NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Dingin yang Berkepanjangan

Hari-hari berikutnya di rumah kontrakan sempit di Solo itu berjalan dalam keheningan yang makin membeku. Strategi *silent treatment* yang dilancarkan keluarga besar seolah-olah dirancang untuk menghancurkan mental Eda. Namun, kali ini tebakan mereka salah besar. Eda tidak lagi meratap atau mengiba memohon ampun seperti tahun-tahun sebelumnya.

Eda justru menikmati setiap detik keheningan itu.

Pagi ini, seperti biasa, Eda selesai menunaikan salat Subuh. Ia mengenakan seragam harian cokelat mudanya yang sudah disetrika rapi. Di ruang tengah, Ibu Ratna duduk melipat tangan di sofa sambil melemparkan tatapan tajam dan dingin tiap kali Eda melintas. Doni dan Rini bahkan sengaja memalingkan muka saat Eda berjalan ke arah kamar mandi, sementara Agus pura-pura sibuk mengusap layar HP tua-nya di sudut meja makan.

Eda melangkah tenang tanpa menyapa atau menawarkan bantuan. Ia mengambil tas kerjanya yang berisi berkas-berkas pengajaran dan modul materi SD Harapan Bangsa, lalu mengancingkan sepatu pantofel hitamnya di ambang pintu.

"Ed," suara Agus akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah, ketus, dan penuh rasa superioritas yang tertahan.

Eda menghentikan jemarinya di tali sepatu, lalu mendongak menatap suaminya. "Ada apa, Agus?"

Agus berjalan mendekat, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kamu mau seperti ini terus? Tidak mau ngomong sama Mama, tidak mau sapa Mas Doni sama Rini? Kamu pikir dengan gaya sok acuh begitu kamu kelihatan hebat?"

Eda berdiri tegak, merapikan letak jilbabnya di depan cermin kecil dekat pintu. Tatapannya lurus menatap pantulan wajah Agus di cermin.

"Siapa yang tidak mau bicara, Agus?" sahut Eda tenang, tanpa nada tinggi sedikit pun. "Tiap kali aku masuk rumah, tidak ada yang menjawab salamku. Tiap kali aku lewat, kalian memalingkan muka. Aku cuma menghargai pilihan kalian yang mau diam."

Agus mendecak kasar. Wajahnya memerah karena omongannya balik memukul dirinya sendiri. "Kamu itu istri! Harusnya kamu yang berinisiatif minta maaf sama Mama dan Mas Doni! Gara-gara kamu keras kepala soal uang kemarin, suasana rumah ini jadi seperti kuburan!"

"Aku minta maaf untuk apa, Agus?" tembak Eda tegas, memutar badannya menatap Agus langsung. "Minta maaf karena gajiku habis buat membiayai utang keluarga? Atau minta maaf karena aku tidak punya uang empat ratus ribu buat ganti ban mobil Mas Doni? Katakan padaku, bagian mana dari kejujuranku yang harus kumintai maaf?"

Agus bungkam sejenak. Pria itu menggeletukkan rahangnya, tak mampu menyusun kata-kata untuk membalas argumentasi Eda yang terlalu logis dan menohok.

Ibu Ratna dari arah sofa mendesis keras, membuang muka ke arah dinding sambil memegang dadanya seolah-olah rasa sakitnya kumat lagi. Namun Eda tidak lagi gampang terkecoh oleh drama itu.

"Aku berangkat mengajar dulu," pamit Eda datar, lalu berbalik dan melangkah keluar rumah tanpa menunggu jawaban.

---

Di SD Harapan Bangsa, atmosfernya berbalik seratus delapan puluh derajat. Sekolah terasa seperti oase hangat di tengah gurun pasir yang tandus. Begitu Eda memasuki ruang guru, Bu Maya langsung menyambutnya dengan lambaian tangan dan senyum hangat.

"Pagi, Bu Eda! Wah, tadi saya lihat di pengumuman dinas, verifikasi berkas awal Calon Guru Penggerak kabupaten sudah keluar lho!" seru Bu Maya antusias.

Eda dengan cepat meletakkan tas kerjanya dan mendekat ke meja Bu Maya. "Sudah keluar, Bu? Hasilnya bagaimana?"

Bu Maya menggeser layar monitor laptopnya agar Eda bisa melihat daftar nama yang tertera di sana. "Lihat ini! Nama Bu Eda Nuraini binti Sulaiman ada di nomor urut atas dari gugus kita! Lolos verifikasi administrasi!"

Mata Eda berbinar-binar membaca namanya sendiri di daftar resmi tersebut. Ada rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. Kerja kerasnya mengetik esai hingga larut malam di kamar yang pengap itu akhirnya membuahkan hasil manis di tahap awal ini.

"Alhamdulillah... matur nuwun info-nya, Bu Maya," bisik Eda penuh rasa syukur.

Tak lama kemudian, Pak Burhan melangkah masuk ke ruang guru. Menerima kabar gembira tersebut, Kepala Sekolah itu tersenyum puas dan menepuk bahu Eda penuh rasa bangga.

"Selamat, Bu Eda! Ini baru tahap awal, tapi merupakan sinyal yang sangat bagus. Persiapkan diri untuk tes tahap dua ya, terutama simulasi mengajar dan wawancara," pesan Pak Burhan penuh dukungan. "Sekolah siap memfasilitasi apa pun yang Bu Eda butuhkan untuk latihan."

"Siap, Pak Burhan. Terima kasih banyak atas dukungannya," jawab Eda mantap.

...****************...

Sore harinya, saat Eda berjalan pulang menyusuri jalanan Kota Solo yang dipayungi awan jingga, hatinya terasa sangat lapang. Validasi dan apresiasi yang ia dapatkan di sekolah memberikan energi baru yang tak terbatas.

Ia tiba di depan kontrakan menjelang Asar. Pintu rumah terbuka sedikit. Begitu Eda masuk, ia melihat Agus sedang duduk sendirian di meja makan, memandangi cangkir teh hitamnya yang sudah dingin dan dihinggapi lalat. Tidak ada makanan yang tersaji di meja, tidak ada kepulan asap dari dapur. Sejak Eda berhenti memasak dan mengurus dapur secara total, rumah itu kehilangan arah. Rini tidak mau memasak untuk orang rumah, dan Ibu Ratna terlalu sibuk meratapi nasibnya.

Agus mendongak menatap Eda yang melangkah masuk dengan anggun dan percaya diri. Ada binar kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan dari wajah Eda—binar yang tak pernah lagi Agus lihat selama bertahun-tahun pernikahan mereka.

Eda melepaskan sepatunya, menatap Agus sejenak dengan senyum tipis yang penuh makna, lalu berjalan menuju kamarnya tanpa menguapkan kata-kata sia-sia.

*Klek.*

Eda memutar kunci kamar dari dalam. Ia duduk di meja belajarnya, membuka buku catatan, lalu mulai menyusun skenario simulasi mengajar untuk tahap seleksi Guru Penggerak berikutnya. Di balik pintu yang terkunci itu, Eda menyadari satu hal: perang dingin yang diciptakan keluarganya tidak lagi bisa menyakiti hatinya, melainkan telah menjadi tembok kokoh yang melindunginya untuk terus terbang tinggi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!