NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 BaladanAkhir Semester

Jika ada sebuah mahakarya komedi ilmiah yang ditulis oleh takdir, maka Kos Bu Broto adalah latar tempat paling sempurna untuk mementaskannya. Bagi khalayak umum, minggu tenang sebelum Ujian Akhir Semester (UAS) adalah momen sakral yang diisi dengan zikir akademik, tobat massal para pencinta bolos, serta ritual merenungi dosa-dosa presensi yang mepet di batas minimal tujuh puluh lima persen. Namun, bagi Gavin Dewantara, Rian, dan Dono, kata "minggu tenang" hanyalah sebuah mitos belaka. Tempat mereka berubah wujud menjadi panggung festival kegilaan kolektif, dengan Kirana Putri bertindak sebagai mandor kepala yang memegang cambuk disiplin tanpa ampun.

Pagi itu, area ruang tengah lantai dua kosan sudah menyerupai zona pasca-bencana alam. Tumpukan kertas fotokopi dari berbagai mata kuliah berserakan tak beraturan seperti daun-daun kering di musim gugur. Laptop-laptop lawas milik Rian dan Dono dinyalakan bersamaan, mengeluarkan suara dengung kipas yang begitu bising hingga terdengar seperti kawanan lebah raksasa yang sedang berdemonstrasi menuntut kenaikan upah madu. Di pojok ruangan, botol-botol suplemen vitamin murah bermerek lokal berjejer rapi bersanding dengan sasetan suplemen penambah stamina yang harganya tiga ribu rupiah per bungkus.

Gavin duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Penampilannya hari ini benar-benar merusak estetika mode manapun. Ia mengenakan kaos oblong hitam lamanya yang kali ini bergambar karikatur ayam jago petarung—kaos pinjaman dari Cak Min karena seluruh stok kaos singlet putih andalannya sedang mendekam di dalam mesin cuci Bu Broto setelah dipakai bertarung di pelabuhan lama. Di balik telinga kanannya, terselip dua buah pulpen sekaligus dengan fungsi yang sangat berbeda: satu pulpen hitam seharga dua ribu rupiah yang tintanya sudah macet-macet untuk menulis rumus, dan satu pulpen merah yang ujungnya sudah pecah berantakan karena dijadikan korban gigitan Gavin saat otaknya mulai mengalami buffering.

"Gav, tolong jelasin Hukum Termodinamika Kedua untuk sistem terbuka ini sekali lagi sebelum kepala gue meledak dan memuncratkan memori masa kecil gue," keluh Rian dengan suara yang terdengar seperti zombi yang kekurangan kafein. Wajah cowok berkacamata itu sudah sangat pucat, dan yang paling konyol, kacamata tebalnya sampai ditempeli selotip hitam di bagian gagang kirinya agar tidak melorot akibat aliran keringat stres yang deras.

Gavin mendongak dari kertas coretannya yang penuh dengan gambar coretan modifikasi motor bebek. Ia mengunyah permen karetnya dengan ritme yang lambat, lalu meniupnya hingga membentuk gelembung raksasa.

PLOP!

Gelembung itu pecah tepat dua sentimeter di depan ujung hidung Rian, menyisakan serpihan karet manis yang menempel di ujung kacamatanya.

"Ya elah, Rian sahabatku yang otaknya penuh dengan kode biner," ucap Gavin dengan nada slengean andalannya, mulai menyusun teori ilmiah palsu dengan analogi jalanan yang ugal-ugalan. "Konsep termodinamika itu simpel banget kalau lu pake kacamata jalanan. Anggap aja hati lu itu adalah sebuah sistem terbuka. Entropi itu adalah tingkat kekacauan di dalam hati lu. Nah, makin banyak cewek lintas fakultas yang lu taksir secara bersamaan di kampus ini, maka tingkat entropi lu bakal naik secara eksponensial. Akibatnya apa? Energi bebas Gibbs di dalam dompet lu bakal defisit total buat beli bensin pertalite motor Astrea gue. Makanya, secara termodinamika jalanan, kalau hidup lu mau stabil dan mencapai kesetimbangan fase, lu kudu fokus sama satu target aja. Contohnya kayak gue: fokus lahir batin nyari warung yang mau ngasih utangan mie instan kuah double pake telor di akhir bulan."

"Gavin! Teori macam apa itu?!" sebuah suara melengking memotong khotbah sesat Gavin.

PAK!

Sebuah gulungan draf laporan praktikum Kimia Organik setebal seratus lima puluh halaman mendarat dengan sangat telak, presisi, dan bertenaga di puncak kepala Gavin. Kirana berdiri tepat di belakang sofa bekas dengan kedua tangan bersendekap di dada. Wajah mahasiswi berprestasi itu memerah menahan gemas, meskipun matanya yang sayu akibat kurang tidur tidak bisa menyembunyikan rasa geli melihat ekspresi konyol Gavin.

"Aduh, Bos Kirana! Hantaman jilid hard-cover laporan lu ini lebih berasa merusak struktur otak daripada hantaman balok kayu preman pelabuhan kemarin!" rintih Gavin secara dramatis. Ia langsung menjatuhkan tubuh tegapnya ke atas lantai semen, berguling-guling ke kiri dan ke kanan sambil memegangi kepalanya seolah-olah sedang mengalami pendarahan dalam skala internasional. "Gue ngerasa ada gejala amnesia selektif tingkat akut nih. Struktur memori rumus reaksi penyabunan di otak gue mendadak ketuker sama lirik lagu dangdut koplo yang diputar di warkop Cak Min tadi subuh!"

Dono yang baru saja keluar dari kamar mandi umum hanya dengan mengenakan celana kolor bergambar Patrick Star dan handuk kecil yang dikalungkan di leher, langsung menghentikan langkahnya. Matanya berbinar melihat Gavin yang sedang berguling-guling di lantai.

"Wah! Ada simulasi korban tabrak lari akademik nih!" seru Dono dengan jiwa konyolnya yang mendadak bangkit. "Tenang, Gav! Sebagai senior yang berbakti pada nusa dan kosan, gue bakal ngasih lu terapi kejut medis pake metode pijat refleksi mesin motor dua tak!"

Tanpa memberikan aba-aba, Dono langsung melompat dan mengunci kepala Gavin di bawah ketiaknya yang baru saja selesai mandi namun masih menyisakan aroma sabun batang murah yang pekat. Pertarungan gulat bebas yang sangat tidak bermutu pun pecah di tengah-tengah tumpukan kertas fotokopi materi UAS.

"Woy, Bang Don! Lepasin gak?! Bau ketiak lu ini lebih beracun dan mematikan daripada paparan gas amonia pekat di laboratorium lantai tiga!" teriak Gavin gila-gilaan. Ia mencoba melepaskan diri dari kuncian Dono menggunakan teknik bela diri jalanan yang kali ini didegradasi total fungsinya menjadi taktik menggelitik pinggang Dono secara brutal.

"Hahaha! Gak mempan, Gav! Pinggang gue udah dilapisi lemak pelindung dari gorengan Cak Min!" balas Dono sambil tertawa terbahak-bahak, mempererat kuncian kepalanya hingga rambut acak-acakan Gavin semakin menyerupai sarang burung rajawali yang habis diterjang angin puting beliung.

Kirana hanya bisa menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi kayu dengan pasrah. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, menatap kekacauan komedi tiga singa kosan tersebut dengan perasaan hangat yang perlahan menjalar di dalam dadanya. Di balik bayang-bayang ancaman ultimatum dari rumah mewah Menteng yang sempat diceritakan Gavin secara rahasia kemarin, cowok slengean itu tampaknya sengaja melipatgandakan dosis kelakuan konyolnya minggu ini. Gavin seolah ingin memastikan bahwa setiap detik dari sisa hari-hari kebebasannya diisi oleh gelak tawa yang paling keras dan absurd, bukan oleh keheningan yang penuh dengan penyesalan.

Komedi akhir semester itu berlanjut dan mencapai puncaknya pada malam hari sekitar pukul sepuluh. Setelah berjam-jam bertempur dengan tumpukan rumus yang membuat mata mereka mulai berputar seperti dadu judi, Gavin berdiri di tengah ruangan dan mengangkat pulpen merahnya tinggi-tinggi seperti seorang komandan perang yang siap memimpin pasukan menuju gerbang kematian.

"Pasukan lantai dua! Otak kita sudah mengalami overheating tingkat dewa," seru Gavin ugal-ugalan. "Kipas prosesor di kepala Rian sudah mengeluarkan bau hangus, dan Bang Dono sudah mulai berbicara dengan bahasa isyarat purba. Menurut protokol keselamatan Kos Bu Broto pasal tiga, kita diwajibkan untuk melakukan ritual sakral Sistem Kebut Semalam di markas komando utama: Warkop Cak Min!"

"Setuju! Pikir belakangan, makan duluan!" sahut Dono penuh semangat, langsung menyambar kaos oblongnya yang digantung di pintu.

Suasana Warkop Cak Min malam itu benar-benar ramai dan dipenuhi oleh aura penderitaan kolektif mahasiswa dari berbagai fakultas. Hampir semua meja panjang dipenuhi oleh pemuda-pemuda bermata panda, berwajah pucat, dengan buku catatan yang terbuka lebar di samping cangkir kopi hitam yang ampasnya sudah meninggi.

Gavin, Rian, dan Dono mengambil posisi di meja pojok bawah pohon beringin. Gavin yang merasa sel-sel otaknya butuh asupan glukosa dan kejutan medis tingkat tinggi untuk menghadapi ujian besok pagi, langsung memanggil Cak Min dengan lambaian tangan yang sangat heboh.

"Cak Min! Pesanan khusus buat sang eksekutor UAS besok!" teriak Gavin ugal-ugalan, menarik perhatian beberapa mahasiswa Fakultas Hukum di sebelah mereka. "Mie instan rebus rasa soto murni, tapi tolong kuah air rebusannya diganti total pake air seduhan kopi hitam saset tanpa gula! Terus telur setengah matangnya dua, cabai rawit potongnya minimal lima belas biji!"

Cak Min yang sedang menuangkan air panas ke dalam teko seng langsung menghentikan gerakannya di udara. Ia menoleh ke arah Gavin dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa ngeri, prihatin, dan ketakutan teologis. "Walah, Mas Gavin... sampeyan iki mau ujian kuliah apa mau melakukan aksi percobaan bunuh diri secara syariah toh? Kok menune radikal men! Nanti kalau lambung sampeyan meledak di dalam kelas, saya gak mau ikut tanggung jawab loh ya!"

Rian yang sedang meminum es teh manisnya langsung menjauhkan kursinya sejauh setengah meter dari Gavin dengan wajah yang dipenuhi rasa jijik yang amat sangat. "Gav, demi nama baik Teknik Informatika, kalau besok pagi lu mules-mules di tengah ujian dan terpaksa izin ke toilet setiap sepuluh menit sekali, gue bakal pasang status di grup angkatan kalau gue gak pernah kenal sama cowok yang namanya Gavin Dewantara."

"Halah, cemen lu semua!" balas Gavin bangga sambil menepuk-nepuk dadanya yang tertutup kaos karikatur ayam jago. "Ini namanya ramuan sinergi kafein, kapsaicin, dan karbohidrat tingkat tinggi. Ini formula rahasia yang bikin otak gue bisa memproses data secepat superkomputer milik Pentagon. Grafik kesetimbangan termodinamika besok bakal kelihatan kayak visual game Tetris level satu doang di mata gue!"

Tidak lama kemudian, menu eksperimental racikan Gavin mendarat di meja. Aromanya benar-benar aneh: perpaduan antara wangi bumbu soto yang gurih dan aroma gosong kopi hitam tubruk yang pekat. Kuahnya berwarna hitam legam dengan potongan cabai rawit merah yang mengapung seperti ranjau darat di atas permukaan mie yang bergelombang.

Gavin dengan sangat santai, tanpa keraguan sedikit pun, langsung menyendok kuah hitam tersebut dan menyeruputnya dengan suara SLURRP yang sangat keras dan nikmat, memicu ekspresi mual massal dari Rian, Dono, dan beberapa mahasiswa di meja sebelah.

"Gila... rasanya eksotis banget, Yan! Kayak rasa kebebasan yang dicampur sedikit rasa penyesalan masa depan!" seru Gavin sambil tertawa renyah, wajahnya langsung mulai berkeringat akibat sengatan cabai rawit.

Saat Kirana menyusul ke warkop tiga puluh menit kemudian untuk mengantarkan kartu ujian milik Gavin yang tertinggal di atas meja belajar kosan, langkah kakinya langsung terhenti di depan terpal warkop. Gadis itu mematung, menatap Gavin yang sedang dengan lahapnya menghabiskan sisa mie instan berkuah kopi hitam tersebut sambil bersiul-siul santai melantunkan lagu punk rock jalanan.

Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya penuh pasrah, berjalan mendekat lalu duduk di kursi kosong tepat di samping Gavin. Tanpa permisi, ia merebut gelas es teh manis milik Gavin yang belum diminum untuk meredakan rasa peningnya melihat kelakuan konyol cowok itu.

"Kamu ini bener-bener berandalan paling aneh, paling ajaib, dan paling stres yang pernah aku temui seumur hidupku, Gavin," bisik Kirana dengan nada suara yang sangat pelan, dihiasi oleh sebuah senyuman manis yang sangat langka dan berharga yang sengaja ia tunjukkan hanya untuk Gavin di bawah temaram lampu warkop. "Orang-orang kaya di Jakarta di luar sana sibuk bayar puluhan juta buat diet makanan organik dan air alkali, kamu di sini malah bikin sekte makanan baru yang secara terang-terangan melanggar seluruh hukum kesehatan dan kode etik kedokteran."

Gavin menghentikan garpunya sejenak, menoleh ke arah Kirana lalu melempar senyum miring khasnya yang kali ini terlihat begitu lepas dan bahagia di bawah pencahayaan warkop yang minim. "Orang kaya di Jakarta itu hidupnya terlalu banyak diatur oleh ekspektasi orang lain dan brosur kesehatan, Ran. Makanya mereka gampang kena penyakit mental dan stres korporat. Kalau di sini, di bawah pohon beringin ini, selama perut kenyang oleh kreativitas kuliner dan hati senang karena dikelilingi kawan-kawan yang jujur, ujian UAS besok mah cuma dianggap sebagai masalah teknis kecil yang menghibur."

Di bawah naungan atap seng Warkop Cak Min yang mulai berembun akibat hawa dingin malam perantauan, balada akhir semester satu itu ditutup bukan dengan ketakutan akan kegagalan nilai, melainkan dengan gelak tawa konyol yang meledak-ledak, perdebatan absurd tentang teori konspirasi kenaikan harga telur ayam petelur milik Cak Min, dan jalinan solidaritas anak kos yang terikat semakin mengkristal kuat di atas meja kayu penuh noda kopi. Gavin tahu dengan sangat pasti, minggu tenang ini adalah ketenangan terakhir yang ia miliki sebelum badai besar membongkar kedok identitas aslinya secara publik di esok hari, namun malam ini, di bawah kepulan uap mie instan hitam dan tawa lepas dari kawan-kawan yang tulus menerimanya, ia merasa telah memenangkan takhta tertinggi sebagai manusia bebas di dunia yang nyata.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!