Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Pernikahan
Pesawat yang membawa Aira akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Malam sudah larut ketika ia keluar dari area kedatangan bersama Arga.
Sebuah sedan hitam telah menunggu di depan pintu keluar. Sopir berseragam rapi segera membukakan pintu untuk mereka.
Sepanjang perjalanan, Aira lebih banyak diam. Ia memandangi gedung-gedung tinggi dan lampu kendaraan yang memenuhi jalanan Jakarta. Pemandangan itu jauh berbeda dari Desanya, tempat ia terbiasa menikmati malam yang tenang.
Kini, ia berada di kota yang asing, menuju rumah seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Arga mengajak Aira masuk melalui lobi khusus, lalu membawanya naik menggunakan lift pribadi.
Ketika pintu lift terbuka, Aira mendapati sebuah penthouse luas dengan jendela kaca besar yang menghadap ke kota. Perabotannya tertata rapi dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan putih.
Semuanya tampak mahal, tetapi suasananya terasa dingin.
"Ini tempat tinggal Tuan Devan. Kamar Anda ada di sebelah kiri. Pakaian dan kebutuhan dasar Anda sudah disiapkan di dalam."
"Terima kasih, Pak Arga."
Arga mengangguk sebelum berpamitan. "Sebaiknya Anda membersihkan diri dan beristirahat. Besok pagi akan ada banyak hal yang perlu dipersiapkan."
"Baik, Pak."
Setelah Arga pergi, Aira memasuki kamar yang ditunjukkan kepadanya.
Sebuah tempat tidur besar berdiri di tengah ruangan. Lemari dinding di salah satu sisi kamar telah dipenuhi berbagai pakaian yang tampak mahal. Bahkan kamar mandinya jauh lebih mewah daripada yang pernah ia bayangkan.
Aira membuka lemari dan memandangi pakaian-pakaian itu sejenak sebelum mengambil piyama katun sederhana.
Ia tidak membutuhkan semua kemewahan ini. Ia hanya ingin ibunya mendapatkan pengobatan yang layak dan adik-adiknya tetap bisa bersekolah.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Aira duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya belum bisa beristirahat.
Besok pagi, ia akan resmi menjadi istri Devan Mahendra.
Pernikahan itu tidak berawal dari cinta, melainkan sebuah kontrak yang harus ia jalani demi keluarganya.
Beberapa saat kemudian, Aira merasa haus. Ia keluar kamar untuk mengambil air minum.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria berdiri di dekat jendela ruang tengah.
Devan Mahendra.
Pria itu sudah melepas jasnya dan kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Sebuah gelas berisi minuman berwarna cokelat keemasan berada di tangannya.
Aira sempat ragu untuk menyapa. Ia berniat kembali ke kamar setelah mengambil air, tetapi suara Devan lebih dulu menghentikannya.
"Kenapa berdiri di situ? Kau pikir kau hantu?"
Aira terkejut, lalu menoleh.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengambil air minum."
Devan memandangnya sekilas, mulai dari piyama yang dikenakannya hingga rambutnya yang masih sedikit basah.
"Arga sudah menjelaskan apa yang harus kau lakukan selama tinggal di sini?"
"Pak Arga sudah menjelaskan bahwa saya harus menghormati batasan yang ada, Tuan."
Devan meletakkan gelasnya di atas meja.
"Bagus. Setidaknya kau tahu diri."
Ia kemudian berjalan mendekat.
"Besok pukul sembilan pagi, petugas catatan sipil akan datang untuk mengesahkan pernikahan kita. Tidak ada pesta, tidak ada tamu, dan tidak ada gaun pengantin. Ini hanya formalitas bisnis."
Aira menatapnya tanpa mengubah ekspresi.
"Saya tahu, Tuan. Saya juga tidak pernah meminta semua itu."
Devan mengernyit tipis. Ia mengira Aira akan menunjukkan kekecewaan atau setidaknya mengeluhkan keadaan mereka. Namun, gadis itu justru menjawab dengan tenang.
"Satu hal lagi," lanjutnya. "Di depan media dan keluarga besarku, kau harus bersikap seperti istri yang penurut. Jangan sampai ada yang mencurigai pernikahan ini."
Aira tidak menyela.
"Namun, jangan salah paham tentang hubungan kita. Kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau berada di sini karena utang keluargamu."
Jemari Aira mengepal. Ia terluka mendengar ucapan itu, tetapi tidak ingin memperlihatkannya.
"Saya akan menjalankan peran saya sesuai perjanjian, Tuan Devan."
Devan menatapnya sesaat, kemudian mengambil kembali gelasnya.
"Kita lihat saja."
Aira tidak menjawab. Ia melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum, berusaha mengabaikan tatapan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭