NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Tidak Beres 25.

Aroma minyak kayu putih, kasa steril, dan hawa dingin dari AC tua yang berisik langsung menyambut Zara begitu ia mendorong pintu geser UKS. Langkah kakinya yang semula tergesa-gesa—bahkan ia hampir menabrak tiang koridor karena panik melihat Langit cedera.

Namun kepanikan Zara justru membawanya tertahan di ambang pintu. Sepatu putihnya terpaku pada lantai vinil abu-abu.

Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu, di balik tirai putih yang hanya tersingkap separuh, tidak ada kepanikan.

Tidak ada erangan kesakitan yang dramatis. Yang ada hanyalah sebuah atmosfer yang begitu asing, begitu padat, dan entah sejak kapan... terasa teramat intim.

Di atas salah satu ranjang pasang, Langit sudah duduk menyandar. Jersi basket nomor punggung 07 miliknya tampak kusut, dipenuhi noda keringat setelah sesi tanding yang kacau tadi. Cowok itu salah mendarat saat melakukan lay-up di detik-detik terakhir kuarter keempat. Namun, fokus Zara bukan pada pergelangan kaki Langit yang kini sedang dikompres es batu.

Fokus Zara tertuju pada perempuan yang berlutut di lantai, tepat di depan Langit.

Ulfa. Sang Ketua OSIS teladan yang rambutnya selalu dikuncir kuda rapih. Hari ini, beberapa helai rambut depannya lolos, membingkai wajahnya yang sedang menunduk serius, membersihkan lecet di lutut Langit dengan kapas berlumur alkohol.

Di POV Zara jelas terdengar suara Ulfa bicara seperti ini,

"Kenapa melotot gitu? Masih sakit banget?"

"Gak demam, kan?" Suara Ulfa terdengar rendah, ketus seperti biasanya, namun ada nada tertahan yang belum pernah Zara dengar sebelumnya.

"Enggak, gak apa-apa," kata Langit, suaranya terdengar sangat lembut, bikin Ulfa sempat terpaku beberapa saat. "Makasih ya, Fa. Buat semuanya." Langit mendesis, tapi tubuhnya sama sekali tidak menjauh. Malah, tangan kirinya bergerak santai, bertumpu pada bahu Ulfa untuk menjaga keseimbangan.

Ulfa mendongak. Bukannya menepis tangan itu seperti yang biasa ia lakukan di depan ruang guru saat mereka berdua beradu argumen hingga merah padam, Ulfa justru hanya mengembuskan napas panjang.

Matanya menatap langsung ke manik mata Langit. Jarak wajah mereka tidak sampai tiga puluh sentimeter.

"I-iya, sama-sama. Udah kewajiban gue," jawab Ulfa pelan, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas.

Langit tidak menyahut. Dia hanya terkekeh kecil—sebuah kekehan rendah yang terdengar begitu akrab, begitu privat.

Cowok itu menjulurkan tangan kanan, lalu dengan ujung jarinya yang kasar karena sering memegang bola basket, ia menyelipkan sehelai rambut Ulfa yang berantakan ke belakang telinga cewek itu.

Ulfa tidak menghindar. Dia membeku selama dua detik, menatap Langit dengan binar mata yang tidak bisa diterjemahkan oleh Zara sebagai kebencian. Malah, Ulfa membiarkan sentuhan itu bertahan sejenak, sebelum kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan yang mendadak menjadi sangat hati-hati.

Di ambang pintu, jantung Zara seperti dihantam besi berat tak kasatmata. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis dan mencekik.

Selama ini, narasi yang beredar di sekolah—dan narasi yang selalu diceritakan Langit kepadanya setiap malam di telepon—adalah betapa menyebalkannya Ulfa. Langit selalu mengeluh tentang bagaimana Ulfa selalu mencari-cari kesalahannya, bagaimana mereka berdua tidak pernah bisa berada di satu ruangan tanpa berujung saling bentak, dan bagaimana Ulfa adalah "musuh bebuyutan" yang paling ingin Langit hindari.

Namun, pemandangan di depan Zara saat ini menghancurkan seluruh narasi itu berkeping-keping.

Orang tidak menatap musuhnya dengan kelembutan seperti itu.

Orang tidak membiarkan musuhnya menyentuh rambut mereka dengan jemari yang begitu santai, seolah-olah tindakan itu sudah menjadi rutinitas yang biasa dilakukan saat tidak ada orang yang melihat.

Zara mundur satu langkah. Pintu kayu di belakangnya berderit halus. Suara kecil itu rupanya cukup untuk memecah gelembung tak kasatmata yang melingkupi Langit dan Ulfa.

Kepala Langit langsung menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat siluet Zara yang berdiri kaku di sana, ekspresi santai di wajah cowok itu langsung lenyap, digantikan oleh kilatan kepanikan yang samar namun tertangkap jelas oleh radar insting Zara.

Tangan Langit yang tadinya berada di bahu Ulfa langsung ditarik jatuh ke sisi tubuhnya sendiri.

Ulfa pun langsung berdiri dengan tergesa, hampir saja menyenggol botol alkohol di atas nakas. Wajahnya yang semula tenang langsung berubah tegang, kembali memasang topeng formalitas khas Ketua OSIS-nya.

"Zara?" Langit memanggil namanya. Suaranya terdengar sedikit serak, mencoba terdengar biasa saja, tapi ada getaran gugup yang gagal ia sembunyikan. "Lo... sejak kapan di situ?"

Zara memaksakan sebuah senyuman. Ia mengatur napasnya, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang mendadak terasa perih. Ia melangkah masuk, membiarkan sepatu putihnya berbunyi nyaring di atas lantai, memutus sisa-sisa keintiman yang baru saja ia saksikan.

"Baru aja kok," bohong Zara. Suaranya terdengar renyah di telinga, tipe suara pacar yang perhatian, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang mulai retak. "Tadi saya liat lo jatuh parah sampai ditandu. Gue panik, makanya langsung ke sini."

Zara berjalan mendekat, sengaja mengambil posisi di sisi ranjang yang berseberangan dengan Ulfa. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Langit yang sedikit berkeringat, sebuah gestur kepemilikan yang sengaja ia tunjukkan. "Gimana? Mana yang sakit?"

"Cuma lecet sama terkilir dikit, Ra. Enggak apa-apa, besok juga sembuh," jawab Langit cepat, matanya bergerak-gerak gelisah antara Zara dan Ulfa yang kini berdiri agak menjauh di sudut ruangan, berpura-pura sibuk merapikan kotak P3K.

Zara menoleh ke arah Ulfa. Senyumnya masih terpasang, namun matanya menatap tajam, meneliti setiap gerak-gerik cewek itu. "Makasih Fa, lu udah bantuin obatin Langit. Sori ngerepotin, padahal tugas OSIS lo kan banyak."

Ulfa berbalik, membalas tatapan Zara dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. "Enggak apa-apa, Ra. Kebetulan tadi gue lagi piket UKS dan anak-anak PMR lagi ada rapat. Ini sudah jadi tanggung jawab gue buat mastiin semuanya ditangani."

Kalimat yang sangat rapi. Sangat diplomatis. Sangat Ketua OSIS.

Namun, Zara tidak buta. Ia melihat bagaimana jari-jari Ulfa sedikit bergetar saat menutup kotak P3K. Ia juga menyadari bagaimana Ulfa sama sekali tidak berani menatap mata Langit lagi sejak Zara melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Kalau gitu, gue permisi dulu. Masih ada berkas yang harus ditandatangani di ruang guru," kata Ulfa datar. Ia mengangguk sopan pada Zara, lalu berjalan melewati ranjang tanpa menoleh sedikit pun pada Langit.

Begitu pintu UKS tertutup rapat di belakang Ulfa, keheningan yang canggung langsung merayap di antara Zara dan Langit.

Zara duduk di kursi di samping ranjang, menatap pergelangan kaki Langit yang dibalut es. Pikirannya melayang, memutar kembali rekaman singkat beberapa menit lalu. Lelehan es yang menetes ke lantai vinil seolah menghitung mundur sesuatu yang Zara sendiri takutkan.

Ada sesuatu yang salah. Ada rahasia yang tersembunyi di balik pertengkaran-pertengkaran hebat yang selama ini dipamerkan Langit dan Ulfa di koridor sekolah. Dan untuk pertama kalinya dalam satu tahun hubungan mereka, Zara mulai mencium aroma kebohongan yang sangat pekat dari cowok yang berstatus sebagai pacarnya itu.

......................

...****************...

To be continue

1
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!