NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

​Pukul tiga pagi. Hujan gerimis yang membasahi kaca jendela bus komando taktis kini telah berganti menjadi rinai tipis yang dingin. Kendaraan berlapis baja itu telah bergerak jauh meninggalkan area Kasino Royale Vane, membelah pekatnya jalanan bebas hambatan menuju kompleks markas utama klan Argantara yang tersembunyi di perbukitan.

​Di dalam kabin penumpang privat yang terisolasi dari ruang kemudi, keheningan merayap begitu pekat. Hanya ada suara derum mesin yang halus serta detak jarum jam dinding yang mengalun konstan.

​Aria duduk bersandar di sudut sofa kulit berwarna hitam. Gaun satin sutra champagne gold yang dikenakannya kini terasa seperti mantel yang terlalu berat untuk ditanggung. Topeng kupu-kupu emas telah tergeletak pasrah di atas meja kecil di sampingnya. Namun, bukan kelelahan fisik dari aksi kejar-kejaran dengan anak buah Victor yang membuat dada wanita itu terasa sesak—melainkan bayangan kejadian beberapa puluh menit lalu di koridor VIP.

​Jemari lentik Aria bergerak pelan, menyentuh bibir bawahnya sendiri.

​Kulit bibirnya masih terasa sedikit hangat, seolah-olah lumaan dan desah napas Devan Argantara di dalam bayangan tirai marun itu belum sepenuhnya menguap. Setiap kali ingatan itu terlintas, sensasi terbakar yang liar seketika menyengat dari pergelangan tangannya, merambat cepat hingga membakar ruang dadanya.

​Aria memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas panjang melalui hidungnya. Otaknya—yang selama ini terkenal bagaikan mesin prosesor super canggih yang sanggup mengurai ribuan baris kode rumit dalam hitungan detik—kini terasa lumpuh total. Logika dingin yang selalu menjadi perisai utamanya mendadak berkabut, terkikis oleh badai perasaan yang campur aduk dan saling bertabrakan secara hebat di dalam dirinya.

​Kenapa aku tidak mendorongnya? pertanyaan itu berulang kali memukul dinding kesadarannya.

​Aria tahu betul bahwa ciuman itu berawal dari sebuah taktik penyamaran yang terdesak. Jika Devan tidak membungkam bibirnya pada detik ketika pengawal elit klan Vane membuka pintu, identitas Gisele Vance akan runtuh, dan mereka mungkin sudah berada di dalam ruang penyiksaan Hector Vane saat ini. Secara kalkulasi taktis, tindakan Devan adalah opsi paling logis dan efisien untuk meloloskan mereka berdua.

​Namun, yang merusak seluruh logikanya adalah reaksi tubuh dan batinnya sendiri.

​Saat bibir hangat Devan menyapu bibirnya, Aria tidak merasakan ancaman atau manipulasi. Yang ia rasakan adalah kepasrahan yang menakutkan. Jemarinya yang biasanya sigap mematahkan sendi lawan justru meremas kain tuksedo Devan kencang, dan ia membalas sentuhan itu dengan kehausan terselubung yang tak pernah ia ketahui keberadaannya selama ini.

​Lebih buruknya lagi, bisikan Devan setelah ciuman itu selesai—“Pikirkan saja begitu kalau itu bisa membuatmu tidur nyenyak malam ini, Little Bird”—masih bergema kencang di telinganya, seolah-olah sang bos mafia dengan sengaja mencopot topeng 'taktis' tersebut dan memperlihatkan kebenaran yang sesungguhnya.

​Aria mengepalkan tangannya kencang di atas paha. Rasa takut yang sangat asing mulai merayapi benaknya.

​Sebagai seorang peretas independen yang tumbuh di dunia bawah tanah yang keras, kebebasan adalah satu-satunya hal yang ia perjuangkan mati-matian. Ia menyepakati persekutuan berbahaya ini dengan Devan Argantara semata-mata untuk mendapatkan kembali kebebasannya secara mutlak setelah Black Ledger berhasil direbut.

​Namun sekarang, Black Ledger sudah berada di tangan tim taktis Marco. Misi utama mereka di Kasino Royale telah berhasil dieksekusi dengan sempurna. Secara teknis, tugasnya hampir selesai, dan pintu menuju kebebasan yang ia impikan selama bertahun-tahun kini telah terbuka lebar di depan mata.

​Lantas, kenapa hatinya justru merasa terancam?

​Aria menolehkan kepalanya perlahan, menatap bayangan Devan yang duduk di sofa berseberangan darinya.

​Pria itu telah melepas tuksedo dan topeng serigalanya. Kemeja hitam yang membalut tubuh tegapnya agak sedikit kusut di bagian dada, dan kancing atasnya terlepas dua buah, memperlihatkan garis leher dan dadanya yang kokoh. Devan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam, seolah-olah sedang beristirahat. Namun, aura dominasi mutlak dan proteksi dingin yang memancar dari dirinya tetap terasa begitu kuat menguasai ruangan sempit itu.

​Mata Aria menelusuri rahang tajam Devan, bibir tegas pria itu yang baru saja menyapu bibirnya, hingga jemari tangan kanan Devan yang terhampar di atas paha—jemari yang sama yang mengusap lehernya dengan kelembutan yang teramat pekat tadi malam.

​Pria ini berbahaya, batin Aria memperingatkan dirinya sendiri. Dia adalah predator puncak di dunia ini. Dia bukan pria yang bisa kucintai tanpa menyerahkan seluruh kendali atas hidupku ke dalam genggamannya.

​Perasaan campur aduk itu makin menyiksa. Di satu sisi, ada dinding pertahanan diri dan harga dirinya yang berteriak agar ia segera melarikan diri sedauh mungkin begitu bus komando ini mendarat di markas. Namun di sisi lain, ada bagian tergelap dari hatinya yang justru merasa hangat, aman, dan diakui ketika berada di dalam dekapan pria berdarah dingin tersebut.

​Gesekan di atas matras latihan, aksi usilnya di ruang kerja Devan, insiden simulasi yang berujung kebocoran gas, hingga tarian mereka di tengah panggung musuh... semua pecahan memori itu menyatu menjadi sebuah jerat tak kasat mata yang kini mengikat lehernya erat-erat.

​Tiba-tiba, mata kelam Devan terbuka perlahan.

​Tanpa mengubah posisinya yang bersandar, Devan mengalihkan pandangannya tepat ke arah Aria. Iris mata hitam legam itu berkilat tajam di bawah pencahayaan redup kabin, langsung mengunci pandangan mata Aria yang belum sempat dipalingkan.

​Aria membeku. Jantungnya melompati satu detakan secara dramatis.

​Devan tidak bersuara selama beberapa detik. Pria itu hanya menatap Aria dengan keheningan yang teramat dalam—sebuah tatapan yang seolah sanggup menembus seluruh dinding pertahanan yang sedang dibangun Aria di dalam kepalanya.

​"Kamu terlalu banyak berpikir, Little Bird," suara Devan pecah, berat, rendah, dan serak akibat kelelahan, menggetarkan keheningan di antara mereka.

​Aria menahan napasnya sejenak, menegakkan posisinya seraya mencoba mengembalikan raut wajah dingin tanpa dosanya yang biasa. "Aku cuma sedang mengkalkulasi skenario evakuasi akhir setelah kita sampai di markas."

​Ukiran senyum tipis—senyuman sangat halus yang sarat akan dominasi dan rasa iba yang memikat—terbentuk di bibir Devan. Pria itu perlahan menegakkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut, lalu mencondongkan badannya sedikit ke depan.

​"Jangan bohong padaku," bisik Devan pelan, matanya menyipit menatap bibir Aria yang sedikit memerah sebelum kembali mengunci matanya. "Logikamu sedang bertarung keras dengan apa yang kamu rasakan, kan?"

​Aria menyipitkan matanya tajam, menyilangkan dadanya untuk menutupi getaran di tangannya. "Jangan percaya diri, Devan. Ciuman di koridor itu cuma aksi taktis darurat. Aku tidak memikirkannya sama sekali."

​Devan terkekeh rendah—sebuah tawa yang teramat dalam dan penuh kepastian yang tak tergoyahkan. Pria itu berdiri dari sofanya, melangkah dua tapak perlahan menuju sofa tempat Aria duduk.

​Pria itu berlutut dengan satu kaki di lantai di depan Aria, memangkas ketinggian mereka hingga posisi wajah mereka sejajar. Devan mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang tegap dan hangat menyentuh pelan dagu halus Aria, menahannya agar wanita itu tidak memalingkan wajah.

​Aromanya yang memabukkan kembali memenuhi indra penciuman Aria dari jarak sebegitu dekat.

​"Kalau itu cuma aksi taktis..." bisik Devan di dekat wajah Aria, suara rendahnya mengikat seluruh kesadaran wanita itu, "...kenapa jemarimu membalas cengkeramanku di koridor tadi, Aria?"

​Aria menahan napasnya rapat-rapat. Pertanyaan tajam itu menghantam dadanya tepat di sasaran, mematikan seluruh argumen kebohongan yang telah ia susun.

​Devan mengusap lembut bibir bawah Aria dengan ibu jarinya sekali lagi, sebuah sentuhan pelan yang mengirimkan desiran panas hebat di sekujur tubuh wanita itu.

​"Kamu boleh membohongi dunia dengan identitas Gisele Vance-mu," pungkasi Devan penuh intrik, mata kelamnya memancarkan kehangatan dan kepemilikan yang mutlak. "Tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongiku... atau perasaanmu sendiri."

​Devan melepaskan dagu Aria perlahan, lalu berdiri tegap kembali tepat saat bus komando melambat dan berhenti sempurna di pelataran utama markas Argantara.

​Pintu otomatis kabin bergeser terbuka, menyambut hembusan angin malam perbukitan yang dingin. Devan mengulurkan tangannya ke arah Aria, menunggu wanita itu berdiri.

​Aria menatap uluran tangan tegap itu, lalu menatap wajah Devan yang berdiri tegap di atasnya. Di dalam kekacauan batin yang masih membara di dadanya, Aria menyadari bahwa pertempuran terbesarnya kini bukan lagi melawan klan Vane—melainkan melawan perasaan berbahaya yang kian meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya untuk Devan Argantara.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!