Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pras menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, menatap layar komputer yang sejak tadi menampilkan laporan keuangan perusahaan.
Sudah hampir sepuluh menit ia membaca halaman yang sama, tetapi tidak satu pun angka berhasil masuk ke dalam pikirannya.
Entah sejak kapan, konsentrasinya menjadi begitu buruk.
Biasanya, pekerjaan adalah tempat terbaik baginya untuk mengalihkan perhatian dari masalah pribadi. Namun, belakangan ini, bahkan ketika berada di tengah rapat penting sekalipun, pikirannya selalu kembali pada dua perempuan yang kini memenuhi kehidupannya.
Mikha dan Alena.
Dua nama yang dulu memiliki tempat berbeda di hatinya, tetapi sekarang justru membuatnya terjebak dalam kebingungan yang tidak pernah ia bayangkan.
Pras mengusap wajahnya kasar, lalu meraih ponsel di atas meja.
Ada beberapa pesan dari Alena yang belum dibalas. Perempuan itu kembali menanyakan janji mobil yang pernah ia ucapkan. Bahkan, pagi tadi, Alena sempat mengirimkan foto sebuah mobil yang diinginkannya, lengkap dengan pesan bahwa ia tidak mau terus-menerus menunggu.
Pras mengembuskan napas panjang.
Dahulu, ia akan dengan senang hati memenuhi keinginan perempuan itu. Apa pun yang diminta Alena selalu terasa penting baginya. Ia bahkan rela melakukan banyak hal hanya demi melihat senyum perempuan yang pernah begitu ia inginkan.
Namun, sekarang?
Melihat pesan-pesan itu saja sudah membuat kepalanya pening.
Bukan karena ia tidak memiliki uang, melainkan karena ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan yang dilakukannya benar-benar sepadan.
Pikirannya justru beralih kepada Mikha.
Kepada istrinya yang selama tujuh tahun selalu menunggunya pulang. Kepada perempuan yang mengetahui kebiasaan-kebiasaan kecilnya, yang hafal makanan kesukaannya, dan yang tanpa banyak bicara selalu memastikan segala sesuatu di rumah berjalan sebagaimana mestinya.
Pras terdiam.
Anehnya, semakin ia memikirkan Mikha, semakin besar pula kerinduan yang muncul di dalam dadanya.
Ia merindukan suara perempuan itu ketika menyambutnya pulang. Merindukan pertanyaan sederhana tentang bagaimana harinya berlangsung. Bahkan, ia mulai merindukan kebiasaan Mikha yang sering mengomel ketika dirinya terlalu sibuk bekerja sampai lupa makan.
Dulu, semua itu terasa biasa.
Terkadang, ia bahkan merasa terganggu karena Mikha terlalu memperhatikannya.
Sekarang, ketika perhatian itu mulai berkurang, Pras justru merasa kehilangan.
Seolah-olah rumah yang selama ini selalu terbuka untuknya perlahan-lahan menutup pintunya.
Pras menggelengkan kepala.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Ia tidak pernah merencanakan perubahan perasaan ini. Selama bertahun-tahun, ia meyakini bahwa Alena adalah perempuan yang benar-benar diinginkannya. Bahkan, keinginannya untuk menikahi perempuan itu membuatnya berani mempertaruhkan rumah tangganya sendiri.
Namun, semakin dekat hari pernikahan yang dijanjikannya kepada Alena, semakin besar pula keraguan yang muncul.
Ia mulai takut kehilangan Mikha.
Dan yang lebih menakutkan, ia mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Alena tidak lagi sebesar dahulu.
Menjelang sore, Pras memutuskan meninggalkan kantor lebih awal. Ia menghubungi Tegar, sahabatnya sejak kuliah, dan mengajaknya bertemu di sebuah kafe yang biasa mereka kunjungi.
Tegar sudah duduk di sudut ruangan ketika Pras tiba.
Begitu melihat wajah sahabatnya, Tegar langsung mengernyit.
"Lo kenapa? Muka lo kayak orang yang baru kehilangan seluruh hartanya."
Pras menjatuhkan tubuhnya ke kursi di hadapan Tegar
"Lebih parah dari itu."
Tegar tertawa kecil. "Memangnya apa yang terjadi?"
Pras terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
"Gue mulai bingung sama perasaan gue sendiri."
Tegar yang semula hendak menyeruput kopi menghentikan gerakannya.
"Perasaan?"
Pras mengangguk.
"Gue merasa mulai mencintai Mikha."
Kalimat itu membuat Tegar menatapnya lekat-lekat.
"Mikha? Istri lo sendiri?"
"Iya."
"Lalu, Alena?"
Pras mengusap tengkuknya, terlihat frustrasi.
"Itu masalahnya. Gue merasa perasaan gue ke Alena mulai berkurang. Padahal, dulu gue yang paling ingin menikahi dia. Gue yang mengejar dia, gue yang menjanjikan masa depan sama dia. Bahkan, gue sudah bilang kalau tahun ini gue akan menikahinya."
Tegar meletakkan cangkirnya.
"Jadi, sekarang lo menyesal?"
"Gue nggak tahu." Pras menunduk. "Gue cuma merasa semuanya jadi rumit. Semakin gue memikirkan perceraian sama Mikha, semakin gue nggak rela kehilangan dia. Tapi kalau gue membatalkan pernikahan sama Alena, gue juga merasa bersalah. Gue sudah terlalu banyak menjanjikan sesuatu kepadanya. Dia pacar aku sejak kita SMA..."
Tegar menghela napas.
"Pras, gue mau tanya sesuatu. Selama ini, lo mempertahankan keinginan menikahi Alena karena benar-benar mencintai dia, atau karena lo merasa harus menepati janji?"
Pras terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi justru sulit dijawab.
Dahulu, ia yakin jawabannya adalah cinta. Namun, sekarang ia tidak lagi tahu apakah perasaan itu masih sama atau hanya tersisa kebiasaan mengejar sesuatu yang pernah begitu diinginkannya.
"Gue sudah terlanjur janji," jawabnya akhirnya.
Tegar mengangguk pelan.
"Itu bukan jawaban."
Pras mendongak.
"Lo harus bedain antara mencintai seseorang dan merasa bertanggung jawab atas janji yang pernah lo buat. Kalau lo menikahi Alena hanya karena nggak enak membatalkan janji, apa lo yakin bisa membahagiakan dia?"
Pras tidak menjawab.
"Dan satu lagi," lanjut Tegar. "Jangan sampai lo mengambil keputusan hanya karena sekarang lo takut kehilangan Mikha. Bisa jadi lo baru menyadari betapa berharganya istri lo setelah lo merasa dia nggak lagi bergantung sama lo."
Ucapan itu membuat Pras teringat perubahan sikap Mikha belakangan ini.
Istrinya tidak lagi banyak bertanya. Tidak lagi berusaha mencari tahu ke mana ia pergi atau dengan siapa ia berbicara. Bahkan, ketika mereka berada di ruangan yang sama, Mikha terkadang bersikap seolah-olah keberadaannya tidak terlalu penting.
Sikap itu membuat Pras gelisah.
Ia tidak pernah membayangkan Mikha bisa berhenti memperjuangkannya.
"Terus, gue harus bagaimana?" tanyanya lirih. "Gue nggak mau kehilangan keduanya."
Tegar menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kalau lo tanya pendapat gue, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Pikirkan tanggung jawab lo sebagai suami, juga janji yang sudah lo berikan kepada Alena. Jangan bertindak cuma berdasarkan rasa takut."
Pras mengangguk, tetapi wajahnya masih terlihat kusut.
Tegar kemudian menambahkan, "Dan kalau lo memang masih ingin menikahi Alena, sementara lo juga masih ingin mempertahankan Mikha, secara hukum di Indonesia ada aturan yang harus lo pahami. Poligami bukan sesuatu yang bisa dilakukan begitu saja. Ada syarat dan prosedur hukum yang harus dipenuhi."
Pras mengangkat wajahnya.
Namun, alih-alih memikirkan kerumitan hukum tersebut, pikirannya justru menangkap kemungkinan lain.
Mempertahankan Mikha sekaligus menikahi Alena.
Bukankah itu bisa menjadi jalan keluar?
Selama ini, ia selalu menganggap bahwa untuk bersama Alena, ia harus mengakhiri pernikahannya dengan Mikha. Akan tetapi, jika ia bisa menjalani keduanya, mengapa harus kehilangan salah satu?
Pras mulai merasa menemukan jawaban yang dicarinya.
"Gue rasa lo benar," katanya tiba-tiba.
Tegar mengernyit. "Benar soal apa?"
"Gue nggak harus kehilangan salah satu dari mereka."
Tegar menatapnya dengan curiga.
"Pras, gue nggak bilang begitu."
"Tapi lo sendiri bilang gue harus memikirkan semuanya matang-matang." Pras mulai berbicara dengan nada yang lebih mantap.
"Gue masih punya tanggung jawab sama Mikha. Dia istri gue selama tujuh tahun. Gue juga nggak bisa begitu saja meninggalkan Alena setelah semua janji yang gue berikan."
Tegar mengusap wajahnya.
"Jangan memelintir ucapan gue. Mempertahankan keduanya bukan berarti lo bisa mengabaikan perasaan mereka. Lo harus jujur, Pras."
"Gue tahu."
Namun, dari nada suaranya, Tegar bisa melihat bahwa sahabatnya itu sudah membangun kesimpulan sendiri.
Pras meraih cangkir kopinya, lalu menyesapnya perlahan.
Dahulu, ia mengira kebahagiaan hanya bisa didapatkan dengan memiliki perempuan yang paling diinginkannya.
Sekarang, ia justru ingin mempertahankan perempuan yang selama ini selalu ada untuknya, sekaligus tetap mendapatkan perempuan yang pernah menjadi impiannya.
Lelaki boleh saja memiliki lebih dari satu istri, pikirnya. Bukankah ada laki-laki yang menjalani kehidupan seperti itu?
Kalau memang memungkinkan, ia tidak ingin melepaskan Mikha ataupun Alena.
Ia akan menikahi Alena sesuai janjinya, tetapi juga mempertahankan Mikha sebagai istrinya.
Dengan begitu, ia tidak perlu kehilangan masa lalu yang memberinya kenyamanan maupun masa depan yang pernah begitu diimpikannya.
Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.
Pras tidak menyadari bahwa dalam benaknya, kedua perempuan itu mulai diperlakukan seperti dua pilihan yang bisa dipertahankan tanpa mempertimbangkan apakah mereka bersedia berbagi.
Sementara itu, Tegar hanya bisa menatap sahabatnya dengan perasaan khawatir.
Ia mengenal Pras cukup lama untuk mengetahui bahwa lelaki itu sering kali menganggap keinginannya sendiri sebagai jalan keluar terbaik.
I
"Pras," panggil Tegar sekali lagi. "Ingat, keputusan lo bukan cuma soal apa yang lo mau. Ada perasaan orang lain yang harus lo pertimbangkan."
Pras mengangguk singkat.
"Iya. Gue mengerti."
Padahal, pikirannya sudah melangkah jauh.
Ia akan tetap menikahi Alena tahun ini. Ia tidak ingin dianggap sebagai lelaki yang mengingkari janji.
Namun, ia juga tidak akan membiarkan Mikha pergi begitu saja.
Perempuan itu masih istrinya. Masih bagian dari hidupnya. Dan sekarang, ketika kemungkinan kehilangan Mikha mulai terasa nyata, Pras baru menyadari bahwa ia belum siap melepaskannya.
Ia ingin Alena menjadi masa depan yang pernah dijanjikannya.
Namun, ia juga ingin Mikha tetap menjadi rumah tempatnya pulang.
Pras tersenyum tipis, merasa telah menemukan solusi atas kebingungannya.
Sayangnya, ia belum memahami satu hal penting.
Tidak semua orang yang dicintai bersedia menerima keadaan yang ia pilih. Dan tidak semua janji yang pernah diucapkan bisa menjadi alasan untuk terus mempertahankan seseorang tanpa kejujuran.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭