Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARTU NAMA MENJADI PENYELAMAT
Aku duduk dengan tenang menunggu Tuan Ajimo bicara, begitu juga dengan Vanka.
"Aku rasa aku masih memiliki rekan yang setia kepadaku dan kuharap ia masih mengingatku. Aku harap ia masih hidup," ujar Tuan Ajimo yang membuat suasana pagi yang tadinya hangat menjadi tegang. Embun pagi seakan berhenti menetes.
Aku memikirkan orang yang Tuan Ajimo bicarakan. Satu nama melintas di kepalaku.
"Apakah Pengacara Frans?" tanyaku dengan rasa penasaran dan kuharap nama yang kusebut itu benar.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya, Naya?" ujar Tuan Ajimo penasaran. Alisnya terangkat.
"Ia pernah datang ke rumah menemuiku. Ia mengatakan ia membantuku atas perintah Alea, dan ia yang memberikan fotomu dan Alea," ujarku memberi penjelasan.
Vanka duduk menyimak dan menahan napas. Mungkin karena nyawanya yang masih belum terkumpul akibat teriakan yang membangunkan tidurnya tadi pagi. Wajahnya masih kusut.
Tuan Ajimo menatapku dengan tatapan serius.
"Apa kau menyimpan nomornya atau kartu namanya?" tanya Tuan Ajimo.
Aku berusaha mengingat di mana kartu nama Pengacara Frans kusimpan. Kepalaku berputar.
"Aku rasa ada di kamarku atau di dalam laci. Aku lupa menyimpannya di mana. Aku tidak bisa menghubungi Puri langsung, aku takut Hans curiga kepada Puri karena mereka berada di gedung yang sama," penjelasanku dengan nada menghawatirkan Puri.
Vanka yang mungkin nyawanya sudah terkumpul, ia memberi ide.
"Bagaimana jika kau menelepon Puri menggunakan ponselku? Aku rasa cukup aman untuk Puri dan dirimu," ujar Vanka seraya mengeluarkan benda pipih dari saku celananya dan menyodorkannya kepadaku.
Aku mengambil benda pipih itu yang diberikan Vanka. Jari-jariku sedikit gemetar saat memasukkan nomor Puri ke dalam ponsel genggam milik Vanka dan meneleponnya. Suara telepon tersambung.
_Tut... tut..._
Tidak lama terdengar suara Puri di seberang.
"Halo, Puri, ini aku, Naya," ujarku.
"Naya, kau menggunakan ponsel siapa?" tanya Puri dengan nada kaget.
"Aku menggunakan ponsel Vanka. Apa kau sudah berada di kantor?" tanyaku membalikkan pertanyaan.
"Belum, Naya, aku sedang bersiap-siap dan berkemas, begitu juga Alex," jawab Puri membuatku penasaran. Ada kepanikan dalam suaranya.
"Kalian berkemas ingin pergi ke mana?" tanyaku dengan rasa penasaran dan khawatir yang mendalam.
"Semalam aku dan Alex mendengar suara mobil berhenti cukup lama di halaman, dan berusaha membuka pintu secara paksa. Syukur saat itu satpam kompleks sedang berkeliling dan membuat mereka pergi," ujar Puri dengan ketakutan. Suaranya bergetar.
"Puri, Puri, tenangkan dirimu dan jangan panik. Kau harus bersikap biasa saat di dalam kantor, begitu juga Alex saat ia meliput Mely agar Hans tidak curiga kepada kalian. Dan aku mohon padamu, Puri, bawa bukti-bukti Hans dan bukti yang diberikan oleh Alea, dan tolong cari kartu nama Pengacara Frans. Aku rasa aku menyimpannya di laci atau di kamar. Apakah kau bisa mencarikannya untukku, Puri?" pintaku memohon pertolongan Puri, walaupun aku tidak perlu memohon pun ia akan membantuku. Persahabatan kami adalah jangkar di tengah badai.
"Baiklah, Naya, aku akan mencarikannya dan jika sudah ketemu aku akan langsung mengirimnya ke nomor ini," ujar Puri seraya terdengar langkahnya mencari.
Suara telepon terputus.
Puri dan Alex kurasa dalam bahaya. Hal itu membuatku khawatir. Akan tetapi jika aku meminta tolong kepada Vanka, membuatku semakin banyak berhutang budi padanya. Jika tidak kulakukan, aku takut Puri dan Alex dalam bahaya. Aku bicara perlahan memohon kepada Vanka.
"Vanka," ucapku sambil meremas bajuku yang sudah cukup kotor. Bajuku kusut sisa pelarian.
Vanka menengok ke arahku, "Ya, Naya, ada apa?" tanya Vanka lembut.
Aku mengatakan pada Tuan Ajimo dan Vanka atas rasa khawatirku kepada Puri dan Alex.
"Puri dan Alex harus bergegas pergi sementara dari rumah," ucapku dengan wajah tertunduk dan hawatir.
Tuan Ajimo dan Vanka bicara secara bersamaan, "Kenapa?" tanya mereka penasaran.
"Semalam ada yang datang ke rumah kami dan membuka paksa pintu rumah. Syukur ada hansip kompleks yang sedang berkeliling membuat penyusup itu pergi," jelasku memberi penjelasan kepada Vanka dan Tuan Ajimo. Darahku berdesir mendengarnya.
Terdengar suara ponsel Vanka berbunyi.
_Bip..._
Menandakan ada pesan masuk. Pesan itu dari Puri yang mengirim sebuah foto kartu nama Pengacara Frans. Tulisan di kartu itu jelas.
Vanka hanya membukanya dan masih menungguku melanjutkan pembicaraan yang terjeda oleh benda pipih itu.
"Aku menjadi khawatir kepada Puri dan Alex," ujarku menundukkan kepala. Air mata hampir jatuh.
"Vanka, apakah kau bisa menolong mereka?" pintaku memohon. Suaraku hampir hilang.
Tuan Ajimo tiba-tiba berdiri beranjak dari duduknya dan mengepalkan tangannya. Urat di lehernya menegang.
"Itu pasti anak buah Hans!" ujarnya dengan amarah yang tertahan, terlihat dari matanya yang merah membara. Luka lama kembali menganga.
"Aku akan menghubungi Puri dan Alex, menyuruh mereka tinggal di vilaku sementara sampai semuanya selesai dan manajer Hans masuk ke dalam bui," ujar Vanka membuatku sedikit tenang. Kata-katanya adalah selimut hangat di pagi yang dingin ini.
Vanka menghubungi nomor Pengacara Frans yang dikirim oleh Puri.
_Tut... tut..._ Suara telepon tersambung.
Terdengar suara seorang pria dari dalam benda pipih itu.
"Halo?" Suara Pengacara Frans dari dalam telepon. Suaranya berat dan berwibawa.
Vanka menjulurkan tangannya kepada Tuan Ajimo, memberi benda pipih itu kepada Tuan Ajimo. Ia menerima benda pipih milik Vanka dan menempelkannya di telinga kanannya.
"Halo, Frans, ini aku," ucap Tuan Ajimo seolah Pengacara Frans masih ingat suaranya. Suara Tuan Ajimo bergetar menahan rindu.
"Kau kah itu, Ajimo?" ucapnya dengan suara gemetar, tidak percaya.
"Kau masih hidup?" ucapnya lagi meyakinkan dirinya sendiri.
"Ya, ini aku, Frans. Ceritanya panjang," ujar Tuan Ajimo pada rekannya yang setia.
"Aku ingin minta tolong kepadamu, Frans," ucap Tuan Ajimo memohon dengan nada yang jarang ia gunakan.
"Tolong apa? Ajimo, pasti aku membantumu. Katakan saja," ujar Pengacara Frans tanpa ragu.
Terlihat jelas, Pengacara Frans adalah rekan yang sangat setia kepada keluarga Skyvi. Kesetiaannya adalah cahaya di tengah kegelapan pengkhianatan Hans.
*Bersambung...