Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : STRATEGI PENDEKATAN XIONG YANG.
Sejak kejadian dengan Se Chang, ada satu hal yang tidak bisa lagi Xiong Yan pura-pura tidak tahu.
Ia menyukai Feng Yao.
Selama ini ia sudah mencoba mencari alasan lain. Katanya, ia hanya merasa bertanggung jawab, karena Feng Yao tinggal di wilayah klannya. Katanya, ia hanya berutang budi, karena gadis itu pernah menolongnya. Tapi alasan-alasan itu sudah tidak mempan. Setiap kali Feng Yao tersenyum, dadanya berdetak lebih kencang dari yang masuk akal, dan tidak ada urusan tanggung jawab atau utang budi yang bisa menjelaskan hal itu.
Masalahnya, ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.
Ia pemimpin Klan Beruang Hitam. Menghadapi musuh, menyusun siasat, mengambil keputusan di saat genting, semua itu sudah menjadi kebiasaannya. Tapi menghadapi seorang perempuan yang membuat jantungnya tidak karuan? Untuk yang satu ini, ia tidak punya pengalaman sedikit pun.
Malam itu ia duduk sendirian di ruangannya. Lampu minyak di sudut meja sudah hampir separuh habis. Di depannya tergeletak sebuah buku tipis yang baru ia beli dari pedagang keliling. Ia membelinya dengan wajah datar dan cepat-cepat menyelipkannya ke balik jubah, seakan sedang menyelundupkan senjata.
*Cara Menaklukkan Hati Wanita.*
Dahinya berkerut menatap judul itu cukup lama. Akhirnya ia membuka halaman pertama.
*Wanita menyukai pria yang perhatian.*
Xiong Yan mengangguk pelan, serius sekali, seperti sedang membaca laporan perbatasan. "Perhatian," gumamnya. Ia menarik selembar kertas, mencelupkan kuas, lalu menulis:
*1. Perhatian.*
Ia membalik halaman.
*Berikan sesuatu yang disukainya.*
Pikirannya langsung tertuju pada Feng Yao. Tidak perlu berpikir lama, karena hal itu sudah jelas sekali. "Madu," katanya, hampir kepada dirinya sendiri, lalu menulis lagi:
*2. Berikan sesuatu yang disukai.*
Halaman berikutnya.
*Temani dia berjalan-jalan.*
Kuasnya berhenti di udara. Matanya sedikit berbinar. Yang ini terasa mudah. Sangat mudah, malah. Ia sudah sering berjalan berkeliling wilayah, jadi tinggal mengajak satu orang lagi.
*3. Ajak berjalan-jalan.*
Ia terus membaca, dan di bagian bawah halaman itu ada satu kalimat lagi.
*Jangan terlalu terburu-buru. Bangun kedekatan secara perlahan.*
"Benar," katanya, dan kali ini ia mengangguk beberapa kali. Ia menutup buku itu dan menepuk sampulnya pelan. "Pendekatan memang harus dilakukan bertahap."
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Xiong Yan merasa punya pegangan. Sebuah strategi. Ia tidur malam itu dengan tenang.
Paginya, ia sudah berdiri di depan pondok Feng Yao sambil membawa satu toples madu.
Feng Yao sedang menyiram bunga di halaman. Ia menoleh mendengar langkah kaki, dan alisnya terangkat sedikit. "Xiong Yan?"
"Ini untukmu."
Xiong Yan mengulurkan toples itu dengan wajah setegang orang yang sedang menyerahkan surat perintah perang.
Feng Yao menerimanya, menatap madu keemasan di dalamnya, lalu tersenyum lebar. "Wah, terima kasih!"
Jantung Xiong Yan langsung berulah lagi. Langkah pertama berhasil, pikirnya. Dan karena ia tidak yakin sanggup menahan ekspresi wajahnya lebih lama, ia mengangguk singkat. "Kalau begitu, aku pergi."
"Eh?"
Ia baru berjalan tiga langkah ketika suara Feng Yao memanggilnya dari belakang. "Kau tidak mau minum teh dulu?"
Xiong Yan berhenti.
Kalimat dari buku itu muncul di kepalanya. *Wanita menyukai pria yang perhatian.* Ia berbalik, dan seperti tidak terjadi apa-apa, ia berkata, "Boleh."
Feng Yao tertawa kecil. "Tadi kenapa buru-buru sekali?"
"Tidak buru-buru."
Ia duduk di beranda dengan punggung sangat lurus. Feng Yao masuk sebentar dan kembali membawa teko. Selagi menunggu, Xiong Yan mendengar dirinya sendiri bicara, "Aku hanya sedang menjalankan strategi."
"Strategi?"
"Bukan."
Feng Yao memiringkan kepala. "...?"
Xiong Yan meraih cangkir tehnya, wajahnya kaku sekali. "Tidak ada apa-apa."
Di balik sebatang pohon tidak jauh dari sana, Xiong Ling, yang diam-diam membuntuti tuannya sejak pagi buta, menekap mulutnya dengan kedua tangan supaya tawanya tidak pecah. Bahunya bergetar hebat.
Ketua benar-benar belajar pacaran dari buku.
Sementara itu, di beranda, Xiong Yan menatap Feng Yao yang sedang menuang teh sambil tersenyum sendiri. Dadanya kembali sesak dengan cara yang sudah mulai ia kenal. Dan tiba-tiba saja ia merasa satu buku saja mungkin tidak akan cukup.
*Besok aku harus membaca jilid kedua.*
Pedagang keliling itu masih ada di gerbang timur ketika Xiong Yan datang lagi. Ia menyodorkan uang dan bertanya dengan suara serendah mungkin apakah ada jilid kedua. Si pedagang menatapnya sebentar dengan wajah penuh pengertian, yang membuat telinga Xiong Yan panas, lalu mengeluarkan buku dari kotak kayunya.
*Cara Menaklukkan Hati Wanita, Jilid Kedua.*
Xiong Yan membayar dua kali lipat supaya pria itu tidak bicara apa-apa.
Malamnya ia membaca sampai lampu minyak nyaris padam. Ada tiga hal yang ia catat. *Puji dia dengan tulus. Dengarkan ceritanya. Jangan bicara soal pekerjaan terus.*
Yang ketiga ia garis bawahi dua kali. Ia sendiri tidak yakin kenapa. Mungkin karena firasatnya mengatakan itu masalah terbesarnya.
Siang berikutnya, ia berdiri di depan pondok Feng Yao lagi. Kali ini tanpa toples madu, karena Xiong Ling sudah bilang kemarin bahwa madu tidak perlu dibawa setiap hari. Xiong Yan tidak tahu dari mana Xiong Ling bisa tahu soal madu, dan ia memutuskan tidak bertanya.
"Feng Yao."
Feng Yao keluar sambil mengelap tangan di kainnya. "Oh, kau lagi. Mau teh?"
"Tidak." Xiong Yan berdehem. "Aku mau jalan-jalan."
"Silakan."
"Denganmu."
Feng Yao berkedip. Sebentar ia diam, lalu tertawa. "Kenapa kaku sekali? Boleh saja. Tunggu, aku ambil keranjang. Sekalian cari jamur di hutan."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di tepi sungai. Xiong Yan berjalan setengah langkah di belakang, karena ia tidak yakin harus sejajar atau tidak, dan buku itu tidak menjelaskan bagian ini. Feng Yao bercerita soal tanaman obat yang mulai tumbuh di lereng, soal seekor burung yang tiap pagi hinggap di pagar pondoknya. Xiong Yan mendengarkan. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sampai lupa menanggapi.
"...kau mendengarkan tidak sih?"
"Mendengarkan. Burungnya hinggap di pagar."
"Itu tadi. Sekarang aku sedang bicara soal jamur."
"Jamur juga."
Feng Yao menoleh dengan curiga, tapi bibirnya melengkung. Xiong Yan teringat catatannya. *Puji dia dengan tulus.* Ia mencari sesuatu untuk dipuji. Otaknya, yang biasanya cepat menghitung jumlah prajurit lawan dan arah angin, mendadak kosong.
"Kau," katanya akhirnya.
"Aku?"
"Kau... kuat."
Feng Yao berhenti melangkah. "Kuat?"
Xiong Yan sadar itu salah begitu kata itu keluar dari mulutnya. Tapi kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik, dan ia bukan orang yang suka mundur di tengah pertempuran. "Waktu di rumah Se Chang. Kau tidak takut. Itu... bagus."
Beberapa detik Feng Yao menatapnya. Lalu ia tertawa, benar-benar tertawa sampai bahunya berguncang, dan keranjang di tangannya hampir jatuh.
"Kenapa tertawa?"
"Tidak, tidak. Aku hanya belum pernah dipuji begitu." Ia mengusap sudut matanya. "Biasanya orang bilang aku cantik, atau pintar. Bukan kuat. Tapi terima kasih, aku suka."
Cantik. Pintar. Xiong Yan mencatat kedua kata itu dalam kepalanya dengan tekun. Untuk lain kali.
Di semak-semak tidak jauh dari jalan setapak, terdengar suara ranting patah.
Xiong Yan langsung menoleh. Tangannya sudah bergerak ke pinggang, tempat pedangnya biasa tergantung. Tapi hari ini ia tidak membawanya. Ia lupa, karena terlalu sibuk memikirkan langkah apa yang harus diambil.
Feng Yao ikut melihat ke arah semak. "Tadi ada yang..."
Kepala Xiong Ling muncul dari balik daun, dengan beberapa helai daun kering menempel di rambutnya. Ia tersenyum lebar, jelas berusaha terlihat wajar. "Selamat siang, Ketua. Nona Feng Yao. Aku sedang mencari... jamur."
"Kau tidak bawa keranjang," kata Xiong Yan.
"Aku menyimpannya di dalam kepala."
Feng Yao yang pertama membuka mulut. Suaranya sangat ramah. "Kalau begitu ikut saja. Aku baru tahu tempat yang banyak jamurnya."
"Tidak perlu," kata Xiong Yan.
"Dengan senang hati!" kata Xiong Ling.
Mereka bertatapan sebentar. Tatapan Xiong Yan seperti mengatakan bahwa Xiong Ling akan menghabiskan seminggu ke depan membersihkan kandang. Xiong Ling menerimanya dengan senyum polos.
Akhirnya mereka berjalan bertiga. Xiong Ling di belakang, memikul keranjang Feng Yao karena diam-diam ia berharap itu bisa mengurangi hukumannya. Xiong Yan berjalan di sebelah Feng Yao. Sejajar. Ia sendiri tidak sadar kapan ia pindah dari belakang ke samping.
Jamurnya memang banyak. Feng Yao memetik satu demi satu sambil menjelaskan mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Xiong Yan berjongkok di sampingnya, kadang menyerahkan yang ia temukan, kadang sekadar memperhatikan tangan Feng Yao yang cekatan memisahkan yang beracun.
Menjelang sore, saat matahari sudah rendah dan sungai berubah warna jadi jingga, mereka sampai di persimpangan jalan menuju pondok.
"Hari ini menyenangkan," kata Feng Yao. Ia menerima keranjangnya kembali dari Xiong Ling, yang buru-buru mundur beberapa langkah. "Besok kau datang lagi?"
Xiong Yan hampir menjawab *ya* terlalu cepat. Ia menahan diri. Bangun kedekatan secara perlahan, kata buku itu.
"Mungkin," katanya. "Ada beberapa laporan."
"Oh." Feng Yao mengangguk. Ia tersenyum, tapi senyumnya sedikit lebih tipis dari tadi. "Kalau begitu sampai nanti."
Xiong Yan berdiri di tempat lama setelah punggung Feng Yao menghilang di balik pagar. Baru ketika sosok itu sudah tak terlihat, ia sadar.
*Jangan bicara soal pekerjaan terus.*
Ia baru saja bicara soal pekerjaan. Sebagai alasan menolak.
"Ketua," kata Xiong Ling pelan dari belakang.
"Diam."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Kau mau bilang sesuatu."
"...Ya, sih."
Xiong Yan menghela napas panjang. Ia berjalan pulang dengan langkah berat, dan sepanjang jalan ia sibuk menyusun rencana untuk jilid ketiga. Kalau ada.