Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Ketika matahari perunggu di langit-langit kubah Lantai 14 meredup perlahan, hamparan pasir kristal putih di sekeliling reruntuhan kuil berubah warna menjadi kelabu kehitaman yang dingin dan suram.
Suhu udara merosot tajam hingga mendekati titik beku, mengubah embun di atas terpal tenda-tenda perkemahan menjadi lapisan kristal tipis yang gemerlap di bawah cahaya tembaga temaram. Angin malam bertiup kencang melintasi pilar-pilar batu kuil purba yang telah runtuh, membawa desau halus butiran pasir yang menggesek dinding perkemahan dengan suara desingan panjang yang monoton.
Di dalam tenda komando utama yang megah dan hangat, aroma dupa kayu gaharu mahal terbakar pelan di dalam pedupaan perak berukir lambang rajawali kekaisaran, mengusir bau debu kering menara. Lampu-lampu kristal sihir menerangi meja bundar berbahan kayu eboni yang di atasnya terbentang peta taktis bersulam benang emas murni. Peta itu menggambarkan secara terperinci tata letak Lantai 14 hingga ke gerbang perunggu Lantai 15.
Julius von Ravensburg duduk di kursi berpunggung tinggi berlapis beludru merah pekat, memutar cawan berisi anggur di tangannya yang terawat rapi. Di sekeliling meja, dua perwira kepercayaannya berdiri dengan kepala tertunduk hormat: Kapten Valerie—komandan barisan ksatria zirah berat keluarga Ravensburg—dan Gunter, seorang penyihir perang berjubah kelabu yang memegang tongkat berkepala kristal ungu.
Di sudut meja, tumpukan lembaran perkamen logistik dan buku kas militer tersusun rapi. Ribuan koin emas telah digelontorkan oleh keluarga Ravensburg untuk melengkapi divisi ksatria mereka dengan zirah terbaik dan ramuan bermutu tinggi. Bagi Julius, ekspedisi ini adalah investasi politik terbesar dalam sejarah keluarganya.
"Jadi, laporan status empat prajurit pelopor itu sudah diperiksa secara lengkap?" suara Julius terdengar tenang, memecah kesunyian tenda mewah tersebut.
"Sudah kami periksa secara menyeluruh, Tuan Muda Julius," jawab Kapten Valerie dengan nada bicara yang tegas. "Prajurit bernama Ren itu tercatat di daftar resmi kekaisaran sebagai prajurit kasta rendah dengan kontrak penebusan utang keluarga dari distrik pelabuhan. Dua lainnya adalah veteran tameng tua dan seorang tabib darurat kasta bawah. Bersama anak pengintai muda itu, mereka tidak memiliki latar belakang sihir keluarga bangsawan atau dukungan faksi politik mana pun di ibu kota."
Valerie sempat terdiam sejenak sebelum menambahkan dengan ragu, "Namun beberapa perwira muda di korps pengawas sempat berbisik-bisik mengenai keputusan kita meninggalkan mereka di lantai sepuluh. Mereka khawatir jika kabar ini terdengar oleh para pendeta pengawas kuil suci."
Julius mengangkat pandangannya perlahan, tatapan matanya begitu dingin hingga membuat sang kapten menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Kaisar dan dewan bangsawan di ibu kota tidak peduli berapa ratus prajurit jelata yang terkubur di bawah tanah menara ini, Valerie," ucap Julius datar. "Yang mereka pedulikan hanyalah apakah panji keluarga Ravensburg berhasil menancap di lantai puncak dan membawa pulang Kristal Inti Penciptaan. Prajurit kontrak dari penjara utang dibeli dengan harga murah untuk menjadi umpan perintis. Itu adalah fungsi alami mereka dalam struktur militer kekaisaran."
Julius menyesap anggur merahnya perlahan, matanya menatap pantulan cahaya lampu pada permukaan cawannya yang berkilau.
"Namun prajurit kasta bawah yang mampu bertahan hidup melintasi jurang Lantai 10 dan pabrik mesin Lantai 12 tanpa pasokan logistik kekaisaran..." gumam Julius dengan nada dingin yang sarat kecurigaan mendalam. "Dan saat aku menatap kedua matanya di gerbang tadi, tidak ada sedikit pun kepanikan atau ketundukan di wajahnya. Prajurit jelata yang baru lolos dari maut biasanya akan merangkak memohon belas kasihan atau menjadi gila karena teror. Tapi pemuda itu... dia menatapku seolah-olah dia telah memperhitungkan setiap kata yang kuucapkan."
Penyihir Gunter melangkah maju satu langkah, ujung tongkat sihirnya berpendar redup dengan pendar ungu. "Apakah Anda mencurigai adanya campur tangan dari faksi politik lain, Tuan Muda? Mungkinkah pemuda itu adalah agen bayangan yang sengaja ditanam oleh keluarga Marquis Althea untuk mengawasi ekspedisi keluarga Ravensburg?"
"Siapa pun dia, keberadaannya di pangkalan ini adalah ancaman bagi kehormatan keluarga Ravensburg," seringai dingin Julius membeku, matanya memancarkan kekejaman politik yang telah diperhitungkan matang. "Kaisar telah menjanjikan mandat kepemimpinan garnisun utama jika Batalion Ketujuh berhasil menembus Lantai 15 tanpa catatan kerugian fatal di pihak ksatria bangsawan. Laporan resmi yang kukirimkan ke markas besar menyatakan bahwa seluruh pasukan pelopor telah gugur di Lantai 10. Jika mereka kembali ke ibu kota hidup-hidup dan bersaksi di hadapan dewan militer, hal itu akan memberi faksi Althea alasan hukum untuk menjatuhkan wibawa keluargaku."
Julius meletakkan cawan anggurnya di atas meja peta. Jari telunjuknya mengetuk tepat di atas sebuah gambar lorong panjang menuju gerbang Lantai 15: Lorong Cermin Berbilah.
"Selain itu, prasasti kuno Lantai 15 menyebutkan bahwa sang Penjaga Koloseum—Agares—membutuhkan pemicu persembahan darah untuk membuka perlindungan zirah abadinya," lanjut Julius dengan suara dingin tanpa emosi. "Besok pagi, tempatkan unit Ren sebagai regu pembuka jalur terdepan di lorong itu. Lorong itu dipenuhi puluhan jebakan kawat tersembunyi, pelat penekan lantai, dan bilah perangkap tak kasat mata. Begitu mereka melangkah masuk, perangkap-perangkap kuno itu akan menghabisi mereka tanpa menyisakan bukti keterlibatan kita. Dan jika mereka berhasil memicu sebagian jebakan... ksatria elit kita akan melangkah masuk dengan aman di atas jalur yang telah terbuka."
"Rencana yang sangat tepat, Tuan Muda," puji Gunter seraya membungkukkan kepalanya dalam-dalam. "Kami akan memastikan mereka berada di barisan paling depan saat gerbang dibuka besok pagi."
Sementara itu, di Sektor Terluar Barat perkemahan.
Angin malam yang dingin menderu melintasi celah-celah bebatuan reruntuhan kuil, mengguncang kain kanvas usang tenda tempat Ren dan kelompoknya bermalam. Hawa dingin merembes dari sela-sela kain yang robek, membuat udara di dalam tenda terasa menusuk kulit.
Di dalam tenda yang hanya diterangi oleh sebuah lentera minyak kecil, Paman Vargas menyalakan segenggam arang di dalam wadah besi tua untuk menghangatkan ruangan. Asap tipis beraroma mint pahit mengepul dari pipa tembakaunya, sementara tangannya yang kasar sibuk menggosok mata kapak pendeknya dengan batu asah. Suara gesekan logam dan batu terdengar berirama teratur di dalam keheningan malam.
Di sudut lainnya, Riku telah tertidur lelap beralaskan jubah kulit tebal. Napas anak pengintai itu terdengar tenang setelah lukanya disembuhkan oleh sihir suci Elise beberapa jam lalu.
Shizuka duduk bersila di atas lantai tanah kering di samping wadah arang, merapikan botol-botol ramuan obatnya dan memeriksa sisa kain perban yang tersimpan di tasnya.
"Riku kehilangan orang tuanya saat menara ini pertama kali menembus daratan benua," bisik Shizuka pelan seraya menatap anak yang sedang terlelap itu. "Dia masih sangat muda untuk memikul beban utang keluarga di tempat sekejam ini."
"Ren," panggil Shizuka kemudian dengan suara lembut, matanya melirik ke arah pemuda yang sedang duduk bersandar tenang di dekat tiang kayu tenda. "Kau belum memejamkan matamu sejak kita tiba di sini. Beristirahatlah sejenak untuk memulihkan tenagamu."
Ren tidak langsung menjawab. Di tangannya, ia sedang memeriksa rantai baja hitam yang ia ambil dari bangkai golem Lantai 12.
Dengan bantuan kawat tembaga dan potongan kulit zirah bekas, Ren merangkai rantai baja tersebut menjadi pelindung lengan bawah yang kokoh sekaligus kait penahan darurat. Bilah belati taring hitamnya ia asah kembali dengan batu karang halus hingga ujungnya berkilat tajam di bawah cahaya lentera minyak.
"Tidur terlalu nyenyak di tempat ini adalah kelalaian yang berbahaya, Kak Shizuka," ujar Ren dengan suara tenang seraya mengencangkan ikatan pelindung lengan barunya. "Julius tidak akan membiarkan kita beristirahat dengan tenang sampai tugas pengintaian besok selesai."
Vargas menghentikan asahan kapaknya, menghembuskan asap tembakau tipis ke udara tenda.
"Pria berambut pirang itu pasti sedang menyiapkan perangkap militer yang sah untuk menyingkirkan kita di lorong luar besok pagi," kata Vargas dengan nada berat. "Catatan ekspedisi lama menyebutkan lorong menuju Lantai 15 adalah kuburan bagi pasukan pengintai. Jebakan di sana tidak hanya mengandalkan panah atau lubang perangkap, tetapi bilah-bilah baja tersembunyi yang bergerak secepat desing angin di antara cermin obsidian."
"Bilah perangkap yang memanfaatkan sudut buta dan pantulan cahaya kristal..." bisik Ren, matanya memancarkan ketenangan yang tajam dan dingin. "Jebakan yang dirancang untuk memotong siapa pun yang melangkah dengan terburu-buru tanpa membaca retakan lantainya."
Ren tidak gentar. Bagi prajurit yang hanya memiliki satu kesempatan hidup, lorong jebakan yang tak terlihat adalah vonis mati yang mengerikan. Namun baginya, setiap kegagalan yang berujung maut akan menjadi petunjuk pasti untuk memetakan jalur aman bagi rekan-rekannya selangkah demi selangkah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki halus di atas pasir kristal terdengar mendekat ke luar tenda mereka, memecah deru angin malam. Diikuti oleh ketukan pelan pada tiang kayu pintu kanvas.
Vargas seketika meraih gagang kapaknya dengan tatapan waspada, sementara Ren bangkit berdiri dengan tangan kanan menyentuh hulu belati taringnya secara refleks.
"Prajurit Ren... apakah kalian ada di dalam?"
Suara jernih yang terkontrol terdengar dari balik kain tenda.
Lady Elise von Althea berdiri seorang diri di luar kanvas usang tersebut di tengah kegelapan malam perkemahan, tanpa iringan ksatria pengawal keluarganya.
Ren saling bertukar pandang dengan Vargas sesaat, lalu melangkah maju dan menyibak kain pintu tenda secara perlahan untuk menemui sang putri bangsawan.