Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
.
Keira menerima ponsel yang disodorkan Daren, kemudian mengamati beberapa berita yang muncul di layar. Foto dan video dirinya saat memasuki ballroom bersama Elvano terpampang di berbagai portal hiburan dan bisnis. Bahkan, ada beberapa rekaman yang memperlihatkan Daren menyerahkan kotak hitam berisi surat perceraian kepada Arsen.
Judul-judul berita yang menyertai video tersebut pun tidak kalah mengundang perhatian.
Istri Tuan Muda Wijaya Hentikan Pernikahan Suaminya, Ada Apa di Balik Perceraian Mendadak Ini?
Daren Antasena dan Elvano Mahardika Hadiri Perceraian Pengusaha Muda Wijaya Group bersama istri pertama Tuan Muda Winaya.
Keira melirik ke arah Daren dengan mata memicing sebelum mengembalikan ponsel itu kepada Daren. “Kamu yang mengerahkan mereka?” tebaknya.
Daren sama sekali tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum tengil sambil menaikkan kerah jasnya
Keira menghembuskan nafas pelan tidak terlalu peduli dengan pemberitaan yang beredar. Hanya saja ia tahu persis Apa dampak yang akan datang setelah pemberitaan itu bagi Wijaya Group.
“Sepertinya besok pagi akan ada orang yang kelimpungan,” ujar Daren sambil tetap fokus mengemudikan mobil.
“Biarkan saja. Aku sudah tidak punya urusan dengan Arsen. Apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini bukan tanggung jawabku,” jawab Keira tenang.
Daren melirik sekilas ke arahnya. “Setelah ini mereka pasti akan mencari Bos. Apalagi sepertinya Tuan Arsen masih belum memahami apa yang terjadi. Dan mungkin juga mereka akan mencari saya. Mereka pasti sedang bertanya-tanya karena saya datang bersama Bos.”
“Abaikan saja,” jawab Keira enteng.
“Baik, Bos.”
Keira kembali memandang keluar jendela bahkan sambil menurunkan kaca. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya membuatnya terkadang sedikit menyipitkan mata.
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman mansion mewah tempat Keira tinggal. Daren segera turun untuk membukakan pintu, lalu membantu membawakan beberapa berkas yang segera diterima oleh Pak Hero yang sudah menunggu di depan pintu.
Setelah Keira masuk ke dalam Mansion dan memastikan tak ada lagi tugas yang harus ia selesaikan ia berpamitan dan berjanji akan mengirimkan laporan terbaru pada pagi hari.
Keira mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas diikuti oleh Pak Hero.
*
*
*
Pagi harinya di perusahaan Wijaya Group, Arsen datang ke kantor lebih awal dari biasanya karena Mario asistennya menghubunginya bahwa ada masalah yang terjadi di perusahaan. Rencana bulan madu yang sudah diatur oleh Clarissa pun terpaksa harus mereka batalkan. Tampaknya dampak dari berita viral tentang kedatangan Keira pada pernikahan mereka benar-benar signifikan.
Sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya pria itu memerintahkan seorang OB yang kebetulan berpapasan dengannya untuk membuatkannya secangkir kopi, berharap dengan itu bisa mengurangi rasa pusing di kepalanya setelah semalaman tak bisa tidur. Kedatangan Keira yang membawa surat cerai terus muncul dalam pikirannya. Juga tentang kebersamaan wanita itu dengan Darren Antasena dan Elvano Mahardika.
Saat duduk di kursi kerjanya Arsen berusaha menghalau semua bayangan itu dan mencoba fokus pada masalah perusahaan yang jauh lebih penting. Namun, baru beberapa menit duduk, Mario, sekretarisnya sudah mengetuk pintu dan masuk membawa beberapa dokumen.
“Saya membawa beberapa laporan yang perlu segera Anda periksa, Pak.” Mario meletakkan setumpuk berkas yang semula ia bawa di atas meja di hadapan Arsen.
Arsen hanya memandang map-map tersebut lalu mengangkat kepalanya menatap ke arah Mario. “Ada masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
“Beberapa mitra meminta pertemuan untuk membahas kembali kerja sama mereka dengan Wijaya Group.” Mario menggerakkan tangannya lalu membuka salah satu map dan menunjuk dengan ujung jarinya.
Alis Arsen langsung berkerut. “Membahas kembali?”
“Ya, Pak. Ada beberapa fasilitas pendanaan dan kerja sama yang masa berlakunya akan segera berakhir. Mereka belum mengatakan akan menghentikannya, tetapi meminta peninjauan ulang sebelum memperpanjang.”
Arsen membuka dokumen pertama. “Berapa banyak?”
Sekretarisnya menyebutkan beberapa nama perusahaan dan lembaga yang selama ini bekerja sama dengan Wijaya Group yang jumlahnya cukup banyak.
“Dalam waktu bersamaan?” Arsen menghentikan gerakan tangannya. Matanya membulat melihat laporan itu.
“Itu yang saya juga merasa heran, Pak,” jawab Mario sambil menganggukkan kepalanya.
Arsen membaca laporan itu dengan lebih teliti. Wijaya Group memang sedang melakukan beberapa ekspansi, sehingga perusahaan membutuhkan dukungan dari sejumlah mitra. Jika fasilitas tersebut tidak diperpanjang, arus kas perusahaan akan ikut terpengaruh.
“Jadwalkan pertemuan dengan mereka,” katanya akhirnya. “Aku ingin tahu alasan sebenarnya.”
“Baik, Pak.” Mario baru hendak keluar ketika Arsen kembali memanggilnya.
“Jangan sampai masalah ini tersebar ke luar perusahaan. Aku tidak ingin para pemegang saham atau karyawan mendengar kabar yang belum jelas.”
“Baik, Pak.” Mario menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar ruangan.
Setelah pintu tertutup, Arsen kembali menatap laporan di tangannya. Ia mencoba mencari pola dari perubahan tersebut, tetapi belum menemukan sesuatu yang mencurigakan.
*
Tak lama kemudian, rapat direksi dimulai. Beberapa orang yang hadir tampak lebih tegang daripada biasanya. Arsen duduk di ujung meja dengan laporan keuangan terbuka di hadapannya.
“Kita harus memastikan operasional tetap berjalan meskipun beberapa fasilitas pendanaan tidak diperpanjang,” ujarnya. “Tunda dulu proyek yang tidak terlalu mendesak. Prioritaskan kewajiban perusahaan dan proyek yang sudah berjalan.”
Salah seorang direktur menatap ke arah Arsen. “Kalau kondisi ini hanya sementara, langkah tersebut masih cukup aman. Tetapi kalau lebih banyak mitra ikut melakukan peninjauan ulang, kita terpaksa menggunakan cadangan kas.”
Arsen menatapnya. “Berapa lama cadangan kita bisa bertahan?”
“Kalau hanya untuk kebutuhan operasional, cukup. Tetapi jika beberapa proyek besar tetap berjalan sesuai jadwal, cadangan itu akan cepat berkurang.”
Ruangan menjadi hening.
Arsen tahu situasi tersebut tidak boleh dibiarkan. Selama beberapa tahun terakhir, Wijaya Group berkembang pesat. Ia tidak ingin semua pencapaian itu goyah hanya karena sejumlah mitra tiba-tiba berhenti.
“Cari alternatif pendanaan,” perintahnya tegas. "Hubungi bank dan mitra lain yang masih terbuka untuk bekerja sama. Aku ingin semua opsi tersedia sebelum kita mengambil keputusan.”
Para direktur segera mencatat perintah tersebut. Namun, sebelum rapat ditutup, asisten Mario tiba-tiba menyampaikan kabar yang membuat suasana semakin berat.
“Pak, baru saja perwakilan dari Tuan Elvano Mahardika menyampaikan bahwa mereka akan mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap beberapa rencana investasi Wijaya Group.”
Arsen langsung mengangkat kepala. “Elvano Mahardika?”
Mario mengangguk Seraya menunjukkan layar tabletnya. “Ya, Pak. Beliau belum menarik investasi yang sudah berjalan. Namun, untuk kerja sama berikutnya, beliau mengatakan masih perlu melakukan evaluasi.”
“Apakah dia mengatakan alasannya?” tanya Arsen yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Mario.
Arsen menyandarkan punggungnya saat tiba-tiba saja mengingat kehadiran Elvano kemarin di pernikahannya dengan Clarissa. Pertanyaan yang sangat mengganggu sejak kemarin. Apa hubungan antara Elvano dengan Keira? Kenapa hanya karena perceraian antara dirinya dengan Keira lalu pengusaha itu tiba-tiba ingin menarik investasi?
“Lanjutkan komunikasi dengan pihak Tuan Elvano,” perintahnya. “Jangan membuat keputusan sepihak. Aku akan bicara langsung dengannya jika diperlukan.”
Mario mengangguk seraya menundukkan sedikit kepalanya. “Baik, Pak.”
Arsen masih duduk di ruang rapat bahkan saat semua orang telah meninggalkan ruangan itu. Ia membuka kembali laporan keuangan dan mulai menghitung kemungkinan terburuk. Jika beberapa fasilitas benar-benar dihentikan, perusahaan masih bisa bertahan, tetapi ruang geraknya akan semakin sempit.
Arsen memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing. Bukan hanya karena tidak bisa tidur semalam tetapi juga masalah perusahaan yang tiba-tiba saja datang menghantam.
“Tenang saja, Sayang. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.”
Suara Keira tiba-tiba saja terngiang di telinganya membuatnya tersentak dan langsung membuka mata. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari bayangan pemilik suara. Tetapi kosong apa yang ia cari tak ia temukan. Ternyata suara itu hanyalah sesuatu yang muncul dalam ilusinya. Karena selama empat tahun setiap kali dirinya atau keluarganya mendapat masalah, telinganya selalu mendengar bisikan seperti itu dari Keira.
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏