Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 12
Keributan yang ada di luar kamar, terdengar ke telinga Rinda. Tidurnya yang nyenyak itu seketika terusik. Dia masih berusaha untuk kembali memejamkan matanya, akan tetapi tetap tidak bisa.
"Haaah, kenapa sih ribut sekali?" keluhnya. Rinda menyibakkan selimut, kakinya turun dari ranjang dan melangkah perlahan menuju ke pintu.
Dengan jelas, ia bisa mendengar segala hal yang dikatakan oleh meraka yang ada di luar kamar. Rinda juga bisa mendengar suara Jexen.
"Dia masih ada di sini?" ucapnya lirih.
Rinda pikir Jexen hanya bercanda ketika berkata ingin tetap ada di sini. Tapi ternyata pria itu benar-benar tidak pergi.
Ceklek
"Siapa yang berani mengusir orangku."
Wajah Rinda terangkat. Sorot matanya nampak tajam. Tapi dia tidak melihat ke arah Gani atau Teani, Rinda menatap lurus ke bawah dimana Jexen berada.
"R-rinda?" Kata Gani lirih. Rasanya ada yang menusuk dadanya, nyeri yang tak berdarah itu terasa nyata.
Tap tap tap
Selangkah demi selangkah, Rinda menuruni anak tangga. Gaun malam dengan luaran panjang itu berkibar. meski teradapat beberapa bekas luka pada wajah dan tubuhnya, namun keanggunan dan kecantikan Rinda tetap memesona. Rambut nya yang panjang juga ikut berkibar.
Rinda sesampainya di lantai bawah, Gani pikir Rinda akan berdiri di sisinya. tapi dugaannya salah. Wanita itu malah menghampiri Jexen dan berdiri di depannya.
"Rinda? Kamu membelanya?" tanya Gani. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaannya.
"Iya Rinda, kenapa kamu membela bocah itu. Dia hanya orang lain, kami lah keluargamu," imbuh Teani sambil menggenggam lengan Gani.
Rinda menaikkan satu sudut bibirnya. Dia lalu tertawa, membuat Gani, Teani dan Nania membelalakkan mata. Tubuh mereka mundur selangkah. Rinda tak pernah seperti ini sebelumya. Dia sungguh sangat berbeda.
"Hehehehe, keluarga kau bilang? Ah ya keluarga, dalam kartu keluarga memang kalian keluarga sih," cibirnya.
Jexen tersenyum tipis. Melihat pemandangan di depannya, membuat dirinya mendapatkan sebuah ide.
Sreet
Dugh
Jexen menarik pinggang Rinda, hingga punggung wanita itu menempel pada dadanya.
Rinda sedikit terkejut, namun saat melihat wajah Gani yang mengeras, dia pun tersenyum tipis.
Rinda membalikkan tubuhnya, kini dadanya dan dada Jexen saling menempel. Rinda juga meletakkan tangan dan menyadarkan kepalanya pada dada Jexen.
"Rinda? Apa-apaan kamu. Di sini ada suami mu, kenapa kamu bersikap demikian," pekik Gani. Nafasnya terhenti sejenak, dan matanya membelalak melihat tindakan Rinda.
Selama ini Rinda adalah wanita yang manis, penurut, dan juga tak pernah melirik pria lain. Hanya dirinya lah yang dipuja dan disanjung, Gani sangat bersyukur akan hal itu.
Lalu kini, melihat Rinda dalam pelukan pria lain, membuat dadanya membara.
"Ah suami ya, suami yang tak mencari tubuhku dan malah menikahi kakak ku? Apa itu masih bisa disebut suami hmm? Lagian, kamu juga sudah menikah dengannya?"
Rinda mengusap lembut dada Jexen. Tak hanya sekali dia melakukannya. Dan itu cukup membuat Jexen merasa gejolak dalam tubuhnya.
Greb
"Sebaiknya Anda tak melanjutkannya lebih lama lagi, Nona. Karena Mbak Nda tak akan bisa tahu apa yang akan aku lakukan ke kamu," bisik Jexen tepat di telinga Rinda sambil mencengkeram tangan Rinda yang sejak tadi mengusapnya.
Gluph!
Rinda menelan saliva nya dengan susah payah. Beberapa kali matanya berkedip.
Sejenak Rinda lupa bahwa Jexen adalah pria dewasa, dan bukan hanya sekedar asisten pribadi.
"Okey, maaf," ucap Rinda lirih. Wajahnya menengadah, menatap ke arah Jexen.
Jexen hanya memiringkan kepalanya. Namun agaknya sayang jika pertunjukkan ini langsung selesai begitu saja.
Cup!
Jexen mencium punggung tangan Rinda. Dan itu cukup mengejutkan untuk semua orang termasuk Rinda sendiri.
Namun Rinda menutupi keterkejutan itu dengan tersenyum.
"Sudahlah, ini sudah malam. Jangan membuat keributan. Mari tidur. Hoaam, aku mengantuk. Jex, ikut aku. Tidur di sofa tidak nyaman kan, membuat tubuh sakit pula," ucap Rinda.
"Dengan senang hati, Nona ku."
Rinda menggandeng tangan Jexen lalu membawanya ke lantai atas. Gani langsung menatap tajam dan bahkan menahan tangan Rinda.
"Rinda! Jangan keterlaluan. Kamu masih bersuami. Bagaimana bisa membawa pria lain ke kamarmu!" pekik Gani. Dadanya naik turun, emosi sungguh melahap tubuhnya.
"Hahaha segitu marahnya kamu? Kamu saja mash beristri bisa membawa wanita ke tempat tidurmu. Ya meski katanya aku sudah mati. Tapi setidaknya kan kamu harus memastikan dulu hidup dan matiku, baru boleh kawiin sama nih orang. Jadi sekarang, bukan masalah dong aku membawa laki-laki ke kamar ku. Kita impas, Suamiku."
Rinda tak lagi melihat ke belakang. Dia berjalan lurus menuju ke kamarnya. Tapi dengan Jexen, senyumnya yang begtu lebar, merupakan sebuah ejekan untuk Gani.
"Brengsek!!!"
Suara Gani menggema memenuhi seluruh kediaman saat Rinda dan Jexen masuk ke kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Slap
Rinda langsung melepaskan tangan Jexen. Dia kemudian naik di ranjang lalu melemparkan sebuah bantal ke arah sang asisten pribadi.
"Tidur di lanta," ucap Rinda tegas.
"Mbak, tega kali minta aku tidur di lantai. Secepat itu kah aku dibuang setelah digunakan," sahut Jexen. Wajahnya dibuat sememelas mungkin.
"Jangan drama king. Sudah sana tidur," balas Rinda lagi. Ia menarik selimut dan memejamkan matanya. Hanya dalam hitungan detik Rinda benar-benar terlelap. Padahal baru saja ada keributan dan ketegangan antara dirinya dan Gani.
Jexen tersenyum simpul. Dia mendekat ke arah Rinda, duduk di tepi ranjang. Jexen terus saja menatap Rinda nyaris tak berkedip.
Dengan berani, ia mengulurkan tangannya, menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Rinda.
"Cantik. Bahkan luka-luka itu sama sekali tak mengurangi kecantikan mu, Mbak. Tidurlah Ratu ku, hari esok akan ku pastikan lebih baik lagi dari hari ini dan tak akan ada yang berani menyentuh mu."
Jexen berkata sangat pelan. Dia mencium rambut Rinda yang dipegangnya tadi.
Jexen memundurkan langkahnya lalu duduk di sofa. Tentu saja dia tidak akan tidur. Suasana rumah ini masih sangat kacau. Jexen khawatir, kalau-kalau Gani menerobos masuk meski kemungkinan itu kecil.
hembusan nafas pelan meluncur dari bibir Jexen. Dia mengambil ponselnya, dan melakukan panggilan kepada dua orang sekaligus.
"Mbak Aina, Mbak Lina, kalian berdua masih bangun kan? Ada yang mau aku sampaikan,"ucap Jexen.'
"Ya, katakan."
Merkea menjawab secara bersamaan. Jika Jexen yang bicara pasti sesuatu yang penting dan bukan hanya omong kosong belaka.
"Besok kita rapat kecil, tentang kerugian perusahaan. Aku ada sebuah solusi. Jangan dulu tutup kantor cabang yang di Pekalongan. Aku yakin Mbak Rinda tidak akan setuju akan hal tersebut."
"Oke. Besok pagi aku lansung ke ruangan Bu Rinda," jawab Aina.
"Oke, aku juga," sahut Lina.
Jexen menghela nafasnya lega. Dia menutup panggilan itu lalu melakukan panggilan lain.
"Pa, i need your help."
"Anything son."
TBC