NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Bocah Haus Perhatian

Sinar matahari jam delapan pagi yang menyengat langsung menyambut Valeska di tengah lapangan sekolah.

"Valeska Aurelia! Kamu pikir sekolah ini ajang fashion show?!"

Suara melengking Pak Bambang, guru kesiswaan yang paling ditakuti seantero SMA Nusantara, menggelegar melalui toa kecil di tangannya. Beliau berdiri tegak di depan barisan murid-murid yang kena razia, menunjuk-nunjuk kaki Valeska dengan wajah merah padam.

Valeska cuma menyilangkan dada, berdiri dengan santai seolah hembusan angin pagi lebih menarik daripada omelan guru di depannya. Di saat murid lain tunduk ketakutan, dia malah memutar bola matanya malas.

"Pak, Kaos kaki Gucci gambar pattern leopard ini dibeliin Papa langsung dari Milan," sahut Valeska santai, nada suaranya tanpa dosa. "Masa sepatu Alexander McQueen lima belas juta saya paduin sama kaos kaki putih polos lima belasan ribu? Jatuh dong selera fashion saya."

Beberapa murid di barisan razia menahan tawa, sementara Pak Bambang makin naik darah.

"Aturan sekolah wajib kaos kaki putih polos di atas mata kaki! Nggak peduli mereknya Gucci atau Chanel!" bentak Pak Bambang. "Sudah telat tiga puluh menit, seragam dikeluarin, rok di atas lutut, sekarang kaos kaki gambar macan! Kamu mau jadi apa, Valeska?!"

"Jadi orang kaya lah, Pak. Kan udah," balas Valeska dengan seringai tipis yang makin memancing emosi.

Dia lalu merogoh tas Louis Vuitton-nya, mengeluarkan sebuah dompet kulit lipat, lalu mencabut beberapa lembar uang kertas berwarna merah tanpa beban. Valeska mengulurkan uang itu ke arah Pak Bambang.

"Nih, Pak. Buat bayar denda kaos kaki sama denda telat. Minta tolong minta asisten bapak beliin saya es kopi latte di kafe depan ya, haus nih berdiri dari tadi."

"Valeska!" pekik Pak Bambang, hampir kehilangan suaranya karena syok dengan kelakuan muridnya yang kelewat batas ini. "Uang kamu nggak bisa beli aturan di sekolah ini! Hormat bendera sampai jam istirahat pertama! Sekarang!"

Valeska mendesis pelan, akhirnya menyerah dan berjalan malas ke tengah lapangan di bawah terik matahari.

Valeska memutar bola matanya malas, menyenggol kerikil dengan ujung sepatu mewahnya sebelum mengangkat tangan kanan untuk hormat pada sang saka merah putih. Berdiri di tengah lapangan under the sun? Sama sekali bukan masalah berat buat dia, cuma bikin sedikit gerah.

•••

Dua jam kemudian, bel istirahat pertama akhirnya berbunyi melengking. Tanpa membuang waktu, Valeska menurunkan tangannya, mengibas-ibaskan seragamnya yang sedikit kusut, lalu berjalan santai menuju kantin eksklusif sekolah—tempat nongkrong wajib bagi Velvet Sovereign, geng dua kata yang dibentuk Valeska bersama dua sahabat terdekatnya.

Nama itu sengaja mereka pilih karena mencerminkan posisi mereka di sekolah: halus dan mahal bagai kain velvet, tapi berkuasa layaknya penguasa.

Di meja sudut paling nyaman yang dilengkapi sofa busa dan pendingin ruangan, dua anggota Velvet Sovereign lainnya sudah menunggu dengan minuman dingin di tangan masing-masing.

"Gila ya, Pak Bambang nekat banget nyuruh seorang Valeska Aurelia jemur di tengah lapangan," seru Clarissa, cewek berambut highlight pirang yang sibuk merapikan cat kuku merahnya. "Gue yang liat dari jendela kelas aja udah kebayang panasnya. Kulit lo nggak papa, kan, Val?"

"Halah, Pak Bambang mah cuma butuh pamer wibawa doang di depan murid baru," timpal Giselle, cewek dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya, sambil menyodorkan segelas es kopi caramel macchiato ke arah Valeska. "Nih, minum dulu. Untung pesanan lo udah gue siapin."

Valeska menyeruput minumannya santai, lalu menyandarkan tubuh di sofa dengan gaya penuh percaya diri.

"Biasa, orang iri," sahut Valeska terkekeh pelan. "Lagian kaos kaki leopard gue emang terlalu bagus buat standar SMA Nusantara. Lagian kalau Pak Bambang terus-terusan bikin gue kepanasan kayak gini, besok gue suruh Papa beli saham sekolah ini biar Pak Bambang yang gantian hormat bendera tiap pagi."

Clarissa dan Giselle langsung tertawa keras. Bagi anggota Velvet Sovereign, tidak ada aturan yang tidak bisa dibeli, dan tidak ada masalah yang tidak selesai dengan uang.

Di sudut kantin yang berseberangan—jauh dari sofa empuk area VIP—tiga cowok duduk di meja kayu panjang dengan mangkuk bakso dan es teh manis di depan mereka.

Elang menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangan di dada sambil menyimak obrolan dengan wajah datar. Di sampingnya, Marco sibuk menopang dagu, matanya sama sekali tidak berkedip menatap ke arah meja Velvet Sovereign.

"Gue perhatiin... Valeska makin hari makin bening aja ya?" celetuk Marco tiba-tiba, matanya masih terkunci pada sosok Valeska yang sedang tertawa anggun sambil menyeruput kafenya. "Gaya songongnya itu lho, malah bikin makin kelihatan unreachable."

Elang cuma melirik sekilas ke arah kerumunan cewek-cewek hits itu, lalu kembali menatap mangkuk baksonya yang tinggal setengah.

"B aja," sahut Elang dingin, nada suaranya ketus dan tanpa minat sedikit pun.

Leo, yang duduk di depan Marco, langsung terkekeh geli sambil menepuk bahu Marco keras-keras sampai cowok itu tersentak.

"Lagian mata lo disaring napa, Co! Jangan dilihatin terus," ledek Leo sambil menunjuk-nunjuk muka Marco pakai sendok. "Lagian mana mungkin dia suka. Apa jangan jangan lo duluan yang kepikat?"

"Ya gimana enggak kepikat, Bro? Cantik begitu!" bantai Marco santai tanpa rasa bersalah. "Tapi serius deh, Lang, lo beneran nggak tertarik sama sekali? Cewek sekelas Valeska Aurelia lho. Semua cowok di SMA Nusantara juga ngantre mau jadi pacarnya."

Elang terkekeh sinis, menyedot es teh manisnya sampai berbunyi. "Cewek manja yang cuma bisa hambur-hamburin uang bapaknya dan semena-mena sama aturan? Enggak dulu. Ngerepotin."

"Lagian cantik dari mananya?" Elang menambahkan, menatap Marco dengan sebelah alis terangkat. "Masih cantikan Caca ke mana-mana."

Leo menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa pelan. "Iya dah, yang seleranya adek kelas emang beda. Beda level, beda target."

Belum sempat Marco membalas, sesosok cewek dengan seragam rapi dan rambut dikuncir kuda berjalan melewati area kantin sambil membawa buku catatan. Caca—adik kelas 10 yang dari dulu bikin Elang kepikiran.

"Nah, panjang umur," bisik Marco sambil menyenggol lengan Elang. "Tuh, idaman lo lewat."

Tanpa buang waktu, Elang langsung berdiri dari kursinya, meninggalkan mangkuk bakso dan dua temannya yang menatap dengan cengiran penuh arti. Dia melangkah santai memotong jalur berjalan Caca, lalu berhenti tepat di hadapan cewek itu dengan senyum manis yang jarang sekali dia perlihatkan ke orang lain.

"Ca," panggil Elang lembut, kontras banget sama suaranya yang dingin pas ngomongin Valeska tadi. "Buku apaan tuh? Berat banget kelihatannya, mau gue dibantu dibawain ke ruang guru?"

Caca mendongak, sedikit terkejut melihat Elang yang mendadak sudah berdiri di depannya. "Eh, Kak Elang... Enggak usah, Kak, ini cuma buku rekap tugas kelas kok, enggak berat-berat amat."

Di sudut kantin yang lain, dari atas sofa empuknya, mata tajam Valeska tak sengaja menangkap adegan itu. Valeska menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan Elang yang sibuk tebar pesona ke cewek kelas 10.

"Ngapain sih kecoa itu?" gumam Valeska sinis, matanya menyipit menatap Elang yang masih berakting manis di depan Caca.

Clarissa dan Giselle langsung mengikuti arah pandang Valeska. "Oh, si Elang? Biasalah, lagi tebar pesona sama adek kelas. Kenapa? Lo risih?" tanya Giselle sambil terkekeh.

"Bukan risih lagi, mata gue berasa ternoda," sahut Valeska tajam, langsung mengalihkan pandangannya dengan muka geli.

Bukan tanpa alasan Valeska menyebut Elang dengan sebutan parasit konyol itu. Mereka berdua sudah jadi musuh bebuyutan sejak hari pertama masuk kelas 10. Dendam kesumat yang kalau diingat-ingat lagi sukses bikin darah Valeska mendidih sampai sekarang.

Hari itu, di kantin yang sama, Valeska sedang berjalan anggun membawa segelas es teh manis sambil asyik menelepon. Tiba-tiba, Elang yang lagi jalan terburu-buru sambil bawa tumpukan bola basket dari lapangan, tanpa sengaja menyenggol bahu Valeska cukup keras.

Baju seragam putih milik Valeska ketumpahan es teh manis sampai basah kuyup di bagian depan.

“Mata lo ditaruh di mana, sih?!” pekik Valeska histeris hari itu, menatap seragamnya yang bernoda cokelat dengan wajah merah padam. “Lo tahu enggak ini baju harganya berapa?! Bayar ganti rugi sekarang!”

Elang yang waktu itu belum kenal siapa Valeska cuma mengusap belakang lehernya santai. “Sorry, gue enggak sengaja. Tapi lo juga jalan enggak pakai mata karena asyik main HP. Lagian cuma kaos oblong sekolah, lebay banget disuruh ganti rugi.”

“Lebay lo bilang?!” Valeska menyeringai penuh emosi. Tanpa aba-aba, dia mengambil gelas es teh milik siswa lain yang tergeletak di meja terdekat, lalu—

BYUUUR!

Valeska menyiramkan es teh manis itu tepat ke wajah Elang tanpa rasa takut sedikit pun.

Seluruh kantin langsung hening seketika. Es teh menetes dari rambut Elang, membasahi wajah dan seragam cowok itu. Mata Elang menajam, menatap Valeska dengan emosi yang tertahan di tenggorokan.

“Lo gila ya?!” bentak Elang tajam, mengusap wajahnya kasar.

“Itu denda karena mulut lo enggak ada sopan santunnya sama gue!” balas Valeska sambil bersedekap dada, menatap Elang dari atas ke bawah dengan tatapan paling merendahkan. “Ingat muka gue baik-baik. Jangan pernah mimpi bisa sejajar sama gue!”

Sejak insiden es teh itu, perang dingin resmi tercipta. Tidak ada hari tanpa aksi saling sindir, saling tatap sinis, dan lempar ejekan tiap kali jalur jalan mereka bersilangan di koridor sekolah.

Kembali ke masa kini, Valeska menyeruput caramel macchiato-nya dengan kasar. "Gue heran, cewek-cewek kok pada mau aja ya dideketin cowok sok tengil kayak dia."

Sementara itu, Elang masih terlihat mencoba mendekati Caca.

"Beneran enggak apa-apa nih, Ca? Mumpung gue lagi selow," tawar Elang sekali lagi, mencoba menyelaraskan langkahnya dengan cewek itu.

Caca memeluk buku rekap tugas di dadanya makin erat, lalu tersenyum canggung sambil sedikit mundur. "Enggak usah, Kak Elang. Makasih banget, tapi aku harus buru-buru ke ruang guru sekarang. Soalnya ditungguin Bu Hani. Duluan ya, Kak!"

Tanpa menunggu balasan dari Elang, Caca langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor kantin. Elang cuma bisa berdiri mematung di tempat, menatap punggung Caca yang makin menjauh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Usaha tebar pesonanya gagal total.

"PFFFTTT... HAHAHA!"

Suara tawa renyah yang terdengar sangat mengejek mendadak pecah dari arah sofa VIP. Elang refleks menoleh dan langsung mendapati Valeska sedang tertawa lepas sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan. Mata Valeska menatap lurus ke arah Elang dengan kilat kepuasan yang luar biasa.

"Aduh, kasihan banget kecoa sekolah," cemooh Valeska keras-keras, cukup nyaring sampai membuat beberapa murid di sekitar kantin menoleh. "Sudah sok ganteng, tebar pesona, eh... malah dikacangin adek kelas. Nyeseknya nyampe sini, lho!"

Clarissa dan Giselle ikut-ikutan tertawa kecil, sengaja memanasi suasana.

Elang menyengkeram tali tasnya pelan, mengikis jarak dengan berjalan menatap tajam ke arah meja Velvet Sovereign. Dia berhenti tepat di depan meja Valeska, memasang senyum sinis andalannya.

"Daripada lo," balas Elang tak kalah pedas, "penampilan udah kayak mau catwalk di Milan, tapi kelakuan masih kayak bocah haus perhatian yang hobinya dijemur Pak Bambang di tengah lapangan."

Tawa Valeska mendadak terhenti. Matanya menajam, menatap Elang dengan kilat permusuhan yang menyala-nyala.

"Coba diulangi?" Valeska berdiri dari sofanya, melipat kedua lengan di dada sambil menatap Elang dengan tatapan menusuk. "Lo bilang gue apa tadi? Bocah haus perhatian? Hello, kaca di rumah lo pecah ya? Minimal sadar diri sebelum ngurusin hidup gue!"

"Gue bicara sesuai fakta," sahut Elang santai, menyilangkan dada tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Tiap hari kerjaan lo cuma bikin ulah, melanggar aturan, terus berlindung di balik uang bapak lo. Bosen gue liat drama lo tiap pagi."

"Uang Papa gue emang sanggup beli semua hal yang lo impikan, termasuk sekolah ini kalau gue mau!" bantai Valeska dengan nada angkuh. "Mending lo urusin tuh nasib lo yang mengenaskan, udah miskin, dikacangin cewek pula!"

"Val, udah..." Giselle bisik-bisik sambil menyenggol pelan pinggang Valeska, sadar kalau seisi kantin mulai memperhatikan perang mulut mereka.

Elang cuma menghela nafas panjang, menggelengkan kepala melihat tingkah Valeska yang menurutnya makin menjadi-jadi. Meladeni Valeska yang keras kepala dan gengsi setinggi langit cuma bakal membuang-buang tenaganya.

"Males gue ngeladenin cewek manja kayak lo. Nggak bakal ada habisnya," kata Elang dingin. Dia berbalik menatap dua temannya yang duduk tak jauh dari sana. "Co, Le, cabut. Udah hilang nafsu makan gue."

"Eh, mau ke mana lo?! Masalah kita belum selesai, ya!" pekik Valeska tak terima karena dipotong begitu saja.

"Terserah lo mau ngomong apa," balas Elang tanpa menoleh lagi, melangkah pergi meninggalkan kantin diikuti Marco dan Leo yang cuma bisa meringis canggung ke arah Valeska.

"Dasar cowok penakut!" teriak Valeska emosi, menghentakkan kakinya ke lantai.

TET... TET... TET...

Bel berbunyi nyaring menembus seluruh sudut sekolah, menandakan jam istirahat telah usai. Valeska mendesis kesal, mengibaskan rambut panjangnya dengan muka cemberut, lalu kembali meraih tas mewahnya dengan perasaan dongkol luar biasa.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!