NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakal Hukum Kamu

***

"Nanti di rumah Mama sama Papa, kamu diam aja," potong Alana cepat, matanya tetap tertakjub fokus menembus kemacetan jalanan meski sesekali melirik Mirza dari sudut matanya.

Alana mengetatkan pegangannya pada roda kemudi.

"Biar aku yang hadapi kalau mereka berani menghina kamu lagi. Aku tahu betul sifat orang tuaku. Kalau kita membela diri pakai alasan standar, mereka bakal terus menekan. Tapi kalau dilawan pakai hal ekstrem yang menurut mereka salah besar, baru mereka mau diam."

Mirza menaikkan sebelah alisnya, mendengarkan dengan tenang.

"Dulu Papa kekeh banget mau jodohin aku sama pengusaha anak temannya cuma karena pengin punya menantu kaya," lanjut Alana dengan nada sinis.

"Ya sudah, sekalian aja aku nikah sama orang yang stratanya jauh di bawah mereka. Cleaning service, misalnya. Dan ya ... kebetulan takdir memang lagi berpihak sama rencana aku, makanya aku ketemu kamu."

Mirza menyandarkan punggungnya ke sandaran jok, lalu bersedekap.

"Mungkin emang kita jodoh ...."

"Iya, jodoh cuma buat satu tahun!" sergah Alana cepat dengan pipi yang mendadak sedikit memanas.

"Kamu jangan mikir kejauhan ya! Dan jangan ge'er berpikir aku belain kamu karena aku ada perasaan sama kamu. Hubungan kita ini murni cuma kontrak, enggak lebih!"

Mirza tersenyum tipis, menatap samping wajah istrinya yang tampak salah tingkah.

"Iya, Bu ... eh, kamu. Saya paham."

"Satu lagi," tambah Alana sambil berdeham, mencoba menguasai suaranya.

"Kamu juga harus tahu batasan. Jangan lagi peluk-peluk aku pas tidur!"

"Makanya kalau tidur ya tidur aja, enggak usah banyak protes dan ribut."

"Kemarin-kemarin aku bisa langsung tidur pas dipeluk itu cuma karena capek, bukan karena pelukan kamu!"

Mirza terkekeh pelan melihat Alana yang mengoceh panjang lebar hanya untuk menutupi rasa malunya.

"Padahal aku cuma meluk karena kamu yang nempel terus pas nangis, tapi ya sudah ... kalau alasannya capek, aku percaya."

"Mirza! Jangan mulai, ya!" ancam Alana galak, memelototi Mirza saat mobil mereka berhenti di lampu merah.

Mobil Alana perlahan memasuki halaman rumah orang tuanya yang megah. Setelah mematikan mesin, Alana menghela napas panjang untuk menetralkan rasa gugupnya.

Sebelum keluar dari mobil, Alana tiba-tiba meraih jemari Mirza dan menggenggamnya erat. Mirza sempat tertegun, namun dia membalas genggaman itu, melangkah masuk ke dalam rumah megah tersebut sambil bergandengan tangan.

Di ruang makan, Liam dan Dwi sudah duduk menunggu. Suasana meja makan berisikan aneka hidangan mewah itu mulanya terasa kaku dan hening saat mereka berempat mulai menyantap makanan.

Di tengah jamuan, Liam meletakkan sendok dan garpunya, lalu menatap anak dan menantunya bergantian.

"Alana, Mirza ... Papa mau ngomong," ujar Liam membuka suara.

"Papa sudah memutuskan untuk murni merestui pernikahan kalian. Papa percaya sepenuhnya sama keputusan yang diambil Alana. Kalaupun keputusan ini salah pada akhirnya, toh Alana sendiri yang bakal menanggung dan merasakannya."

Alana dan Mirza saling pandang, terkejut mendengarkan penuturan Liam.

"Sebagai orang tua, tugas Papa sekarang cuma mendukung," lanjut Liam dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.

"Kalau kamu bahagia dengan jalan ini, Alana ... Papa dan Mama juga ikut bahagia."

Dwi yang duduk di samping Liam melipat tangan di dada, mendengus pelan dengan wajah yang masih tampak kesal.

"Mama sejujurnya masih belum bisa percaya 100% sama kamu, Mirza. Mama takut kamu cuma mau memanfaatkan kekayaan Alana, lalu setelah puas, kamu pergi ninggalin anak Mama gitu aja."

Dwi menatap tajam langsung ke mata Mirza.

"Ingat ya, Mirza! Kalau sampai kamu berani bikin Alana menderita atau ninggalin dia, Mama sendiri yang bakal bunuh dan mutilasi kamu!"

"Mama! Ngomong apa sih?!" tegur Alana kaget.

Namun Mirza tidak gentar. Pria itu menatap Dwi dengan sorot mata yang tulus dan tenang.

"Saya janji, Tante ... eh, Mama. Saya akan menjaga dan menyayangi Alana seumur hidup saya. Saya tidak akan pernah meninggalkan dia."

Liam mengamati raut wajah menantunya itu dalam-dalam, lalu mengangguk pelan.

"Papa percaya. Papa bisa melihat keseriusan dan ketulusan itu di mata kamu, Mirza."

Liam lalu menghela napas berat, menatap Mirza dengan penyesalan.

"Mirza ... Papa minta maaf ya atas semua perkataan Papa selama ini. Papa sudah sering menghina kamu dan merendahkan pekerjaan kamu."

Dwi ikut mengalihkan pandangannya, suaranya memelan.

"Mama juga ... Mama minta maaf karena kemarin tidak datang ke pemakaman ibu kamu."

Mendengar ketulusan orang tua Alana, dada Mirza berdesir hangat. Rasa sesak yang menyelimutinya perlahan meluruh.

"Tidak apa-apa, Papa, Mama," sahut Mirza lembut sambil tersenyum tipis.

"Saya sudah memaafkan semuanya sejak awal. Bagaimanapun juga, orang tua Alana adalah orang tua saya juga sekarang. Tidak boleh ada dendam di antara kita."

"Kalau gitu, mulai malam ini kalian tinggal di sini aja ya?" celetuk Dwi tiba-tiba, menatap Alana dan Mirza penuh harap.

"Mama tuh beneran enggak bisa tidur nyenyak membayangkan Alana harus tinggal di rumah kontrakan sempit kamu itu, Mirza. Mana rumah sebesar ini sepi banget kalau cuma diisi Mama sama Papa."

Alana terkekeh pelan melihat ekspresi ibunya. Dia tahu betul Mama hanya pura-pura bersedih agar dituruti, tapi di balik sifat keras dan gengsinya, Dwi memang se-cengeng itu kalau sudah urusan anak anaknya.

"Aku terserah Mirza aja, Ma," sahut Alana sambil melirik pria di sampingnya.

"Kalau Mirza setuju tinggal di sini, aku ikut. Tapi kalau Mirza mau di kontrakan, aku tetap ikut dia."

Liam ikut menimpali, menatap Mirza dengan raut memohon yang hangat.

"Tinggal di sini saja ya, Mirza? Anggap saja bantu ramein rumah. Papa sama Mama beneran kesepian kalau Alana enggak ada."

Mirza sempat terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Melihat ketulusan di mata kedua orang tua Alana yang kini begitu hangat menerimanya, dia akhirnya mengangguk pelan sembari tersenyum.

"Iya, Pa, Ma. Mirza setuju kita tinggal di sini."

"Nah, gitu dong!" seru Dwi gembira. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya kembali dibuat galak. Dia menunjuk Mirza dengan sendok di tangannya.

"Tapi ingat ya, Mirza! Kalau sampai Mama dengar kalian bertengkar, terus Alana sampai sedih atau menangis gara-gara kamu ... Mama bakal hukum kamu buat bersihin seluruh kamar mandi di rumah ini!"

"Mama!" tegur Alana cepat sambil menepuk dahinya.

"Jangan mulai deh! Sifat bossy-nya kumat lagi kan."

Mirza malah tertawa kecil melihat tingkah ibu mertuanya itu.

"Siap, Ma. Nanti kalau Alana menangis, Mama boleh suruh saya sikat semua kamar mandi sampai mengkilap."

Selesai makan malam, Alana dan Dwi sudah pamit naik ke lantai atas menuju kamar masing-masing. Di ruang tamu yang luas dan tenang, kini hanya tersisa Mirza dan Liam yang duduk berhadapan di atas sofa kulit.

Liam menyesap teh hangatnya pelan, lalu menatap menantunya itu dengan lekat.

"Jujur, Papa sampai sekarang masih enggak tahu hal apa yang bikin Alana menjatuhkan pilihannya sama kamu, Mirza," buka Liam dengan suara berat namun tenang.

"Tapi Papa yakin, pasti ada alasan kuat yang bikin Alana merasa yakin sama kamu."

Mirza mendengarkan dalam diam, mendengarkan setiap patah kata dari pria paruh baya di depannya.

"Alana itu anak yang cerdas dan sangat hati-hati," lanjut Liam, menerawang sejenak.

"Selama ini dia enggak pernah mengambil keputusan tanpa memikirkannya baik-baik. Mau itu urusan pribadi, apalagi keputusan besar untuk perusahaan. Dan Papa sangat berharap ... kali ini pilihan serta keputusan Alana tidak salah."

Liam merogoh saku jasnya lalu melempar sebuah kartu kredit berwarna hitam, sebuah black card, ke atas meja kaca di antara mereka.

Mirza mengerutkan dahi, menatap kartu mewah itu lalu beralih menatap mertuanya bingung.

"Gunakan uang di dalam kartu itu untuk membahagiakan putri Papa," tegas Liam tanpa keraguan.

"Bawa dia jalan-jalan, beli apa pun yang dia mau, atau pakai untuk kebutuhan kamu dan Alana."

Mirza hendak membuka suara untuk menolak, namun Liam lebih dulu mengangkat tangannya, menghentikan ucapan menantunya itu.

"Papa sudah pernah melakukan kesalahan besar dalam hidup Papa dulu, Mirza," bisik Liam dengan raut penyesalan yang mendalam di matanya.

"Dan Papa enggak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi dalam hidup ini ... apalagi kalau itu menyangkut kebahagiaan dan masa depan Alana."

Mirza melangkah masuk ke dalam kamar tidur Alana yang luas dan elegan. Tanpa ragu, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, lalu mendesah panjang.

"Capek banget hari ini ...." gumam Mirza sambil memejamkan mata sejenak, menutupi wajahnya dengan sebelah lengan.

Alana yang sedang merapikan pakaian di depan lemari menoleh. Melihat raut lelah di wajah Mirza, dadanya mendadak merasa sedikit tidak tega.

"Aku mandi dan bersih-bersih duluan ya," kata Alana pelan.

"Habis ini baru kamu yang masuk kamar mandi."

"Iya," sahut Mirza singkat tanpa membuka matanya.

Begitu mendengar pintu kamar mandi tertutup rapat dan gemericik air mulai terdengar, Mirza mengubah posisinya. Dia meraba permukaan sofa tempatnya berbaring, merasakan kelembutan bahan kain berkualitas tinggi yang melapisi tempat itu.

"Sofa kamar ini aja bisa seempuk ini ... Gimana rasanya kalau tidur di ranjang besar itu, ya? Pasti bisa tidur nyenyak banget sampai sore."

Dia terkekeh tipis membayangkan hal itu, menyadari betapa jauhnya perbedaan dunia mereka selama ini. Namun, rasa lelah akibat ketegangan sepanjang hari, mulai dari gosip di kantor, pengunduran dirinya, hingga makan malam penuh tekanan bersama orang tua Alana, akhirnya mengambil alih. Helaan napas Mirza perlahan menghebat dan teratur.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Alana keluar dengan pakaian tidur santai, rambutnya yang masih agak basah terurai di bahu.

Alana mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, memanggil pelan.

"Mirza, kamu bisa mandi se—"

Ucapan Alana terhenti. Matanya tertuju pada sosok pria di atas sofa. Mirza sudah tertidur lelap dengan posisi miring, napasnya terdengar halus dan tenang. Wajahnya yang biasa dipenuhi beban kini terlihat begitu polos dalam lelapnya.

Alana melangkah mendekati sofa, berdiri mematung di samping Mirza sambil menatap suaminya itu lama.

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!