NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peliharaan Baru

DUAR! DUAR!

Goresan pecut petir Garuda meletup-letup di udara, menyemprotkan percikan listrik kebiruan ke segala arah. Di seberangnya, aura ungu kemerahan milik Yueji meluap pekat. Tanah taman belakang mulai bergetar pelan saat Yueji bersiap mengeluarkan domainnya untuk melindungi taman indah miliknya dari kehancuran.

"Ayam jelek! Mari kita selesaikan urusan kita!" geram Yueji dengan nada dingin yang menembus tulang.

"Ayo, siapa takut!" balas Garuda sambil membusungkan dada zirah emasnya, lalu memecutkan petirnya dengan penuh percaya diri.

Namun, belum sempat mereka baku hantam...

KLEK!

Pintu kaca teras belakang terbuka. Chandra berjalan santai ke arah area belakang sambil menguap lebar, salah satu tangannya sibuk menggaruk perut.

"Sayang, ada apa?" ucap Chandra sambil menguap, matanya masih terasa berat.

Seketika itu juga, aura tegang di taman belakang padam total.

Yueji dan Garuda kaget setengah mati dan langsung kembali ke mode normal. Dalam hitungan detik, wujud raksasa Garuda menyusut drastis. Tubuh megahnya kini mengecil seperti burung elang berjambul, lalu dengan lincah bertengger di dahan pohon.

Chandra mengucek matanya yang gatal. Saking terpukaunya menatap burung elang tersebut, rasa kantuknya menguap seketika.

"Wah... burung elang!" seru Chandra terkagum-kagum. Dia menoleh ke arah istrinya. "Sayang, sejak kapan ada burung elang?"

Yueji menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dadanya yang berdebar kencang karena hampir saja ketahuan akan bertarung dengan Garuda.

"I-I-Iya, Sayang... baru saja," jawab Yueji terbata-bata dengan senyum canggung. "Suamiku, kamu jangan dekati burung itu ya."

Tapi karena Chandra saking terpukau nya, dia terus berjalan ke arah pohon dan menatap burung elang tersebut tanpa rasa takut.

"Wahhh... keren banget!" puji Chandra dengan mata berbinar-binar. Dia menoleh lagi ke Yueji. "Sayang, apa aku boleh pelihara elang?"

"TIDAK!!!"

Refleks penolakan Yueji begitu mendadak dengan aura siluman yang tiba-tiba meluap. Mata dan taringnya berubah menyala, dan siluet ekor sembilannya pun nampak membayang pekat di belakang tubuhnya.

Chandra yang melihat itu langsung gelagapan.

"Hehehe... i-iya, Sayang... tidak, tidak," ucap Chandra cepat-cepat sambil mengangkat kedua tangannya.

Sambil manyun, Chandra berkata pelan, "Padahal aku mau pelihara elang..."

Dia lalu menengadahkan kepalanya menatap sang burung di dahan. "Burung elang ini jinak gak yah?"

Chandra lalu berjalan ke arah kolam dan seakan mencari sesuatu di sekitar sana.

Yueji yang memperhatikan dibuat heran. "Sayang, kamu mencari apa?" tanya Yueji.

Chandra menoleh. "Cari jaring ikan."

Setelah jaring ketemu, dia pun meraih ikan kecil dari dalam kolam. Lalu ikan itu disodorkan ke arah Garuda.

Garuda yang bertengger di dahan langsung melotot lebar.

"Ikan ini...? Bukankah ikan dari Nirwana?!" batin Garuda kaget setengah mati.

Tanpa pikir panjang, Garuda melesat turun dan bertengger tepat di tangan Chandra.

"AHAHAHA!" Chandra pun kegelian sambil tertawa terbahak-bahak saat cakar elang itu menyentuh kulitnya.

Sementara Garuda yang sekarang bertengger sambil makan ikan lahap, di elus-elus kepalanya oleh Chandra. Tak jauh beda seperti anjing yang penurut di hadapan majikannya.

Yueji yang melihat adegan itu dari teras makin geram.

"Ayam jelek, tunggu saja!" desis Yueji dalam hati. "Kalau suamiku pergi, aku jadikan kamu ayam bakar!"

Tiba-tiba, Sisi datang menghampiri dari samping rumah.

"Tuan, ada Nona Dila," lapor Sisi.

"Iyah, Si. Suruh tunggu," jawab Chandra.

Chandra pun membawa Garuda ke arah candi batu dekat kolam. Dia memindahkan sang burung dengan hati-hati ke atas batu, sambil berkata, "Kamu kalau lapar ambil yah, tapi jangan banyak... jatahmu 1 lagi."

Chandra menepuk pelan kepala elang itu, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui Nona Dila.

Sepeninggal Chandra, suasana damai di taman langsung lenyap. Kini Garuda dan Yueji pun saling memandang tajam, siap melanjutkan dendam mereka yang tertunda.

Chandra pun kini masuk ke dalam, sambil mengenakan baju polos hitam yang ketat memperlihatkan tubuh atletisnya. Dila yang berdiri di ruang tengah seketika terpukau melihat lelaki tampan dan bertubuh bagus di hadapannya.

"Sendiri saja? Kemana Tuan Dandi?" ucap Chandra.

Karena Dila saking terpukaunya, dia hanya menatap dalam ke arah Chandra. Bibirnya yang kecil sedikit terbuka, dan dia refleks menelan ludah.

Beybeh~ (Soundtrack romantis mendadak berputar ghaib di kepalanya).

"Dila?" tanya Chandra heran melihat tamunya malah melamun.

Karena terkejut sadar dari lamunannya, Dila pun berkata refleks, "Ah! Tuan Chandra, aku rela jadi selir Tuan!"

Chandra pun seketika bengong. Sisi yang baru datang membawa nampan teh dari dapur kaget setengah mati.

PRAK!

Alas cangkir teh di tangan Sisi seketika jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai.

Sadar kalimatnya melenceng jauh, Dila pun bersujud berulang kali meminta maaf karena malu dan panik. Chandra tersenyum kecil lalu mendekati Dila.

"Silahkan duduk," ucap Chandra ramah.

Kini Chandra duduk satu meja dengan Dila.

"Ada urusan apa?" tanya Chandra membuka pembicaraan.

"Gini Tuan, Ketua... eh, tidak, maksud saya Tuan Dandi menyuruh Tuan untuk datang ke tempat kami," jawab Dila mencoba profesional.

"Oh gitu, memang di mana tempatnya?"

"Ini Tuan alamatnya," ucap Dila sambil memberikan sebuah kartu nama elegan.

Chandra menerima kartu itu dan membacanya pelan. "Sekte Alam Surgawi? Apa zaman ini masih ada sekte-sektean seperti ini?"

Dila menjawab santai, "Itu hanya sebagai wadah bisnis, Tuan. Mengingat di zaman mana pun, yang kuat selalu yang paling dihormati."

Mendengar penjelasan itu, Chandra menyunggingkan bibirnya sedikit sambil menggigit bibir bawahnya.

"Aku kalau bisa gabung sekte ini, bisa tambah cuan tidak yah?" batin Chandra berhitung peluang bisnis.

Dila yang melihat gestur tampan Chandra tersebut seketika merasa seluruh tubuhnya memanas. Aura ketampanan Chandra memang sangat sulit diabaikan oleh wanita mana pun. Dengan gerakan perlahan, Dila membuka satu kancing baju bagian dadanya.

"Maaf Tuan, aku kegerahan," ucap Dila beralasan.

Chandra yang tanpa sengaja melihat motif bunga di pakaian dalam Dila seketika memalingkan mukanya ke arah lain.

"Apa-apaan ini!" geram Chandra dalam batinnya yang mulai risih.

Chandra lalu menoleh ke arah asisten rumah tangganya. "Sisi?"

"Iya, Tuan?" sahut Sisi cepat.

"Ambil stand AC yah, pasang di sini."

"Baik, Tuan."

Dila pun seketika cemberut melihat reaksi dingin Chandra. "Lelaki ini terlalu setia, sebal!" gumam Dila dalam hati sambil merapatkan kembali pakaiannya.

Sementara itu di taman belakang, Yueji perlahan-lahan mendekat ke arah Garuda. Dengan taring menyembul dan cakar tajam yang siap mencabik, dia mengendap-endap ingin menerkam Garuda yang sedang santai menikmati jatah ikan terakhirnya di atas candi batu.

Garuda melirik dari sudut matanya tanpa rasa takut sedikit pun. "Rubah, apa kamu tidak takut membuat suamimu marah?"

"Dia tidak ada di sini! Yang jelas, hari ini kamu akan jadi sayur masakanku!" ancam Yueji dengan aura ungu yang mulai meluap.

Namun, tepat saat Yueji siap melompat...

Greb!

Telinga rubah milik Yueji yang tajam tiba-tiba mendengar suara batin Dila yang menggebu-gebu dari arah ruang tengah.

Yueji pun menundukkan kepalanya, mengurungkan niat menerkam Garuda. Matanya menyala merah menahan kejengkelan.

"Selalu saja ada wanita yang mau rebut suami orang!" desis Yueji penuh kekesalan.

Dia menoleh menatap tajam ke arah sang elang. "Ayam jelek, tunggu aku kembali!"

Yueji berbalik dan melangkah cepat menuju ruang tengah, siap memberi pelajaran pada tamu wanita yang berani menggoda suaminya.

1
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!