Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Waktu seolah melambat.
Dalam hitungan sepersekian detik itu, otak Kayna bekerja seperti kalkulator militer. Jarak ke lampu gantung adalah tiga meter. Berat kristal sekitar dua ratus kilogram. Kecepatan jatuh bebas cukup untuk meremukkan dua tengkorak sekaligus. Probabilitas kematian instan: 95%.
Sempurna!!
Kayna menyambar tangan Freya yang terulur, mencengkeram pergelangan gadis itu dengan kekuatan yang mengejutkan, dan menariknya keras ke arah pusat ruangan, tepat di bawah lampu gantung kristal raksasa yang berkilauan.
"Kak Kayla?!" Freya terpekik kaget, kakinya tersandung gaunnya sendiri.
Satu langkah lagi, batin Kayna, matanya tertuju pada rantai besi yang menahan lampu gantung di langit-langit. Satu langkah lagi dan kita berdua akan menjadi sejarah.
Tapi perhitungan Kayna memiliki satu variabel yang tidak ia perhitungkan yaitu Duke Adrian.
Pria itu bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Sebelum Kayna sempat menarik Freya ke posisi yang tepat, sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya dan menariknya ke belakang dengan kekuatan penuh. Tubuh Kayna terangkat dari lantai, berputar di udara, dan menghantam dada Adrian yang keras seperti dinding batu.
"LEPASKAN!" teriak Kayna, memberontak. "KAU MERUSAK MOMENKU LAGI!"
"TIDAK!" balas Adrian, suaranya pecah, mencengkeram Kayna begitu erat hingga tulang rusuknya berderit.
Dalam kekacauan itu, Freya yang kehilangan pegangan terhuyung ke depan. Kakinya yang kecil tersandung ujung karpet, dan gadis itu jatuh terduduk tepat di bawah lampu gantung.
Dan kemudian, sesuatu yang tidak direncanakan oleh siapa pun terjadi.
Saat Adrian menjatuhkan dirinya ke lantai bersama Kayna untuk menghindari tabrakan dengan para tamu yang panik, sepatu botnya menghantam kaki sebuah pilar dekoratif yang menopang mekanisme katrol lampu gantung. Pilar itu bergeser. Rantai besi berderit. Dan dengan suara KRAK yang memekakkan telinga, salah satu dari empat rantai penahan lampu gantung itu putus.
Lampu gantung raksasa itu miring. Kristal-kristalnya berdenting seperti lonceng kematian. Rantai kedua menyusul. Lalu ketiga.
Seluruh ruang perjamuan menjerit.
Lampu gantung itu jatuh.
Tepat ke arah Freya yang masih terduduk di lantai, matanya membelalak ngeri, mulutnya terbuka dalam teriakan tanpa suara.
Kayna melihat semuanya dari lantai, masih terjepit di pelukan Adrian. Otaknya menghitung Freya akan mati. Lampu gantung akan meremukkannya. Dan aku... aku aman di sini, di pelukan Adrian, jauh dari zona dampak.
Bagus, pikir Kayna. Setidaknya satu dari kita akan mati malam ini. Bukan aku, tapi...
Tubuhnya bergerak sebelum otaknya memberi izin.
Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, mungkin dari memori otot Kayla, mungkin dari dua puluh tahun hidup sebagai anak yang tidak diinginkan tapi tidak pernah ingin melihat orang lain menderita.. Kayna melepaskan diri dari pelukan Adrian, meluncur di atas lantai marmer yang licin, dan mendorong Freya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
"MINGGIR, BODOH!" teriak Kayna.
Freya terlempar ke samping, berguling di atas karpet.
BRUUUUK!!!
Lampu gantung kristal seberat dua ratus kilogram itu menghantam lantai marmer tepat di tempat Freya duduk setengah detik yang lalu. Ledakan kristal dan pecahan kaca menyebar ke segala arah seperti bom. Lilin-lilinnya memercikkan api ke karpet sebelum para penjaga segera memadamkannya.
Debu kristal menggantung di udara seperti salju yang salah musim.
Hening.
Seluruh ruang perjamuan terdiam dalam keheningan yang absolut. Ratusan bangsawan berdiri membeku, gelas anggur masih di tangan, mulut terbuka lebar. Raja sendiri berdiri dari singgasananya, mahkotanya miring karena terkejut.
Di tengah reruntuhan kristal, Kayna berbaring telentang. Gaun putih pucatnya kini tertutup debu dan goresan kecil. Rambutnya berantakan. Ada potongan kristal kecil yang tersangkut di alisnya.
Ia menatap langit-langit istana yang kini memiliki lubang besar di tempat lampu gantung itu dulu tergantung.
Hidup, batin Kayna datar. Aku masih hidup. Sial.
..gagal terus🤣