NovelToon NovelToon
KETIKA AKU HARUS MEMILIH

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Melakukan Apa Yang Ravin Lakukan.

“Ra, Mama meminta kita makan malam di rumah utama nanti sepulang kerja.” Beritahu Ravin saat mereka tengah bersiap di ruang ganti.

Semenjak perdebatan mengenai Rania tempo hari, hubungan keduanya menjadi semakin dingin.

Sera seakan membatasi dirinya. Tidak lagi menggebu menginginkan Ravin seperti di awal pernikahan mereka.

“Kata mama, ada mama dan papa kamu juga.” Imbuh Ravin.

“Hmm. Nanti aku minta mas Wira mengantar ke rumah mama.” Ucap gadis itu datar.

“Aku yang akan menjemput kamu, Ra. Kita berangkat bersama.” Tegas Ravin.

“Kakak ‘kan sedang sibuk. Siapa tau tidak bisa datang tepat waktu?” Sera tak melihat lawan bicaranya. Ia sibuk merapikan isi tas tangan yang akan di bawa ke kantor.

“Tidak. Aku bisa menjemput kamu sore ini.” Ucap Ravin dengan tegas.

Sera mengedikan bahu pelan. Ia kemudian keluar dari ruang ganti lebih dulu, untuk melihat apakah sarapan sudah siap atau belum?

“Sarapan sudah siap, bi?” Tanya Sera pada bi Sari.

“Sudah, non.”

Sera pun mengambil alih tugas bi Sari. Ia menyiapkan sepiring nasi goreng untuk Ravin.

Sementara sang asisten rumah tangga pamit kembali ke dapur.

Tak berselang lama, sang suami pun bergabung di meja makan.

Dan seperti sebelumnya, mereka pun tak banyak interaksi. Sehingga mengundang tanya di antara bi Sari dan Wira yang melihatnya.

“Mungkin lagi bertengkar, bi. Setiap hubungan pasti ada pasang surutnya.” Bisik Wira ketika melihat bi Sari begitu memperhatikan majikan mereka.

“Sepertinya begitu, mas. Sudah hampir dua hari bibi lihat mereka dingin seperti itu.” Bi Sari menghela nafas pelan di akhir kalimatnya.

Sepertinya ia harus melapor pada mama Safina.

Wira tersenyum samar. Ini barulah awal permulaan. Rumah tangga Ravin dan Sera akan lebih sering bertengkar untuk kedepannya.

Setelah melihat Sera selesai sarapan, Wira pun bergegas pergi ke garasi mobil untuk menyiapkan kendaraan untuk sang nyonya.

“Kita berangkat bersama saja, Ra.” Tawar Ravin saat sang istri beranjak dari tempat duduknya.

“Aku harus cepat, kak. Ada meeting dengan papa pagi ini.” Sera bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Ravin yang masih duduk di tempatnya, untuk berpamitan.

Ravin hanya mampu menghela nafas panjang, sembari melihat kepergian sang istri.

“Maafkan aku, Ra. Semua di luar prediksi ku. Kamu dan Rania, tidak seharusnya terlibat seperti ini.”

Ravin menjadi serba salah. Ia tidak bisa menolak perjodohan dengan Sera demi mengamanan posisinya di Artha Mandiri Group.

Karena syarat utama menjadi pewaris keluarga Arthadipa adalah menikah dengan Sera. Dan Ravin pun terpaksa melakukannya.

Sementara itu, mobil yang di kemudikan oleh Wira kini sudah meninggalkan halaman rumah.

“Mas, nanti sore saya pulang bersama kak Ravin. Jadi, mas Wira tidak perlu datang ke kantor.” Beritahu Sera setelah mereka berada di jalan keluar dari komplek perumahan elit itu.

Wira menganggukkan kepalanya pelan. “Tumben, non.” Ucapnya sembari melirik ke arah Sera dari kaca sepion.

“Mau makan malam di rumah orang tua kak Ravin.” Ucap gadis itu.

Mendengar kata ‘orang tua Ravin’, Wira pun mencengkram kemudi dengan erat.

Jantung pria muda itu bergemuruh kencang. Bayangan wajah kedua orang tua Ravin pun muncul dalam benaknya.

‘Tunggu aku datang memberi kejutan untuk kalian pasangan terkutuk. Akan aku pastikan kalian menangis darah di akhir hidup kalian.’

“Pasti menyenangkan bisa kumpul bersama keluarga ya, non.” Ucap Wira kemudian.

“Hmm.. tentu menyenangkan berkumpul bersama orang yang menyayangi kita, mas.” Ucap Sera.

Gadis itu kemudian teringat jika Wira adalah anak yatim piatu. “Maaf, mas.”

“Tidak apa - apa, non. Dulu, saya juga sempat merasakan kebahagiaan berkumpul bersama orang tua. Tetapi, semuanya hancur setelah kedatangan wanita perusak rumah tangga kami.” Wira tersenyum kecut di akhir kalimatnya.

Kening Sera berkerut halus. “Maaf, mas. Apa itu artinya, orang tua mas Wira masih ada?”

“Ibu saya sudah meninggal saat saya berusia 10 tahun, non. Tepatnya, dua bulan setelah kami di usir dari rumah.”

Hati Sera terhenyuh mendengar cerita Wira. “Maaf, mas. Saya tidak bermaksud mengingatkan mas Wira pada luka lama. Rasanya pasti sangat menyakitkan jika mengingat kembali.”

“Tidak apa - apa, non. Saya sudah terbiasa hidup dengan luka itu, selama 20 tahun ini.” Wira kembali menyunggingkan sudut bibir setelah menceritakan sepenggal kisah masa lalunya.

Sera menatap Wira dengan tatapan tak percaya. Pria itu memang terlihat tak memiliki masa lalu yang menyedihkan seperti itu.

Ia sendiri tak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang ada di posisi Wira.

Rumah tangga orang tuanya di usik orang ketiga. Ia dan ibunya terusir dari rumah mereka. Kemudian ibunya meninggal 2 bulan setelahnya.

Pantas saja Wira tumbuh menjadi seorang preman. Ia adalah korban dari perpisahan orang tuanya.

.

.

.

Pukul enam sore, Ravin dan Sera tiba di kediaman Arthadipa.

Sepasang suami istri itu masih menggunakan setelan kerja, karena dari kantor langsung menuju rumah orang tua Ravin.

“Ra. Tolong bersikap biasa saja saat di depan papa dan mama kita nanti. Aku tidak mau mereka mencurigai kita.” Ucap Ravin saat Sera hendak keluar dari dalam mobil.

Sera pun tertegun. Ia teringat kembali dengan kebohongan sang suami di hari pertama pernikahan mereka.

“Apa seperti yang kakak lakukan di hari pertama pernikahan kita?” Tanya gadis itu.

Kening Ravin berkerut halus. “Apa maksud kamu, Ra?”

Sera mencebikkan bibirnya. “Sudah jelaskan, kakak berbohong pagi itu. Mengatakan kalau aku kelelahan. Padahal, malam harinya aku pun tidak tau kakak kembali ke kamar hotel jam berapa?”

Wajah Ravin seketika berubah merah padam bak kepiting rebus. Ia tak dapat menjawab ucapan sang istri.

“Kakak tenang saja. Aku akan melakukan hal yang sama seperti yang telah kakak ajarkan padaku. Bukannya suami itu adalah panutan istri?” Gadis itu tersenyum mengejek.

Tanpa mendengar tanggapan sang suami, Sera pun keluar dari dalam mobil mewah itu.

‘Akan aku ikuti permainan kamu, kak. Sampai aku menemukan bukti, kamu terlibat dengan Rania atau tidak?’

Ravin dengan segera menyusul langkah sang istri. Sebelum masuk ke dalam rumah, pria itu menarik pelan tangan Sera untuk di genggamnya.

Sera membiarkan saja. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.

“Silahkan masuk, tuan dan nona. Tuan dan nyonya ada di ruang keluarga.” Ucap asisten rumah yang membukakan pintu untuk mereka.

Ravin dan Sera mengangguk ramah. Mereka pun melangkah menuju ruang keluarga.

“Ma. Pa.” Sapa Ravin lebih dulu.

Papa Rajendra dan mama Irene pun menoleh. Ravin mengajak Sera untuk memberikan salam pada orang tua mereka.

“Kalian bersih - bersih dulu sana. Nanti kita mengobrol lagi.” Ucap mama Irene.

“Baik, ma.”

Ravin pun mengajak Sera pergi ke kamarnya di lantai dua.

“Sebaiknya kakak mandi di kamar lain saja.” Ucap Sera ketika mereka tiba di depan pintu.

“Tapi, Ra.”

Sera menggelengkan kepala. “Untuk mempersingkat waktu, kak. Sebentar lagi, mama dan papa aku pasti datang.”

Ravin menghela nafas kasar. “Baiklah. Tapi, biarkan aku mengambil baju ganti sebentar.”

“Silahkan.”

Sera membiarkan pria itu masuk lebih dulu ke dalam kamarnya.

“Kamu yang memulainya lebih dulu, kak. Aku hanya mengikuti saja.”

1
sunaryati jarum
Raditya itu Wira yang menyamar sebagai sopir Sera, ternyata suruhan mamanya.Mama Sera tahu siapa Raditya.Sehs
Seharusnya dia pewaris sebenarnya, sungguh menarik
Naufal Affiq
bagus sera,selidiki terus suami mu yang tukang bohong itu,jadi jangan percaya lagi sama omongannya,ikuti aja alur cerita suami mu itu
sunaryati jarum
Bagus Serta, jangan lemah Wira sepertinya saudara Ravin, ibunya Ravin pelakor.
Naufal Affiq
bagus sera,jangan diam aja seperti orang bodoh,ikutin aja permainan si ravin itu,
dyah EkaPratiwi
bagus sera
Noviie 🍃🍃
Fix nih Wira itu kakaknya Ravin.. tp kenapa namanya bisa ganti y??
Noviie 🍃🍃
Tuh kan.. ini Wira pasti mirip papanya waktu muda.. makanya pada ga asing sama wajahnya..
Noviie 🍃🍃
Kayaknya Wira ini kakaknya Ravin deh…
Noviie 🍃🍃
Siapakah Wira ini???
Noviie 🍃🍃
Ooo kamu ketahuan Ravin….
Noviie 🍃🍃
Recommended ❤️❤️
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
dyah EkaPratiwi
nah gitu Ra harus tegas
dyah EkaPratiwi
ravin bener2 kurang ajar
dyah EkaPratiwi
wah Wira berarti raditya
dyah EkaPratiwi
gemes banget sama Sera aja coba selidiki ra
dyah EkaPratiwi
betul mama mu Sera cinta boleh bodoh jangan
dyah EkaPratiwi
sera please jangan bodoh😭
dyah EkaPratiwi
jahat banget ravin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!