Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Masa Lalu Yang Disembunyikan
Sejak pembicaraan tentang pernikahan itu, Retna mulai memikirkan Nathan. Selama ini, pria itu selalu bertanya tentang masa lalunya, Arman, pernikahan yang gagal, dan alasan ia takut memulai hubungan baru. Namun Retna hampir tidak pernah melakukan hal yang sama.
Siapa sebenarnya Nathan? Kenapa ia memilih tinggal di Bali? Dan apakah ia juga pernah terluka?
Sore itu, mereka duduk di teras rumah. Nathan menikmati kopi sambil sesekali memeriksa ponselnya, sementara Retna beberapa kali meliriknya. Ada sesuatu dalam sikap Nathan yang berbeda hari itu. Ia tampak lebih pendiam, seolah pikirannya berada jauh dari teras, jauh dari Bali, bahkan jauh dari dirinya sendiri.
Retna ingin bertanya, tetapi setiap kali melihat wajah Nathan, keberaniannya surut. Ada kesedihan yang samar di matanya, sesuatu yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik senyum dan ketenangan.
Nathan akhirnya menoleh. "Kamu mau bicara?"
Retna tersenyum. "Kok tahu?"
"Sejak tadi kamu melihatku terus."
Retna tertawa kecil, lalu terdiam. Jari-jarinya saling meremas di atas pangkuan. Ia tidak tahu apakah pertanyaan itu akan membuka pintu yang selama ini sengaja Nathan tutup, atau justru membuat pria itu menjauh.
"Mas, boleh saya tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Tentang masa lalu Mas."
Tangan Nathan yang memegang cangkir berhenti. Suara sendok yang beradu dengan keramik terdengar lebih jelas di antara keheningan. Senyumnya perlahan menghilang.
"Kalau Mas tidak mau cerita, tidak apa-apa."
"Apa yang ingin kamu tahu?"
"Kenapa Mas memilih tinggal di Bali?"
Nathan tidak langsung menjawab. Ia menatap permukaan kopinya, seolah jawaban itu tersimpan di dasar cangkir dan hanya bisa diambil jika ia cukup berani menghadapinya.
"Karena aku butuh tempat untuk memulai lagi."
"Berarti ada sesuatu yang terjadi sebelum Mas datang ke sini?"
"Ada."
Satu kata itu menggantung di udara. Retna menunggu, tetapi Nathan tetap diam. Napasnya terdengar berat. Untuk sesaat, Retna merasa telah menyentuh luka yang terlalu dalam.
"Kalau Mas belum siap cerita, tidak apa-apa. Saya tidak ingin memaksa."
Nathan menatapnya cukup lama. Tatapannya membuat Retna merasa seolah pria itu sedang menimbang sesuatu yang besar—antara tetap menyimpan rahasia atau membiarkan seseorang masuk ke bagian hidupnya yang paling gelap.
"Aku tidak ingin kamu tahu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin kamu melihatku sebagai orang yang menyedihkan. Kalau kamu tahu semuanya, mungkin pandanganmu akan berubah."
"Saya juga punya masa lalu yang tidak menyenangkan," jawab Retna. "Saya tahu bagaimana rasanya ketika orang lain menilai kita hanya dari apa yang pernah terjadi."
Nathan terdiam. Rahangnya mengeras, lalu mengendur kembali. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
"Jadi, Mas tidak perlu cerita kalau belum siap. Saya tidak akan bertanya lagi."
Retna masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nathan sendirian di teras. Ia sempat mengira akan merasa lega karena Retna tidak memaksanya, tetapi yang muncul justru rasa bersalah. Retna sudah berani menceritakan luka terdalamnya, sementara ia masih menyembunyikan semuanya.
Di luar, langit perlahan berubah gelap. Angin malam membawa aroma tanah dan suara ombak yang samar dari kejauhan. Nathan tetap duduk di tempatnya, memandangi pintu yang baru saja tertutup. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa rahasia itu bukan lagi sekadar beban yang ia bawa sendiri. Rahasia itu telah berdiri di antara dirinya dan Retna.
Malam semakin larut ketika Retna melihat Nathan masih duduk di ruang tengah. Lampu hanya menyala redup, membuat wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
"Mas belum tidur?"
"Belum."
"Mas kenapa?"
Nathan menatapnya. Ada keteguhan yang baru di matanya, tetapi juga ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.
"Aku ingin cerita."
Retna sedikit terkejut. "Kalau Mas memang tidak ingin—"
"Aku ingin." Nathan menepuk kursi di sebelahnya. "Duduklah."
Retna duduk perlahan. Nathan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat.
"Jauh sebelum tinggal di Bali, hidupku tidak seperti sekarang. Aku pernah punya seseorang. Namanya Elena."
Retna diam mendengarkan.
"Kami bersama cukup lama. Aku yakin dia akan menemaniku sampai tua. Kami bahkan sudah merencanakan pernikahan. Semua orang mengira hidupku sempurna."
Nathan menunduk. Suaranya terdengar tenang, tetapi ketenangan itu terasa rapuh, seperti sesuatu yang bisa pecah jika disentuh terlalu keras.
"Tapi suatu hari aku tahu dia menjalin hubungan dengan orang lain."
Retna menahan napas.
"Teman?" tanyanya pelan.
Nathan mengangguk. "Teman yang sudah kuanggap seperti saudara."
Retna bisa membayangkan betapa sakitnya pengkhianatan itu. Namun dari cara Nathan bercerita, ia tahu luka itu jauh lebih dalam daripada sekadar kehilangan seorang kekasih.
"Aku berusaha memaafkan dan memperbaiki semuanya. Tapi kemudian aku tahu hubungan itu sudah berlangsung cukup lama."
Nathan menatap kosong ke depan. Matanya tidak lagi berada di ruang tengah itu. Ia seolah kembali ke masa ketika semuanya terbongkar, ketika kepercayaan yang dibangunnya bertahun-tahun runtuh dalam satu malam.
"Aku bukan hanya kehilangan orang yang kucintai. Aku juga kehilangan orang yang selama ini kupercaya."
Suasana menjadi hening. Retna tidak menyela. Ia takut satu kata yang salah akan membuat Nathan kembali menutup diri.
"Aku merasa bodoh. Aku terus bertanya, apa yang salah denganku? Apa aku kurang memperhatikannya, terlalu sibuk, atau tidak cukup baik?"
Retna langsung teringat pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang sama pernah menghantuinya.
"Ternyata kita punya pertanyaan yang sama," kata Nathan.
Retna tersenyum getir. "Iya."
"Aku butuh waktu lama untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Setelah semuanya berakhir, aku meninggalkan tempat itu dan datang ke Bali sendirian."
"Tanpa keluarga?"
"Aku tetap berhubungan dengan mereka. Tapi aku tidak ingin mereka melihat kondisiku saat itu."
"Separah itu?"
Nathan terdiam sejenak. Kali ini, diamnya terasa lebih panjang. Retna melihat dadanya naik turun, seolah ia sedang berusaha menahan sesuatu yang selama ini terkubur terlalu dalam.
"Setiap malam aku sulit tidur. Aku terus memikirkan bagaimana seseorang yang sangat kupercaya bisa melakukan itu. Jadi aku memilih pergi."
"Bali menjadi tempat untuk melupakan semuanya?"
"Awalnya aku hanya ingin tinggal beberapa bulan. Tapi aku menemukan ketenangan di sini."
"Mas tidak pernah kembali?"
"Pernah. Tapi rasanya sudah berbeda."
Retna menatapnya. "Apakah Mas masih mencintainya?"
"Tidak." Jawaban Nathan tegas. "Aku sudah tidak mencintainya."
"Lalu kenapa masih sakit?"
Nathan menatap Retna. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menyembunyikan luka di wajahnya.
"Karena rasa sakit dan rasa cinta adalah dua hal yang berbeda. Aku tidak ingin dia kembali, tapi pengalaman itu tetap menjadi bagian dari hidupku."
Retna mengangguk pelan.
"Makanya aku tidak pernah ingin kamu tahu," lanjut Nathan. "Aku tidak ingin kamu berpikir kita bersama hanya karena sama-sama pernah disakiti. Aku tidak ingin menjadi tempat pelarianmu, dan aku juga tidak ingin menjadikanmu tempat pelarianku."
Mata Retna mulai panas.
"Aku menyukaimu karena kamu adalah kamu," kata Nathan lembut. "Bukan karena kamu pernah gagal dalam pernikahan atau karena aku pernah dikhianati. Ketika bersamamu, aku merasa nyaman."
Air mata jatuh di pipi Retna.
"Kamu menangis?"
Retna tertawa kecil sambil mengusapnya. "Saya kira hanya saya yang punya luka seperti itu."
"Ternyata kita sama-sama membawa luka."
"Tapi sekarang Mas sudah sembuh?"
Nathan berpikir sejenak. "Entahlah. Mungkin bukan sembuh. Mungkin aku hanya sudah belajar hidup dengannya."
Retna mengangguk.
"Dan mungkin sekarang aku sedang belajar percaya lagi."
"Percaya kepada saya?"
Nathan mengangguk. "Iya."
Jawaban itu sederhana, tetapi bagi Nathan, kalimat tersebut adalah pengakuan yang jauh lebih besar daripada cinta. Ia telah kehilangan kepercayaan kepada dua orang sekaligus, lalu bertahun-tahun membangun hidup dengan keyakinan bahwa tidak mempercayai siapa pun adalah cara paling aman untuk bertahan.
Namun malam itu, di hadapan Retna, ia menyadari bahwa hidup tanpa kepercayaan bukanlah hidup yang benar-benar aman. Itu hanya kesepian yang diberi nama lain.
Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar saling memahami. Retna tidak lagi melihat Nathan sebagai pria asing yang datang membawa perhatian ke dalam hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang pernah hancur, kehilangan kepercayaan, lalu pergi jauh untuk menyembuhkan diri.
Mungkin itulah alasan Nathan begitu memahami ketakutannya. Luka mereka berbeda, tetapi rasa sakitnya hampir sama.
"Terima kasih sudah cerita,mas." kata Retna.
"Terima kasih karena tidak memaksaku."
"Saya tahu bagaimana rasanya ketika seseorang memaksa kita membuka luka yang belum siap diceritakan."
Mereka kemudian duduk berdampingan dalam diam. Tidak ada janji dan tidak ada pembicaraan tentang pernikahan. Namun malam itu, sesuatu di antara mereka terasa semakin kuat: kepercayaan.
Di luar, malam terus bergerak, membawa pergi suara-suara yang tersisa. Nathan tidak tahu apakah masa lalu akan benar-benar berhenti menghantuinya. Retna juga tidak tahu apakah hubungan mereka akan berakhir bahagia. Tetapi untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berdiri sendirian di hadapan luka masing-masing.
Bagi dua orang yang pernah dikhianati, mungkin kepercayaan adalah awal yang jauh lebih penting daripada cinta. Sebab cinta bisa tumbuh dari ketertarikan, tetapi kepercayaan hanya lahir ketika seseorang berani menunjukkan bagian dirinya yang paling rapuh dan orang lain memilih untuk tetap tinggal.