Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jejak Buram dalam Berkas
Kejadian konyol di depan pintu lift Lantai 2 tadi pagi terus berputar-putar di dalam kepala Nadia Nugroho. CEO muda Nugroho Group itu duduk di balik meja kerja mewahnya yang terbuat dari kayu jati berukir di lantai 55 Menara Utama. Pandangannya menerawang menembus dinding kaca tebal yang menampilkan pemandangan lanskap pencakar langit ibu kota. Rasa penasaran yang tadinya hanya sebatas usikan kecil kini telah berubah menjadi percikan api obsesi yang membakar pikiran analitisnya.
Bagaimana mungkin seorang petugas keamanan baru, yang seharusnya bersikap patuh dan penuh hormat di depan pimpinan tertinggi perusahaan, justru bertindak nekat memalsukan batuk lalu kabur menaiki tangga darurat hanya demi mempertahankan selembar masker kain hitam? Sikap defensif yang sangat berlebihan itu jelas menandakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Nadia memajukan posisi duduknya, lalu mengetuk jemarinya yang lentik di atas permukaan meja dengan ritme teratur. Ia meraih gagang telepon interkom di mejanya dan menekan satu tombol cepat.
"Rina, masuk ke ruangan saya sekarang," perintah Nadia singkat sebelum mengembalikan gagang telepon ke tempat semula.
Tidak sampai satu menit, pintu kayu tebal ruang kerja CEO terdorong pelan. Rina melangkah masuk dengan anggun seraya membawa buku catatan kecil di tangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Nadia?" tanya Rina sopan seraya berdiri di depan meja kerja bosnya.
Nadia menatap sekretaris pribadinya itu dengan pandangan lurus dan tidak menoleransi bantahan. "Saya mau kamu hubungi divisi HRD dan Yayasan Garuda Mandiri detik ini juga. Saya minta seluruh berkas fisik dan dokumen lamaran milik Satpam baru bernama Arga Dewa Putra."
Rina sempat mengerjapkan matanya kaget, ingatan tentang aksi kabur Satpam bermasker di tangga darurat tadi pagi mendadak melintas kembali di benaknya. "B-berkas Satpam yang tadi pagi, Bu?"
"Iya. Satpam bermasker hitam itu," tegas Nadia tanpa ragu. "Saya ingin melihat salinan KTP, pasfoto resmi, dan riwayat hidupnya sekarang juga. Minta HRD mengantarkannya langsung ke meja saya dalam waktu sepuluh menit."
Rina mengangguk sigap, mengabaikan rasa herannya atas perhatian berlebih sang CEO terhadap seorang petugas keamanan. "Baik, Bu Nadia. Saya akan segera koordinasi dengan Pak Hendra dari pihak penyalur dan Tim HRD pusat."
Setelah Rina keluar dari ruangan, Nadia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kulitnya yang empuk. Ia mengusap keningnya yang mendadak terasa agak pening.
"Nggak mungkin cuma kebetulan," gumam Nadia pelan pada dirinya sendiri. "Postur tubuhnya, lebarnya bahu, sampai cara dia melangkah menundukkan kepala... semuanya persis banget sama laki-laki sok tahu yang mengaku bernama Bimo di Kafe Merah itu. Tapi kenapa dia bisa terdampar jadi Satpam di gedung ini pakai nama Arga?"
Sembari menunggu, Nadia kembali teringat ancaman yang disodorkannya malam itu di Kafe Merah. Ancaman membatalkan investasi dan menarik seluruh kerja sama Nugroho Group dari Wira Perkasa Group jika kesepakatan nikah kontrak satu tahun ditolak. Jika Satpam ini benar-benar laki-laki yang sama, lalu apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh keluarga Bimo dan Wira Perkasa Group? Berbagai spekulasi dan dugaan konspirasi mulai berseliweran di dalam kepalanya.
Suara ketukan pintu memecahkan lamunan Nadia. Rina masuk kembali ke dalam ruang kerja seraya membawa map fobi berwarna kuning tebal di tangannya.
"Permisi, Bu Nadia. Ini berkas fisik resmi atas nama Arga Dewa Putra yang baru saja dikirimkan oleh divisi HRD," ujar Rina seraya meletakkan map tersebut dengan hati-hati tepat di atas meja kerja Nadia.
"Terima kasih, Rina. Kamu boleh kembali ke meja kamu," sahut Nadia cepat.
"Baik, Bu." Rina membungkuk sopan lalu melangkah keluar, meninggalkan Nadia sendirian dengan dokumen di tangannya.
Dengan gerakan jemari yang sedikit terburu-buru, Nadia membuka tali pengikat map kuning tersebut. Ia menarik lembaran-lembaran kertas formulir pendaftaran, surat keterangan catatan kepolisian, serta salinan ijazah SMA Nusantara atas nama Arga Dewa Putra.
Mata tajam Nadia langsung tertuju ke pojok kanan atas lembaran formulir utama, tempat di mana pasfoto resmi calon pegawai biasanya tertera.
Namun, begitu pandangan matanya jatuh di atas pasfoto berukuran 4x6 tersebut, raut wajah Nadia seketika berubah keruh. Emosi dan kejengkelan langsung membakar dadanya.
"Apa-apaan ini?!" seru Nadia gusar seraya menghempaskan lembaran kertas itu sedikit keras ke meja.
Pasfoto di dalam berkas itu sangat tidak jelas. Foto cetakan dokumen lama tersebut tampak kusam dan agak blur karena kualitas cetakan printer yang buruk. Yang lebih menyebalkan lagi, tepat di atas area wajah pada pasfoto tersebut, tertera stempel basah tinta biru tebal milik Yayasan Penyalur Tenaga Kerja Garuda Mandiri dan cap pengesahan HRD yang saling bertumpuk rapat. Cap stempel yang sangat pekat itu menutupi hampir seluruh bagian hidung, bibir, hingga garis rahang pada foto tersebut, hanya menyisakan bagian dahi dan sedikit sudut mata yang buram.
Nadia mendekatkan lembaran kertas itu ke matanya, mencoba meneliti sudut-sudut wajah yang tersisa di balik lingkaran tinta stempel tebal itu di bawah paparan cahaya lampu meja.
"Sengaja atau gimana sih ini HRD?" gerutu Nadia dengan gigi tergetar menahan kekesalan. "Stempel gila ini malah menutupi seluruh mukanya! Nggak kelihatan sama sekali bentuk hidung sama bibirnya!"
Nadia membalik-balik lembaran dokumen pendukung lainnya dengan napas yang mulai naik turun menahan gumpalan rasa frustasi. Pada lembaran salinan KTP, kondisinya justru jauh lebih parah. Fotokopi KTP hitam putih itu sudah terlaqlu sering digandakan hingga gambarnya berubah menjadi piksel-piksel hitam kusam yang sangat gelap, menyerupai bayangan tanpa bentuk wajah yang jelas.
Nadia menyandarkan punggungnya secara kasar ke kursi kerja, melempar map kuning itu ke tengah meja hingga beberapa kertasnya tersingkap berantakan. Ia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa jengkel dan kekecewaan mendalam.
Usahanya untuk membongkar identitas asli Satpam bermasker hitam itu melalui jalur resmi dokumen perusahaan berujung pada jalan buntu yang sangat menyebalkan. Foto buram dan stempel tinta tebal di atas kertas itu sama sekali tidak memberikan jawaban pasti yang sedang dicarinya.
"Arga Dewa Putra..." bisik Nadia datar dengan tatapan mata yang membeku menatap dokumen berstempel di atas mejanya. "Kamu benar-benar bikin saya makin penasaran."