NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar Tertinggal

Aris mencengkeram kerah kemeja Herman, menarik tubuh pria itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma alkohol yang coba disamarkan Herman kini menguar.

"Dengar, Herman!" gertak Aris.

"Istri dan anakmu terbujur kaku di dalam sana. Waktuku tidak banyak untuk meladeni air mata palsumu. Katakan siapa 'orang itu' yang mengancam keluargamu, atau aku sendiri yang akan menjebloskanmu ke sel dengan tuduhan pembunuhan berencana!"

Herman gemetar hebat. Cengkeraman tangan Aris yang kuat membuatnya tidak berkutik. Dia menatap Aris dengan mata yang dipenuhi ketakutan.

"Namanya... Ki Raksamaloka," bisik Herman dengan suara yang nyaris habis. "Dia orang pintar, dukun yang tinggal di ceruk terdalam Lereng Kelam. Ratna... Ratna sebenarnya berasal dari garis keturunan pengikut lamanya di masa lalu."

Aris melonggarkan cengkeramannya, membiarkan Herman terenyak kembali ke sandaran kursi. Januar yang mendengarkan dari luar jendela mobil langsung saling pandang dengan Aris.

"Kenapa dia mengancam keluargamu?" tanya Aris, jarinya mengetuk kemudi mobil, menuntut penjelasan logis di balik hal takhayul ini.

"Tiga tahun lalu, sebelum kami pindah ke kompleks urban Marunda ini, Ratna mengambil sesuatu tanpa izin saat berkunjung ke lereng gunung," jelas Herman,

menyeka keringat di pelipisnya dengan tangan.

"Sebuah kotak kayu berisi benih tanaman larangan. Ratna mengira itu hanya tanaman hias. Tapi sebulan lalu, tanaman itu mekar dengan bunga ungu.

Sejak malam itu, teror dimulai. Boneka jerami berambut muncul di depan pintu, dan panggilan telepon tanpa suara terdengar setiap jam dua malam."

Herman meremas rambutnya sendiri. "Dia meminta kotak itu kembali beserta 'bunga yang telah mekar'. Kemarin saya nekat pergi ke lereng untuk menyerahkannya langsung dan memohon ampun agar teror ini berhenti.

Ki Raksamaloka menerima kotak itu... tapi dia bilang hutang darah tidak bisa dibayar dengan tanaman mati."

Aris terdiam, otaknya langsung menyusun. Tanaman larangan yang dimaksud Herman tidak lain adalah Kecubung Hitam Lereng Kelam yang diceritakan Dokter Sembiring.

Racun mematikan itu sudah berada di tangan Ratna selama tiga tahun..Namun, jika Herman berada di Lereng Kelam kemarin malam untuk mengembalikan kotak tersebut, siapa yang menyelinap ke rumah nomor 42 semalam dan meracuni Ratna serta Dani menggunakan serbuk tanaman itu sendiri?

Aris menolak percaya begitu saja pada Herman yang ketakutan. Dia tahu, dalam kasus pembunuhan domestik, detail sekecil apa pun tentang barang bukti bisa membalikkan status seseorang dari saksi menjadi tersangka utama.

"Kau bilang kau sudah mengembalikan kotak itu ke Ki Raksamaloka kemarin malam," desis Aris, tapi Dokter Sembiring mendapati istri dan anakmu tewas karena racun dari serbuk tanaman itu sendiri.

Jika kotak dan bunganya sudah kau serahkan, dari mana pelaku mendapatkan racunnya?"

Aris memajukan tubuhnya, menatap Herman. "Kecuali... kau berbohong. Kau tidak menyerahkan semuanya, atau kau menyembunyikan sisa tanaman kecubung hitam itu di suatu tempat."

Herman menggelengkan kepalanya, tangannya melambai-lambai di udara.

"Tidak, Detektif! Demi Tuhan, saya menyerahkan kotaknya! Tapi... tapi Ratna..." Herman tercekat, saat dia mencoba mengingat sesuatu.

"Bicara, Herman!" bentak Aris, mengetuk dasbor mobil dengan keras.

"Ratna pernah menanam satu sesepuh benihnya di luar pot," ucap Herman terbata-bata, dia... dia sangat menyukai kelopak ungu tanaman itu sebelum teror dimulai.

Dia memindahkan satu tunas kecil ke tanah langsung. Di pekarangan belakang rumah, di dekat saluran pembuangan air. Saya lupa memotongnya sebelum pergi!"

Aris seketika melirik Januar yang berdiri di luar kaca jendela. Tanpa perlu perintah verbal, Januar langsung paham. Dia berbalik cepat dan berlari menuju halaman samping rumah nomor 42 untuk memeriksa pekarangan belakang.

Aris membuka pintu mobil, keluar membiarkan Herman duduk lemas di kursi penumpang. menyusul Januar di sisi bangunan. Di pekarangan belakang yang sempit, dekat pipa pembuangan air, Januar sedang berjongkok menyorotkan senternya ke tanah.

Di sana, terdapat sebuah lubang galian kecil masih basah. Seseorang telah mencabut tunas tanaman itu secara paksa, meninggalkan sisa akar yang patah dan tanah yang berantakan.

Di dalam lubang galian yang ditinggalkan,sebuah gembok besi kecil berlogo dinas pekerjaan umum, tempat Herman bekerja, yang tampaknya baru saja terjatuh dari saku pencabut tanaman.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!