Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Siap Belum?
Bab 35
“Mas Bara dikasih bunga, sama siapa?” Ruby menghampiri meja dan mengangkat buket bunga yang terlihat cantik itu. “Udah sering begini ya? Pasti dari perempuan, nggak tahu dia berhadapan sama Ruby Silvia Gunawan. Belum pernah kena cakar monyet kali, biar nanti Si Meldy yang nyakar.”
Bara bersedekap mendengarkan ocehan istrinya.
“Mas,” pekik Ruby karena Bara diam saja. “Ini dari siapa?”
“Perlu dibahas?”
“Perlulah. Dari pada aku ngamuk, efeknya bisa lebih dahsyat dari letusan anak krakatau.”
Langkah Bara mendekat lalu mengambil selempang di atas meja yang dilewatkan oleh istrinya itu. “Pertanyaannya bukan dari siapa, tapi untuk siapa.” Memakaikan selempang kelulusan sarjana, atas nama istrinya.
“Loh, ini?”
“Ini untuk kamu, termasuk buket bunganya.”
“Mas Bara yang siapkan?” tanya Ruby diangguki oleh Bara.
“Jad, siapa yang mau dicakar, sekarang?”
Ruby terkekeh senang, menatap buket bunga di tangannya. “Ya ampun, mas dosen sweet banget sih. Jadi, makin suka deh.”
“Makin apa?”
“Eh, fotoin mas. HP aku di tas,” ujarnya menunjuk ke sofa.
Alih-alih mengambilkan ponsel, Bara melangkah mengikis jarak. Matanya terkunci pada wajah istrinya.
“Mas ….”
“Makin apa?”
Ruby menelan saliva, semakin ke sini Barata tidak bisa diajak bercanda. Insting dan naluri pria dewasanya mulai terkuak. Selalu bisa membalas dan membuatnya tidak berkutik.
“Mas Bara mau apa.” Ruby melangkah mundur tapi terbentur ujung meja. Tidak mungkin menghindar dengan bergeser ke kiri atau kanan, karena kedua tangan Bara sudah mengantisipasinya. Seolah mengungkung dengan kedua tangan bertumpu pada meja.
“Jawab, kamu makin apa?”
“Mas, sumpah aku makin lapar. Bisa nggak kita seriusnya nanti lagi.”
“Aku pun sudah sangat lapar, apalagi kamu sering memancing dahaga akan sisi liarku.”
Ruby tidak bisa berkutik, salahnya sendiri. ia menelan saliva saat wajah Bara semakin dekat.
“Mas, kita di kampus loh. Ini ….”
Bara menjauhkan wajah dan tubuhnya. Tidak ingin kepergok dalam posisi tidak elok bersama Ruby meski status mereka suami istri, citra dan wibawanya akan tercoreng. Ia akan sabar, sebentar lagi.
“Kita pulang, aku ingin hadiahku sekarang!”
“Ha-diah?”
“Hm.”
Bara menghubungi Ardi agar ke ruangannya. Tidak ingin melewatkan momen tersebut, Ardi diminta memfoto ia dan Ruby lengkap dengan selempang dan buket bunga di tangan. Lagi-lagi Ruby bertingkah dengan berjinjit mencium pipi Bara dan momen itu berhasil diabadikan oleh Ardi.
***
Tidak bisa menolak saat Bara mengajak Ruby pulang meski hari masih siang, tapi bukan ke rumah melainkan ke apartemennya. Sebelumnya mereka sempat mampir untuk makan siang.
Sejak keluar dari mobil menuju lift bahkan sampai ke unit, mulut Ruby terkunci. Ia bukan gadis remaja yang polos, tentu saja tahu maksud Bara mengajaknya mampir ke apartemen. Sudah pasti bukan main robl0x.
“Aku ganti pass code dengan tanggal pernikahan kita,” ucap Bara mengutak atik smart lock. Tidak ingin tiba-tiba Meldy datang dan melihat apa yang mereka lakukan.
“Kita mau ngapain mas?” tanya Ruby sambil melepas sepatu dan meninggalkan begitu saja. meletakan buket bunganya di atas meja, lalu melepas selempang. “Ah iya, aku mau bawa barang-barangku. Mas Bara paham banget kebutuhan istrinya.” Memasuki kamar untuk menghindar dari Bara. Nyatanya Bara langsung menyusul. “Mas Bara...." ucapnya lirih. Mendadak gugup ketika menyadari jarak di antara mereka terkikis habis.
Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri tepat di belakang Ruby, meletakkan kedua tangannya di bahu sang istri. Sentuhan jemarinya yang hangat menelusuri leher, membuat gadis itu merem4s roknya sendiri.
Agak menunduk, Bara berbisik tepat di samping telinga Ruby. Suaranya terdengar berat dan dalam, mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh. "Hadiahnya aku buka sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk menghindar.” Tubuh Ruby perlahan dibalik oleh Bara.
Ruby menelan ludah, kini berhadapan langsung dengan dada bidang suaminya. Pipi Ruby memerah sempurna. "Siapa yang menghindar."
"Bagus kalau gitu," Bara tersenyum tipis, senyuman intens yang membuat jantung Ruby berdegup dua kali lebih cepat.
Tangan Bara merengkuh pinggang Ruby, menyatukan jarak di antara mereka tanpa merenggangkan celah sedikit pun. Sebelah tangannya mengusap lembut rahang Ruby, menatap bibir istrinya sebelum menyapukan kecupan hangat di sana. Mula-mula lembut dan penuh kehati-hatian, lalu perlahan berubah menjadi tuntutan yang lebih dalam.
"Mas…." ucap Ruby lirih di sela sela napasnya yang mulai tak beraturan.”Aku belum mandi. Masa pakai seragam sidang begini, setidaknya pake gaun yang mirip saringan tahu lah.”
“Ini sudah cukup, pakai apapun lebih indah kalau sudah terlucuti semua.” Dengan satu gerakan mantap, Bara mengangkat tubuh Ruby ke dalam pelukannya. Ruby yang terkejut refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Bara, menyembunyikan wajah yang makin membara merona di ceruk leher sang suami.
Bara membawanya melangkah mendekati tempat tidur, merebahkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati di atas kasur yang terlihat nyaman.
Menyusul merayap di atasnya, menopang tubuh dengan kedua lengan agar tidak memberati Ruby. Matanya menatap lekat paras cantik gadis yang juga istrinya lalu. Pandangan itu perlahan turun ke bibir yang selama mereka menikah berhasil membuat emosi dan moodnya berubah drastis dari yang menjengkelkan berubah menjadi menggemaskan sampai menyenangkan dan menenangkan. Sungguh dia akan candu dengan lembutnya bibir itu.
“Sudah siap?”
\=\=\=\=\=\=\=
Sudah siap belum?
Lanjut malam ah 🤭🤣
Buuuunnn anak mu udah bujang malu dia dipeluk ditempat umum 😂😂😂