NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bau tajam cairan antiseptik dan aroma khas rumah sakit menusuk indra penciuman saat kelopak mata itu perlahan terbuka. Pandangan yang tadinya gelap bertahap menjadi terang, meski dibayangi rasa pusing yang teramat sangat. Sebuah jarum infus menancap di punggung tangan yang tampak kurus dan kasar. Lexa berusaha menggeser posisi tubuhnya untuk melepaskan rasa pegal, namun saat niat itu dieksekusi, gelombang rasa sakit yang luar biasa dahsyat seketika menghantam seluruh persendian dan tulang rusuknya.

"Ssshh... ahkk!" Lexa merintih kesakitan. Tubuhnya bagaikan dihantam remuk oleh beban seberat ton-tonan. Bahu kanan, punggung, dan kakinya terasa berdenyut ngilu yang tak tertahankan dampak dari himpitan lemari tua saat gempa menguncang sekolah kemarin. Ia bahkan tak sanggup sekadar mengangkat lengannya sendiri.

Dengan susah payah, Lexa memutarkan kepalanya yang terasa berat ke arah samping kanan. Di ranjang sebelah yang dipisahkan oleh tirai tipis berwarna pucat, terbaring sesosok tubuh gadis berselimut putih dengan berbagai alat pemantau detak jantung bertengger di sekelilingnya. Masker oksigen menutupi separuh wajah gadis itu.

Mata Lexa membelalak lebar. Jantungnya berdegup liar.

Gadis yang terbaring koma tak berdaya di ranjang sebelah itu... adalah dirinya sendiri. Wajah berseri, kulit halus terawat, dan rambut panjang khas Lexa terhampar kaku di atas bantal rumah sakit.

"Nggak... Ini nggak mungkin! Ini pasti mimpi buruk!" jerit Lexa di dalam hatinya, kepanikan murni mulai merayapi seluruh dinding kesadarannya.Belum sempat otaknya yang kacau mencerna keanehan mistis tersebut, pintu kamar perawatan mendadak terdorong terbuka. Langkah-langkah kaki yang terburu-buru berderap masuk. Papa dan Mama Lexa melangkah masuk dengan raut wajah yang amat cemas dan mata yang sembab bekas menangis. Namun, di belakang mereka, mengekor seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana dengan kain batik kusam,ibu penjual sayur yang merupakan ibunya Maya.

"Papa! Mama!" panggil Lexa dengan suara serak dan lemah dari ranjangnya. Ia mencoba melambaikan tangan, berharap orang tuanya segera berlari memeluknya.

Namun, sesuatu yang mengerikan terjadi. Papa dan Mama Lexa sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Mereka melewati ranjang Lexa begitu saja seolah suara panggilannya tak berarti, lalu langsung menghambur ke ranjang sebelah tempat tubuh Lexa yang asli terbaring koma.

"Lexa... Sayang, bangun, Nak..." bisik Mama Lexa sambil menangis histeris, memegang jemari kaku tubuh Lexa yang koma. Papanya berdiri di samping bed, menatap tubuh anaknya yang tak sadarkan diri dengan raut rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.

Sebaliknya, sosok yang justru berjalan mendekati ranjang tempat Lexa terbangun adalah wanita paruh baya berpakaian kusam itu. Dengan linangan air mata haru dan napas tersengal, ibu penjual sayur itu langsung berlutut di samping tempat tidur Lexa, menggenggam erat tangan kurus yang terpasang infus.

"Maya... Alhamdulilah, Nak! Kamu sudah sadar, Sayang!" tangis wanita itu pecah seraya mengelus lembut dahi Lexa dengan tangannya yang kasar akibat kerja keras saban hari di pasar. "Maafkan Ibu ya, Nak... Ibu terlambat datang. Ibu takut sekali kehilangan kamu..."Lexa membeku kaku. Suara panggilannya tercekat di tenggorokan.

"Kenapa ibu miskin ini manggil gue Maya?! Kenapa Papa sama Mama nggak peduli sama gue?!"

Dalam kepanikan yang membuncah hebat, Lexa memutar matanya liar ke sekeliling ruangan. Pandangannya tertambat pada sebuah tiang infus dari bahan stainless steel mengilap di dekat tempat tidurnya. Dari permukaan logam tebal itu, terpantul sebuah bayangan wajah.

Di sana, bukannya wajah cantik dan terawat milik sang ratu sekolah, melainkan paras bersahaja dari seorang gadis miskin dengan lingkaran hitam di bawah mata dan kulit yang sedikit pucat. Wajah Maya.

Lexa menjerit histeris di dalam hatinya. Ia mencoba berteriak menyuarakan kebenaran, namun tenggorokannya yang mengering akibat trauma dan rasa sakit luar biasa hanya sanggup mengeluarkan cicitan lemah.

Kenyataan pahit yang tak masuk akal menghantam jiwa Lexa tanpa ampun,ia telah terbangun di dalam tubuh Maya gadis penjual sayur yang selama ini sangat ia benci, ia hina, dan ia siksa.

Ia sama sekali tidak mengetahui kronologi bencana setelah gempa dahsyat kemarin merobohkan gedung sekolah. Saat guncangan gempa akhirnya mereda, Hani, Lana, dan Aurel yang berhasil menyelamatkan diri ke luar lapangan, dengan gemetar dan wajah pucat pasi melaporkan kepada para guru bahwa Lexa dan Maya masih terjebak di lorong dekat perpustakaan.

Tim penyelamat dan para guru langsung menembus reruntuhan semen dan debu yang membumbung pekat. Mereka menemukan tubuh Lexa dan Maya tergeletak tak sadarkan diri di bawah reruntuhan lemari kayu tua yang meremukkan tempat mereka berada. Tanpa membuang waktu, pihak sekolah segera melarikan kedua siswi itu dengan ambulans menuju rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis.Namun, di bawah takdir misterius yang tak terjangkau oleh logika manusia, benturan keras dan keajaiban alam saat gempa bumi terjadi telah menukar jiwa mereka.Kini, takdir telah berputar balik secara mengerikan. Lexa terbangun menanggung derita di dalam tubuh Maya,tubuh kurus yang kini merintih kesakitan yang amat sangat akibat ulah kejam dan pukulan balok kayunya sendiri beberapa saat sebelum gempa meruntuhkan sekolah.

Sambil menatap ibunya Maya yang menangis haru di sampingnya dan menyaksikan kedua orang tua kandungnya sendiri membelakanginya demi meratapi tubuh aslinya yang koma, Lexa meremas seprai rumah sakit dengan jemarinya yang gemetar. Air mata penyesalan dan keputusasaan merembes membasahi pipinya, menyadari bahwa roda karma kini resmi berputar, menyegel dirinya dalam kehidupan penuh penderitaan dari orang yang paling ia tindas.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!