lo udah kalah!" Aletha berlari kecil dari pinggir jalan, langsung berdiri di samping Langit, mencoba menahan lengan Tommy agar tidak berbuat nekat.

Melihat Aletha yang justru berdiri di sisi musuhnya membuat ego Tommy semakin tercabik-cabik. Ia menyentak tangan Aletha dengan sangat kasar.

"Diem lo, Letha! Lo sengaja kan bersekongkol sama dia buat bikin gue malu di sini?! Hah?!"

"Tommy! Jaga mulut lo!" teriak Aletha, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. "Lo sendiri yang nantang dia, lo sendiri yang buat taruhan ini! Kenapa sekarang lo malah nuduh gue?!"

Tommy tertawa sumbang, suara tawa yang sarat akan keputusasaan. "Taruhan? Lo pikir gue bakal ngelepas lo gitu aja buat cowok spek dewa ini? Nggak akan!" Tommy beralih menatap Langit, menunjuk muka cowok itu dengan jari yang gemetar karena emosi.

"Lo cuma menang karena motor mahal lo ini, anak manja! Di jalanan ini, aturan gue yang pegang. Anak-anak! Sikat dia!"

"Siap, Ketua!" Reza menyahut, bersiap maju bersama dua orang di sampingnya.

Namun, sebelum langkah pertama Reza mendarat di aspal, Langit menatap mereka dengan sorot mata hazel yang begitu dingin dan menusuk. Tidak ada kepanikan, tidak ada ketakutan. Cowok tegap itu hanya melangkah maju satu kali, memblokade tubuh Aletha sepenuhnya di belakang punggungnya. Aura kepemimpinan yang absolut dari tubuh Langit seketika membekukan pergerakan anak-anak geng Griffin.

"Jadi ini mental ketua geng motor terpandang di Jakarta?" ucap Langit. Suaranya rendah, berat, dan bergema begitu tenang di tengah keheningan malam.

"Nggak tahu arti kata kalah, temperamental, dan berlindung di balik punggung anak buah saat egonya terluka."

"Jaga mulut lo, brengsek!" Tommy merangsek maju, hendak melayangkan pukulan.

Set!

Tangan panjang Langit bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Tommy yang hendak memukulnya, lalu memutarnya sedikit ke bawah dengan tekanan yang konstan namun menyakitkan. Tommy meringis tertahan, langkahnya terkunci seketika.

"Gue udah menuruti semua permainan kekanak-kanakan lo, Tommy," desis Langit tepat di depan wajah Tommy.

Jarak mereka begitu dekat hingga hawa mengintimidasi dari Langit membuat Tommy bungkam.

"Gue datang jam sebelas, membawa motor gue, dan menang secara sah di atas aspal pilihan lo sendiri. Sesuai perjanjian... menjauh dari Aletha, dan jangan pernah tunjukkan wajah lo lagi di depan dia."

Langit menyentakkan tangan Tommy hingga cowok itu terhuyung mundur ke arah Reza. Langit lalu merapikan jaket kulit hitamnya dengan gerakan santai, seolah-olah baru saja mengusir sebutir debu yang mengganggu.

"Kalau lo atau anak buah lo berani melanggar perjanjian ini, atau berani menyebarkan gosip sampah lagi di sekolah..." Langit menggantung kalimatnya, matanya melirik tajam ke arah Reza yang langsung menunduk ngeri. "...keluarga Voss punya banyak cara untuk membuat sisa masa SMA lo berakhir di balik jeruji besi atas kasus balapan liar dan penganiayaan. Paham?"

Tommy terengah-engah, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Ia menatap Langit dengan kekalahan telak yang kini mutlak terpahat di wajahnya. Ancaman Langit bukan sekadar gertakan sambal. Semua orang tahu seberapa besarnya kekuasaan dan pengaruh hukum keluarga Voss di kota ini.

Di belakangnya, anak-anak geng Griffin mulai berbisik ragu. Mereka sadar, melawan Langit malam ini sama saja dengan menghancurkan masa depan mereka sendiri.

Langit tidak menunggu jawaban lagi. Ia berbalik badan perlahan, menatap Aletha yang masih terpaku dengan sisa air mata di pipinya. Dengan sebuah gerakan yang tak terduga namun terasa sangat protektif, Langit meraih pergelangan tangan Aletha dengan lembut, lalu menuntun gadis itu berjalan menuju motor Ducatunya.

"Naik, Kurcaci. Waktu tidur lo udah lewat," perintah Langit, nadanya melunak menjadi suara dinginnya yang biasa.

Aletha menurut tanpa bantahan. Seluruh energinya malam ini sudah terkuras habis menghadapi badai emosi. Ia memakai helm putihnya, lalu naik ke atas jok belakang Ducati hitam.

Saat mesin empat silinder itu kembali menyala dan mengaum dahsyat, membelah keheningan Jalan Baru, Aletha sempat melirik ke belakang untuk terakhir kalinya. Di sana, Tommy terduduk lesu di atas tangki motor Ninjanya, menunduk dalam dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri frustrasi, dikelilingi oleh anak buahnya yang tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kerajaan jalanannya telah runtuh malam ini.

Ducati hitam melesat pergi membelah kegelapan malam dengan kecepatan konstan. Di sepanjang jalan pulang, keheningan menyelimuti mereka berdua. Namun di balik helmnya, Aletha perlahan memajukan tubuhnya, membiarkan dadanya bersandar pada punggung tegap Langit yang terasa begitu kokoh. Kedua tangannya yang semula ragu, kini perlahan melingkar, memeluk pinggang Langit erat-erat demi mencari kehangatan di tengah angin malam yang menusuk.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun bermusuhan bagai Tom and Jerry, Aletha menyadari satu hal yang pasti. Di balik sikap menyebalkan dan arogannya, Langit adalah tempat teraman yang ia miliki saat ini.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!