Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Uap putih tebal membubung tinggi dari sebuah panci aluminium besar di atas kompor dapur. Di dalam air yang mendidih itu, berbagai macam rempah dan dedaunan bergolak, mulai dari irisan jahe tua, serai yang dimemarkan, daun pandan wangi, hingga taburan kelopak bunga mawar merah dan melati suci yang dibeli dari pasar oleh Ki Renggo tempo hari. Aroma herbal yang menenangkan berpadu dengan wangi bunga yang harum seketika memenuhi seisi ruang dapur, mengalahkan hawa pengap rumah kolonial yang tua.
Damian berdiri tegak di depan kompor. Tangannya yang sewarna porselen memegang sebuah sendok kayu panjang, mengaduk ramuan air mandi tersebut dengan gerakan yang teramat konstan dan sabar. Kemeja birunya telah ia tanggalkan, menyisakan kaus dalam putih yang membungkus dada bidangnya yang kaku. Hawa es yang secara alami memancar dari pori-pori kulit pucatnya beradu dengan uap panas dari kompor, menciptakan kabut tipis yang berputar-putar di sekeliling tubuhnya.
Sejak kelahiran Helena, merebus air rempah ini telah menjadi rutinitas sakral bagi Damian setiap pagi dan sore hari.
Sret... sret...
Suara langkah kaki yang pelan membuat Damian menoleh tanpa menghentikan kayuhan sendok kayunya. Cindy berjalan masuk ke dapur dengan langkah yang jauh lebih ringan, mengenakan daster katun tipis berwarna hijau muda. Di dalam dekapannya, Helena yang sudah mengenakan baju bayi putih bersih tampak sedang mengisap ibu jarinya sendiri, matanya yang sebiru malam menatap lurus ke arah kepulan uap di depan kompor dengan binar penuh rasa ingin tahu.
"Belum matang airnya, Damian?" tanya Cindy lembut, memilih untuk duduk di atas kursi kayu dekat meja makan dapur.
Damian mematikan kompor, lalu membalikkan tubuh tegapnya menghadap Cindy. Kehadiran dua mahluk tercintanya itu seketika meruntuhkan raut dingin di wajah aristokrat sang Iblis Belanda. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di samping kursi Cindy, menatap putrinya dengan pandangan yang sarat akan proteksi mutlak.
"Sudah matang, mijn liefde," jawab Damian, suaranya yang berat dan parau terdengar begitu tenang. Ia mengulurkan jari telunjuknya yang sedingin es, membiarkan jemari mungil Helena yang hangat refleks mencengkeramnya dengan kekuatan yang tidak biasa. "Esensi dari bunga dan rempah ini sangat bagus untuk menutup pori-pori manusiamu yang sempat melebar setelah persalinan Satu Suro kemarin. Dan untuk Helena... ini akan meredam gejolak energi gaibnya agar tubuh kecilnya tidak terlalu gerah."
Cindy tersenyum manis, membiarkan Damian mengecup keningnya dengan lumatan yang lembut. "Tapi wanginya pekat sekali, sayang. Kamar mandi kita jadi seperti ruangan dukun kalau sore-sore begini."
Damian terkekeh rendah, suara tawa gaibnya yang berat bergetar di dada. "Ini bukan urusan dukun, Cindy. Ini adalah cara saya menjaga kalian. Air ini telah saya berkati dengan sedikit energi penenang agar tidak ada mahluk luar yang bisa mencium aroma tubuh suci putri kita saat kalian keluar rumah."
Damian kemudian bangkit berdiri, dengan mudahnya mengangkat panci besar berisi air mendidih yang super berat itu hanya dengan satu tangan tanpa terlihat kesulitan sama sekali. Kulit pucatnya bahkan tidak melepuh atau memerah sedikit pun meski terkena hawa panas yang ekstrem dari dinding panci.
"Bawa Helena ke kamar mandi, Cindy. Saya akan mencampurkan airnya dengan air dingin di bak agar suhunya pas untuk kulit bayimu yang sensitif," perintah Damian lembut sembari melangkah mendahului Cindy menuju kamar mandi belakang.
"Iya, Papa Damian yang posesif," goda Cindy kecil dengan tawa renyahnya, bangkit dari kursi dan mengekor di belakang punggung tegap sang suami dengan perasaan aman yang begitu melimpah, mengabaikan seluruh ketidakwajaran yang membungkus kehidupan kecil mereka.
Malam telah turun menyelimuti rumah kolonial itu dengan keheningan yang tebal dan aroma tanah basah yang dingin. Di kamar utama, lampu gantung kuno yang berpendar kuning redup menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding. Cindy tengah menidurkan Helena di atas tempat tidur bayi kayu jati, menyanyikan senandung lirih yang menenangkan.
Damian berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh jangkungnya dengan sempurna. Ia tampak seperti bangsawan dari masa lalu yang baru saja melangkah keluar dari lukisan cat minyak. Ia memperhatikan Cindy dengan tatapan yang nyaris memuja, sebelum akhirnya raut wajahnya mengeras, kembali ke mode kewaspadaan yang dingin.
"Cindy," panggilnya lembut namun dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Cindy menoleh, menatap suaminya dengan mata yang masih menyimpan sisa kantuk. "Ya? Mau tidur? Aku baru saja mau merebahkan diri setelah Helena tenang."
"Tidak," Damian melangkah mendekat, mengecup kening Cindy cukup lama, seolah sedang mentransfer energinya ke sana. "Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan di bawah lembah gunung merapi. Beberapa urusan dengan Ki Renggo. Saya berjanji akan kembali sebelum fajar menyingsing."
Cindy mengangguk pelan, meski ada sedikit rasa kecewa di hatinya. "Ya sudah, hati-hati ya. Jangan terlalu lelah."
Damian tersenyum tipis sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. Setelah memastikan Cindy kembali terfokus pada Helena, Damian berbalik. Begitu ia melangkah keluar dari pintu belakang, melewati taman yang gelap gulita, tubuhnya seolah larut ke dalam bayang-bayang pohon beringin tua. Ia tidak memakai kendaraan apapun. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan udara malam yang dingin menariknya, melipat ruang dan waktu dengan satu tarikan napas yang berat.
Hanya dalam hitungan detik, suasananya berubah drastis. Ia kini berdiri di depan sebuah rumah kayu tua di pinggiran desa yang terpencil, tempat tinggal Ki Renggo.
Bau kemenyan dan dupa yang pekat menyengat hidung. Damian tidak mengetuk pintu. Ia hanya melangkah masuk, membiarkan energi dingin yang memancar dari tubuhnya membuat pintu kayu yang terkunci itu berderit terbuka seolah ketakutan.
Di dalam ruangan yang remang-remang, diterangi hanya oleh sebatang lilin yang apinya bergoyang tanpa arah, Ki Renggo duduk bersila. Pria tua itu tidak terkejut. Ia bahkan sudah berdiri begitu merasakan hawa dingin yang familiar masuk ke ruangannya.
“Tuan muda,” sapa Ki Renggo dengan nada sopan dan tegas.
“Aku ingin kau menyingkirkan Mahen!“ suara tegas dari Damian membuat Ki Renggo terkekeh.
“Ada apa tuan muda? Apa dia membuat masalah?“ tanya pria tua itu tidak ada takut-takut nya.
“Dia membuat paman istriku curiga karena dia ku larang membalas pesan Mahen kecuali pesan pekerjaan.“
Ki Renggo terkekeh, suara tawa keringnya terdengar seperti gesekan dua potong kayu tua yang beradu. Ia tidak bergeming sedikit pun meski aura dingin yang mematikan dari Damian memenuhi ruangan sesak itu, membuat nyala lilin yang tadinya tegak kini meredup dan menari-nari gelisah.
"Mahen itu hanyalah lalat kecil, Tuan Muda," ujar Ki Renggo pelan, matanya yang keruh menatap lekat-lekat pada sepatu bot kulit mengilap milik Damian yang tidak ternoda oleh debu lantai tanah. "Namun, lalat yang terus berdengung di dekat telinga bisa membuat siapa saja kehilangan kesabaran. Anda ingin saya mematikannya, atau sekadar membuatnya kehilangan arah?"
Damian melangkah maju satu langkah. Gerakannya begitu efisien, sebuah keanggunan predator yang menahan diri. "Aku tidak ingin ada keributan. Jika dia mati secara mendadak, akan ada polisi, investigasi, dan hal-hal merepotkan yang bisa menarik perhatian ke rumahku. Cindy masih memiliki ikatan emosional dengan kerabatnya, dan aku tidak ingin dia melihat darah yang tidak perlu."
Damian menatap tajam ke arah sudut ruangan yang gelap, tempat sebuah sesajen teronggok berantakan. "Buat dia berhenti. Hapuskan obsesinya terhadap Cindy. Atau jika kau bisa, buat dia terpaku pada pekerjaan lain yang akan membawanya sangat jauh dari jangkauan istriku. Singkatnya, pastikan dia tidak lagi menjadi ancaman bagi ketenanganku."
Ki Renggo mengangguk-angguk kecil, tangannya yang kurus dan dipenuhi keriput mulai bergerak meracik sesuatu di atas nampan kayu. Ia mengambil segenggam tanah kuburan yang dibungkus kain kafan kecil, lalu menaburkan sedikit bubuk hitam ke atasnya.
"Pikiran manusia itu seperti labirin yang rapuh, Tuan Muda," gumam Ki Renggo, suaranya kini terdengar seperti berbisik di antara hembusan angin malam yang tiba-tiba masuk melalui celah dinding kayu. "Jika saya meracuni pikirannya, dia akan mulai mengalami delusi. Dia akan merasa bahwa Jakarta adalah tempat yang mencekam, bahwa pekerjaannya di sana adalah jebakan. Dia akan pergi atas kemauannya sendiri. Dia tidak akan ingat kenapa dia dulu begitu terobsesi pada Cindy."
Damian terdiam sejenak. "Apakah itu akan permanen?"
"Selama Tuan Muda tidak membiarkan Mahen menginjakkan kaki kembali di radius seratus kilometer dari rumah Anda, efeknya akan abadi," jawab Ki Renggo mantap.
Damian meraih dompet kulit dari dalam saku jasnya. Dengan satu gerakan santai, ia melemparkan segumpal uang tunai yang nilainya cukup untuk membeli setengah desa kecil di pinggiran sana. Uang itu mendarat tepat di atas tikar pandan di depan Ki Renggo tanpa sedikit pun suara berisik. Entah dari mana uang itu berasal. Bagi Ki Renggo itu sudah cukup sebagai tanda transaksi baginya. Meskipun tanpa uang pun ia mau di suruh oleh iblis Belanda itu.
"Selesaikan dalam tiga hari," perintah Damian dingin. "Jika setelah tiga hari aku masih mendengar namanya disebut oleh paman Cindy, atau aku melihat notifikasi pesannya di ponsel istriku, aku tidak akan datang lagi dengan cara baik-baik seperti ini. Kau mengerti?"
Ki Renggo menunduk dalam-dalam, menyembunyikan seringai yang menghiasi wajah tuanya. "Tentu, Tuan Muda. Besok pagi, saat matahari baru saja mengintip, lalat itu akan mulai merasakan kegelisahan yang tak berujung di dadanya."
Damian berbalik badan. Ia tidak membuang waktu sedetik pun di ruangan berbau dupa busuk itu. "Pastikan itu terjadi. Jangan sampai ada kesalahan teknis."
Tanpa suara tambahan, Damian melangkah keluar. Begitu kakinya menyentuh tanah pekarangan luar, udara di sekitarnya mendadak mendingin hingga embun beku mulai terbentuk di atas daun-daun kering. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam menariknya kembali.
Dalam sekejap mata, ia sudah berada kembali di kamar utamanya. Keheningan menyambutnya. Ia melangkah mendekati tempat tidur bayi, menatap Helena yang tengah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Wajahnya yang tadi begitu tegang dan haus akan eliminasi, perlahan melunak.
Ia kemudian mendekat ke arah ranjang besar tempat Cindy terlelap. Istrinya itu meringkuk seperti kucing, memeluk guling dengan napas yang damai. Damian duduk di tepi kasur, memperhatikan setiap helai rambut yang menutupi wajah cantik Cindy. Ia mengulurkan tangan, membelai pipi istrinya dengan punggung jari yang dingin, namun penuh dengan kelembutan yang hanya bisa ia tunjukkan pada wanita itu.
"Tidur yang nyenyak, mijn liefde," bisiknya pelan, seolah tidak pernah ada pembicaraan tentang kutukan dan penghancuran karier seseorang yang baru saja ia lakukan beberapa menit lalu. "Besok, duniamu akan menjadi jauh lebih tenang."
Ia menyelimuti Cindy hingga ke dada, lalu mematikan lampu gantung dengan satu jentikan jari. Kamar itu seketika tenggelam dalam kegelapan total, menyisakan hanya suara angin yang makin kencang berhembus lembut, ia tidak tidur seperti manusia hanya berdiri menatap ke langit berjaga di tengah malam yang semakin pekat.