NovelToon NovelToon
Cermin Yang Retak

Cermin Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:102k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.

Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.

Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.

Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.

Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

.

Raka tiba di restoran hanya berselisih beberapa menit setelah taksi yang membawa Aisyah melaju meninggalkan pelataran restoran.

“Apa tadi bu Aisyah ke sini?” tanya Raka begitu ia berpapasan dengan seorang karyawan.

“Iya,” jawab karyawan itu singkat. “Beliau baru saja pergi beberapa menit yang lalu. Katanya harus menjemput adik Fatimah.”

Raka menghela napas panjang mendengar jawaban itu. Kalau saja ia berangkat sedikit lebih cepat, mungkin mereka masih sempat berpapasan. Dalam hatinya menyalahkan Nabila yang selalu saja bangun terlambat dan tidak membangunkan dirinya.

“Apa bu Aisyah berpesan sesuatu?” Raka kembali menatap karyawan itu.

Karyawan itu menggeleng. “Tidak ada, Pak. Bu Aisyah hanya memeriksa kembali berkas kemarin.”

Alis Raka berkerut. “Memeriksa berkas?”

“Benar, Pak.”

Dada Raka tiba-tiba berdegup lebih kencang. “Kenapa Aisyah datang hanya untuk memeriksa berkas? Apa jangan-jangan… dia menemukan sesuatu?”

Ia segera menggeleng, bahkan tertawa kecil sendiri. “Mana mungkin? Aisyah hanya lulusan SMA. Mana paham dia soal seluk-beluk laporan keuangan yang rumit? Dia tidak akan menemukan celah yang sudah aku sembunyikan dengan rapi.”

Raka merogoh ponsel berniat hendak menyusul Aisyah yang sedang menjemput Fatimah sekarang. Namun baru beberapa langkah, seorang karyawan dari toko yang bangunannya bersebelahan berlari menghampirinya dengan wajah cemas.

“Pak Raka, ada masalah.”

“Ada apa?” tanya Raka gusar.

“Seorang pelanggan mengaku membeli makanan kaleng tadi pagi. Pas mau dimakan katanya dalamnya bau gak enak terus pas di cek ternyata kedaluwarsa.”

“Apa? Kenapa bisa ada kejadian seperti itu?” Raka dengan panik langsung berlari menuju toko nya diikuti oleh karyawan yang memanggilnya.

Sesampainya di toko Raka melihat seorang wanita paruh baya sedang marah marah. Raka bertanya barangkali ibu itu lupa dan sebenarnya tidak membeli itu di toko mereka. Tapi ibu itu berhasil menunjukkan bukti berupa struk belanja dan kaleng kemasan yang masih berisi ikan olahan dan ada tempelan harga yang sama persis, bahkan ibu itu juga bisa menunjukkan di rak sebelah mana ikan kaleng itu diambil.

Takut jika kejadian itu menjadi masalah,Raka pun meminta maaf dan bersedia memberikan ganti rugi.

“Maaf, Bu. Ini adalah kelalaian kami. Kami berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi,” ucap Raka penuh rasa bersalah.

Ibu itu mengambil nafas kesal tapi untung masih bisa diajak bicara baik-baik.

“Baiklah, karena sudah tiga tahun saya jadi langganan di sini. Tapi lain kali jangan seperti ini. Jangan karena sudah laris lalu sembrono dan mau cari untung besar lalu merugikan pembeli!”

Setelah pelanggan pergi, Raka mengusap wajahnya kasar. Niat menyusul Aisyah pun akhirnya terhapus.

“Hah!” Pria itu membuang nafas kasar melalui mulutnya. “Ya sudahlah. Lagi pula, besok giliran aku tinggal sama Aisyah.”

Sementara itu, Aisyah sudah sampai di rumah bersama Fatimah. Kini mereka duduk berdampingan di lantai ruang tengah. Aisyah duduk berselonjor bersandar pada sofa dengan beberapa berkas restoran berada di atas pangkuannya, sebagian ia letakkan di atas lantai di samping pahanya. Sementara Fatimah duduk dengan buku mewarnai terbuka lebar di atas meja. Dada gadis itu menempel di tepian meja sementara dua tangannya berada di atas meja sambil memegang krayon.

“Ibu, besok Fatimah harus ngumpulin PR mewarnai,” ujar anak itu sambil memegang krayon.

“Gambar apa itu, Sayang?” tanya Aisyah mendekatkan wajahnya.

“Gambar gunung dan sungai. Ada pohon sama perahu nya juga. Yang hitam ini burung kecil.” Fatimah menjawab dengan jari telunjuk menunjuk satu persatu gambar yang ada di bukunya.

Aisyah tersenyum tipis, sambil melihat gambar pemandangan yang ada dalam buku itu. Tangannya mengusap rambut putrinya yang kalau berada di dalam rumah tidak memakai hijab dengan lembut. “Mewarnainya pelan-pelan saja ya, supaya rapi dan krayonnya tidak belepotan.”

Fatimah mengangguk dengan patuh. Mata dan tangannya kembali fokus pada krayon yang ia pegang.

Tadi waktu baru pulang Aisyah sudah menawarkan pada putrinya itu untuk makan siang, tetapi Fatimah menolak.

“Fatimah sudah kenyang, Bun. Tadi sudah makan MBG di sekolah.” Begitu kata Fatimah beberapa menit lalu.

Aisyah pun membiarkan saja. Ia kemudian kembali membuka ponselnya sambil menunggu Fatimah yang asik dengan buku mewarnainya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Nanti malam adalah giliran Raka berada di sini. Sudah tiga hari suaminya tinggal di rumah Nabila. Aisyah terdiam. Padahal besok adalah waktunya untuk ketemuan dengan Pak Akbar. Kalau Raka ada di rumah pasti besok dia yang akan mengantar Fatimah dan Rangga ke sekolah.

“Bagaimana ini?” batin Aisyah. “Apa iya aku minta Pak Akbar menunda pertemuan saja?” gumamnya pelan.

*

Sore telah berganti senja saat Raka baru saja pulang dari toko dan restoran lalu melangkah masuk ke kamar. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian rapi bahkan menyemprotkan minyak wangi, pria itu bersiap berangkat ke rumah Aisyah. Ia sudah rindu dengan wanita itu, juga rindu dengan rasa masakannya yang sudah tak hari tak ia nikmati. Tangannya sudah meraih kunci mobil di meja samping tempat tidur, ketika suara rintihan pelan terdengar dari arah ranjang.

“Mas…”

Raka menoleh seketika. Terlihat olehnya Nabila sedang memegangi kepalanya sambil meringis seperti orang kesakitan. Tubuh wanita itu juga tampak begitu lemah seolah tak bertenaga.

“Kenapa?” Raka segera menghampirinya, meletakkan kunci mobil kembali ke meja.

“Kepalaku pusing sekali,” Nabila meringis, matanya terpejam rapat. “Rasanya berputar-putar. Mataku juga kayak berkunang-kunang.”

“Sejak kapan begini? Bukannya tadi pagi kamu baik-baik saja?” tanya Raka seraya mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya sudah sejak tadi siang, tapi aku nggak enak mau ngabarin kamu soalnya kamu kan sibuk di toko dan restoran,” jawabnya lemah. “Mungkin karena terlalu lelah seharian. Kamu kan tahu aku membersihkan seluruh rumah ini sendirian?”

Raka menarik nafas pelan. Aisyah sejak dulu juga selalu membersihkan rumah sendirian tapi wanita itu sama sekali tidak pernah mengeluh. Tapi tak urung pria itu menyentuh pelan kening Nabila. Tidak terasa panas, tidak ada demam. Namun melihat wajah pucat dan tatapan tak berdaya wanita itu akhirnya membuatnya merasa cemas.

“Kita periksa ke dokter sekarang,” ucapnya lalu berniat untuk membantu Nabilah bangun.

Nabila buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Mas. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Tolong temani aku sebentar ya, takutnya aku butuh apa-apa aku nggak bisa gerak sendiri. Tadi aja pas mau ke kamar mandi hampir jatuh.”

Raka menghela nafas sambil memejamkan matanya. Padahal dia sudah mau berangkat ke rumah Aisyah, tapi melihat Nabila sakit dia juga tak tega meninggalkan. “Ya sudah istirahatlah. Aku temani kamu.”

1
Oma Gavin
Alhamdulillah aisyah sudah menerima lamaran akbar jadi saat raka ingin kembali jgn sampai menggoyahkan keyakinan mu aisyah
vania larasati
lanjut
Ilfa Yarni
Aisyah sebenarnya aku suka sama km mau ga km menikah sama aku
Ilfa Yarni
mampooos lo raka ular betina kau pelihara jadi gelandangan kan kau hahahaha syukurin
Hary Nengsih
karma d bayar kontan 🤣🤣🤣
Oma Gavin
akhirnya jadi gelandangan raka alhamdulillah terbayar lunas karma mu tinggal tunggu karma nabila jadi apa setelah kaya jual rumah dan mobil
Ayunda
dasar laki bego ngpain msh di ijinin tinggl
Uba Muhammad Al-varo
inilah hasil dari keserakahan dan menyakiti Aisyah yang kau dapatkan Nabila, Raka hanya pertengkaran dan
hidup sengsara /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ayuk Witanto
si Raka pake nyalahin orang
Ayuk Witanto
pasti gak mau si ulet bulu ..nanti gak ada yang kasih duit
ahs@
Raka akan dibuat miskin oleh Nabila...Raka jadi tunawisma 🤣🤣
Agunk Setyawan
kalo aq biarin sich biar kapok
satu kata buat arka tolol jaman sekarang mana ada perempuan mau diajak susah 🤣🤣🤣 maunya yg instan donk
Muft Smoker
si Raka mh oon ,, Nabila cuma akting pdhal Dy cuma mau siap2 buat nguras harta terakhir mu😏😏😏
Ilfa Yarni
mampus kau raka nyesal2 dah lo kau biar kan nabila tingagal semalam lg yg Ada sertifikat rmh dan mobilmu digondol nabila
Mundri Astuti
kasih hadiah thor buat duo pengkhianat
Setyowati Setyowati
senyum licik 🤔🤔 mau bunuh Raka kamu Nabila ...ininih setan sama Dajjal udah GK sejalan 🤭🤭
Setyowati Setyowati
dikit amat makkkkk....lagi dong 🙏🙏🙏
Patrick Khan
podo den ne raka nabila😏😏
nayla tsaqif
Laki2 kok bodoh sihhh,, awas jd gelandangan kamu raka
Dini Anggraini
Jangan lengah raka rumah itu satu2 nya hartamu kan bisa saja nabila mengambil sertifikat rumah itu buat di jual kalian jadi gelandangan di jalan nanti. Nabila apa bisa kerja mangkanya dia ingin kaya instan tanpa perlu lelah bekerja dengan merebut suami sahabatnya sendiri. 😡😡🥰🥰
Aditya hp/ bunda Lia: bener
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!