SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: TINTA YANG MENGENAL TANGAN
Kereta pulang melambat setiap kali bertemu gerobak yang menyumbat lorong.
Ruyin bersandar pada dinding kereta dengan bungkusan kertas di pangkuan. Cahaya sore turun miring melewati celah tirai dan jatuh di lututnya dalam garis-garis keemasan yang bergeser seiring roda. Di luar, para pedagang mulai menurunkan papan dagangan. Bau arang dari dapur-dapur kecil bercampur dengan asap dupa dari kuil di ujung jalan, dan seorang penjaja bubur menyanyikan harganya dengan suara yang sudah serak oleh seharian berseru.
Bibi Qin duduk di seberangnya, diam, tangannya terlipat di atas lutut.
"Cukup mantap untuk seseorang yang lama tidak menyentuh tinta."
Kalimat Tuan Mo masih tinggal di kepalanya, bukan karena maknanya, melainkan karena betapa wajarnya kalimat itu diucapkan. Selama delapan tahun ia memang jarang menulis untuk dirinya sendiri. Namun di toko tadi, kuas itu terasa seperti benda yang sudah menunggu di tangannya. Ia tidak memikirkannya terlalu jauh. Ia hanya merasa komentar itu aneh, seperti pujian untuk kebiasaan yang tidak ia ingat pernah dilatih.
Menjelang petang, gerbang merah kediaman Shen muncul di ujung jalan.
———
Di kamar, ia menata lima puluh lembar kertas di rak kecil, sudut-sudutnya dirapikan dengan telapak tangan. Bibi Qin menyalakan lampu minyak lalu keluar untuk mengambil teh. Ruyin menarik batu tinta ke tepi meja dan menuang sedikit air dari kendi porselen.
Batang tinta itu ia ambil terakhir. Kecil, hitam, dingin di jari. Ukiran bambunya sederhana, tiga ruas dengan dua helai daun, tanpa tulisan dan tanpa lambang. Benda yang bisa dibeli siapa saja di lorong mana pun di Distrik Barat.
Ia mulai menggosok.
Gerakannya melingkar, pelan, menekan sedikit pada awal dan melepas pada akhir putaran. Air berubah keruh, lalu gelap. Dan bersama gelap itu naik aroma yang samar: wangi tinta tradisional, getir dan sedikit manis, bercampur dengan sesuatu yang lebih tipis, seperti kayu cendana atau kapur barus yang terlalu lama tersimpan.
Tangannya berhenti.
Ia pernah mencium ini. Bukan di toko, bukan di rumah Selatan. Di suatu tempat lain, dengan cahaya yang lain. Ia menunggu, tetapi tidak ada yang datang, hanya rasa seperti nama yang hampir sampai di ujung lidah, lalu menguap.
Ia melanjutkan menggosok. Lingkaran demi lingkaran, tekan, lepas. Setelah beberapa saat ia menyadari bahwa ia tidak lagi memikirkan gerakannya. Pergelangannya berputar sendiri, ritmenya tetap, napasnya mengikuti. Ia menarik tangannya dan memandanginya.
Tidak ada yang gaib. Hanya tangan yang terlalu tahu apa yang harus dilakukan.
———
"Teh, Nona."
Bibi Qin meletakkan nampan di sudut meja. Pandangannya jatuh pada batang tinta di atas batu, pada ukiran bambu yang basah dan berkilau. Langkahnya berhenti setengah tarikan napas, dan tangannya yang hampir menyentuh tepi meja ditarik kembali ke sisi tubuhnya.
"Bibi pernah melihat tinta seperti ini?"
"Tinta seperti itu tidak istimewa, Nona. Banyak dijual di Chang'an." Jawaban itu datang cepat dan rapi.
"Benar. Tuan Mo bilang begitu juga."
"Tuan Mo orang yang jujur."
Ruyin mengangguk dan mengambil cawan teh. Ia meniupnya perlahan. Beberapa saat berlalu dengan bunyi lampu yang berdesis kecil, lalu Bibi Qin, seolah bicara kepada ruangan, berkata:
"Nona dulu juga suka tinta yang permukaannya berukir."
Cawan itu berhenti di bibir Ruyin.
"Aku?"
"Anak kecil suka memilih benda dari bentuknya, Nona. Bukan karena alasan apa-apa." Bibi Qin merapikan lipatan serbet yang tidak perlu dirapikan. "Saya hanya teringat."
"Kapan itu?"
"Sudah lama sekali. Saya tidak ingat persisnya."
Ruyin tidak mengejar. Ia tidak pernah mengingat dirinya memilih tinta, ukir atau polos. Ia meletakkan cawan, dan Bibi Qin membungkuk meminta diri untuk memeriksa air mandi.
———
Setelah pintu tertutup, Ruyin mengambil kuas kecil dan mencelupkannya ke tinta yang baru digosok. Ia menarik selembar kertas dan menulis, hanya untuk menguji: 'shan', gunung. 'Shui', air.
Pada goresan terakhir karakter pertama, ia menahan kuas sedikit lebih lama dan menekan sedikit lebih kuat di ujung tarikan. Ia tidak merencanakannya. Hasilnya, ujung goresan itu menebal seperti kaki bukit.
Pintu bergeser. Bibi Qin kembali, membawa handuk, dan berdiri diam melihat kertas di atas meja.
"Nona dulu juga begitu," katanya pelan. "Menekan di ujung. Selalu."
"Dulu?"
Bibi Qin menarik napas, dan Ruyin melihat ia menyadari kesalahannya sesaat sebelum bibirnya mengatup. "Mungkin saya salah ingat, Nona. Banyak anak menulis seperti itu."
"Mungkin."
Ruyin tidak memaksa. Ia menatap kertas itu, lalu mengambil selembar baru dan menulis karakter yang sama. Kali ini ia memperhatikan pergelangan, siku, jari yang menahan kuas. Tarikannya turun, berbelok, dan ujungnya menekan seperti sebelumnya, di tempat yang sama.
Ia tidak sedang meniru siapa pun. Tubuhnya hanya bergerak seperti itu.
Ada sesuatu yang berkedip di tepi pikirannya: permukaan meja kayu yang licin, hujan yang jauh seperti ketukan di atap, bau tinta yang sama, kain lengan seseorang di pinggir pandangan. Satu suara menyebut namanya, pendek dan sabar.
Lalu hilang, sebelum ia sempat menoleh.
Bibi Qin menaruh handuk di sandaran kursi tanpa suara.
———
"Bibi," kata Ruyin akhirnya, masih memandang kertas, "waktu di Selatan, aku sering menulis?"
"Pada beberapa masa, Nona. Terutama ketika Nona tidak bisa tidur, atau selesai minum ramuan." Bibi Qin berdiri dengan kedua tangan di depan, seperti pelayan yang ditanya di depan majikan. "Tidak setiap hari."
"Tintanya berbeda dari di sini?"
"Sebagian besar tinta sama saja, Nona." Ia berhenti sebentar. "Hanya kebiasaan Nona yang berbeda. Kalau Nona menulis sesuatu yang tidak ingin dibaca orang lain, Nona menggosok tinta jauh lebih lambat. Seperti mengulur waktu supaya tidak ada yang bertanya."
Ruyin mengangkat wajah.
"Aku tidak ingat itu."
"Orang tidak selalu ingat kebiasaannya sendiri, Nona."
Ia tidak bertanya apa yang dulu ia tulis. Ia hanya mengangguk, dan Bibi Qin menunduk dan keluar.
———
Surat untuk tabib tua masih berada di laci, terlipat dua, dengan ikatan benang tiga lilitan. Ia mengeluarkannya, membuka simpulnya, dan membaca baris-barisnya di bawah lampu. Surat yang pendek dan sopan: kabar kesehatan, ucapan terima kasih, tiga kalimat tentang perjalanan.
Ia mencelupkan kuas ke tinta baru dan menambahkan di bawahnya:
"Apakah Tabib pernah melihat saya menulis di malam hari? Apakah tangan saya berubah sejak pertama kali saya tiba di rumah Anda?"
Ia menatap dua kalimat itu lama, lalu meniup tintanya sampai kering. Dilipatnya surat itu kembali, tetapi tidak diikat. Ia memasukkannya ke laci dan menutupnya.
Belum waktunya.
———
Malam turun penuh. Ia membereskan meja, menyeka batu tinta dengan kain basah. Jari telunjuk dan ibu jarinya kotor oleh tinta, dan ketika ia mengusapnya, noda hitam itu melebar di kulit seperti bayangan kecil.
Dalam diam itu ada sesuatu yang lain, lebih halus daripada ingatan: sebuah telapak tangan yang hangat menutup punggung tangannya, jari-jari yang menahan pergelangannya dengan lembut, dan satu suara rendah yang berkata "jangan menekan terlalu kuat."
Ruyin tidak bergerak.
Tidak ada wajah. Tidak ada nama. Tidak ada tahu apakah tangan itu milik seorang laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Hanya hangat, dan tekanan yang sabar, dan perasaan bahwa ia pernah dibimbing untuk menulis oleh seseorang yang tidak pernah ia lupakan, hanya tidak bisa ia jangkau.
Mungkin selama ini ia keliru. Ia mengira masa kecilnya hilang karena ia lupa. Tetapi tangannya tahu, tubuhnya tahu, dan hanya pikirannya yang tertutup.
Sebelum tidur, ia menunduk sekali lagi di atas batu tinta. Sisa air gelap masih menggenang di lekuknya, dan di sana, tanpa sengaja, bekas gosokan membentuk sebuah goresan kecil: tiga garis pendek, dan satu garis panjang yang melengkung.
Ia mengusapnya dengan kain, lalu berhenti.
Karena jari telunjuk kanannya, yang masih basah oleh tinta, sedang bergerak di permukaan meja kayu. Ia menggambar tiga garis pendek, lalu satu garis panjang yang melengkung.
Ia baru menyadarinya setelah selesai.