Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Raisa, pegang tanganku!"
"Raisa!"
"Raisa, kau dengar aku?"
Raisa melihat dirinya tenggelam bersama Angga ke dasar laut bersama sebuah cincin yang mereka beli sebelumnya, Angga berteriak menyerukan namanya saat mereka terus jatuh lebih dalam lagi ke dasar. Tiba-tiba gelap menyelimuti pandangannya namun suara Angga meneriakkan namanya masih terdengar di telinganya.
"Angga" panggilnya pelan.
Tubuhnya tiba-tiba bergerak tak karuan.
"Pak, ada apa dengan wanita ini?" Anak gadis pak RT yang kebetulan duduk diatas ranjang Raisa berteriak ketakutan, namun karena pak RT sudah lebih dulu pergi ke arah kota, yang datang menghampiri mereka hanyalah Indra dan pak Suparmin.
Melihat keadaan Raisa yang tak biasa mereka mencoba mengangkat setengah tubuh Raisa sembari menepuk-nepuk pelan wajah wanita ini. Perlahan suara nafas Raisa terdengar normal sebelum akhirnya ia membuka matanya perlahan. Orang yang ia lihat pertama kali bukanlah orang yang berada didalam mimpinya.
"Siapa kalian?" Tanyanya mencoba untuk duduk namun segera dihentikan oleh anak gadis pak RT.
"Kami menemukanmu di pantai, apa kamu tidak ingat?" Tanya pak Suparmin.
Raisa menggelengkan kepalanya perlahan, ia memeriksa jemarinya lalu tersenyum memeluk erat tangannya. Cincin di jari manisnya masih melekat dan bersinar sempurna dibawah cahaya lampu ruangan tersebut.
"Nak, siapa namamu? Dan dimana kamu tinggal?" Pak Suparmin kembali bertanya.
"Nama saya Raisa Pak!"
Indra menatap Raisa lekat, beberapa kali ia mengerutkan keningnya.
"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?" Batinnya.
"Pak, boleh saya meminjam ponsel anda? Saya perlu menghubungi keluarga saya!"
Pak Suparmin segera mengeluarkan ponselnya dan meminjamkannya pada Raisa, tanpa menunggu lama jemari lentik Raisa menekan dial panggilan telepon, duabelas angka yang berbeda-beda ia tekan disana. Satu panggilan telepon berdering kini terjadi, satu hingga dua menit belum ada respon dari balik sana.
"Kenapa? Apa tidak diangkat?" Tanya anak gadis pak RT.
Raisa tersenyum pahit sambil mengangguk pelan.
"Coba lagi saja!" Usul Indra lagi.
Disisi lain Angga bersama sopir pribadinya tengah berada di dalam mobil menuju perusahaan keluarganya, yang mana saat ini ialah yang mengelolanya bersama dengan Steven yang menjabat sebagai CEO muda. Ponsel Angga yang tanpa sengaja terjatuh dari kantongnya kebawah kursi membuat lelaki itu tak menyadari adanya sebuah panggilan telepon dari nomor tak dikenal.
"Tidak diangkat!" Ucap Raisa putus asa.
"Yahh, mungkin saja dia tidak peduli lagi denganku. Tidak, tidak, memangnya sejak kapan dia peduli padaku?" batinnya lagi.
"Pak, saya harus pulang!"
Ketiga orang di hadapan Raisa saling bertukar pandang, namun Indra dengan sigap memberikan ponselnya pada Raisa.
"Tuliskan saja alamatmu, nanti saya bantu kamu untuk pulang. Tapi sebelum itu, saya ingin bertanya. Apa sebelumnya kamu merupakan korban kekerasan? Apa ada orang yang mendorongmu sehingga kamu hanyut di pantai?"
Setelah mendengar pertanyaan Indra, Raisa kembali teringat akan kejadian beberapa hari lalu, mendadak ia merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya hingga membuat hidungnya mengeluarkan darah segar. Mengira kalau hidungnya hanya berair saja maka Raisa mengusap hidungnya dengan punggung tangannya.
"Aaaa, hidungmu!" Seru Indra menunjuk hidung wanita tersebut dengan wajah panik.
Melihat darah di telapak tangannya membuat Raisa panik bahkan nyaris jatuh pingsan, beruntung Indra dengan sigap menarik lengannya untuk kembali duduk dengan tegap.
"Maaf, tapi kepalaku sakit sekali" ucapnya meringis.
Indra juga gadis disebelahnya membantu Raisa untuk berbaring dan beristirahat, tak lama Indra dan Pak Suparmin pamit untuk pulang meninggalkan Raisa yang kini terlelap tidur. Sementara Raisa berbaring dengan kondisi tubuhnya yang memprihatinkan, Steven baru saja tiba di kantor polisi dan segera mengajak beberapa kenalannya disana untuk membicarakan Raisa yang sudah menghilangkan beberapa hari ini. Tanpa ia sadari salah satu polisi yang ia ajak bicara itu merupakan salah satu dari beberapa orang yang diperintahkan oleh Angga untuk mencari tahu keberadaan Raisa.
"Aku harus memberitahu Pak Angga!" Ucapnya sembari mengirimkan foto Steven yang berada tepat dihadapannya.
"𝑃𝑎𝑘, 𝑎𝑑𝑖𝑘 𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒 𝑘𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑜𝑙𝑖𝑠𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑘𝑒𝑏𝑒𝑟𝑎𝑑𝑎𝑎𝑛 𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖 𝑎𝑛𝑑𝑎, 𝑎𝑝𝑎 𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖𝑛𝑦𝑎?"
Ting
Pesan baru terkirim pada ponsel Angga, lelaki yang baru saja tiba di parkiran perusahaan mereka meraba sakunya, ia baru menyadari kalau ponselnya tak lagi berada disakunya. Dirabanya kebawah kursi dan tak lama benda pipih itu ia temukan dalam keadaan menyala, melihat sebuah pesan dan beberapa panggilan telepon diberandanya membuatnya kebingungan.
Digulirnya layar ponselnya serta membaca pesan yang baru saja dikirim oleh salah seorang polisi yang dikenalnya tersebut.
"Steven? Untuk apa dia mencari istriku?" Batin Angga tidak menyukai tindakan Steven.
"Apa jangan-jangan dia mencurigaiku?"
"Selamat pagi, Angga!"
Sapa seorang wanita dari arah pintu masuk parkiran, Angga memutar lehernya untuk melihat siapa yang memanggilnya begitu mesra.
"Kamu!"
"Kenapa kamu terkejut? Bukankah kita sudah biasa bertemu?" Tanya Arni menghampiri Angga.
Dengan sigap Angga mematikan telfonnya membuat ia mengabaikan panggilan telepon dari nomor baru itu. Arni mendorong kursi roda calon kakak iparnya tersebut sambil tersenyum, sementara Angga memutar bola matanya malas.
Ia sangat membenci Arni terutama setelah mengetahui bahwa mantan pacarnya tersebut kini menjalin hubungan dengan adik kandungnya sendiri.
"Lepaskan, aku bisa sendiri!"
"Aku tau, tapi aku ingin mengantarkan mantan pacarku yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparku!" Ujar Arni dengan bangganya.
"Cihhhh!" Ejek Angga menyunggingkan bibirnya.
"Apa kau seseneng itu?"
"MMMMM!" Arni bergumam dan terus mendorong Angga masuk ke dalam lift, segera setelah mereka sampai diruang kerja lelaki itu dan menyapa beberapa karyawan, Arni menghentikan langkahnya begitu Angga duduk didepan meja kerjanya.
"Terimakasih, kamu sudah boleh pergi!" Ucap Angga membuka satu persatu berkas diatas mejanya.
Namun bukannya pergi sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Angga, Arni justru menurunkan badannya lalu duduk diatas kedua kaki Angga. Tangannya dengan lembut meraba wajah hingga dada bidang lelaki itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Tanya Angga mengerutkan keningnya.
Arni tersenyum menatap mata Angga lekat, sejenak Angga terbuai dengan rayuan Arni, ia kembali mengingat masa-masa saat mereka masih bersama sebelum kakinya dinyatakan lumpuh permanen.
"Angga, jujur saja aku masih sangat mencintaimu!" Ujar Arni meraba jakun di leher jenjang lelaki itu.
Angga segera menepis tangan Arni, menatap tajam matanya seolah ia sedang mengintimidasinya, alih-alih takut Arni justru menyisihkan rambut dilehernya lalu memeluk Angga hingga lehernya bersentuhan dengan bibir Angga.
"Aku tidak ingin menikah dengan Steven, aku masih sangat mencintaimu. Melihatmu bersama kakak tiriku membuatku menderita, bertahun-tahun aku menunggumu kembali padaku, Angga"
"Cihhhh! Omong kosong, pergi dari sini sekarang juga!"
Angga mendorong Arni dengan kasar.
"Kau masih saja murahan, apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kau sendiri yang meminta pada ibumu yang sama murahannya itu denganmu untuk menukar pengantin wanitanya?"
Arni terkejut bukan kepalang, tak menduga Angga mengetahui tentang hal itu sebelumnya.
"Angga, jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku melakukannya?"
Arni mengelak membuat mantan pacarnya itu semakin muak. Kembali Arni mendekati Angga, mengulurkan tangannya kedalam jas Angga, meraba sesuatu yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
"Arni, jangan kurang ajar atau aku akan memberitahu Steven tentang kelakuan murahan mu ini!"
"Beritahu saja, aku juga ingin melihat apa adikmu yang bodoh itu akan percaya padamu atau padaku, hahahaha!"
Gelak tawa Arni terdengar begitu menjijikkan, bagaimana tidak? Dengan bangganya ia menggoda calon kakak iparnya lalu mengolok-olok calon suaminya tanpa rasa bersalah. Lelaki ini menggelengkan kepalanya dan dengan sekuat tenaga mendorong Arni menjauh darinya.
"ARMAN!" Teriak Angga memanggil sebuah nama dan tak lama orang yang bernama Arman itu membuka pintu ruang kerja Angga, tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Arman dapat mengerti maksud bosnya. Segera ia menyeret Arni keluar dari ruangan tersebut hingga beberapa karyawan didepan ruangan Angga menatap keheranan padanya.
"Menjijikkan!" Batin Angga tak percaya pada apa yang baru saja disaksikannya.